KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
memiliki dedikasi kerja sangat tinggi. Padahal persiapan produksi hanya dalam waktu dua minggu, setelah dirinya mendapatkan workshop.
"Persiapan kita singkat banget cuma dua minggu, dari workshop langsung ke production, tapi tim krunya rajin banget, dari Astrada (asisten sutradara, red) dan krunya rajin banget. Beruntung banget bisa dapatin mereka," ungkapnya berbangga.
Sigi mengawali menjadi sutradara untuk film GAY ATAU TIDAK yang kini dalam pengerjaan. Sebelum menerima pekerjaan itu, dirinya sempat merenung dan berkonsultasi pada beberapa seniornya.
"Sebelum menerima project ini aku mikir dulu, aku sempat ketemu dengan Bang Eka Sitorus, karena anak-anaknya in to acting, karena mereka sudah dikasih basic-basic-nya," tegasnya saat ditemui di lokasi syuting di Jl. Pemuda, Depok, Senin (12/10) kemarin.
Kakak kandung Puteri Indonesia 2006, Agni Pratistha itu pun mengaku tidak memberikan pendidikan khusus kepada calon pemain. Kecuali memberikan kesempatan mereka untuk belajar langsung di lapangan, di samping teknik akting yang memang sudah dimiliki oleh masing-masing artis pendukung.
"Banyak belajar dari pengalaman selama syuting. Jadi belajar di lapangan yang paling cepat," tegasnya.
"Setiap masuk produksi film kan aku pasti belajar, ditambah aku juga di-screening juga sama DOP, director, set designer, jadi sambil ngerasain dan sambil belajar juga. Itu membantu banget. Itu paling efektiflah dengan learning by doing," pungkasnya. (kpl/buj/dar)

"Dengan budget minim juga jadi kita bisa belajar negoisasi dengan orang-orang juga sih," tegasnya saat ditemui di lokasi syuting di Jl. Pemuda, Depok, Senin (12/10) kemarin.
Sigi sebagai sutradara film indie GAY ATAU TIDAK memang mendapatkan honor, namun dirinya lebih mengejar pengalaman sebagai seorang sutradara. Sehingga bayaran yang didapat pun ikut digunakan operasi project-nya tersebut.
"Dibayari sih, tapi aku banyak gunakan untuk syuting juga karena misi utama aku ngejob ini karena aku kepengen buat film pendek buat port folio aku," terangnya.
Sigi Wimala tergolong sebagai pendatang baru dalam dunia penyutradaraan. Sebelumnya perempuan kelahiran Jakarta, 21 Juni 1983 itu lebih populer sebagai model dan berakting di sejumlah film layar lebar. GAY ATAU TIDAK merupakan project perdananya menjadi seorang pengarah. (kpl/buj/dar)

"Belum mikirin ya. Nanti saja. Aku juga nggak mau menargetkan, seketemunya aja nanti. Masih mau melakukan sesuatu di dunia seni yang sudah lama aku cita-citakan. Orang tua juga untungnya nggak terlalu maksa aku," kata Sigi saat ditemui dalam konferensi pers LA Indie Movie 2009 di Gedung PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/7).
Menikah bagi Sigi adalah sesuatu yang sakral. Hal itu juga yang membuatnya tidak main-main dalam memutuskan untuk menikah. Kabarnya, keengganan Sigi untuk menikah membuat sang adik Agni Pratistha tak ingin mendahului kakaknya itu.
"Nggak juga ah. Kalau Agni mau nikah ya silakan saja. Aku nggak pernah pernah ngasih patokan. Siapa sih yang nggak mau nikah," ujar wanita kelahiran 21 Juni 1983 itu. (kpl/mai/npy)

"Gaya rambut ini memang aku yang motong sendiri. Makanya jadinya kayak gini, aku motongnya sendiri di depan kaca dengan menggunakan catok yang aku beli," kata Sigi saat ditemui dalam konferensi pers LA Indie Movie 2009 di Gedung PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/7).
Apa yang dilakukan oleh Sigi dikarenakan bukan karena dirinya malas ke salon ataupun tak punya uang. Hal ini bermula dari keisengan dirinya yang bosan sendirian di kamarnya.
"Mulanya karena aku lagi bosen di rumah, nggak ada yang bisa aku kerjain makanya aku potong rambut kayak gini deh. Aku sih nggak ngikutin siapa-siapa, asal potong saja. Makanya jadi nggak rata begini," ujar kakak kandung Agni Pratistha ini.
Rupanya akibat keisengannya itu tidak membuat orang-orang di sekitarnya mencibirnya, justru banyak yang memuji potongan rambutnya. Cewek yang menggunakan cardigan tanpa lengan serta jeans sobek ini merasa nyaman dengan penampilan barunya ini.
"Aku nyaman dengan penampilan kayak gini. Begitu pun dengan potongan rambut aku ini, makanya kalau sudah mulai kepanjangan yang sebelah kiri, aku langsung rapiin," ujarnya. (kpl/mai/npy)

"Main sinetron waktunya nggak pernah ada. Tawaran sih banyak, tapi nggak pernah mau ambil. Kalau FTV baru nggak masalah. Nah sekarang ada yang nawarin untuk menjadi sutradara dadakan, aku malah senang banget," kata Sigi saat ditemui dalam konferensi pers LA Indie Movie 2009 di Gedung PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/7).
Kakak kandung Agni Pratistha ini mengakui jika menjadi sutradara adalah cita-citanya sejak kecil. Bersama aktor Lukman Sardi dirinya dipercaya menjadi sutradara tamu dari kalangan artis.
"Waktu pertama diajak, aku nggak menyangka banget. Ini pengalaman pertama, pastinya ada perasaan takut. Tapi karena punya dasar fotografi dan punya pengalaman di film, jadi nggak buta-buta amat," tutur Sigi.
Sutradara merupakan cita-cita yang sudah lama Sigi dambakan. Soalnya, dulu ia sempat hampir kuliah penyutradaraan. Kendala larangan orang tua yang membuatnya mengambil jurusan kuliah lain.
"Waktu itu kan, orang tua masih aneh lihatnya. Mau jadi apa sih, kuliah sutradara. Tapi sekarang kan, sarjana aku sudah selesai. Keinginan itu muncul lagi dan teman-teman juga mendukung," ujarnya. (kpl/mai/npy)

Sigi mengaku memiliki hobi fotografi sejak masih usia anak-anak, dan kemampuan itu terus diasah hingga menjadi hobi yang diseriusi. Bahkan untuk mendukung kemampuannya, Sigi mengaku pernah mengikuti kursus fotografi.
"Aku sejak kecil memang hobi fotografi, otodidak, tapi pernah belajar sedikit teori di Darwis Triadi. Sebisa mungkin pas aku traveling aku potret-potret," terangnya saat ditemui di rilis film KALAU CINTA JANGAN CENGENG, di Jakarta, Selasa (3/2).
Sigi yang tamatan Teknik Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta itu mengaku suka mengambil obyek-obyek arsitektur, kebudayaan dan banyak hal yang berbau seni dan budaya. Melalui kemampuan memotretnya, Sigi sekaligus membantu kampanye kekayaan budaya bangsa.
"Aku mungkin lebih membantunya dalam bentuk kampanye. Kayak sebentar lagi kan tanggal 6 itu mau berangkat ke Singkawang acaranya Cap Go Meh di sana nanti aku motret-motret festivalnya, arsitekturnya, dan budayanya," tegas Sigi yang menilai budaya Singkawang belum dikenal secara luas itu. (kpl/ang/dar)

"Saat akting sama Ringgo sempat nampar keras Ringgo. Si Ringgo sempat kena stick billiard di mulutnya yang sebenarnya gak ada di scene," demikian tegasnya saat ditemui usai rilis KALAU CINTA JANGAN CENGENG, Selasa (3/1).
Sigi sendiri mengaku sering panik ketika dituntut untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Padahal dalam niatnya, sesungguhnya dirinya mengharapkan pekerjaan itu bisa dikerjakan lebih sempurna dan baik.
"Aku itu orangnya emang sering nervous, pengennya kerjaan cepet-cepet selesai, gak sabaran. Sehari-hari aku juga kayak gitu. Kalau memegang barang gampang rusak," terangnya.
"Makanya hati-hati kalau dekat sama aku. Jujur, dari dulu orang kenal aku itu ceroboh dan sembrono. Ngelakuin kerjaan kecil pun efeknya gede. Sekarang aku lebih hati-hati," pungkas pemilik nama asli Sigi Wimala Somyadewi itu. (kpl/ang/dar)