< >

ARTIKEL ARDINA RASTI


'LARI DARI BLORA', Harmoni Tanpa Kekangan Hukum

KapanLagi.com - Pemain: W.S Rendra, Ardina Rasti, Annika Kuyper, Soultan Saladin, Nizar Zulmi, Tina Astari, Iswar Kelana, Brata Sentosa, Andreano Phillip, Oktav Kriwil

Setelah setahun tertahan edar, film LARI DARI BLORA akhirnya nampang juga di bioskop. Film ini diangkat dari naskah skenario yang memenangkan lomba penulisan skenario film cerita program film kompetitif Budpar 2005.

Film perdana IBAR Pictures sekaligus film perdana bagi sutradara Akhlis Suryapati ini menyoroti kebudayaan masyarakat Samin. Dikemas dalam sinematografi yang apik diharapkan film ini memberi apresiasi tentang sebuah film Indonesia, tentang budaya Indonesia yang diambil dari sudut pandang sineas Indonesia dengan daya tutur dan bahasa gambar komunikatif.

Bercerita tentang seorang gadis Amerika mewakili LSM asing, bernama Cintya (Annika Kuyper), seorang gadis Amerika Serikat (AS) yang sedang patah hati dan "melarikan diri" ke wilayah antara Pati-Blora (Jawa Tengah), melakukan penelitian terhadap kebudayaan masyarakat Samin.

Pada saat ia masuk ke desa, Bongkeng (Andreano Phillip) dan Sudrun (Oktav Kriwil), dua pelarian Penjara Blora menyusup ke desa untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Si Mbah (W.S Rendra), yang mengetahui keberadaan kedua buronan, tidak melapor ke polisi, tetapi ia menasehati mereka untuk menjadi orang baik.

Di sini Akhlis mencoba menggambarkan sifat orang Samin yang tertutup, tetapi sekaligus juga ingin mengubah orang jahat menjadi baik. Namun, di dalam film, lolosnya kedua narapidana justru menimbulkan isu negatif bahwa Desa Samin adalah sarang penyamun.

Pada cerita lain, Ramadian (Iswar Kelana) tampil sebagai guru. Ia berusaha mengubah cara pikir orang Samin yang hanya mementingkan sekolah kehidupan, budi pekerti dan kerja halal, tanpa perlu sekolah formal sehingga semuanya buta huruf.

Namun usahanya ditentang oleh Pak Lurah yang punya prinsip, dengan tetap menjadikan masyarakat Samin sebagai Cagar Budaya maka desa tersebut memiliki ciri khas, mengundang para peneliti, LSM, mahasiswa, dan sebagainya, yang berarti adalah mengundang dana bantuan. Pelestarian terhadap budaya dan komunitas Samin juga berarti menghargai semangat multikultural yang menjadi ciri kebudayaan Indonesia.

Kedatangan Cintya membuat si guru muda semakin bersemangat melaksanakan niat menyekolahkan anak-anak Samin. Kedekatannya dengan gadis bule itu memancing kecemburuan kekasihnya, Hasanah (Ardina Rasti), putri pak camat.

Hubungan segitiga Ramadian, Cintya, dan Hasanah inilah yang diangkat Akhlis untuk menekankan unsur drama romantis dalam debutnya sebagai sutradara film layar lebar. Akhlis juga mengungkapkan adanya keinginan liar dalam pribadi anak muda Samin dalam mengikuti pergaulan modern.

Dalam komunitas Samin, pernikahan terjadi ketika seorang pemuda jatuh hati kepada seorang gadis dan meminta izin dari orang tua si gadis untuk menikahinya. Dekat dengan istilah umum, jodoh di tangan orang tua.

Tetapi, Akhlis menyisipkan kisah asmara Heru (Fadly) dan Wati (Tina Astari) yang bergaya modern, termasuk melakukan hubungan seks pra-nikah. Sang sutradara menyebut itu semua siasat komersialisasi LARI DARI BLORA, tidak membiarkannya menjadi sebuah produk film dokumenter.

Samin adalah komunitas yang mendiami sejumlah kawasan di daerah antara Kabupaten Pati dan Blora, Jawa Tengah. Pada masa silam, mereka hidup dengan budaya eksklusif dan cenderung menghindari orang luar.

Belakangan, ajarannya berkembang menjadi gerakan batin yang menentang segala formalitas, termasuk lembaga sekolah dan pernikahan, pembayaran pajak, administrasi negara, dan sejumlah hal lainnya di masyarakat yang lebih lumrah.

Orang Samin lebih mengutamakan keharmonisan hidup dan keselarasan dengan alam. Mereka tidak penah menikah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) atau Kantor Catatan Sipil, tetapi jarang sekali terjadi perceraian dalam rumah tangga yang telah mereka bangun.

Komunitas ini juga tidak memeluk agama tertentu, bahkan bisa dikatakan tidak kenal Tuhan layaknya konsep kebanyakan orang. (antr/kpl/lin)


Lihat profil: W.S Rendra, Ardina Rasti, Annika Kuyper, Soultan Saladin, Nizar Zulmi, Tina Astari
Diposting oleh: Editor | Senin, 03-03-2008 |

'SUSTER N : DENDAM SUSTER NGESOT', Misteri Huruf N

KapanLagi.com - Pemain : Atiqah Hasiholan, Wulan Guritno, Bob Seven, Dominique Sanda, Ardina Rasti, Ratna Riantiarno, Titi Qadarsih, Jajang C Noor

Suster Ngesot datang lagi! Kali ini sutradara perempuan Viva Westi membumbuinya dengan dendam dalam film bertajuk SUSTER N : DENDAM SUSTER NGESOT. Film layar lebar ini adalah produksi ke-68 PT Virgo Putra Film yang sebelumnya menghasilkan CINTA DIBALIK NODA (1984) hingga REALITA, CINTA DAN ROCK N ROLL (2005).

Film ini dibintangi paduan artis muda berbakat seperti Wulan Guritno, Atiqah Hasiholan, Ardina Rasti, dan Bob Seven dengan artis senior yang sudah tak diragukan lagi kualitas aktingnya yaitu Ade Irawan, Ratna Riantiarno, Jajang C Noor, Titi Kadarsih, Mila Karmila, HIM Damsjik, dan Hengky Solaiman. Dalam film ini muncul juga artis Dominique Sanda yang telah lama beristirahat dari dunia akting, serta memperkenalkan bintang cantik Letizia yang berperan sebagai hantu N.

Film ini bercerita mengenai Sarah (Atiqah Hasiholan) yang baru mengetahui bahwa tidak semua perawat pada zaman pendudukan Belanda mengenakan pakaian serba putih. Hal tersebut terkuak dari foto-foto lama neneknya, Rose (Dominique Sanda), pemilik panti jompo di hawa dingin sebuah puncak bukit di Tanah Pasundan.

Panti yang telah lama telantar itu dikenal sebagai Villa Rose dan kemudian diwariskan pada Sarah yang baru saja menikah dengan Jonathan (Bob Seven). Pasangan pengantin baru itu berniat wiraswasta dengan menghidupkan kembali panti jompo itu, lengkap dengan segala memorabilia zaman Rose dahulu. Seorang perawat yang cantik, Wulan (Wulan Guritno) yang tinggal tak jauh dari Villa Rose, melamar menjadi penanggung jawab panti yang hendak dibuka tersebut. Wulan membawa serta para pembantu untuk mengurus vila dan seluruh penghuninya.

Masalah mulai mengemuka ketika Maya (Ardina Rasti) juga mendadak muncul di Villa Rose. Maya adalah adik Joe yang nyentrik dan misterius. Sarah mulai merasakan keganjilan-keganjilan namun tak ada orang lain yang merasakan hal serupa. Kematian adalah hal yang lumrah di sebuah panti jompo, bukan? Namun, benarkah demikian yang sebenarnya terjadi? Atau adakah sebuah rahasia kelam dari masa lalu yang menghantui kekinian Villa Rose? Serta N, inisial nama siapakah itu? Sarah bertekad mengungkap semuanya, karena ia harus berpacu dengan waktu, sebelum semuanya menjadi benar-benar terlambat.

Suster N adalah sebuah film horor yang mengambil salah satu dari sekian versi kisah mengenai hantu suster ngesot yang beredar di masyarakat. Pemilihan judul yang ditetapkan sejak bulan Januari 2007 dengan memakai huruf N tersebut disengaja untuk memberikan pertimbangan artistik dan efek misterius yang menggoda rasa ingin tahu pemirsa. Huruf N ini kemudian menjadi kunci karena merupakan inisial nama Suster Norah, seorang perawat dari zaman pendudukan Belanda di sebuah vila pinggiran kota Bandung, di mana awal mula kisah film ini berawal.

Mitos hantu suster ngesot yang berlokasi di Jawa Barat mengisahkan tentang Suster Norah, cucu seorang nyai (wanita pribumi yang menikah dengan pria Belanda) yang cantik dan bekerja sebagai perawat di sebuah panti jompo yang diperuntukkan bagi keturunan Belanda di Jawa Barat. Asal usul Norah yang setengah Belanda dan nenek Norah yang ditengarai mempunyai ilmu gaib dan barang-barang pusaka, salah satunya berupa gelang keramat yang dipercaya dapat membuatnya berada dalam dua alam yang berbeda. Atas alasan tersebut pertunangan Norah putus dengan pria Belanda.

Kemarahan dan ketidakberdayaan mengubah Norah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Satu per satu ia membunuhi penghuni panti dengan berbagai cara. Norah juga merayu tunangan pemilik panti. Kedok Norah akhirnya terbongkar dan dihentikan dengan jalan memukul kaki Norah dengan tongkat hingga remuk dan tak berdaya. Kisah tersebut kemudian diramu oleh tim penulis "Syamarhan" pimpinan Viva Westi menjadi latar belakang pembuatan skenario.

Keistimewaan film ini adalah pada pendekatan yang tidak sepenuhnya mengikuti pakem komersil film horor pada umumnya yang sering dituding vulgar lantaran kurang optimal memberikan ruang pada dukungan artistik.

Menurut sutradara Viva Westi, dia sengaja membuat film horor yang dingin. Regina dan Vida , director of photography dan art director berkolaborasi bersama Viva menciptakan gambar yang natural. Viva pun sangat tidak ingin gambar dengan cahaya yang kontras seperti kebanyakan film horror yang ada selama ini, di mana terasa sekali perubahan terang gelapnya. Dalam film Suster N kesan dingin itu didapat melalui gambar-gambar yang datar, rata, dan dingin, tapi indah.

Film ini juga mengandung unsur misteri yang kuat dibanding unsur suspense-nya dan sedapat mungkin menjauhi efek mengagetkan penonton dengan jalan membangun suasana seram dan ngeri secara bertingkat-tingkat. Singkatnya film ini tidak mengaget-kageti penonton karena ending film ini sendiri memiliki twist cerita yang mengagetkan. Jadi untuk membuktikannya film ini layak untuk ditonton. (kpl/lin)


Lihat profil: Atiqah Hasiholan, Wulan Guritno, Ardina Rasti, Ratna Riantiarno, Titi Qadarsih, Jajang C Noor
Diposting oleh: Editor | Senin, 29-10-2007 |

«1»