
Ari Sigit, cucu tertua keluarga Cendana yang akrab dengan media, mengaku enggan berkomentar soal tersebut. Menurut Ari, saat dijumpai di Bebek Bali, Senayan, Jakarta, Kamis (14/8), sangat tidak mudah berkomentar mewakili keluarga.
"Mendingan tanya langsung saja dengan yang bersangkutan," ujar Ari.
"Sebagai keponakan tertua, saya hanya melihat dan membimbing adik–adik sepupu saya, seperti Panji dan Gendis yang sering curhat," imbuhnya.
Bagaimanapun, ditandaskan Ari, cerai sangatlah disayangkan. "Apalagi anak–anak sudah besar. Tapi tentunya kembali lagi kepada yang bersangkutan. Mungkin saja beliau (Bambang) lebih nyaman dengan yang sekarang."
Ari juga membedakan antara kasus cerai dirinya dengan Bambang. "Kalau saya kan cerai dulu baru menikah lagi. Kalau ini kan beda," tukasnya. (kpl/ang/tri)

Seperti hari minggu kemarin saat Keluarga Cendana melangsungkan peringatan 100 hari wafatnya mantan Presiden Soeharto, Mayang pun tak kelihatan batang hidungnya. Cendana agaknya tak mau kecolongan untuk kedua kali seperti saat hari wafatnya Soeharto, Mayangsari hadir bersama Bambang dan anaknya, Khirani.
Seolah tak mau tahu, Keluarga Cendana pun memilih diam saat ditanya masalah konflik segitiga antara Bambang, Halimah dan Mayangsari.
"Aku ngga mau ngomong masalah itu, pamali, ini kan di masjid, jadi tidak tepat rasanya," ucap Titik selaku anak mendiang Soeharto saat peringatan 100 hari wafatnya Soeharto di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (04/05).
Halimah dan Ari Sigit pun berucap senada, "Kalau bertanya tentang peringatan ini akan saya jawab sepenuhnya, tapi kalau soal itu (Mayang) menurut saya bukan pada tempatnya," ujarnya.
Dan tak dapat dipungkiri hubungan antara Halimah dan Bambang pun tak semanis dulu. Hal itu bisa dilihat dari sikap keduanya yang saling kikuk saat bertemu muka meski dalam acara keluarga. (kpl/wwn/ant)

Tahlilan yang berlangsung Rabu (5/3), usai salat Isya diawali dengan ceramah dari mantan Menteri Agama Quraish Syihab, dan tahlilan dipimpin ustad Arifin Ilham. Sejumlah tokoh yang tampak hadir pada acara tersebut adalah anggota DPR dari Fraksi Golkar Theo L Sambuaga, Mantan Mensesneg Moerdiono, Mantan Pangdam Jaya Sjafri Sjamsuddin dan juga Mantan Menaker Abdul Latif.
Setiap peserta tahlilan setelah mengikuti acara yang selesai sekitar pukul 20.00 mendapat bingkisan atau berkat dalam sebuah kotak plastik berisikan sarung, sajadah, Al-Quran dan semacam keramik berwarna putih dengan tulisan "Memperingati 40 hari meninggalnya Haji Mohammad Soeharto."
Di atas piring berbentuk segi empat ukuran 20x20 cm itu juga dicantumkan foto Pak Harto mengenakan seragam TNI berpangkat bintang lima. Meski demikian karena keterbatasan yang ada beberapa peserta ada yang hanya mendapat bingkisan makanan dalam kotak.
Hingga pukul 20.15 warga yang ikut serta tahlilan masih terus mengikuti antrian untuk mendapat bingkisan dan kotak makanan. Bahkan sempat beberapa kali terjadi dorong-mendorong antar warga karena tidak sabar. Namun semuanya dapat diatasi karena ada sekitar lebih dari 100 petugas kepolisian dan juga TNI yang membantu pelaksanaan pembagian.
Setiap warga yang hendak mendapat berkat dan bingkisan harus menunjukkan kupon saat acara tahlil berlangsung. (*/boo)