KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Untuk itu, Saras terus mengasah dan menjaga suara dengan me-maintenance sebaik mungkin. Namun guna menjalankan semua ini bukannya tanpa gangguan. Kerap Saras terbuai oleh gurihnya gorengan. Untungnya itu terjadi sesekali.
"Ya, tantangan berat buatku itu, gorengan. Sebab aku suka banget dengan makanan itu. Makanya suka aku langgar. Hahaha..," ujarnya, Kamis (12/11).
Dijumpai saat bertandang ke sebuah studio rekaman di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Saras mengatakan bahwa meningkatkan kualitas yang ada penting untuk menunjang seorang penyanyi. Apalagi ketika performance, kualitas suara sangat dikedepankan.
"Makanya aku terus belajar dari guru-guru vokal seperti Uci dan Bertha," sambungnya.
Tapi apakah termasuk pemilihan lagu? Saras tersenyum. "Itu juga, Kamu Payah Ah, yang ciptakan Dewiq. Kita tahu Dewiq seorang creator lirik yang berbakat dan dicari orang. Dia punya khas sendiri," imbuh pemilik rambut panjang hitam tebal dan cenderung berminyak ini. (kpl/dis/bun)

Genre-genre menghentak coba Saras sisipi sehingga menambah kaya warna lagu yang ia lantunkan. Bahkan ia sesumbar apa yang dilakukan di tengah maraknya musik pop mellow sebagai bagian pilihan bagi penikmat musik tanah air.
"Di kala musik melayu yang booming saya masuk masih yang fresh agar masyarakat tahu ada musik lain sekaligus menjadi pilihan kian beragam. Memang genre pop tapi lebih variasi dengan beat-beat yang menghentak, ada pula jazz dan mellow. Pokoknya usahakan menggabungkan jadi satu tapi nanti di album yang keluar pasca lebaran," ujarnya kepada KapanLagi.com saat ditemui di kantor salah satu tabloid hiburan di bilangan Casablanca, Jakarta Selatan, Senin (31/8).
Dikatakan lagi, rencana ia terjun ke tarik suara sebenarnya sudah lama dan menjadi keinginan sejak kecil. Bahkan guna lebih mematangkan kualitas vokal, Saras berguru pada Bertha dan Uci Nurul. Saras pun rela cuti dari kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School supaya bisa berkonsentrasi.
"Waktu kelas 3 SMP di Medan saya mulai berani dan sering ikuti lomba-lomba nyanyi. Nah, pas kuliah baru buat album atas dorongan orang tua," kata gadis berambut panjang ini tersenyum manis. (kpl/dis/boo)

"Bayangkan saja, TV-TV itu memanfaatkan dia. Dalam sehari itu bisa 6 episode. Stasiun TV itu nggak mau tahu kalau dia itu sudah tua dan masih naik motor," ujar Bertha yang ditemui di lokasi pemakaman Mbah Surip di Bengkel Teater Rendra, Depok, Selasa (4/8) malam.
"Tapi memang, orangnya itu sangat care dan nggak pernah ngeluh. Ya, akhirnya dia yang diperas habis-habisan," sambung guru vokal bertubuh bongsor ini.
Bertha mengungkapkan, Mbah Surip adalah sosok yang memiliki kharisma serta memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Ia dan Mbah Surip pernah berkolaborasi dan rencananya akan membuat album bersama. "Album itu akan dijual bebas dan hasilnya untuk SPP anak-anak Indonesia. Tapi sebelum dia meninggal, dia sudah menjadi mesin industri," keluh Bertha.
Ia juga menyesali apa yang terjadi dalam kehidupan Mbah Surip. Karena di matanya, walaupun Mbah Surip terlihat bahagia saat menghibur orang, namun Bertha yakin di dalam hati Mbah Surip menyimpan kesengsaraan. Makanya Bertha benar-benar sedih karena belum sempat bertemu Mbah Surip yang dikenalnya sejak tahun 2005 lalu.
"Saat ini saya dalam kesedihan mutlak karena dia meninggal dalam sukses dan dalam kesengsaraan. Dan saya yakin Tuhan tidak rela dengan ini," ujar Bertha dengan nada meninggi. (kpl/hen/boo)

Bertha mengakui banyak kenangan saat mereka masih bersama. Hanya sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir ia jarang berkumpul dengan personel lainnya karena kesibukan masing-masing.
"Saya sudah 3 tahun terakhir ini sama sekali tidak bisa kontak dia (Mbah Surip). Saya telepon nggak diangkat, ya mungkin karena dia sudah menjadi mesin uang, jadi waktunya sibuk. Nah, terakhir tahu-tahu sudah dapat kabar dia sudah meninggal," kata Bertha yang ditemui di lokasi pemakaman Mbah Surip di Bengkel Teater Rendra, Depok, Selasa (4/8) malam.
Dituturkan guru vokal ini, kenangan bersama Mbah Surip tak akan terlupakan. Apalagi dengan kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki Mbah Surip. Bukan cuma Bertha, suaminya juga senang bisa kenal dekat dengan musisi yang sering disebut Bob Marley-nya Indonesia tersebut. "Dia kalau ke rumah saya itu kopi harus ada. Dan kalau ketemu sama suami saya, pasti mereka main catur dan domino," ujarnya.
Dan karena sering bersama, suami Bertha juga sudah punya rencana kerja sama dengan Mbah Surip. "Dengan suami saya tahun depan mau bikin album reggae, tapi di London. Tapi akhirnya ya nggak mungkin terlaksana," ungkapnya. (kpl/hen/boo)

"Tergabungnya Rhoma Irama akan memberikan nilai plus pada KDI sebagai kontes dangdut yang berkelas. Kami setengah mati merayu Rhoma Irama untuk membuat KDI menjadi kontes dangdut sesungguhnya," ungkap Syah Reza, Division Head TPI di FX Plaza, Jakarta, Kamis (19/5).
Kehadiran Rhoma Irama diharapkan TPI dapat membawa KDI 6 identik dengan nilai–nilai kesopanan sehingga mengangkat citra musik dangdut menjadi lebih berkelas, elegan dan tetap asyik.
"Kami memang ingin melahirkan bintang–bintang dangdut, bukan menciptakan, kalau menciptakan sekali tampil habis. Ini merupakan kontes dangdut sebenarnya yang punya umur lebih panjang untuk menjadi bintang selanjutnya. Makanya kami lebih menonjolkan kapasitas suara dan penampilan oke," terang Syah Reza lagi.
Berbeda dengan konsep sebelumnya, KDI 6 tidak ada komentator. Diganti dengan Penasehat Tunggal yang akan hadir di tiap episode. Tugas ini akan dipikul Bertha, untuk mengeksplorasi potensi kontestan agar dapat bernyanyi secara baik. Kehadiran Bertha juga diharapkan dapat membawa kontestan KDI 6 menjadi lebih berkualitas dan modern, mampu mengaplikasikan teknik vokal.
Hal baru lainnya, adalah adanya Remote Voter, yang menilai penampilan kontestan secara jarak jauh melalui SMS. Rhoma Irama didaulat sebagai Remote Voter tetap yang akan didampingi dua Remote Voter tamu. Penilaian bagi kontestan pun mengalami perubahan. Pemenang akan ditentukan dari nilai akumulasi antara SMS dari Remote Voter dan SMS pemirsa.
Kontes KDI 6 akan mulai tayang pada 23 Mei 2009 pukul 19.00–23.00 wib tiap hari Sabtu dan Minggu, dengan host Irfan Hakim dan Magdalena. (kpl/wwn/boo)

Benny dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2), mengungkapkan dalam konser tersebut ia mengajak teman-temannya yang masih setia bermusik dengannya. Mereka adalah Mergie Segers, Ermy Kullit, Bertha, Syaharani, Rien Djamain, juga para musisi senior seperti Ireng Maulana, Kiboud Maulana, Abadi Soesman, Idang Rasyidi, Oele Pattiselano, Donny Soehendra, Matthew Sayers, Yonas Wang, dan Doni Joesran.
"Banyak sekali penyanyi dan musisi, serta orang-orang yang berkontribusi dalam karir saya selama ini. Dalam konser nanti saya ingin menceritakan tentang perjalanan karir saya dan bagaimana mereka setia mendukung saya dalam bermusik," katanya.
Selain tampil bersama musisi dan penyanyi satu angkatannya, Benny juga akan mengajak sejumlah musisi dan penyanyi jazz masa kini, seperti Glenn Fredly, Dewi Sandra, Barry Likumahuwa, dan Dennis Junio Gani.
Barry Likumahuwa yang tak lain adalah putra kandung Benny, mengungkapkan sebagai seorang anak ia sangat kagum terhadap semangat bermusik sang ayah dan talenta yang dimilikinya.
"Saya tahu banget bagaimana perjuangannya sejak awal, betapa hasil yang sekarang diraih tidak mudah didapat," ujar Barry.
Benny adalah musisi serba bisa berdarah Ambon yang lahir di Kediri, 18 Juni 1946. Ia memiliki talenta di bidang musik yang luar biasa tanpa mengenyam pendidikan khusus di bidang musik.
Benny saat ini memainkan trombone, saksofon, flute, dan bas. Namanya telah dikenal luas hingga ke mancanegara dan telah manggung di berbagai festival jazz di dunia seperti North Sea Jazz Festival, Asean Jazz Festival, Java Jazz, Jak Jazz, Bali International Jazz Festival, dan bekerja sebagai musisi freelance hingga sekarang.
Pada usia tujuh tahun Benny kecil sudah mahir memainkan ukulele, gitar, dan alat musik lainnya yang pernah dilihat. Ia lantas membentuk grup band bersama temannya pada saat usianya baru 11 tahun.
"Pada waktu itu saya diberi kesempatan manggung di RRI Ambon, luar biasa bangga saya pada waktu itu karena siarannya didengar di seluruh Indonesia. Saya bangga meskipun dibayar dengan segelas susu dan dua butir telur," kata pria berkaca mata ini.
Benny kemudian hijrah ke Bandung dan bergabung bersama The Crescendo Band, The Rollies, dan bergabung dengan Jack Lesmana dalam grup Jack Lesmana Combo.
Dalam perjalanan karirnya tersebut Benny mengaku mengalami banyak hal pahit dan manis yang menempanya menjadi musisi hingga sekarang. Ia pernah dilarang main musik karena dianggap junior, ditegur karena permainan yang buruk, bahkan manggung bersama grup sebanyak 35 orang di Taman Ismail Marzuki hanya dengan tiga orang penonton.
"Sekarang saya tinggal tersenyum melihat perkembangan musik Indonesia. Sekarang musik jazz berjaya di negeri ini. Oleh sebab itu manusia tidak boleh putus asa, karena saya yakin betul Tuhan akan selalu menolong, memberi jalan untuk umat-Nya yang mau berusaha dan tak berhenti berdoa," pungkas Barry. (kpl/bun)