< >

ARTIKEL AHMAD DHANI


Rob Thomas: 'CRADLESONG', Hitsmaker Itu Masih 'Panas'

KapanLagi.com -
Oleh: Galih Akbar

Seperti halnya jika Anda membandingkan antara hubungan suami istri dengan one night stand relationship, masing-masing memiliki feel dan impact yang berbeda. Persis sama saat Anda menyimak Rob Thomas sebagai frontman Matchbox Twenty, atau saat ia tetap banyak menjual hits meski bernyanyi solo.

Dengan atau tanpa Matchbox Twenty, Robert Kelly Thomas tetaplah mesin pencipta hits, betapa tidak dalam karya terbarunya CRADLESONG, ia membuktikan, kenapa 3 Grammy Award, Starlight Award serta predikat adult contemporary hits singer/song writer selalu lekat dengan kiprahnya.

Dibuka dengan opening song sekaligus first single, Her Diamond, Rob masih saja membuat standar yang tinggi terhadap karya-karyanya. Hasilnya, single yang dirilis lebih dahulu pada 22 April lalu ini memang mendapatkan respon positif dengan bercokolnya track ini di puncak chart-chart radio.

Laris bukan berarti Rob lantas mengamini kaidah-kaidah pop yang market-oriented, sebagai penulis lagu yang telah memastikan industri musik pop-rock alternatif Amerika tetap survive melawan brit-pop pada medio 1990-an, ia tentu punya taste yang pas dalam kombinasi aransemen dari literasi musik jauh berbeda.

Sebagai contoh adalah track bertitel Gasoline yang dibangun dari perpaduan synth dan hook sing-a-long, nuansa dance-pop yang terasa akan mengingatkan Anda pada single Lonely No More. Berikutnya ada Real World, sebuah track satir yang pas dengan warna electro-soundnya.

Sebagai musisi yang memperhatikan detail, tak dipungkiri jika Rob ter-influence dengan INXS, hal ini nampak jelas dalam setiap verse dan irama Give Me The Meltdown. Sementara Fire On The Mountain adalah bentuk apresiasi Rob terhadap musikalitas Sting, yang dikombinasikan dengan skill-nya menterjemahkan ide lewat suara baritone-nya. Track berdurasi 5 menit ini boleh disebut sebagai bentuk dari musik rock alternatif Amerika era modern.

Namun ada satu track string-section ballad ringan bertitel Someday, saking ringannya, tak perlu pretensi atau well-connected pada lagu, begitu nge-flow dan akan membuat orang tak suka musikpun pasti akan 'nyambung'. Tapi justru disinilah kemampuan Rob yang jarang dimiliki musisi lainnya. Kalau di Indonesia mungkin sosok Ahmad Dhani, lepas dari kontroversinya, cukup mewakili, musikalitas tinggi namun paham benar selera orang kebanyakan. Dengan demikian, pastinya mudah untuk menjual jutaan kopi album.

Untuk Anda yang kangen dengan Matchbox Twenty, coba simak track mellow yang punya lirik serius Getting Late, serta riff lead gitar yang dry pada track Snowblind. Selebihnya, total ada 14 track dalam full album ke-5 pria berusia 37 tahun ini.

Overall, hampir 15 tahun berselang sejak ia pertama kali membuat Matchbox Twenty didefinisikan sebagai rock-alternatif band yang selalu laris menjual karya, namun Rob Thomas sepertinya tak kehilangan cara untuk memainkan notasi dan mencipta hook yang catchy. Pada era dimana male singer sangat sulit dalam penetrasi pasar, Rob Thomas justru makin mengukuhkan, bahwa ia adalah solis yang karyanya paling cepat diterima publik. Next, Grammy 2010 Mr. Thomas? (kpl/bar)


Lihat profil: Rob Thomas, Matchbox Twenty, Sting, Ahmad Dhani
Diposting oleh: Editor | Selasa, 21-07-2009 |

Susahnya Pertahankan Keutuhan Band

KapanLagi.com - Oleh:Noppy

Menyatukan beberapa pemikiran dan ide dalam satu wadah memang bukanlah kerja yang mudah. Apalagi untuk mempertahankannya dalam waktu yang lama. Begitu juga yang dialami oleh band-band musik yang pernah kita kenal. Sebut saja Slank, Gigi, Westlife, Guns N Roses, sampai Blink 182. Personel band pun gonta ganti bahkan sampai bubar. Inilah beberapa di antaranya.

1. The Libertines

The Libertines terbentuk pada 1997 di London, Inggris. Band yang digawangi oleh Carl Barat, Pete Doherty, John Hassall, dan Gary Powell ini terbilang cukup populer dan berhasil. Tapi di tahun 2003, sang vokalis, Pete, mulai kecanduan obat-obatan dan mempengaruhi performa band. Karena semakin tidak bisa dikendalikan, Carl memutuskan untuk mengeluarkan Pete dari band. Karena merasa The Libertines tak akan sama sepeninggal Pete, akhirnya mereka memutuskan untuk bubar jalan. Pete sendiri membentuk band baru bernama Babyshambles sementara Carl juga membentuk band baru bernama Dirty Pretty Things.

Awal 2009, nampaknya hubungan Carl dengan Pete membaik. Sempat juga beredar kabar bahwa mereka berdua akan kembali menyatukan The Libertines. Ini diperkuat juga dengan kenyataan bahwa tato bertuliskan Libertines di lengan Pete belum juga dihilangkannya. Namun sampai sekarang, The Libertines belum menunjukkan tajinya kembali.

2. Blink 182

Band pop punk Amerika ini terbentuk pada 1992 dengan beranggotakan Tom DeLonge, Mark Hoppus, dan Scott Raynor. Di tahun 1998, masuklah Travis Barker menggantikan Scott sebagai penggebuk drum. Benih-benih perpecahan mulai muncul saat Tom ingin beristirahat sejenak dari tur untuk lebih dekat dengan keluarganya di tahun 2005. Sementara itu, Mark juga merasa sedikit 'dikhianati' karena Travis dan DeLonge bersama-sama membentuk grup baru bernama Box Car Racer yang beraliran jauh dari Blink 182.

Terakhir kali mereka muncul di atas panggung pada Desember 2004 silam dan mengumumkan untuk vakum dalam waktu yang tidak ditentukan. Mark dan Travis akhirnya membentuk grup baru bertajuk +44 sementara Tom yang tidak akur dengan Mark mendirikan Angels & Airwaves.

Namun kecelakaan tragis yang dialami oleh Travis membuat Blink bangkit dari tidurnya. Travis sendiri nyaris tewas dalam kecelakaan pesawat yang terjadi September 2008 lalu. Empat dari enam awak pesawat yang ditumpanginya tewas seketika, hanya Travis dan DJ AM yang selamat walaupun harus menderita luka bakar serius. Hikmahnya, saat sama-sama mengunjungi Travis, Tom dan Mark akhirnya kembali akur setelah beberapa tahun tak saling tegur sapa.

Dan kembalinya Blink 182 nampaknya dipertegas saat mereka muncul bersama-sama di acara Grammy Awards Februari lalu. Di situ Tom dan Mark berteriak, "Blink 182 is back!" Kita tunggu saja album terbaru mereka keluar.

3. Dewa 19

Dewa dibentuk oleh empat teman SMP di Surabaya pada 1986. Mereka adalah Dhani, Edwin, Wawan, dan Andra. Wawan sendiri akhirnya memilih keluar dan digantikan oleh Ari Lasso. Awal 90-an, Wawan kembali bergabung dan nama Dewa berganti menjadi Dewa 19. Personel Dewa ini terus saja berganti-ganti. Wawan kembali keluar, lalu Rere datang. Rere keluar, Wong Aksan menggantikan.

Namun Wong Aksan pun akhirnya dikeluarkan dan digantikan oleh Bimo. Tak lama kemudian, Bimo pun hengkang. Tak hanya itu, karena masalah ketergantungan pada narkoba, akhirnya Erwin dan Ari Lasso pun didepak dari Dewa 19. Masuklah Once untuk menggantikan Ari, plus Tyo Nugros juga direkrut untuk menempati posisi drummer yang kosong.

Formasi terakhir Dewa 19 akhirnya tinggal Dhani, Andra, Yuke, Once, dan Agung Yudha yang menggantikan Tyo. Alhasil, yang paling lama 'tahan' dengan Dhani adalah teman semasa kecilnya, Andra, yang juga punya side job tak kalah sempurnanya, Andra and the Backbone. (kpl/npy)


Lihat profil: Pete Doherty, Carl Barat, Dewa 19, Travis Barker, Tom DeLonge, Ahmad Dhani
Diposting oleh: Editor | Selasa, 28-04-2009 |

«1234»