KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Kartu As edisi khusus menyambut Hari Pahlawan itu hanya dicetak 1.000 unit guna dibagikan kepada komunitas Pemuda Panca Marga di Pulau Dewata, kata GM Sales & Customer Services Telkomsel Regional Bali Nusra, Syaiful Bachri, saat peluncuran produk khusus itu di Denpasar.
Melalui pengabadian foto I Gusti Ngurah Rai dan penggunaan lagunya sebagai NSP, diharapkan mampu meningkatkan penularan nilai-nilai kepahlawanan di kalangan anggota PPM maupun masyarakat pelanggan yang memilih NSP lagu yang berkisah tentang perjuangan I Gusti Ngurah Rai itu.
Menurut Ari, sapaan Syaiful Bachri, penerbitan Kartu As edisi pahlawan itu sekaligus merupakan upaya mendukung kegiatan napak tilas perjalanan I Gusti Ngurah Rai yang akan diikuti ribuan peserta.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10-20 November ini, melewati 10 titik pos berantai, tersebar di sembilan kabupaten/ kota di Bali.
"Kegiatan ini kami rancang dari satu pos ke pos berikutnya diikuti 1.000 orang, terutama pelajar, pemuda dan mahasiswa, dan digantikan oleh 1.000 peserta berikutnya," kata Ketua Pemuda Panca Marga Bali, AA Nani Suryani, yang hadir pada kesempatan itu.
Nina yang adalah salah seorang cucu dari almarhum I Gusti Ngurah Rai, merencanakan kegiatan napak tilas itu dimulai dari Jembrana, tempat awal perjuangan kakeknya tersebut, kemudian keliling Bali dan berakhir di Taman Pujaan Bangsa Puputan Margarana, Kabupaten Tabanan.
Sementara I Gede Darna, pencipta lagu daerah Bali Pahlawan I Gusti Ngurah Rai, menyampaikan terima kasih atas kepedulian Telkomsel memasukkan lagu tersebut sebagai salah satu dari sejumlah lagu perjuangan sebagai NSP.
"Ini akan sangat mendukung penularan nilai-nilai kepahlawanan kepada masyarakat luas," ucapnya seraya menyebutkan bahwa pemberian bagian royalti bukan hal yang penting.
Lagu Pahlawan I Gusti Ngurah Rai ditawarkan sebagai NSP bersama lagu Garuda di Dadaku (Netral), Indonesia Pusaka (Herry Rotinsulu), Satu Nusa Satu Bangsa (Cokelat), Bendera (Cokelat), Bagimu Negeri (Harry & Lin), serta Kembalikan Bali (Elfas Singers).
Ketua Legiun Veteran (LVRI) Daerah Bali, Ida Bagus Ratja, pada kesempatan itu menguraikan sejarah perjuangan masyarakat Bali bersama I Gusti Ngurah Rai saat melawan penjajah Belanda pada masa agresi I.
Dia sangat berharap generasi muda mampu mewarisi nilai-nilai kepahlawanan sebagai bekal menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga mampu mengokohkan nasionalisme. (ant/cax)

"Tapi kita berpikir kalau itu bukan solusinya," terang Kikan saat ditemui selepas mengisi acara DAHSYAT yang siaran langsung di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (20/10) siang tadi.
Kikan pun mengaku menaruh harapan besar pada pemerintah. Apalagi, kabinet baru pemerintahan Indonesia baru saja dilantik hari ini.
Sebenarnya ada yang cukup lucu mengenai pembajakan tersebut. Pasalnya, Kikan dan teman-temannya sempat iseng memeriksa pasar untuk melihat CD-CD bajakan.
"Saya ama temen-temen itu dulu sering iseng ngecek pasar-pasar. Jadi penjualnya itu kalau saya dateng biasanya mereka langsung malu," kisah Kikan. "Jadi, CD-CD bajakan Cokelat itu diumpetin."
"Kalau kerugian secara materi sih nggak bisa dibilang," tambahnya. "Soalnya orang yang beli itu bukan cuma masyarakat menengah ke bawah, masyarakat atas pun juga sering membeli yang bajakan. Ya ini cukup memprihatinkan." (kpl/ant/npy)

"Kalo masalah itu bukan jadi masalah, karena saya sama mereka juga masih komunikasi, jadi nggak ada masalah. Walau hak asuh di saya, nggak jadi masalah dan fine-fine aja dan anak-anak juga nggak ada ngerasa yang aneh," kata Kikan kepada KapanLagi.com di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9).
"Ya, walau rumah saya jadi rumahnya anak-anak, tapi Yuke ngontrak deket rumah. Jadi nggak ada masalah apa-apa dan biar anak nggak ngerasa kehilangan," imbuhnya.
Kikan mengaku tali silaturahmi yang tetap terjalin dengan sang suami adalah berkat anak-anaknya. Lalu, kapan dirinya akan segera mencari pendamping yang baru?
"Belum ada kepikiran, anak saya juga masih kecil saya, masih have fun bertiga. Nggak ada masalah," pungkasnya. (kpl/buj/bun)

Selain itu, bulan Ramadhan kali ini ia ingin mengurangi jadwal panggungnya dan menikmatinya bersama anak-anaknya.
"Saya sebisa mungkin tidak terlalu banyak kegiatan di bulan Ramadhan, karena pas bulan Ramadhan jadwal Cokelat juga berkurang dan kesempatan ini saya pakai bersama anak-anak," kata Kikan saat ditemui di acara Reuni Akbar Charitas Jakarta di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9).
Kesibukannya tak pelak membuat Kikan perlu mempekerjakan seorang pembantu untuk merawat anak-anaknya. Namun terkadang dirinya juga mengajak anak-anak ke lokasi syuting, sehingga anak-anaknya selalu bisa terpantau.
"Saya punya pembantu buat anak, tapi kalau saya lagi sibuk ke ortu. Saya juga suka ajak anak-anak ke tempat nyanyi, jadi nggak merasa kehilangan," tukasnya. (kpl/buj/bun)

"Dua-duanya saya ajarkan adaptasi sama orang lain dan anak saya tidak takut ketemu dengan orang," ujar Kikan tentang anak-anaknya saat ditemui di Pantai Karnaval Ancol, Jakut, Sabtu (08/08), di ajang Java Rockin' Land 2009.
Ditanya tentang proses kedekatannya, nampaknya Kikan dengan sang kekasih sudah lama kenal. Apalagi, Kikan mengaku tidak trauma jika harus dekat dengan anak band lagi.
"Kebetulan kita sama-sama dari musisi dan kenalnya itu sudah lama sekali. Saya tidak trauma dan hubungan saya dengan Yuke pun baik. Jadi, tidak ada masalah," tuturnya.
Saat ditanya lebih lanjut, Kikan nampak sedikit menghindar. Pasalnya, vokalis Cokelat yang juga menjadi backing vocal Tribute to Immortal Legend Bands ini merasa malu.
"Udah dong, saya jadi malu. Saya jalani dulu dengan santai dan fokus di karir. Anak-anak sudah mau masuk sekolah dasar, asmara hanya menjadi bumbu saja," pungkasnya. (kpl/ant/npy)

"Tadi gue di kepolisian itu menerangkan kesalahpahaman keterlibatan gue, karena memang gue hanya mengenalkan saja. Gue gak tahu persis gue terkena pasal berapa. Ya, keterlibatan gue hanya sebatas mengenalkan. Pertanyaan sih gak banyak ya, karena memang pihak kepolisiannya juga tahu persis keterlibatan saya. Hanya sebagai saksi karena memang saya memperkenalkan, mereka tahu itu. Tadi juga pihak yang memeriksa saya juga santai, mereka kan tahu hukum," papar Edwin di McDonalds Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (6/8).
Selanjutnya, Edwin hanya bisa wait and see dalam menyikapi kasus tersebut. "Kalau keterlibatan itu kan ada nama saya, tanda tangan saya dong. Ya bagaimana ya, hari gini hal-hal itu sering terjadi gitu," tandasnya.
Edwin berharap agar masalah tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan antara kakaknya dengan Alinz. Walau dirinya kini ikut terseret, namun Edwin menjelaskan bahwa hal itu tak mengganggu pekerjaan maupun hubungannya dengan rekan segrup.
"Insya Allah ini tidak mengganggu. Teman-teman saya juga tahu, insya Allah saya bisa selesaikan ini secara baik-baik. Karena masalah pribadi adalah masalah pribadi, masalah profesional adalah profesional. Dan jujur saja, saya menganggap ini sebagai musibah buat saya, yang insya Allah ke depannya akan membuat yang terbaik buat saya," tuturnya bijak.
Lalu, apakah dirinya akan melayangkan tuntutan balik atas masalah yang menyeretnya tersebut? Mengingat bahwa kasus ini bisa berpengaruh pada reputasinya.
"Kalau saya menempuh jalur hukum, pertama saya membuat pengaduan, terus mengumpulkan bukti-bukti. Saya harus menyewa lawyer, sidang berkali-kali. Mendingan gue buat lagu, manggung. Jadi kalau menurut saya pribadi ini buang-buang waktu jika harus memikirkan hal ini," pungkasnya. (kpl/buj/bun)

"Jujur, kalau buat gue pribadi sama abang gue biasa aja, maksudnya gue kontek-kontekan, gue biasa saja. Menyangkut masalah ini juga gue sempat bertanya, yang pada intinya ada apa sih. Gue juga gak tahu latar belakangnya seperti apa, duduk permasalahannya seperti apa. Apapun itu sebenarnya permasalahannya adalah Alinz dengan label rekaman di mana abang gue ada di situ," papar Edwin pada KapanLagi.com, McDonalds Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (6/8), sekira pukul 01.15 dinihari.
Menurut Edwin, ia tak tahu menahu soal isi dari kontrak perjanjian antara pihak Pandawa sebagai label dan grup Alinz. Personil grup Cokelat ini pun menegaskan bahwa keterlibatan dirinya hanya sebatas mengenalkan Alinz dengan Ervan. Selebihnya, ia tak pernah turut campur.
"Sebenarnya gini, itu harusnya statement yang harus diselesaikan antara label Pandawa dengan Alinz dan pihak abang gue. Karena begini gue kan banyak kenal dengan pihak label segala macam. Bagi gue, gak mau tahu orang itu duduk sebagai apa, entah itu teman atau abang gue atau segala macam. Jadi kalau ada statement abang gue gak ada di label itu, gue gak tahu menahu tuh. Karena memang gue kapasitasnya gue hanya mengenalkan saja, jadi gue gak tahu persis di mana keterlibatan gue dalam masalah ini," paparnya.
Lebih lanjut, Edwin yang kini ditetapkan sebagai saksi dalam kasus tersebut oleh polisi, juga tak tahu menahu soal berapa nilai kontrak yang disepakati antara label Pandawa, Ervan dan Alinz. (kpl/buj/bun)