
"Tidak mudah mempertahankan budaya dan kepribadian bangsa di tengah hiruk pikuk globalisasi jika mental tak diperkokoh. Diperlukan usaha untuk memperkokoh mental agar budaya tak terkontaminasi budaya luar. Persembahan seni Islami ini kami kemas dengan konsep kekinian agar dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Indonesia," kata Ketua Panitia Pelaksana acara Gerak Merdeka untuk Indonesia Berjaya yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, Sabtu.
Pagelaran kreasi seni religi ini meliputi orkestra, tari, gerak dan nada, musikali puisi, dan teatrikal secara kolosal. Sejumlah politisi, tokoh masyarakat hadir dalam acara ini diantaranya Taufik Kiemas, Tuti Alawiyah, Fuad Bawazier, dan Siti Fadilah Supari.
Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur'an Surat Ar Ra'd ayat 11 dan Surat An Nashr ayat 1-3 yang dibacakan oleh Cici Paramida dan Yolanda Yusuf. Dilanjutkan pembacaan sari tilawah oleh Wakil Ketua DPD RI, Irman Gusman dan Rektor Universitas Indonesia, Gumilar R Soemantri.
Gegap gempita pagelaran seni berlangsung berikutnya dengan tari bendera diiringi lagu Hari Merdeka bersama Dwiki Dharmawan Orchestra.
Nuansa merah putih kental terasa dalam pagelaran seni ini, yang terlihat dari dekorasi panggung, kostum para pengisi acara, dan lagu-lagu yang menyiratkan kecintaan terhadap Indonesia.
Sebagian besar lagu-lagu yang dibawakan para penyanyi adalah karya Din Syamsuddin dan diaransemen oleh Dwiki Dharmawan. Seperti lagu Cinta Indonesia yang dibawakan Ita Purnamasari dan Chintya Lamusu, Indonesia Jaya yang dibawakan Krisdayanti, dan lagu rock Satire Neoimperialisme yang dinyanyikan oleh Candil Seurieus.
Suasana malam semakin meriah dengan belasan penari membawakan berbagai tari tradisi yang dikemas modern oleh koreografer Ari Tulang. Warna-warni kostum tari Bali, Papua, hingga Aceh melukiskan keberagaman Bangsa Indonesia.
Di tengah acara, grup band Seurieus membuat kejutan dengan membawakan lagu rock Satire Neoimperialisme. Vokal khas Candil yang memekik mendapat sambutan tepuk tangan meriah penonton.
Keunikan Seurieus tak hanya soal vokal khas Candil, tapi juga kostum mereka terlihat berbeda dibanding kostum panggung biasanya. Candil dan kawan-kawannya mengenakan atasan baju muslim warna merah marun dipadu celana panjang hitam dan kain songket dililit di pinggang sebatas lutut.
Di akhir acara, Krisdayanti naik panggung mengenakan busana muslim dan berjilbab warna hitam dan ungu. Istri Anang Hermansyah itu membawakan lagu penutup Doa dan Indonesia Jaya. (kpl/bun)

Lawan main Opick adalah Teddy Syah, berperan sebagai Imam, seorang kepala keluarga dari strata sosial terbatas atas himpitan kemiskinan dan kelaparan. Tapi tetap menyandarkan hidupnya kepada keimanan.
Menurut Direktur Programing RCTI, Arsiwi Achmad, sinetron ini mengetengahkan nilai–nilai utama yang patut menjadi pegangan di tengah kesulitan hidup. "Kita tidak boleh berputus asa dengan berpaling dari-Nya. Segala kesulitan pasti akan ada jalan keluarnya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya," ujar dalam rilis jumpers di lokasi syuting bilangan Cibubur, (9/6).
Selain Opick dan Teddy Syah, sinetron yang akan mulai tayang pada 9 Juni setiap hari Senin sampai Sabtu, mulai dari jam 18.00–19.00 WIB ini akan dibintangi Astri Ivo, Dhea Imut, Haikal Kamil, Rheina Maryam, Iszur Muchtar, Deni Malik serta bintang–bintang lainnya. (kpl/buj/tri)

"Mudah-mudahan buku saya bisa diterima dan dibaca," ujar Astri, dalam acara bedah buku di MP Book Poin, Jakarta, Senin (21/4).
Ia menuturkan, proses pembuatan buku cukup singkat yakni 3 bulan. Ia bekerja sama dengan mizan dalam pembuatan buku tersebut. Ia bercerita, buku TATKALA JILBAB BUKAN PENJARA adalah merupakan kisah nyata Astri dalam dunia dakwah untuk mencapai cinta-Nya Allah. Ia meminta izin keluarga dan orang tua untuk berjilbab. Karena, jilbab menurutnya bukan penjara bagi wanita pemula yang belajar agama. "Dengan jilbab aku mendapatkan cinta-Nya Allah," katanya.
Menurut Astri, banyak wanita berjilbab karena paksaan dan tekanan. Namun dengan jilbab, wanita akan terhindar dari syahwat dan hawa nafsu pria. Pasalnya, pria melihat orang berjilbab tidak lagi memandang jelek, tetapi malah meliriknya untuk berbuat baik. "Jilbab akan menghilangkan nafsu birahi pria. Segeralah berjilbab, agar mendapat cinta-Nya Allah," jelasnya. (kpl/iin)

Sosok Gito Rollies merupakan sosok yang unik di mata beberapa teman-teman artis. Sebagai rocker Gito sempat berkubang dalam minuman keras dan narkotika. Tapi itu masa lalu, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Gito menunjukkan sosok religiusnya. Pun begitu dengan kerendahan hati. Gito menolak disebut sebagai kyai. Itu yang membuat kagum Uje terkagum-kagum.
"Saya sangat kagum dengan cara beliau berdakwah," puji Uje. Islam dalam lafas Gito tidak menunjukkan sisi seram keras seperti teroris dan lain-lain. "Saat berada di sisi beliau ada sesuatu yang sejuk," kenang Hendy drummer GIGI yang sempat kerja bareng dalam acara ramadhan tahun lalu.
Selain berkiprah di dunia musik, Gito Rollies beberapa kali sempat bermain film. Tercatat, BUAH BIBIR (1973) sebagai cameo, PEREMPUAN TANPA DOSA (1978) aktor, DI UJUNG MALAM (1979) aktor, SEPASANG MERPATI (1979) aktor, PERMAINAN BULAN DESEMBER (1980) aktor, KERETA API TERAKHIR (1981) aktor, HALIMUN (1982) aktor, PUTERI DUYUNG (1985) aktor, ADA APA DENGAN CINTA (2001) aktor, GERBANG 13 (2004) aktor dan JANJI JONI (2005).
Dengan demikian pantas kalau pemilik nama asli Bangun Sugito Toekiman ini disebut sebagai seniman. (kpl/iin/tri)

Menurut artis Cici Tegal, yang menjadi panitia pergelaran, di Jakarta, Jumat, acara yang juga menampilkan tokoh politik dan tokoh agama itu dipentaskan untuk memaknai Tahun Baru Hijriah 1429 yaitu menandai proses hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
"Acara ini merupakan suatu persembahan karya seni budaya oleh para artis yang bergabung dalam Jamaah Orbit Lintas Profesi sebagai manifestasi cita-cita hidup berdasarkan Islam berkemajuan," kata Cici Tegal.
Pertunjukan selama dua jam itu disebut merupakan sebuah refleksi hijrahnya Nabi Muhammad SAW yang dipaparkan melalui kreasi seni budaya Islami seperti orkestra, tari-tarian, demo instrumen tetabuhan, musikalisasi puisi, serta fragmen teatrikal secara kolosal.
Ketua Panitia Pengarah Din Syamsudin berharap bahwa pertunjukan tersebut dapat menampilkan kesenian yang bernafaskan agama.
"Pertunjukan ini bermaksud untuk menunjukkan alternatif seni budaya kita yang hampir terjebak dalam 'pop culture' dan 'hedonic culture' dan jauh dari sifat-sifat agama," kata Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.
Acara dimulai dengan pembacaan Alquran dan lantunan syair "Thola`al Badru Alaina" (Telah Terbit Purnama di Atas Kita), yang didendangkan penduduk Yatsrib (nama lama kota Madinah) kala menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan pementasan tari-tarian, musikalisasi puisi, lagu dan tari, fashion show, pembacaan puisi dan pertunjukan tabla dari tokoh-tokoh politik seperti Taufik Kiemas, Wiranto, dan Sutiyoso.
Artis yang akan tampil antara lain Astri Ivo, Berliana Febrianti, Cheche Kirani, Cici Paramida, Chintya Lamusu, Gito Rollies, Eva Arnaz, Iis Dahlia, dan lain-lain.
Tokoh aktivis juga hadir membacakan puisi seperti Budiman Sudjatmiko dan Ray Rangkuti. (*/erl)