KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Contohnya aja soal kostum. Tidak banyak band yang memikirkan kostum. Makanya band yang memikirkan kostum biasanya lebih diingat orang. Ya misalnya, sorry nih, band yang makai kaos distro, padahal sebenarnya musiknya bagus, tapi mereka jarang diingat," kata Pongky kepada KapanLagi.com di Hotel Olino, Malang, belum lama ini.
Hal itu, lanjutnya, beda dengan konsep The Dance Company yang selalu memikirkan kostum, konser di panggung, format yang unik tiap kali tampil. Selain itu, kelebihan lainnya yakni The Dance Company lebih berani soal harga.
"Nggak banyak band mau ngaku berapa harga bandnya. Tapi kalau kita, kita bilang kalau manggung kita Rp50 juta, nggak lebih nggak kurang. Ya, tapi kalau lebih itu nanti perkara lain. Nah, kalau band lain kan malu. Justru itulah marketing yang kita coba dobrak. Nggak harus ngikutin cara orang kok, banyak yang bisa kita lakukan," tukas suami Sophie Navita ini.
Namun semua itu ada catatannya. Hal-hal seperti itu hanya terjadi jika Pongky, Baim, Aryo, dan Nugie berubah menjadi Wega, Bebe, Ryo, dan Mbot saja di The Dance Company. Di band yang mempersatukan mereka ini mereka bebas melakukan apa saja, tak peduli apa pun, yang penting punya prinsip.
"Ya ini ibaratnya dream job-nya pemain band, di mana kita manggung kita yang nentuin harga, kita manggung kita mau ngapain, mau dandan aneh juga kita bisa terima. Terus kalau kita punya sikap atau pendapat, kita nggak malu mau ngomong," ujar Pongky.
"Ya, tapi kita melakukan itu juga karena kita sudah melewati proses yang sedemikian panjang," sahut Baim. "Jadi kita sudah punya kharisma untuk melakukannya, karena itu memang nggak mungkin dilakukan sama band baru."
Pernyataan itu didukung penuh oleh Pongky. Ia juga menambahkan jika arti The Dance Company adalah bebas berekspresi. "Artinya kita keluar dari zona aman kita, kita jadi orang lain, dan bebas ngelakuin apa aja. Kayak aktor gitu," pungkasnya. (kpl/boo)

"Waktu kita lagi ngomongin konsep ini, terus kita lewat sebuah tempat namanya Dance Company. Terus saya pikir, wah ini kayaknya cocok untuk boysband. Ya, kayak NSync, Backstreet Boys, itu kan cocok, bukan buat ngerock, dan aku pikir Dance Company ini kayaknya pas jadi boysband. Tapi akhirnya kita pikirin, nggak mungkin jadi boyband, ya udah bikin band aja," terang Pongky.
Ditemui KapanLagi.com di Olino Hotel, Malang, belum lama berselang, Pongky yang ditemani Baim mengungkapkan jika awal berdirinya TDC, mereka yakin akan memilih jalur pop seperti layaknya New Kids On The Block (NKOTB).
"Jadi akan ngepop gitu. Tapi setelah nge-band, jiwa kita ternyata bukan hanya di pop. Ada ini, ada itu, dan rock n roll salah satunya. Tapi kita nggak mau terjebak hanya dengan rock n roll. Dan kalau ada orang yang bilang kita cuma rock n roll, ya itu salah. Kita mainin apa aja yang kita pengen," tukas Pongky.
"Ya, kebetulan aja lagu pertama kita genrenya rock n roll," sahut Baim yang asyik memainkan handphonenya.
Dan rock n roll itu, lanjut Pongky, yang akhirnya menjadi tiket sempurna mereka masuk ke dunia hiburan tanah air dengan konsep yang berbeda, terlepas dari ketenaran masing-masing personel. "Jadi untuk nembus pasar sekarang itu pas," ujarnya. (kpl/boo/bun)

Menjalani dua karir sekaligus, Aryo memang harus pandai-pandai membagi waktu. Bahkan terkadang, dia membawa-bawa peran yang didalaminya ke dalam dunia musiknya. "Ya, bisalah dibagi waktunya. Cuma kalau mau akting total bisa kebawa ke dalam band. Anak-anak jadi pada bingung kalau aku kelihatan serius padahal lagi mendalami peran serius sedang aku kan aslinya begajulan," kilah Aryo yang ditemui di Planet Hollywood, Selasa (03/11).
Mencintai kedua dunia yang digelutinya, Aryo pun mengaku susah memilih mana yang lebih diberatkannya. "Gue suka dua-duanya, cuma selama di musik aku selalu fun, tapi kalau main film gue bisa jadi orang gila," terangnya. (kpl/wwn/erl)

"The Dance Company ini karena ada istri, ya ada 50 atau 55% yang dari istri. Kayak kostum, mereka juga kadang malah yang nyariin. Jadi kalau ditanya, perannya besar banget," terang Pongky saat ditemui di Hotel Olino, Malang, akhir pekan lalu.
Dituturkan Pongky, istrinya, Sophie Navita, istri Baim, Artika Sari Devi, istri Nugie, Shinta, dan istri Aryo, Mila, selain sama-sama mendukung mereka juga bersahabat satu sama lain. Bahkan, mereka berempat juga berencana untuk menyusul sang suami membuat proyek musik.
"Pasti para istri itu bersahabat. Rencananya mereka ada proyek musik juga," tambah Pongky.
"Saya nggak pernah melihat istri pemain band lain yang sifatnya suportif, mendukung, positif, dan berkarya juga. Dan kita tuh nggak suka istri cuma terlibat pembicaraan nggak penting, gosip. Meski gosip itu part of our life, tapi bukan sesuatu yang harus kita tunjukin ke TV. Kita mau ngarahin ke arah yang lebih baik di mana istri-istri kita bisa menghasilkan karya," pungkasnya. (kpl/boo/npy)

"Rencananya mereka ada proyek musik juga. Lagunya dari Sophie karena Sophie yang bikin lagu. Kita bantuin dari segi musik aja," ujar Pongky, suami Sophie Navita.
"Iya, tinggal dijalanin aja," angguk Baim, suami Artika Sari Devi.
Proyek itu sendiri akan segera dijalankan. Namun saat ini masih menunggu kepulihan Tika yang baru saja melahirkan.
"Tinggal jalan," terang Pongky. "Tika kan baru melahirkan. Nanti mungkin habis ini. Setelah ready langsung jalan."
"Kalau yang sekarang aktif kan Sophie ama Artika," tambahnya. "Tapi si Mila (istri Aryo) juga termasuk orang belakang layar. Terus Shinta-nya Nugie juga gitu. Ya nantilah ada waktunya itu. Kita mau ngarahin ke arah yang lebih baik, di mana istri-istri kita bisa menghasilkan karya." (kpl/boo/npy)

Hal itu terbukti lagi saat mereka manggung di Flame, The Executive Club, Malang, Minggu (1/11) dini hari. Keempat cowok yang kini berganti nama menjadi Ryo (Aryo), Mbot (Nugie), Bebe (Baim), dan Wega (Pongky) itu jadi pusat perhatian sejak naik ke atas panggung.
Menyapa penggemar dengan logat jawa yang kental, Pongky yang bergaya metroseksual - seperti personil lainnya, langsung mendapat sambutan meriah. Beberapa hits mereka bawakan di antaranya yang jadi andalan Modal Cinta, So Far Away, Coba Kau Bayangkan, dan tentu saja Papa Rock n Roll. Bukan hanya itu, keempatnya juga menggelontorkan beberapa lagu milik masing-masing personel saat belum tergabung di The Dance Company seperti Setia (Jikustik) yang diaransemen lebih ngerock.
Berada di lead vocal, Aryo tampil energik. Sementara, Nugie lebih memilih berada di baris belakang, tepatnya di drum. Alunan gitar Baim paling mendapat sambutan, dan gaya kocak Pongky di bass mampu menghidupkan suasana.
Guyonan dan kekompakan mereka membuat penonton yang melihat tak jua bosan. Alhasil, acara yang dimotori DSA Produktama dan LA Lights itu berlangsung sukses. Tiket masuk seharga Rp75.000 pun dirasa seimbang dengan kepuasan yang didapat. (kpl/boo/erl)

"Prosesnya dilakukan secara normal, berarti saya siaga di samping, tadi pas proses sempet dicakar dari samping, syukur nggak dijambak. Dan saya baru tahu dan merasa betapa besarnya pengorbanan untuk melahirkan," kata Baim saat ditemui di RS Kemang Medical Care, Jakarta, Rabu (21/10).
Teman band Nugie, Aryo, dan Pongky itu juga menceritakan bagaimana Artika menjalani proses kelahiran anak pertama mereka dalam keadaan tersenyum.
"Iya memang betul, tapi cuma dari pembukaan 1 ke 9 masih senyum dan kaget juga dan takjub juga ngelihatnya. Padahal kan sakitnya luar biasa, tapi pas pembukaan 9 sampe 10 tetep seperti wanita Indonesia yang lain, ngejerit dan merengut, dan kayaknya nggak mungkin kalau itu nggak sakit," ujar Baim.
"Walau sakitnya minta ampun tapi sakit hilang pas ngelihat anaknya langsung," tambahnya.
Lalu, bagaimana perasaan Baim melihat persalinan istrinya secara langsung?
"Tadi cukup horor juga karena banyak darah di mana-mana, dan memang seperti itu tapi tadi kuat potong tali puser juga. Pokoknya sempet deg-degan juga dan saya kira cuma manggung doang yang bikin deg-degan. Dan pas keluar masih berdarah-darah dan saya azanin dan langsung nangis, normal lah," pungkasnya. (kpl/adt/npy)