KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Awalnya, Brandy memang menganggap tato ini sebagai salah satu bentuk ekspresi dirinya dan tak pernah menyadari dampaknya sampai putrinya yang baru berusia enam tahun mengatakan bahwa ia juga ingin memiliki tato seperti ibunya. Permintaan ini secara tidak langsung menyadarkan Brandy bahwa ia tak memerlukan bentuk ekspresi seperti ini.
"Aku bilang pada putriku, 'Coba pikir, saat mama berusia 80 atau 90 tahun tato ini akan terlihat jelek. Tato ini akan berkerut dan terlihat buruk. Mama berharap tak pernah membuat tato ini karena saat itu mama tak pernah berpikir akan jadi seperti itu'," ucap pelantun tembang Afrodisiac ini. Dan kata-kata ini tidak hanya berhasil untuk putri Brandy saja karena ia pun akhirnya menyadari bahwa tak seharusnya ia membuat tato. (ctm/roc)

Pria yang dibesarkan di Eropa, khususnya di Swiss dan Austria itu, merasa marah dan terharu melihat korban di sekolah PBB yang memberikan inspirasi baginya untuk mengarang lagu yang ditujukan untuk korban Gaza.
Michael yang hidup dalam berbagai budaya ini menggratiskan lagunya untuk di-download. Hanya saja ia menyarankan untuk memberi sumbangan ke Unicef atau ke organisasi yang berdedikasi untuk mengurangi penderitaan rakyat Palestina.
Michael yang belajar piano dan gitar di usia 10 tahun, dan mulai menulis lagu dan sempat melakukan rekaman setelah menyelesaikan pendidikan dari Full Sail (sekolah rekaman), dan akhirnya hijrah ke Los Angeles di tahun 1990.
Selama 18 tahun, Michael bekerja di studio lokal. Selain bermain gitar, dia juga bekerja sebagai recording engineer untuk artis terkenal, seperti Brandy, Will Smith, Toto, Natalie Cole, The Temptations, Phil Collins, Patty LaBelle, dan The Pointer Sisters.
Michael yang juga dikenal dengan nama Annas Allaf membantu rekaman kelompok Earth Wind & Fire dan artis terkenal lainnya seperti Ricky Lee Jones, Lou Rawls, Jesse McCartney, Hillary Duff, Jessica Simpson, Jennifer Paige, Al Jarreau, KCi & Jojo, Deborah Cox, Monica, Taylor Dayne, Keiko Matsui, Steve Nieves, Luis Miguel dan Tarkan.
Kefasihan Michael berbahasa Perancis menjadi bonus saat ia bekerja dengan artis Perancis, seperti Calogero (The Charts), Marc Lavoine dan Veronique Sanson.
Selain bekerja di studi rekaman, Michael pernah melakukan tur di awal tahun 90-an sebagai pemain gitar flamenco bersama Juan Manuel Canizares pada pembukaan konser Dire Straits.
Awal Januari 2009, Michael menulis dan sekaligus menyanyikan lagu yang menceritakan situasi masyarakat Palestina in Gaza. Lagu yang diberi judul We Will Not Go Down itu akan terus bergema di hati masyarakat dunia. (kpl/npy)