< >

BLOG ARI SIGIT


Ari Sigit Pilih Bungkam Soal Bambang - Mayang

Kapanlagi.com - Bambang Trihatmodjo dan Mayangsari sepertinya tak pernah kering sebagai bahan pemberitaan. Pasangan ini menjadi topik paling hangat di keluarga Cendana saat ini. Apalagi beberapa waktu lalu Bambang Tri dengan elegan menggandeng Mayangsari di depan kolega dalam acara resmi kaum jetset. Padahal sampai saat ini keluarga besar Cendana selalu menolak kehadiran Mayang. Tetapi Bambang tak peduli.

Ari Sigit, cucu tertua keluarga Cendana yang akrab dengan media, mengaku enggan berkomentar soal tersebut. Menurut Ari, saat dijumpai di Bebek Bali, Senayan, Jakarta, Kamis (14/8), sangat tidak mudah berkomentar mewakili keluarga.

"Mendingan tanya langsung saja dengan yang bersangkutan," ujar Ari.

"Sebagai keponakan tertua, saya hanya melihat dan membimbing adik–adik sepupu saya, seperti Panji dan Gendis yang sering curhat," imbuhnya.

Bagaimanapun, ditandaskan Ari, cerai sangatlah disayangkan. "Apalagi anak–anak sudah besar. Tapi tentunya kembali lagi kepada yang bersangkutan. Mungkin saja beliau (Bambang) lebih nyaman dengan yang sekarang."

Ari juga membedakan antara kasus cerai dirinya dengan Bambang. "Kalau saya kan cerai dulu baru menikah lagi. Kalau ini kan beda," tukasnya.  (kpl/ang/tri)


Lihat profil: Bambang Trihatmodjo, Mayangsari, Ari Sigit
Tag: Mayangsari, Bambang vs Halimah
Diposting oleh: Editor | Jumat, 15-08-2008 |

Anti Mayangsari Tetap Berlaku Bagi Cendana

Kapanlagi.com - Bagi Keluarga Cendana, bisa dibilang sosok pelantun tembang Harus Malam Ini, Mayangsari layaknya momok, yang sampai kapan pun tidak mungkin diterima keluarga besar mendiang Soeharto sebagai mantan orang nomor satu negeri ini. Dan sangat wajar kalau dalam tiap acara yang diselenggarakan Cendana, Mayang dianggap angin lalu. Tak peduli ia sudah berhasil mencuri hati Bambang Trihatmodjo yang saat itu masih menjadi suami resmi dari Halimah.

Seperti hari minggu kemarin saat Keluarga Cendana melangsungkan peringatan 100 hari wafatnya mantan Presiden Soeharto, Mayang pun tak kelihatan batang hidungnya. Cendana agaknya tak mau kecolongan untuk kedua kali seperti saat hari wafatnya Soeharto, Mayangsari hadir bersama Bambang dan anaknya, Khirani.

Seolah tak mau tahu, Keluarga Cendana pun memilih diam saat ditanya masalah konflik segitiga antara Bambang, Halimah dan Mayangsari.

"Aku ngga mau ngomong masalah itu, pamali, ini kan di masjid, jadi tidak tepat rasanya," ucap Titik selaku anak mendiang Soeharto saat peringatan 100 hari wafatnya Soeharto di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (04/05).

Halimah dan Ari Sigit pun berucap senada, "Kalau bertanya tentang peringatan ini akan saya jawab sepenuhnya, tapi kalau soal itu (Mayang) menurut saya bukan pada tempatnya," ujarnya.

Dan tak dapat dipungkiri hubungan antara Halimah dan Bambang pun tak semanis dulu. Hal itu bisa dilihat dari sikap keduanya yang saling kikuk saat bertemu muka meski dalam acara keluarga.  (kpl/wwn/ant)


Lihat profil: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, Halimah Agustina Kamil, Ari Sigit
Tag: Mayangsari, Bambang vs Halimah
Diposting oleh: Editor | Senin, 05-05-2008 |

Ari Sigit: Warga Yang Datang Sama Sekali Tak Diundang

Kapanlagi.com - Pesona almarhum Soeharto masih saja terpancarkan. Dalam tahlilan empat puluh hari meninggalnya mantan orang nomer satu negeri ini yang diadakan sejak magrib hingga pukul 20.00 di kediaman keluarga Cendana mendapat sambutan lebih dari seribu warga yang datang dari lima wilayah dan juga sekitar wilayah Jakarta. Menurut salah seorang cucu Pak Harto, Ari Sigit, warga yang datang sama sekali tidak diundang, mereka secara datang secara tulus dan sukarela untuk mengikuti acara tersebut.

Tahlilan yang berlangsung Rabu (5/3), usai salat Isya diawali dengan ceramah dari mantan Menteri Agama Quraish Syihab, dan tahlilan dipimpin ustad Arifin Ilham. Sejumlah tokoh yang tampak hadir pada acara tersebut adalah anggota DPR dari Fraksi Golkar Theo L Sambuaga, Mantan Mensesneg Moerdiono, Mantan Pangdam Jaya Sjafri Sjamsuddin dan juga Mantan Menaker Abdul Latif.

Setiap peserta tahlilan setelah mengikuti acara yang selesai sekitar pukul 20.00 mendapat bingkisan atau berkat dalam sebuah kotak plastik berisikan sarung, sajadah, Al-Quran dan semacam keramik berwarna putih dengan tulisan "Memperingati 40 hari meninggalnya Haji Mohammad Soeharto."

Di atas piring berbentuk segi empat ukuran 20x20 cm itu juga dicantumkan foto Pak Harto mengenakan seragam TNI berpangkat bintang lima. Meski demikian karena keterbatasan yang ada beberapa peserta ada yang hanya mendapat bingkisan makanan dalam kotak.

Hingga pukul 20.15 warga yang ikut serta tahlilan masih terus mengikuti antrian untuk mendapat bingkisan dan kotak makanan. Bahkan sempat beberapa kali terjadi dorong-mendorong antar warga karena tidak sabar. Namun semuanya dapat diatasi karena ada sekitar lebih dari 100 petugas kepolisian dan juga TNI yang membantu pelaksanaan pembagian.

Setiap warga yang hendak mendapat berkat dan bingkisan harus menunjukkan kupon saat acara tahlil berlangsung. (*/boo)


Lihat profil: Ari Sigit
Diposting oleh: Editor | Kamis, 06-03-2008 |

«1»

LIHAT ARSIP BERITA ARI SIGIT TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIGIT TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIGIT TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIGIT TAHUN 2004