KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kali ini Ngayogjazz Bantul 2009 mengusung tema Jazz Basuki Mawa Beya," katanya.
Menurutnya, tema tersebut merupakan plesetan dari peribahasa Jawa 'Jer Basuki Mawa Beya' yang artinya bahwa setiap upaya memerlukan biaya. Termasuk dalam hal bermusik, memerlukan pengorbanan dan dana.
"Dalam dinamika budaya termasuk dalam berkesenian, tidak ada yang gratis dan pasti memerlukan biaya, baik materi maupun non materi," katanya.
Jaduk mengatakan biaya tersebut bisa berupa kesediaan menerima tradisi baru dan nilai baru, maupun meluangkan waktu untuk mencoba menikmati atau apa saja yang sifatnya kompromi dengan motivasi menambah kualitas manusia pelakunya.
Jaduk mengatakan Ngayogjazz Bantul 2009 pada dasarnya merupakan sajian berbagai produk kreatif bermusik, baik berupa permainan instrumen musik yang sifatnya individu maupun kelompok.
Di tengah pementasan Ngayogjazz juga tersaji produk kreatif berupa barang kerajinan hasil karya para perajin. Dirinya berharap Ngayogjazz Bantul 2009 bisa memberikan tambahan keberagaman produk kreatif di Bantul.
"Segala unsur kreatif dalam kegiatan tersebut diharapkan pula bisa memberi inspirasi bagi kreativitas masyarakat maupun industri kreatif di lingkungan yang lebih luas," katanya.
Dalam Ngayogjazz 2009 akan tampil sejumlah pemusik jazz, baik lokal maupun nasional, di antaranya Dewa Bujana dan Tohpati, Syaharani dan kelompok Queen Fireworks, Harri Stojka dari Austria, Dwiki Dharmawan, Bassgroove 100 dari Malaysia, I Wayan Sadra, dan Sonoseni Ensamble.
Kemudian Komunitas Jazz Kemayoran Jakarta, Purwanto, Kua Etnika, Komunitas Jazz Jogjakarta, serta kesenian tradisional. Selain itu, juga ada Reriungan Komunitas Jazz se-Indonesia, peluncuran CD kompilasi Jazz Jogja, Klinik Musik dari Dwiki Dharmawan, Albert Yap dari Malaysia, Harri Stojka dari Austria, serta Festival Foto Ngayogjazz. (ant/dar)

"Pergelaran ini untuk semakin mengakrabkan musik jazz dengan masyarakat Bantul," demikian ungkap Event Director Ngayogjazz 2009, Jaduk Ferianto di Bantul, Rabu (18/11).
Menurutnya, masyarakat Bantul yang memiliki akar kesenian dan kebudayaan Jawa yang dinamis, sangat terbuka dan bisa menerima jenis musik apa pun, termasuk tradisi-tradisi baru yang mengikuti perjalanan zaman.
Sehingga, katanya, tidak berlebihan apabila Ngayogjazz menjadi salah satu alternatif ruang berinteraksi khususnya dalam berkesenian dan menikmati karya seni termasuk seni musik jazz.
"Ini terbukti dan bisa terlihat pada beberapa kolaborasi kesenian tradisional Bantul dengan musik jazz, dan bahkan kolaborasi itu kini menjadi tradisi bermusik yang dipertemukan melalui Ngayogjazz," katanya.
Jaduk mengatakan Ngayogjazz adalah sebuah tradisi bermusik yang digagas sejak 2006, dan pertama kali digelar pada 2007.
Dalam Ngayogjazz 2009 akan tampil sejumlah pemusik jazz, baik lokal maupun nasional, di antaranya Dewa Bujana dan Tohpati, Syaharani dan kelompok Queen Fireworks, Harri Stojka dari Austria, Dwiki Dharmawan, Bassgroove 100 dari Malaysia, I Wayan Sadra, dan Sonoseni Ensamble.
Kemudian Komunitas Jazz Kemayoran Jakarta, Purwanto, Kua Etnika, Komunitas Jazz Jogjakarta, serta kesenian tradisional. (ant/dar)

"Saya sih siap-siap aja, kan semua juga tergantung ama temen-remen artis yang akan bekerja sama membawakan lagu-lagu dia. Kalau saya sih 86 (sepakat, red). Namun ini adalah ide yang malah belum kepikiran dalam pikiran saya, namun ide seperti ini sangat bagus sekali," ungkap Addie MS saat ditemui KapanLagi.com.
Siap bukan berarti tak akan ada kendala dan Addie MS tahu benar itu. "Emang ga mudah untuk membikin konser seperti ini, masalah dana apalagi. Itu faktor utama. Tapi saya yakin kalau semuanya pasti akan support, karena semua orang pasti tahu Chrisye, dan juga tak sedikit yang menggemarinya," lanjut Addie kemudian.
Acara Classic Chrisye, A Night to Remember sendiri bisa dibilang berjalan dengan sukses. Sederet nama besar seperti Ahmad Albar, Afgan, Armand Maulana, Dewa Budjana, D Cinnamons, Memes, Sherina, Utha Likumahua, dan Vina Panduwinata tercatat sebagai pendukung acara yang tiket masuknya terjual habis ini. (kpl/ant/roc)

Saat band yang terdiri dari Armand Maulana (vokal), I Dewa Gede Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bas), dan Gusti Erhandy atau Hendy (drum) tampil, penonton antusias dan bernyanyi bareng Armand.
Gigi membawakan enam lagu bertemakan religi seperti Keagungan Tuhan, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Kehendak-Mu, Beribadah Yo dan Perdamaian serta Restu Cintamu.
Dari pantauan yang dilakukan oleh ANTARA, ribuan warga Serang yang terdiri dari berbagai usia ini memenuhi Alun-alun Barat sejak Jam 15.30 WIB, Jumat (28/8). Mereka dengan setia menunggu penampilan Gigi sambil berbelanja di stand-stand yang ada di sekitar panggung tersebut.
Sebelum Gigi tampil, para penonton terlebih dahulu disuguhi penampilan kelompok musik asal Bandung, Rif. Para penonton pun terhanyut dan berjingkrak ketika vokalis Rif, Andi menyanyikan lagu andalannya, Andai Aku Raja.
Tak lama kemudian, Gigi membuka acara tersebut dengan lagu yang berjudul Keagungan Tuhan. Semua penonton yang terdiri dari orang tua, remaja dan anak-anak, mengikuti bait demi bait lagu yang memang tidak asing di telinga masyarakat tersebut. (kpl/bar)

"Ini lagi nyari (pengganti Balawan). Kayaknya mau rekaman duo gitar dulu bareng Budjana. Masih nyari-nyari waktu, si Budjana aja sibuknya setengah mati," kata Tohpati saat dihubungi KapanLagi.com by phone Jumat (21/08) malam kemarin.
Meski tidak pernah mengadakan audisi, namun Tohpati dan Budjana sempat mengajak beberapa orang untuk melakukan jam session bersama.
"Orang-orang industri musik memang ingin diajak, cuma ada yang nggak mau. Kadang-kadang pemain rock juga pernah main bareng kita kok. Ada beberapa nama besar yang sebenarnya kita ajak. Tapi kebanyakan menolak dengan alasan yang lucu, alasannya mereka nggak bisa mainin jazz," tutur Tohpati sambil tertawa.
Trisum sendiri sempat mengadakan show di Semarang dan Batam walaupun memang tidak terlalu banyak main saat ini. Ke depannya, Trisum berencana main bersama Smart Dialog, sebuah band beraliran jazz.
"Rencananya kita main bareng di akhir tahun nanti. Ke depannya saya dan Budjana nggak hanya berkonsep instrumen gitar aja. Kita kemarin-kemarin juga ngajak Hendri Lamiri (pemain biola -red) untuk main bareng," tambahnya. (kpl/bar/npy)

"Masih susah untuk bersatu, hahaha. Nah ini nyari pengganti masih susah. Next belum tahu sama siapa, kan udah nggak sama Balawan," ujar Tohpati berkisah mengenai Trisum saat dihubungi melalui telepon oleh KapanLagi.com, Jumat (21/08) malam kemarin.
"Balawan banyak kesibukan manggung di luar negeri jadi nggak bisa nyisihin waktu aja sih sebenarnya," lanjutnya.
Ditanya tentang susahnya mencari pengganti sosok Balawan, Tohpati mengaku kendala utamanya adalah waktu.
"Sebenarnya sih banyak yang jago. Tapi waktunya aja yang susah, nyari yang fleksibel itu yang paling susah. Nyocokin waktu tiap orang kan beda-beda," terang Tohpati.
Lalu, apakah nama Trisum akan tetap disandang jika mereka telah menemukan pengganti Balawan? "Tetap kok. Trisum nggak bubar, cuma lagi vakum saja karena memang belum ada pengganti," pungkasnya. (kpl/bar/npy)

"Bulan puasa jalan seperti biasa aja, rekaman-rekaman jalan terus. Lagi sibuk di studio aja," ujar pria yang pernah menyabet gelar Gitaris Terbaik pada Festival Band se-DKI, pada saat usianya baru 14 tahun itu.
Dihubungi oleh KapanLagi.com melalui line telepon, Jumat (21/8) malam, rekan Dewa Budjana dalam grup Trisum tersebut kemudian mengungkapkan kesibukannya dalam proyek album penyanyi-penyanyi tanah air.
"Saya juga lagi menyelesaikan album punya Nina Tamam, barusan aja dia pulang. Kemarin-kemarin juga kerja bareng Icha Jikustik," terangnya.
"Terus kemarinnya lagi juga barusan selesaiin TRIBUTE TO RINTO HARAHAP. Jadi itu semua lagu-lagu Rinto yang diaransemen ulang semuanya sama saya, tapi semua dinyanyikan oleh artis-artis dari Sony Music," imbuhnya.
Disinggung soal keterlibatannya dalam album Nina, gitaris berkaca mata itu sedikit memberikan 'bocoran'. "Nina Tamam sedang siap-siap untuk album ke-2, tapi dia udah keluar dari labelnya yang lama tuh," pungkasnya. (kpl/bar)