< >

BLOG ARI SIHASALE


King Belum Berhasil Kalahkan Laskar Pelangi

Kapanlagi.com - Film berjudul KING yang bertema anak-anak, ternyata masih kalah tingkat penjualan tiketnya dibandingkan dengan film berjudul LASKAR PELANGI yang juga mengangkat tema serupa.

"Penjualan tiket untuk KING mencapai sekitar 1.500 tiket/hari, namun masih kalah dibandingkan dengan film LASKAR PELANGI," kata Manager Bioskop Citra 21 Semarang, Waluyo, Sabtu (11/07).

Ia mengatakan penjualan tiket untuk LASKAR PELANGI sanggup mencapai sekitar 2.000 tiket/hari dan berada pada urutan pertama film dengan penjualan tiket terlaris dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Namun, kata dia, meskipun masih kalah dibandingkan film LASKAR PELANGI, penjualan tiket film perdana besutan sutradara Ari Sihasale tersebut terbilang cukup tinggi, dibandingkan film-film lain yang mengangkat tema hantu.

Selain film KING, film lain yang mengusung tema serupa berjudul GARUDA DI DADAKU garapan sutradara muda Ifa Isfansyah juga diputar di bioskop-bioskop kota Semarang, termasuk Bioskop Citra 21 Semarang.

"Dua film bertema anak-anak ini cukup diminati," kata Waluyo.

Menurut dia, animo masyarakat Semarang untuk menonton kedua film tersebut terbilang cukup tinggi, sekalipun pemutarannya sudah hampir memasuki waktu satu bulan.

"Penjualan tiket film GARUDA DI DADAKU tercatat relatif sama dengan film KING di kisaran 1.500 tiket/hari," katanya.

Biasanya, kata dia, penjualan tiket untuk setiap film baru pasti ramai di minggu-minggu pertama, sementara di minggu-minggu berikutnya tergantung kualitas film itu.

"Kami menganggap sebuah film sukses jika mampu memasuki pemutaran sampai satu bulan," kata dia.

Sementara itu, kehadiran film KING dan GARUDA DI DADAKU diakui oleh masyarakat, terutama kalangan orangtua sebagai alternatif pilihan tontonan di tengah maraknya film bertema percintaan, komedi, dan religi.

Yunita (30), warga Pondok Kelapa Jakarta Timur yang mengaku tengah berlibur di Semarang mengatakan, dirinya selalu membawa putrinya, Gita Aulia Putri(7) untuk menonton film baru bertema anak di setiap kemunculannya.

Menurut dia, film merupakan media pembelajaran yang bagus untuk anak, sebab melalui film anak-anak dapat belajar memahami mana yang baik atau buruk dalam kehidupan sehari-hari.

Senada dengan hal tersebut, Zakaria (39) warga Demak juga mengaku tertarik dengan film KING karena sarat nilai moral yang terkandung dalam isi cerita.

"Film lain yang bertema anak-anak seperti GARUDA DI DADAKU sepertinya juga bagus, namun saya belum sempat menontonnya," kata Zakaria yang mengajak putranya Beni (7) untuk menonton film tersebut.

Disinggung tentang kuantitas dan frekuensi kemunculan film anak, seperti film KING dan GARUDA DI DADAKU, ia justru menyayangkan rendahnya produksi film Indonesia yang bertemakan anak-anak.

"Film-film bertema anak, khususnya yang membawa pesan moral harus lebih diperbanyak, minimal setiap liburan sekolah, agar anak-anak dapat mendapatkan hiburan yang mendidik," katanya. (kpl/bee)


Lihat profil: Ari Sihasale
Komentar : 2 komentar
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 11-07-2009 |

Dinas Pendidikan DKI Jakarta Diminta Putar Film 'KING'

Kapanlagi.com - Sejumlah orang tua wali murid yang sedang mendampingi anak-anaknya berlibur mengharapkan kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta memutar film KING di sekolah-sekolah karena mengandung unsur pendidikan dan motivasi.

Azizah, ibu dari Abdul Rahman, siswa kelas VI salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan, mengaku terharu dengan semangat meraih cita-cita dan persahabatan antara Raden dengan Guntur.

"Nilai persahabatan seperti itu saat ini jarang saya temukan di dunia nyata. Kebanyakan saat ini persahabatan dinilai dengan materi," kata Azizah usai menyaksikan film KING di studio 21 bioskop Blok M Square, Jumat (3/7).

Menurut dia, film produksi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Production) tersebut layak diputar di sekolah pada hari libur, atau dijadikan mata pelajaran pilihan pada kurikulum kurikulum muatan lokal (mulok). Selain menjadi hiburan dan tontonan, film tersebut juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi masuknya narkoba ke sekolah-sekolah.

Sementara Sumiati, orang tua dari Zahro, siswa SDN 3 Cipete, Jakarta Selatan, menambahkan, film KING sangat cocok untuk disajikan kepada anak-anak dan dapat memotivasi orangtua untuk memperhatikan anak.

Ia berharap pada produser film hendaknya pada musim liburan tahun depan juga dibuat film-film yang khusus untuk anak-anak, seperti KING, GARUDA DI DADAKU dan LASKAR PELANGI.

Lain lagi dengan pengalaman Fauzi, salah satu mahasiswa semester VIII Universitas Nasional Jakarta, yang mengatakan film tersebut sangat berbobot. Ia mengaku awalnya malas mendampingi adiknya yang masih duduk di bangku SMP, yakni Bimbo, untuk nonton film KING. Namun setelah menyaksikan film tersebut ia merasa banyak hikmah yang diperolehnya.

"Banyak hal yang kami peroleh, di antaranya nilai persahabatan, kekeluargaan, sosial dan kerukunan antar warga sangat 'hangat'," katanya.

Said Abu Bakar, salah satu petugas studio 21, mengatakan, hampir setiap tayangan film KING penonton terus berjubel. "Padahal setiap hari film tersebut diputar lima kali," tukasnya.     (kpl/bun)


Lihat profil: Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen
Komentar : 3 komentar
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 04-07-2009 |

Kejelasan Aturan Sponsor Rokok Dalam Film Harus Diperjelas

Kapanlagi.com - Sutradara Nia Dinata meminta pemerintah memperjelas aturan sponsor perusahaan rokok dalam film nasional, karena selama ini aturan ini tidak jelas sehingga menimbulkan kontroversi antara pemerintah dan penyelenggara film.

Pernyataan Nia ini menanggapi kontroversi mengenai sponsor perusahaan rokok dalam penayangan film yang muncul setelah film KING garapan Ari Sihasale dikritik beberapa pihak, karena disponsori salah satu perusahaan rokok.

KING yang diinspirasi dari kisah hidup legenda bulutangkis Liem Swie King akan dirilis berbarengan dengan digelarnya turnamen bulutangkis yang disponsori Djarum Indonesia pada 25 Juni 2009.

Nia meminta aturan sponsor perusahaan rokok di film diperjelas karena aturan ini ternyata tak bisa diterapkan pada yayasan di bawah perusahaan rokok.

Sineas bernama lengkap Nurkurniati Aisyah Dewi ini mengungkapkan, beberapa film anak sering dikritik karena disponsori perusahaan rokok. Padahal yang mensponsori bukan perusahaan rokok langsung tetapi lewat yayasan perusahaan rokok tersebut.

"Jadi saya kira aturannya harus diperjelas dulu, sebelum melarang boleh tidaknya film diputar," kata dia.   (kpl/bun)


Lihat profil: Nia Dinata, Ari Sihasale
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 30-06-2009 |

'GARUDA DI DADAKU' Menghibur dan Penuh Inspirasi

Kapanlagi.com - Film GARUDA DI DADAKU merupakan suguhan film keluarga berkualitas yang membumi, menyentuh, menghibur dan menginspirasi. Demikian hal itu dikatakan oleh Produser Eksekutifnya, Putut Widjanarko, di bioskop 21 Tamini Square Jakarta, Jumat (26/6).

"Hal ini terlihat dengan banyak masyarakat yang menonton film pada beberapa bioskop yang kita pantau di daerah," kata nya.

Para pemain GARUDA DI DADAKU sejak pemutaran film perdana pada 18 Juni 2009, sudah melaksanakan road show lima kota di Indonesia yakni Banjarmasin, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Makassar.

"Antusiasme terhadap film ini terlihat dengan banyaknya penonton yang memesan tiket beberapa hari sebelum, agar dapat menyaksikan film keluarga sekaligus sebagai pengisi hari libur," katanya.

Film GARUDA DI DADAKU merupakan film inspiratif yang menggambarkan nilai persahabatan, kekeluargaan dan nasionalisme, kata Putut, menjelaskan.

Film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah di bawah bendera SBO Films dan Mizan Productions yang telah sukses sebagai Co-Produser LASKAR PELANGI.

Putut menceritakan bahwa GARUDA DI DADAKU bercerita tentang kerja keras Bayu yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar mewujudkan satu mimpi dalam hidupnya yakni sebagi pemain sepak bola yang baik dan berhasil, sehingga bisa membanggakan keluarga terutama ibu dan kakeknya.

Dibantu kedua sahabatnya Heri yang penggila bola dan Zahra yang misterius, Bayu berupaya untuk dapat masuk menjadi Tim Sepak Bola Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional untuk membela nama harum bangsa.

"Namun berbagai hambatan menghadang Bayu, termasuk kakeknya yang sangat keras melarang Bayu menjadi pemain sepakbola," katanya.

Film drama keluarga untuk semua umur ini mengetengahkan berbagai nilai dalam kehidupan lewat kacamata anak-anak, mengetengahkan kembali soal persahabatan, kerja keras, perjuangan, dan semangat mencapai cita-cita, kejujuran, kasih sayang, dan kebanggaan untuk menjadi anak Indonesia.

Inspirasi cerita film ini didapat oleh Salman Aristo, sang penulis skenario, lewat dua kejadian penting yaitu kecintaan para pendukung sepak bola Indonesia dengan terus menyanyikan lagu GARUDA DI DADAKU.

"Garuda Kebanggaanku. Ku yakin, hari ini pasti menang? meskipun tim nasional jarang menang, dan kemenangan tim Indonesia," kata Putut.

Sementara itu Maudy Koesnadi sebagai Wahyuni (ibu Bayu) dalam film ini mengatakan bahwa, dengan latar belakang seperti itu, tidak heran cerita film sangat inspiring (memberi semangat), karakter anak-anaknya juga sangat inspiring.

"Bayu sudah jelas menggambarkan anak yang punya impian tinggi dan bekerja keras penuh semangat demi cita-citanya. Heri adalah motivator gila bola berotak cerdas yang banyak mendukung Bayu soal ketahanan mental dan keahlian teknis," katanya.

Sementara Zahra adalah representasi anak perempuan yang kuat dalam mengatasi cobaan dan kesulitan hidup.

Tiap karakter memiliki latar belakang yang berbeda, namun kekayaan perbedaan itu justru menginspirasi satu sama lain dan hal ini yang menjadi dasar persahabatan ketiganya.

Selain itu aktor senior lainnya adalah Ramzi bertransformasi sebagai Bang Duloh yang kocak mengocok perut penonton, Ikranagara sebagai Usman (kakek Bayu) membuat penonton geregetan dengan keras kepalanya.

Sementara Maudy Koesnadi sebagai ibu Bayu yang merupakan orang tua tunggal menarik penonton bersimpati dan Ari Sihasale sebagai Pak Johan yang instruktur pelatih sepak bola membangkitkan kepercayaan dan penghargaan penonton pada orang-orang di balik layar bidang olah raga yang masih banyak menjunjung sportivitas, idealisme dan kejujuran.    (kpl/dar)


Lihat profil: Maudy Koesnadi, Ari Sihasale, Ikranegara
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 27-06-2009 |

Komnas PA Protes Keterlibatan Djarum Dalam film 'KING'

Kapanlagi.com - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memprotes penayangan film KING yang disponsori perusahaan rokok PT Djarum dan ditayangkan pada saat libur sekolah anak-anak.

"Keikutsertaan perusahaan rokok sebagai sponsor film itu dikhawatirkan bisa menggiring anak-anak untuk merokok dan menganggap merokok tidak berbahaya bagi kesehatan," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/6).

Ketika menyikapi film KING yang disponsori PT Djarum itu, Komnas A melayangkan protes kepada Alenia Pictures sebagai pihak production house dan Nia Zulkanaen selaku produser eksekutif, beserta suaminya Ari Sihasale selaku produser merangkap sutradara.

Dia mengatakan, Komnas Anak sangat menyayangkan dan merasa prihatin atas keterlibatan PT Djarum pada pembuatan film itu, padahal Afenia Pictures merupakan produsen house yang selama ini berhasil menyuguhkan film-film berkualitas bagi anak-anak. Contohnya, seperti film DENIAS SENANDUNG DI ATAS AWAN (2006) dan LIBURAN SERU (2008). Film-film yang diproduksi itu merupakan film anak yang mampu menyedot perhatian besar masyarakat dan melahirkan penghargaan.

Film-film yang telah diproduksi Alenia terdahulu, sambungnya, merupakan film yang menunjukkan kepedulian pada dunia anak-anak dan tidak sedikitpun melibatkan perusahaan rokok di dalamnya.

Melalui surat protes ini, katanya, Komnas Anak mendesak Alenia Pictures untuk meminta maaf kepada publik atas keterlibatan sponsor perusahaan rokok dalam film KING itu dan minta untuk tidak bekerjasama lagi dengan perusahaan rokok dalam bentuk apapun di masa mendatang.

"Sudah seharusnya seluruh pihak berusaha melindungi generasi penerus bangsa dari dampak bahaya tembakau dengan melakukan 'Total Ban' terhadap iklan promosi dan sponsor rokok," katanya didampingi Sekjen Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

Selanjutnya dia mengatakan, keterlibatan PT Djarum dalam film itu bisa membangun citra yang sempurna bagi perusahaan tersebut seolah-olah berjasa besar bagi bangsa terutama di mata anak-anak penonton.

Promosi yang dilakukan film KING akan membuat anak-anak yang tidak pernah mengetahui PT Djarum pada akhirnya mengenalnya. "Padahal, orang tahu bahwa PT Djarum adalah produsen barang adiktif yang bisa menyebabkan kematian, penyakit dan cacat," ujarnya.

Menurut catatan, di Indonesia sendiri 427.948 jiwa melayang akibat konsumsi rokok pada tahun 2001 atau 1.172 orang meninggal setiap hari.   (kpl/dar)


Lihat profil: Seto Mulyadi, Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 25-06-2009 |

Ogah Latah, Ari Sihasale Andalkan 'KING'

Kapanlagi.com - Perkembangan film Indonesia belakangan ini cukup pesat. Namun sayangnya, masih juga ada sistem musiman. Misalnya saja, jika musim film horor maka hanya film horor saja yang kebanyakan beredar di bioskop. Menanggapi semua itu, Ari Sihasale mengaku tak mau ikut-ikutan latah. Ia pun bisa membuktikannya dengan membuat sebuah film bermutu tentang perjuangan atlet bulu tangkis yang terangkum dalam film berjudul KING.

"Saya puas sekali dengan hasil film ini. Banyak yang suka, dan memang sudah saya perkirakan. Apalagi momennya tepat dengan kejuaraan Indonesia Open," tutur Ari yang ditemui bersama istrinya, Nia Zulkarnaen, di Planet Hollywood, Jakarta, Senin (22/6).

Ide film ini sendiri, terang Ari, terinspirasi dari perjuangan insan olahraga di tanah air. Dan hal ini memang sudah sangat diinginkan aktor yang akrab dipanggil Ale ini sejak lama.

"Dengan selesainya film ini, saya menjadi bertambah pengalaman dalam menggarap sebuah film. Mudah-mudahan ke depannya saya bisa membuat film yang lebih baik lagi," harapnya.

Ditanya kenapa selalu membuat film keluarga atau anak-anak, Ale mengaku memang punya alasan khusus. "Karena yang ada saat ini memang jarang diangkat. Coba lihat, di mana-mana pasti filmnya horor dan komedi. Saya hanya melihat sisi yang lain saja. Kebetulan saat ini momennya memang pas dengan liburan," tukasnya.

Di samping itu, Nia juga menjelaskan bahwa di film ini mereka sengaja mengangkat nama Liem Swie King, karena sosok pebulutangkis tersebut memang fenomenal di masanya. "Tokohnya dianggap mampu membuat anak-anak termotivasi. Semangat nasionalismenya kan memang kelihatan sekali. Ada lagu Indonesia Raya-nya juga," pungkasnya. (kpl/mai/boo)


Lihat profil: Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 23-06-2009 |

Nia Zulkarnaen Ingin Sampaikan Pesan Lewat 'KING'

Kapanlagi.com - Sebagai produser Nia Zulkarnaen berketetapan untuk membuat film yang membawa misi sendiri. Seperti film barunya KING, Nia menganggap film ini sebagai contoh kesuksesan dengan sebuah kerja keras. Dalam pembuatannya sendiri, Nia mengakui mengalami beberapa kendala.

Nia mengatakan kalau KING mencoba menunjukkan bagaimana sebuah kerja keras mampu menuai kesuksesan. "Saya ingin menyampaikan pesan bahwa kesuksesan itu tidak datang tiba-tiba. Harus memadukan kerja keras dan belajar," ungkap produser ini saat ditemui di pertandingan Djarum Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).

Membuat film olah raga bukan sesuatu yang mudah, Nia mengaku mengalami beberapa kendala. "Yang paling sulit itu ngambil gambar saat pertandingan. Harus diulang sampai berkali-kali take. Film ini adalah wujud terima kasih masyarakat kepada Liem Swie King atas jasanya sebagai pahlawan olahraga yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia," ungkap istri Arie Sihasale ini, yang mengaku semangat kebangsaannya tumbuh saat membuat adegan pertandingan.   (kpl/ant/erl)


Lihat profil: Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 19-06-2009 |

«12»

LIHAT ARSIP BERITA ARI SIHASALE TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIHASALE TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIHASALE TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIHASALE TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA ARI SIHASALE TAHUN 2004