< >

ARTIKEL DEWA BUDJANA


Gigi: 'GIGI', Makin Dewasa di Usia 15

KapanLagi.com - Oleh: Yunita Rachmawati

Gigi memang selalu kepingin tampil beda. Band asal Bandung yang digawangi Armand Maulana dkk ini kembali menelurkan album andalan. Uniknya, justru di album studio ke-11 ini, mereka menggunakan self title sebagai tajuknya - berbeda dengan kebanyakan band yang merilis album self title di album perdana. Isinya? Jangan ditanya, benar-benar spesial pakai telor.

Dalam album yang berisi sembilan track bernuansa percintaan itu, Armand, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, dan Gusti Hendy tetap berusaha mengikuti perkembangan zaman yang ada, seperti salah satu lagunya berjudul My Facebook, jejaring pertemanan yang sedang 'in' di kalangan masyarakat.

Sedikit berbeda dengan album sebelumnya yang lebih menerapkan konsep akustik, di album ini Gigi mengusung format elektronik. Gigi berusaha lebih 'ceria' dengan tema-tema menarik. Misalnya saja di lagu andalan Gigi bertajuk Ya Ya Ya. Lagu yang dipilih dari hasil survei langsung oleh fans dan radio ini menceritakan tentang kisah seseorang yang sudah tidak sabar menunggu pernyataan cinta dari kekasihnya.

Dalam video klipnya, yang sering tayang di TV, menampilkan kekejaman seorang wanita yang menginginkan pria yang didamkannya. Agak sedikit kejam memang karena sang pria kerap disiksa agar wanita tersebut bisa mencapai keinginannya.

Di lagu lainnya, Restu Cinta, musik Gigi lebih high. Mereka memilih untuk menggaet Addie MS, dan mereka merasa lebih lebur tanpa dipaksakan sehingga warna mereka masih tetap ada dan musik Addie juga tetap kuat.

Di album ini juga, tak bisa dipungkiri, warna musik yang dibawakan Gigi lebih strong. Misalnya saja nuansa rock yang benar-benar catchy di lagu pertama, Sumpah Mati, serta lagu ketujuh, Dan Sekarang. Enaknya lagi, lirik yang diusung pun tidak ruwet dan pendek-pendek, jadi makin gampang dihafal dan makin mudah dinyanyikan.

Tak mau ketinggalan dengan karakter vokalis, sang gitaris Dewa Budjana juga punya andil besar, khususnya di lagu Cinta Lalu. Dentingan melodi bersuara bening dari gitaris asal Bali ini mampu membawa angan siapa pun yang mendengarnya ke masa lalu. Pastinya, lagu ini jangan sampai terlewatkan.

Jadi, tunggu apa lagi. Langsung saja dengarkan gaya Gigi yang lebih dewasa. Mereka tetap mantap dengan jalur dan warna musik andalan tanpa kehilangan jati diri yang sesungguhnya. (kpl/boo)


Lihat profil: Gigi, Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy
Diposting oleh: Editor | Jumat, 19-06-2009 |

LETHOLOGICA, Kurang Logis Untuk Pasar Musik Indonesia

KapanLagi.com - Noe, Patub, Arian, dan Dedy rupanya terus melakukan eksperimen berani, meski kini Letto sudah memasuki album ke-3 mereka, sebuah angka 'keramat', karena dari sinilah biasanya musisi mengalami 'hukum alam', semakin jaya atau sebaliknya, tenggelam.

Letto merilis album ketiga mereka yang diberi judul LETHOLOGICA, yang artinya adalah kelainan psikologis di mana seseorang tak bisa mengingat kata kunci, frase, atau nama ketika melakukan pembicaraan. Di sampul albumnya, mereka menuliskan arti kata-kata tersebut.

Album ketiga Letto setelah TRUTH, CRY, AND LIE(2005) dan DON'T MAKE ME SAD(2007) ini berisi 12 lagu yang terdiri dari 3 lagu berbahasa Inggris dan 9 lagu berbahasa Indonesia. Warna musiknya beragam, tapi tetap dihiasi dengan lirik-lirik puitis ala Sabrang Mowo Damar Panuluh atau cukup disapa Noe.

Eksperimen, nampaknya inilah satu-satunya hal yang konstan dalam setiap album Letto, selain mengumbar lirik-lirik 'anti-bubble gum' alias lirik yang butuh pemaknaan lebih dalam, album ke-3 ini terasa lebih 'sedap' dari album-album terdahulu. Namun jika mengamati perkembangan band asal Yogyakarta ini, sulit rasanya membuat Letto disejajarkan dengan band-band se-angkatannya, dari segi penjualan maupun segi kualitas.

Musica Studios, label yang menaungi mereka, terkesan memberikan kebebasan dalam pemilihan tema maupun material album secara keseluruhan, yang berarti merupakan 'angin segar' bagi Noe dan kawan-kawan. Hal ini terlihat dari musikalitas masing-masing personel yang kerap menciptakan lagu 'non-radio hits', atau kurang friendly di kuping-kuping pendengar. Satu hal kurang logis untuk selera pasar musik tanah air, yang kian didominasi tren karya less skill tapi menjual.

Single pembuka bertitel Lubang Di Hati, langsung menunjukkan progresi musik Letto, aransemen yang full, pemilihan sound yang detail, serta satu ciri khas Letto, harmonisasi pop, folk, soft rock serta chord-chord minor. Peran synthesizer rupanya cukup diperhatikan kali ini, Anda akan dengan mudah menemukan sound-sound aneh saat menikmati isi album yang rilis tanggal 8 Januari 2009 tersebut.

Lethologica ternyata juga menjadi titel sebuah musical track bernuansa etnik di album ini. Sebuah track yang pasti akan membawa Anda ingat album solo Dewa Budjana yang berpadu dengan aransemen khas Andy Ayunir serta jam session super-grup asal Los Angeles Toto.

Untuk Anda yang ingin bernostalgia dengan lagu Sampai Nanti, Sampai Mati, Anda akan temukan nuansa 'sebelas-dua belas' di track ke-6, Layang-Layang. Sementara untuk 2 lagu berbahasa Inggris, Birds Song (dibawakan dengan sound minimalis), serta Almost (sekaligus lagu penutup album ini), Letto menampilkan sesuatu yang justru dihindari oleh pelaku musik tanah air. Dua track tersebut jelas-jelas mengumbar idealisme mereka, yang semakin membuat Letto melawan logika musik Indonesia.

Lepas dari itu semua, LETHOLOGICA adalah wujud kompilasi ide masing-masing personel yang meski musiknya masih in the middle of no where, layak diacungi jempol, karena idealisme serta keberanian 'melupakan' tuntutan pasar, di tengah musisi tanah air yang serba 'melayu', mendayu-dayu dan layu. (kpl/bar)


Lihat profil: Letto, Noe Letto, Patub Letto, Dedy Letto, Arian Letto, Dewa Budjana
Diposting oleh: Editor | Rabu, 25-02-2009 |

«12»