KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
KapanLagi.com - Pemain: The Changcutters, Carissa Putri, Francine Roosenda Yachinta, Ario Bayu, Andrew, Eddy Brokoli, Iga Mawarni, Sam Bimbo
Rumah produksi Starvision Plus kembali meluncurkan sebuah film drama komedi romantis THE TARIX JABRIX, mengangkat fenomena maraknya geng motor di Bandung, Jawa Barat, yang kerap melakukan kekerasan dalam rekrutmen anggotanya.
Film yang sutradara Iqbal Rais ini dibintangi oleh grup band The Changcutters serta pemeran Maria dalam AYAT-AYAT CINTA, Carissa Putri, dan didukung oleh pemain Francine Roosenda Yachinta, Ario Bayu, Andrew, Eddy Brokoli, Iga Mawarni, Sam Bimbo.
Caca Sutarya A.K.A Cacing (Tria, vokalis The Changcuters), ingin bergabung dengan geng motor paling brutal dan ditakuti di Kota Bandung, The Road Devil. Namun Cacing yang enerjik tak tega melakukan ujian yang diberikan karena tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Bersama sahabat-sahabatnya satu sekolah, SMA Jayagiri, Bandung, Dadang Modip (Eric, drummer The Changcuters), si kembar Coki & Ciko (Qibil dan Alda, gitaris The Changcuters) serta Mulyana 'Mulder' Drajat (Dipa, bassis The Changcuters), akhirnya Cacing membentuk geng sendiri. Geng motor dengan nama The TariX JabriX nongkrong di Bengkel Sugema milik Pak Rohim (Sellen Fernandez), ayah Dadang.
Terang saja, geng motor aneh ini tak mendapat respek dari geng motor lainnya. Karena selain mempunyai pedoman "aneh", antara lain, taat peraturan lalu lintas, soleh, dan baik hati, serta patuh pada orang tua; penampilan mereka juga jauh dari sangar. Ada gaya retro kembar yang diusung 'si-kembar-tak-identik' Ciko dan Coki. Gaya kostum montir ala Dadang Modip, jambul klimis Cacing, serta Mulder yang mencampuradukkan tren mode dan warna pada motornya.
Sementara sahabat-sahabatnya naksir Mayang (Francine), gadis ayu yang magang di Bengkel Sugema, Cacing malah jatuh hati pada Callista (Carissa Putri), primadona sekolah yang cantik, seksi, dan tajir. Sayang Callista adalah adik pentolan The Smokers, Geng Motor Gede, Max (Ario Bayu). Callista juga disukai oleh Valdin (Andrew), teman Max yang juga anggota The Smokers. Bahkan Valdin pula yang sering menjemput Callista, meski dia tak selalu memperlakukan Callista dengan baik. Diam-diam Callista menaruh hati pada Cacing yang dianggap lucu, menyenangkan dan enak diajak ngobrol.
Tentu saja Valdin tak tinggal diam dengan kedekatan mereka. Akhirnya, The TariX JabriX berseteru dengan The Smokers. Saat terlibat adu mulut dan perkelahian, mobil patroli polisi menghentikan mereka. Saat itulah Cacing mencurigai adanya anggota The Smokers yang membawa narkoba. Setelah Callista mengatakan bahwa The Smokers adalah geng motor yang bersih, Cacing dan sahabat-sahabatnya pun berinisiatif membongkar kasus tersebut.
Niat baik The TariX JabriX untuk membongkar kasus ini lagi-lagi mendapat halangan dari Valdin dan Max. The Smokers merasa, bahwa Cacing hanya cari gara-gara. Kedua geng ini berseteru, mereka siap tawuran meski jumlah The Smokers lebih unggul dan persiapan Cacing hanya satu hari. Berhasilkah Cacing dan The TariX JabriX melawan tantangan The Smokers?
Secara keseluruhan film yang skenarionya ditulis Hilman Sofyan ini benar-benar menghibur. Didukung oleh tingkah The Changcuters yang konyol, ditambah pula dialog yang membangun tawa, serta adegan-adegan lucu yang tak berkesudahan. Tentu saja lagu-lagu The Changcuters turut memeriahkan film ini.
Sedang suntuk dan ingin terhibur? Saksikan THE TARIX JABRIX di bioskop mulai 17 April 2008! (kpl/lin)

KapanLagi.com - Pemain: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria
Film ini diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy atau biasa disapa Kang Abik, novelis lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Novel tersebut berkisah tentang cinta dan telah banyak menginspirasi banyak remaja muslim. Bukan sekedar kisah cinta biasa tapi mengenai upaya menghadapi berbagai problema cinta secara Islami. Setelah mengalami penundaan tayang yang sebelumnya direncanakan pada Idul Adha 2007, akhirnya AYAT-AYAT CINTA (AAC) tayang mulai 28 Februari 2008.
Film yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Tokoh utamanya, Fahri bin Abdillah diamanahkan pada Fedi Nuril. Pemilihan Fedi sebagai tokoh utama melalui proses tarik-ulur karena sosok Fedi yang tidak 'sesuci' Fahri mengundang kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC.
Fahri diceritakan sebagai pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Hidup Fahri dikejar oleh target karena keluarganya telah mengorbankan segalanya, termasuk sawah warisan kakeknya, agar dia bisa sekolah di Mesir. Fahri berusaha memenuhi target yang digambarkan dalam peta hidupnya, berjuang melawan panas-debu Mesir dan keterbatasan dana. Fahri bertekad menyelesaikan masternya dalam dua tahun, program doktor dalam empat tahun, dan empat tahun kemudian menjadi guru besar.
Fahri juga memiliki target untuk menikah dengan perempuan yang shalehah untuk menyempurnakan agamanya saat dia menyelesaikan tesis magister. Dan waktunya semakin dekat. Sayang Fahri yang hidup 'lurus' sulit dekat dengan wanita, meski ada beberapa wanita yang ada di sekitar kisah hidupnya.
Ada Maria Girgis (Carissa Putri), tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Islam dan senang membaca Al Quran, bahkan hafal surat Maryam. Tak hanya Islam, Maria juga mengagumi Fahri yang kemudian berubah menjadi cinta. Sayang rasa cinta itu hanya tertumpah di buku hariannya.
Ada pula rekan senegara Fahri, Nurul (Melanie Putria) anak tunggal seorang kyai Jawa Timur yang juga menuntut ilmu di Al Azhar. Nurul yang pintar dan cantik, juga ketua Wihdah, sebenarnya mencintai Fahri, namun tak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan atau memberi sinyal cintanya. Demikian pula dengan Fahri yang menaruh hati pada Nurul tapi merasa minder karena dirinya hanya anak petani miskin.
Kemudian ada Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga depan flat Fahri, perempuan cantik yang selalu disiksa oleh ayahnya, Bahadur. Fahri yang berempati dengan Noura akhirnya menolong Noura lepas dari siksaan ayahnya dengan bantuan Maria dan Nurul. Noura yang awalnya digambarkan sebagai perempuan baik-baik, akhirnya menjadi tokoh antagonis di film ini, setelah Noura menuduh Fahri memperkosanya. Tuduhan itu membawa Fahri mengalami 'petualangan' dengan aparat penegak hukum di Mesir, termasuk penjaranya.
Satu lagi, gadis yang paling istimewa. Fahri mengenalnya di metro. Saat itu Fahri membela Islam atas tuduhan tuduhan kolot dan kaku. Aisha (Rianti Cartwright), gadis Turki-Jerman berdarah Palestina, pun jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Pada siapa Fahri akan melabuhkan hatinya? Dapatkah dia menjalani segala rasa cinta dan problema yang mengiringinya dengan tetap berpegang teguh pada Islam yang diyakininya?
Sejak awal rencana pembuatan film ini para penggemar fanatik novel AAC tidak yakin Hanung dapat membuat film ini sebagus novelnya. Bahkan Kang Abik tak berharap banyak atas hasil akhir film adaptasi dari novelnya, karena imajinasi tulisan jauh lebih luas daripada imajinasi visual. Banyak juga yang beranggapan Zaskia tidak cocok berperan sebagai Noura, tapi lebih sesuai sebagai Nurul.
Yang namanya film adaptasi pasti tak luput dari pembandingan dengan novel yang diadaptasi. Bagi penggemar Fahri siap-siap kecewa, karena Fahri di film tak sesempurna Fahri di novel. Fahri di film tidak menguasai beberapa keahlian seperti halnya di novel. Karena itulah, Fahri di film terlihat jauh lebih manusiawi dibandingkan novelnya.
Sayangnya, banyak detail di novel yang dilewatkan oleh Hanung, sehingga terasa ada yang kurang saat menontonnya. Hanung juga lebih banyak memberi porsi pada perilaku 'poligami' Fahri. Padahal novel Kang Abik berkisah lebih (jauh lebih dalam) dari hanya persoalan 'poligami'.
Satu lagi yang paling mengganjal adalah kemampuan orang-orang Mesir dalam memahami dan berbicara bahasa Indonesia. Film yang bersetting di Mesir ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saat menontonnya tak ayal ingatan jatuh ke film James Bond tahun 1970-an yang mana orang-orang Uni Soviet sangat fasih berbahasa Inggris.
Meski demikian, sekali lagi, Hanung menunjukkan kualitas tangan dinginnya dalam membesut film untuk kalangan anak muda. Meski ada beberapa yang berbeda dengan novelnya, namun penceritaan Hanung sangat cimaik, khas anak muda, serta mudah diikuti bagi yang belum pernah baca novelnya. Beberapa penambahan, seperti adegan pemukulan Fahri di Metro, kisah tabrak lari Maria, justru menambah greget dan menambal 'lubang' dari novel Kang Abik.
Secara umum film chicklit 'akhwat' ini mampu memberi pandangan berbeda tentang arti cinta yang dibalut dengan keimanan. (kpl/lin)