KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Keduanya - solo maupun band, tetap prioritas, yang terpenting adalah dapat membagi waktu," jelasnya. Sebab selama ini proses kreatif Netral tidak mengikat proses kreatif secara individu. "Selama ini kami selalu mendukung satu sama lain, Eno dan Coky juga punya band masing–masing dan kami support," tuturnya lagi.
Bagus juga melihat keinginannya untuk bersolo karir bukan disebabkan produktivitas Netral menurun. Terbukti Netral masih bisa mengeluarkan album baru dan jalan–jalan tur.
"Yang jelas saya ingin melakukan yang berbeda dengan Netral, kalau sama kenapa harus di luar Netral," tandasnya di Cone Cafe FX Plaza Sudriman, Jakarta, Kamis (22/10).
Untuk album solo itu, Bagus akan merilisnya dalam format mini album. Di mana total semua lagu ciptaan sendiri. Semua pemain auditional. "Tak menutup kemungkinan akan pakai anak–anak Netral juga tergantung kebutuhan," pungkasnya. (kpl/wwn/boo)

Hal ini diamini pentolan band Netral, Bagus, saat disambangi di Cone Cafe, FX Plaza Sudirman, Kamis (22/10). "Memang itu kenyataannya," tukasnya.
Netral sendiri saat ini dalam satu bulan dapat manggung 4 sampai 5 kali. Sebuah jumlah yang lumayan. "Kami memang mengandalkan manggung," tandas pemain bass berkepala plontos ini.
Sepinya penjualan secara fisik yang tergantikan dengan cara digital sangat disayangkan oleh Bagus, sebab sebagai musisi penghargaan terhadap proses kreativitas menjadi turun.
"Karena dalam proses pembuatan satu album di situ juga terdapat cover album dan segala macam aspek lainnya," jelasnya.
Tapi kondisi seperti ini tak bisa ditolak sebagian besar musisi. "Mau bagaimana lagi. Dengan perkembangan digital adanya ya seperti ini," keluh Bagus.
Itu juga diakui Bagus menjadikan pembuatan album terbaru Netral menjadi proses yang cukup ribet. "Terpenting sekarang ini bagi musisi, apa saja hajar," katanya. (kpl/wwn/npy)

"Karena di kawasan Asia saja, taste musik kita merupakan yang tertinggi, kenapa harus lari ke selera 'tetangga', kenapa bukan mereka yang mengikuti kita?" ujar Choky gitaris Netral. "Mungkin mereka punya P. Ramlee, tapi kita punya Benyamin Sueb yang jelas lebih maju pada jaman segitu sudah nge-rap."
Saat ditemui di Blitz Megaplex, Rabu (10/6), Netral menyatakan tidak antipati dengan musik Melayu, tetapi yang disayangkan tidak ada keberagaman.
"Kalau kita bikin lagu, sebenarnya cara kita (Indonesia) lebih maju. Dan Netral tetap akan membuat lagu yang bisa membuat pendengarnya jadi pinter," tandas Choky.
Bagus, salah satu pioner Netral, juga menilai dunia industri musik Indonesia telah mengalami kemunduran sepuluh tahun lalu. "Kita jadi seragam kayak anak SD lagi," sindirnya.
Seperti album ke 10 Netral yang bakal segera dilempar ke pasaran, baik Bagus, Choky, maupun Eno menyatakan tetap setia pada aliran di industri musik. "Itu sebagai solusinya," tegas Eno. (kpl/wwn/boo)

"Mungkin karena kami belum biasa bikin musik untuk olahraga," ujar Bagus, vokalis sekaligus bassis, saat ditemui di Blitz Megaplex usai launching film GARUDA DI DADAKU, Rabu (10/6).
Kesulitan yang dialami Netral, menurut Bagus adalah untuk ngepas lirik dengan musik. Netral terpaksa harus bolak–balik dengerin theme song suporter PSSI tersebut. Sampai–sampai Netral buat dua versi.
"Memang kita sengaja dalam prosesnya kita buat dua. Nah, baru kita sepakat pada versi yang kedua, karena lebih ada semangatnya," jelas Choky, sang gitaris.
Tapi menurut Eno, drummer Netral, yang paling membuat mereka ribet dan susah, tak lain adalah nuansanya. "Karena bagaimana pun aroma sepak bolanya harus kental. Dan terima kasih atas dukungannya," ujar Eno. (kpl/wwn/boo)