< >

BLOG BUTET KERTAREDJASA


Sejumlah Budayawan Gelar 40 Hari W.S Rendra

Kapanlagi.com - Empat puluh hari kepergian sastrawan W.S Rendra, diperingati oleh sejumlah budayawan, tokoh seniman dan para sahabatnya dengan menggelar acara Kagum Rendra di Jakarta, Senin (14/9), sebagai upaya untuk mengenang ketokohan sang Burung Merak tersebut.

Acara yang dibuka oleh Arswendo Atmowiloto itu juga menghadirkan keluarga W.S Rendra, mantan istrinya Sitoresmi Prabuningrat, serta tokoh seniman dan budayawan lainnya seperti Jajang C Noer, Djenar Maesa Ayu, Butet Kartaradjasa, Niniek L karim, dan Slamet Rahardjo.

"Kita hadir bukan sekedar mengenang kepergian W.S Rendra, namun semangatnya tetap hadir bagi kita," kata Arswendo.

Acara kemudian dilanjutkan dengan memutar rekaman kegiatan-kegiatan terakhir Rendra, dan juga penampilan pria kelahiran Solo, 7 November 1935 itu saat membacakan puisi.

Setelah itu, giliran Sitoresmi Prabuningrat mengawali penceritaan dan pembacaan puisi karya-karya Rendra. Adik ipar Rendra, Adi Kardi, kemudian memulainya dengan puisi yang berjudul Nyanyian Angsa dan berturut-turut Sitok Srengenge, Putu Widjaya, Ratna Riantiarno serta Butet Kartaradjasa.

Sederetan seniman dan budayawan lainnya ikut meramaikan acara yang juga memberikan penghargaan kepada keluarga Rendra. Mereka antara lain Niniek L Karim, Harry Tjahyono hingga Djenar Maesa Ayu. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama.

Menurut salah seorang pengagum Rendra, AH Mahendra, dirinya sangat mengagumi Rendra, yang begitu peduli dengan keadaan di sekitarnya.

Sikapnya yang kritis membuktikan kepeduliannya terhadap masalah-masalah kemanusiaan, nilai budaya dan lingkungan yang mendalam, ujarnya.

"Itu sebabnya saya menyediakan tempat di kompleks apartemen ini, sebagai upaya untuk meneruskan semangat sang Burung merak," katanya.

Rendra meninggal dunia dalam usia 74 tahun pada Kamis, 6 Agustus 2009 sekitar pukul 21:30 WIB setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok Jawa Barat.   (kpl/dar)


Lihat profil: W.S Rendra, Arswendo Atmowiloto, Jajang C Noer, Djenar Maesa Ayu, Butet Kertaredjasa, Niniek L Karim
Komentar : 2 komentar
Diposting oleh: Editor | Senin, 14-09-2009 |

Jaduk Ferianto, Jazz Bisa Dinikmati Semua Kalangan

Kapanlagi.com - Musik jazz memang identik dengan musik 'kalangan atas', namun bagi musisi jazz nyentrik asal Yogyakarta, Jaduk Ferianto, jazz merupakan musik yang dinikmati semua kalangan, dan tidak bersifat eksklusif untuk satu kalangan masyarakat tertentu.

"Musik jazz memang berasal dari barat (luar negeri, red), namun tidak harus berorientasi dengan kebudayaan barat. Atau segala sesuatu yang berbau barat," katanya kala dijumpai di Semarang, Rabu (19/8).

Menurut dia, pembagian genre musik hingga jazz terkesan hanya dapat dinikmati kalangan tertentu dipengaruhi iklim budaya pop yang tengah melanda Indonesia, akhirnya genre musik menjadi terkotak-kotak.

"Sebenarnya, para musisi yang tampil tidak pernah mengkotak-kotakkan aliran yang dibawakannya, namun justru industri musik yang mengklasifikasikannya ke dalam berbagai jenis aliran musik untuk kepentingan pasar," terangnya.

Ia mengatakan, musik jazz bagi masyarakat Barat juga tidak dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif, dan justru hanya dianggap sebagai kesenian rakyat biasa seperti kesenian-kesenian lain di tanah air.

"Justru bangsa kita yang menganggap musik jazz sebagai sesuatu yang wah, karena pengaruh budaya pop dan selalu menganggap jazz sebagai western minded," pungkas adik seniman serba bisa, Butet Kertaredjasa tersebut.  (kpl/bar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 19-08-2009 |

Mbah Surip Jadi Inspirasi Wakil Gubernur Jateng

Kapanlagi.com - Tokoh fenomenal Mbah Surip yang lekat dengan tembang Tak Gendong dan I Love You Full memberikan inspirasi kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu melihat Mbah Surip sebagai figur yang tanpa beban dan memiliki keikhlasan menjalani hidup dengan lagunya I Love You Full.

"Kita semua juga harus menanamkan I Love You Full terhadap lingkungan dan tanah air kita," kata Rustriningsih, usai menghadiri lokakarya Program Konservasi Sumber Daya Air dan Pengintegrasian Rencana Kerja ke Dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran Daerah, di Hotel Patra Semarang, Rabu (5/8).

Seluruh upaya dan tindakan terkecil, lanjut Rustriningsih, untuk kebaikan bangsa dan negara harus dilaksanakan tanpa beban dan disertai keikhlasan.

"Jika niat kita ikhlas, kita dapat kekuatan untuk melakukan itu semua," katanya.

Bagi Rustriningsih kehadiran sosok Mbah Surip yang memikat masyarakat, bahkan ketika ia meninggal dunia juga mengangkat keluarganya, sehingga pernikahan anaknya disiarkan secara langsung sebuah televisi.

"Tidak ada kan, nikah disiarkan langsung televisi. Namun, keluarga Mbah Surip mendapat penghormatan itu," katanya.

Dalam kesempatan itu, Rustriningsih membacakan pesan singkat yang didapat dari Butet Kertaredjasa dalam pembukaan lokakarya tersebut.

Usai membaca pesan singkat tersebut, Rustriningsih mengingatkan kepada masyarakat Jawa Tengah khususnya, untuk terus menjalani kehidupan dengan kerja yang baik.

"Semoga kita tidak tidur dalam mimpi, tetapi dalam kenyataan untuk menaklukkan dan mengontrol lingkungan kita," demikian tandas Rustriningsih.    (kpl/bar)


Lihat profil: Mbah Surip, Butet Kertaredjasa
Tag: Kematian Selebritis
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 06-08-2009 |

Terganjal Visa, Butet Kertaredjasa Batal Manggung di Ceko

Kapanlagi.com - Butet Kertaredjasa, seniman kenamaan yang tergabung dalam rombongan Kua Etnika, gagal tampil terkait masalah visa di panggung pertunjukan di Kota Klatovy dan Praha, Ceko.

Tidak hanya Butet, namun rombongan yang dikomandani Jaduk Ferianto sebanyak 22 orang, antara lain terdiri atas Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno dan Trie Utami, juga gagal pentas di kota tersebut.

Jaduk Ferianto dan rombongan sedianya tampil dalam pertunjukan yang digelar dari tanggal 9 hingga 14 Juli. Namun, hingga hari ini tidak semua peserta mendapatkan visa schengen yang mereka minta dari Kedutaan Besar Austria di Jakarta.

Sekretaris I Pensosbudpar KBRI Praha, Azis Nurwahyudi kepada koresponden Antara London, Minggu (12/7) mengatakan, pengambilan visa schengen ini dilakukan di Kedubes Austria karena rombongan Kua Etnika tampil di Festival Jazz di Kota Wina, Austria pada tanggal 7-8 Juli lalu.

Menurut Azis Nurwahyudi, karena pada saat keberangkatan visa schengen belum keluar, Kedutaan Austria di Jakarta akhirnya hanya mengeluarkan visa Austria dengan harapan visa Ceko bisa diperoleh di Wina.

Pihak KBRI Praha dan KBRI Wina berupaya semaksimal mungkin membantu mereka mendapatkan visa masuk ke Ceko, namun upaya tersebut sampai saat-saat terakhir tidak berhasil karena masalah aturan pengambilan visa lokal masuk ke Ceko juga harus diambil dari Jakarta, tidak bisa dari Kedubes Ceko di Wina, Austria.

Sedianya Kua Etnika akan tampil pada acara Folklore di Kota Klatovy pada 9-12 Juli 2009 dengan menyuguhkan monolog Butet Kertaredjasa, Nano dan Ratna Riantiarno. Selanjutnya pada 13 Juli 2009 di KBRI Praha dan pementasan di City Library Hall Praha pada 14 Juli 2009.

Kehadiran rombongan Kua Etnika ke Eropa disponsori Teh Hitam Mind Tea yang sedianya juga melakukan promosi di Ceko pada 13 Juli 2009, namun karena tidak dapat masuk ke Ceko, maka penampilan mereka akan diupayakan sampai maksimal di Austria, demikian kata Azis Nurwahyudi.  (kpl/riz)


Lihat profil: Butet Kertaredjasa, Jaduk Ferianto, Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, Trie Utami
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Minggu, 12-07-2009 |

Tamansiswa, Pencetak Seniman Besar Tanah Air

Kapanlagi.com - Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto mengatakan sampai saat ini, Tamansiswa masih memberikan mata pelajaran budi pekerti kepada siswa sekolah di lingkungan Tamansiswa, untuk membentuk karakter bulatnya jiwa manusia.

Dalam sambutannya pada acara refleksi dan gelar prestasi seni peringatan 87 tahun Tamansiswa di Yogyakarta, Kamis (2/7) malam, ia mengatakan orang yang memiliki kecerdasan budi pekerti senantiasa memikirkan, merasakan dan memakai ukuran, timbangan serta dasar yang pasti dan tetap.

"Itu semua menuju adab kemanusiaan, yang berarti keluhuran dan kehalusan budi pekerti manusia," katanya.

Ia mengatakan, Tamansiswa juga memberikan pelajaran kesenian dengan norma estetika serta etika, yang sangat membantu memperhalus budi pekerti dan mempertajam kecerdasan batin.

"Pelajaran kesenian dalam sistem among sering menggunakan metode dolanan agar peserta didik dapat lebih menghayati pelajaran," katanya.

Sebab, menurut dia, sejak lahir Tamansiswa dikenal sebagai pencetak seniman besar di tanah air, di antaranya Sudjojono, Abas Ali Basa, Tino Sidin, Bagong Kusudihardjo, Wisnu Wardhana, Benyamin, Ateng, Kusno Sudjawardi, Butet Kertaredjasa serta Jaduk Ferianto.

Sementara itu, acara refleksi ini dimeriahkan dengan pergelaran tari Bali, dolanan anak Soyang, geguritan, musik klasik serta teater yang seluruhnya dimainkan sejumlah siswa, maupun mahasiswa perguruan tinggi di lingkungan Tamansiswa. (kpl/bar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa
Komentar : 2 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 03-07-2009 |

Butet Perangi Korupsi Lewat 'TRANSPARAN SEPANJANG JALAN'

Kapanlagi.com - Sebagai seorang seniman, Butet Kertaredjasa hampir selalu mengaitkan sesuatu dengan seni. Seperti halnya saat ingin menyebarkan pesan bahwa peran aktif masyarakat untuk mengawasi jalannya pembangunan sangat dibutuhkan. Ia mengkampanyekan gerakan anti-korupsi lewat film berjudul TRANSPARAN SEPANJANG JALAN yang diputar di hadapan puluhan masyarakat di Balai Desa Plalangan, Kecamatan Gunungpati Semarang, Jumat (24/5) malam.

"Masyarakat nantinya tidak hanya diposisikan sebagai penonton, masyarakat harus ikut mengawasi pembangunan, untuk meminimalisir terjadinya korupsi," kata pemeran Bupati dalam film tersebut.

Salah satu cuplikan dari adegan film tersebut, menceritakan sang Bupati (Butet) yang sempat malu saat meresmikan sebuah sekolah dasar (SD), lantaran bangku sekolah yang baru diresmikannya itu patah ketika diduduki olehnya. Hal tersebut disebabkan anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan barang dan jasa di bidang pendidikan untuk SD tersebut tidak digunakan dengan semestinya, sehingga bahan baku bangku sekolah adalah kayu kualitas rendah.

Ia menjelaskan, pemutaran film berdurasi sekitar satu jam yang disutradarai oleh putranya, Gilang, tersebut sengaja dilakukan di lokasi pedesaan, seperti di Desa Plalangan Gunungpati. Alasannya, masyarakat pedesaan juga perlu belajar banyak tentang upaya pemberantasan korupsi.

"Film tidak bisa langsung mengubah keadaan dan korupsi juga tidak mungkin langsung hilang hanya dengan pemutaran film anti korupsi seperti ini," kata seniman asal Yogyakarta ini.

Namun, ia mengatakan, film merupakan sebuah media pembelajaran bagi masyarakat, lewat film diharapkan masyarakat dapat menyadari tentang pentingnya pengawasan terhadap segala kebijakan pemerintah untuk menekan peluang korupsi.

"Misalnya, penonton tadi hanya berjumlah 50 orang, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain, tentunya akan lebih banyak masyarakat yang akhirnya menjadi sadar," jelasnya.

Film menurut dia hanya salah satu media pembelajaran untuk menyadarkan masyarakat.

"Kebetulan, saat ini saya menyuguhkannya melalui film, namun pada kesempatan lain, saya bisa menyuguhkannya dalam pentas teater," katanya.   (kpl/boo)


Lihat profil: Butet Kertaredjasa
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Minggu, 26-04-2009 |

'MALIOBORO' Bakal Gantikan 'LOSMEN'

Kapanlagi.com - Sinetron komedi satir berjudul MALIOBORO merupakan drama berseri yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Indonesia, seperti serial LOSMEN tahun 1980-an.

"Ya, seperti LOSMEN. Bedanya, setting LOSMEN hanya di satu tempat, sedangkan MALIOBORO kita setting di beberapa tempat," kata produser Bertha Suranto saat dihubungi melalui telepon genggamnya di Yogyakarta, Rabu (11/02) kemarin.

Selain di Jl Malioboro, katanya, setting adegan juga dilakukan di Guest House Rumah Eyang, di Jalan Kemitiran, dan Jalan Mangkubumi.

Menurut Bertha, sinetron MALIOBORO merupakan drama yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Indonesia hari ini, termasuk yang menyangkut perekonomian dan politik, "Tetapi bukan sketsa sosial".

Direncanakan sebanyak 50 episode, sinetron ini mengambil Jl Malioboro dengan pertimbangan kawasan jalan legendaris di Jogja itu mampu mewadahi bertemunya berbagai karakter sosial dengan berbagai latar belakang serta masalah.

"MALIOBORO adalah sebuah melting pot yang memungkinkan untuk bercerita mengenai masalah-masalah yang aktual di masyarakat. Di tempat ini kita menjumpai berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda," katanya.

Ia juga menyatakan MALIOBORO bukan sinetron komedi situasi (sitkom), karena unsurnya adalah drama kehidupan para tokoh utama, yang secara tetap muncul sebagai outline sebuah cerita sesuai pertumbuhan karakternya.

Selain itu, setiap cerita digali dari kenyataan substantif dalam masyarakat agar tidak menjadi sekedar tayangan hiburan semata.

"Dengan cara ini. masyarakat diharapkan tidak lagi memandang tayangan hiburan di televisi sebagai sarana untuk melepas persoalan atau melarikan diri dari kenyataan keseharian yang pahit dan menegangkan, tetapi sebagai sebuah tontonan yang bermanfaat," katanya.

Sebagai tayangan serial lepas, setiap episodenya memiliki tema sendiri-sendiri.

Episode perdana bertajuk 'Calon Wakil Rakyat?' mengangkat cerita tentang Caleg (Calon Legislatif) tingkat Nasional asal Jakarta, dari Dapil (Daerah Pilihan) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pengambilan gambar sudah dilakukan sejak 3 Februari 2009.

Didukung penulis cerita Sunardian Wirodono dan sutradara Dies Krisdiono, sinetron tersebut dibintangi oleh Wieke Widowati sebagai Bu Dhenok, Djenar Maesa Ayu (Jeng Dhanti), Eddie Karsito (Sugeng), Butet Kertaredjasa (Caleg), M Komarudin (Warso), Oke Bayu Aji (Gendut), Daniel Gultom (Sitor), dan Susilo Nugroho (Slamet).

Ketika ditanyakan tentang stasiun televisi yang akan menayangkan sinetron tersebut, Bertha mengatakan dirinya saat ini hanya ingin menunjukkan keseriusan dalam membuat tayangan yang baik dan bermanfaat.

"Soal stasiun mana yang akan menayangkan, saya belum memikirkannya," katanya. (kpl/npy)


Lihat profil: Djenar Maesa Ayu, Eddie Karsito, Butet Kertaredjasa
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 12-02-2009 |

«12»

LIHAT ARSIP BERITA BUTET KERTAREDJASA TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA BUTET KERTAREDJASA TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA BUTET KERTAREDJASA TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA BUTET KERTAREDJASA TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA BUTET KERTAREDJASA TAHUN 2004