
Ditemui di sela-sela syuting sinetronnya itu di Jl. Bambu Apus Komplek Kowilhan 2 Blok C6 Jakarta Timur, menuturkan, saat ini dirinya lebih intens berada di balik layar, yakni sebagai produser tayangan hiburan. Intensitas di balik layar itu menjadi pilihan yang paling menarik baginya setelah tidak lagi banyak bermain di sejumlah sinetron.
Sebagai produser merasa harus melihat peluang pasar, keinginan konsumen menjadi satu acuan baginya untuk menentukan jenis produksi hiburan yang saat ini lagi digemari. Dan ia menemukan sitkom sebagai pilihannya.
"Sekarang ibarat pedagang, jadi harus tahu keinginan pasar seperti apa. Yang kita tahu, pasar mulai jenuh melihat sinetron yang cinta-cintaan itu, makanya sekarang barang dagangannya sitkom," jelas suami Dian Nitami ini.
Meski sitkom saat ini lebih diminati, namun tidak menutup kemungkinan dirinya juga akan memproduksi jenis drama, namun tetap dalam kerangka komedi. "Kalau pun nanti bikin drama, akan tetap pada komedinya," tuturnya.
Ia menjelaskan, pilihannya menjadi seorang produser ini dijalaninya sebagai investasi masa depan dia, mengingat era kejayaannya sebagai pemain sinetron telah berakhir. Dan saat ini telah banyak bermunculan artis-artis baru yang lebih fresh dan digandrungi masyarakat. (kpl/ant/rif)

"Kecewa pasti ada ya. Saya rasa bukan hanya saya sendiri tapi seluruh panitia dari Indonesia yang menyayangkan ini terjadi. Ya tapi ini sebuah keadaan yang saya rasa seluruh pihak dapat mengerti dan memahami kenapa sampai kondisi ini terjadi," ungkap Anjas yang ditemui di Planet Hollywood.
Krisis global membuat acara besar ini gagal. Padahal menurut Anjas panitia di Indonesia sudah mempersiapkan dengan cukup matang. "Ya seperti kalian tahu lah, masalah krisis global, itu berimbas pada acara ini juga. Persiapan itu sudah dari lama dipersiapkan, tapi karena satu dan lain hal, mau tidak mau kita terima kenyataan bahwa hal ini terjadi. Dan kita harus menyikapinya dengan baik," ujarnya.
Namun meski gagal, ajang film se Asia ini bakal digelar kembali di Taiwan. "Iya kalau memang itu (Taiwan) sudah ditunjuk oleh panitia, saya yakin itu pasti tempat yang terbaik untuk festival ini. Mudah-mudahan kita bisa mendapat kesempatan untuk mengadakan Festival Film Asia Pasifik, kalau saya sih mendukung segala keputusan dari panitia," tambah Anjas. (kpl/hen/erl)

"Saya coba pede aja, kesulitan sih ada, tapi tips saya, ngeluarin kekhawatiran yang ada," ungkap Refa usai menyisihkan 25 saingannya di Grand Final.
Nefa juga mengaku merasa paling kesulitan saat sesi menjawab pertanyaan-pertanyaan dewan juri, terutama pertanyaan yang dilontarkan sutradara Hanung Bramantyo. Perempuan kelahiran 7 Mei 1992 itu, muncul rasa takutnya ketika sutradara AYAT-AYAT CNTA itu mulai memberi pertanyaan. "Soalnya pertanyaannya sulit," terangnya polos.
Saat masuk dalam grand final lima besar, Nefa diminta memilih salah satu dewan juri untuk memberikan pertanyaan. Saat itu ia menunjuk produser Manoj Punjabi untuk memberikan pertanyaan.
Manoj saat itu memberikan pertanyaan soal langkah Refa jika terpilih sebagai Miss Celebrity 2008, akan mementingkan syuting atau sekolah, mengingat Refa tinggal di Menado, yang jauh dari Jakarta.
"Saya akan mementingkan syuting, karena itu yang menjamin masa depan saya, kalau untuk sekolah saya bisa pindah ke Jakarta, dan saya yakin pihak sekolah akan memberi izin kalau saya minta izin, saya akan pindah ke Jakarta mementingkan karir," demikian jawab siswa kelas dua SMAN 7 Manado itu.
Pergelaran Grand Final Miss Celebrity 2008 yang disiarkan SCTV secara langsung dari Balai Sarbini, Jakarta, Jum'at (21/11) akhirnya memutuskan Stevani Nefa, sebagai Miss Celebrity 2008.
Sembilan dewan juri yang terdiri dari Tamara Bleszynski, Nadine Chandrawinata, Anjasmara, Kassandra, Hanung Bramantyo, Deddy Mizwar, Darwis Triadi, Duto Sulitiadi dan Manoj Punjabi itu, delapan dari mereka memberikan suara kepada Refa. (kpl/ant/dar)

"Ke-25 kontestan ini akan bersaing keras untuk merebut hadiah utama berupa kontrak main sinetron untuk masa satu tahun dengan nilai Rp500 juta rupiah," kata Kepala Proyek Miss Celebrity 2008, Ronny Kusuma, dalam jumpa pers dan pengumuman grand finalis kontes tersebut di Hotel Aryadutha, Semanggi, Jakarta, Kamis (20/11).
Menurutnya, para kontestan yang masuk grand final merupakan wakil-wakil terbaik dari 11 kota penyelenggaraan audisi untuk kompetisi calon bintang sinetron tersebut.
"Intinya, acara ini memang diadakan untuk mencari bakat-bakat unggul bagi perkembangan dan kemajuan dunia sinetron kita," katanya.
Senior manajer humas SCTV Budi Dharmawan mengatakan, audisi yang digelar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Banjarmasin Makassar, Manado, dan Bali, diikuti hampir 5.000 pendaftar, kebanyakan pelajar SMA.
Ia mengungkapkan, pemilihan Miss Celebrity memiliki beberapa kriteria penilaian termasuk unsur photogenic, kemampuan berbahasa, bakat modeling dan akting.
"Selain untuk sinetron, grand finalis juga diharapkan mampu menjadi presenter atau pembaca berita," katanya.
Menurut Budi Dharmawan, pemegang kartu liar tersebut ditetapkan berhak masuk sebagai grandfinalis setelah melalui pertimbangan tim penilai dari SCTV selaku stasiun televisi penyelenggara acara.
"Keempat grand finalis itu dipilih dari kontestan yang gagal di tingkat audisi tetapi masuk 15 besar yang pantas dinilai kembali," katanya.
Pergelaran Grand Final Miss Celebrity 2008 akan disiarkan SCTV secara langsung dari Balai Sarbini, mulai pukul 21.00 WIB.
Selain kontes dengan dewan juri dari kalangan praktisi senior dunia hiburan seperti Tamara Bleszynski, Nadine Chandrawinata, Anjasmara, Kassandra, Hanung Bramantyo, Deddy Mizwar, Darwis Triadi, Duto Sulitiadi dan Manoj Punjabi, acara juga dimeriahkan penampilan band dan artis papan atas Indonesia saat ini.
Grand Final Miss Celebrity 2008 akan menetapkan enam orang juara, masing-masing Miss Celebrity, Miss Celebrity Favorite, Miss Celebrity Photogenic, Miss Celebrity Best Hair, Miss Celebrity Best Skin, dan Miss Celebrity Best Smile. (kpl/dar)

"Salah satu resepnya adalah komunikasi yang baik antara saya dan suami," kata Dian Nitami sambil menoleh dan tersenyum mesra pada sang suami yang duduk di sebelahnya.
Dian mengungkapkan, keharmonisan hubungannya dengan Anjas tak lepas dari saling pengertian yang tercipta lewat komunikasi yang terus dijalin dua arah. Selain itu, kemampuan berkomunikasi dengan suami itu semakin terasah ketika ia menjadi duta sebuah produk teh.
Dalam tugasnya, Anjas dan Dian mengajak para pasangan suami istri maupun pasangan kekasih untuk saling terbuka pada pasangan agar tercipta hubungan yang harmonis.
"Sejak menjadi duta produk itu, kami melihat banyak peluang yang dapat digali untuk lebih mempererat komunikasi kami berdua sebagai suami istri," katanya.
Dian dan Anjas menikah di Jakarta pada 1991 dan memiliki empat anak. Lalu apa masih ada resep lain agar terbebas dari gosip?
"Kalau gosip katanya makin digosok makin sip. Jadi kalau tidak mau digosipkan ya jangan digosok lagi ya," ujar Anjas seraya tertawa. (kpl/dar)

"Saya dan istri sering dicurhati teman-teman yang akan jadi janda dan yang menjadi janda. Mungkin aku sama Dian dapat dipercaya kali ya, menutup biar nggak ngomong sama siapa-siapa," kata Anjas yang ditemui di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (12/11).
Banyak hal berguna yang diambil Anjas dan Dian dari pengalaman teman-teman mereka, di antaranya pasangan artis ini mempelajari mengapa teman-teman mereka yang juga berasal dari kalangan selebriti bisa memilih jalan perceraian.
"Sebagian besar itu nggak cocok karena materi. Dan rata-rata dari mereka itu setelah mereka nikah menemukan sebuah ketidakcocokan. Aku sih sebagai teman ngasih masukan. Makanya aku buat sinetron ini. Ini buat teman-teman yang berinisiatif cerai," jelas Anjas.
Dalam sitkom di bawah naungan Multivision Plus ini, kata Anjas, ceritanya berupa penggabungan enak dan tidaknya menyandang status janda. "Pertama menggambarkan kenapa mereka bisa jadi janda, terus susahnya jadi janda, terus enaknya jadi janda. Di situ selalu ada pengembangan-pengembangan. Para istri kan jadi mikir dua kali," tukasnya.
Pada dasarnya, di sitkom ini Anjas lebih mengandalkan cerita dengan tema yang ringan yang kerap terjadi di masyarakat. "Zaman sekarang kan sedang resesi. Sedangkan yang berat-berat nanti masalahnya tambah berat. Di sinetron ini kita justru mengangkat wanita, dan juga ini merupakan suatu teguran," kata Anjas lagi. (kpl/ang/boo)

Menurut Anjas, justru undang-undang tersebut perlu di pikirkan lagi demi kemajuan seni itu sendiri. "Jangan sampai seni itu terkekang. Dan sesuai dengan undang-undang, kan setiap warga negara bebas berpendapat. Yang pasti sih dari Multivision, timnya selalu menjaga jangan sampai kelewatan," kata Anjas yang ditemui di lokasi syuting SIAPA BERANI JADI JANDA? di Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (12/11).
Ditambahkan Anjas, sebaiknya setiap orang bisa lebih tegas ke diri masing-masing. Undang-undang boleh saja, namun semuanya tergantung diri sendiri agar tidak sampai kebablasan. "Namanya manusia kan ada proses pembelajaran. Jangan sampai ditentukan salah atau benar. Jangan langsung di-judge salah," ujarnya.
Jika suatu saat tayangan yang diproduserinya mendapat teguran, Anjas pun tak gentar. "Kalau dalam hidup sudah takut duluan, ya mending jangan hidup aja. Pokoknya kita selalu perhatikan undang-undang itu, jangan sampai kelewatan," pungkas Anjas. (kpl/ang/boo)