< >

BLOG DIDI PETET


Penulis 'EMAK INGIN NAIK HAJI' Tak Menduga Novelnya Jadi Film

Kapanlagi.com - Seluruh keuntungan novel EMAK INGIN NAIK HAJI akan diserahkan kepada fakir miskin, terutama untuk membantu perkembangan pendidikan. Niat ini disampaikan penulisnya Asma Nadia, usai meluncurkan novel yang kini diangkat dalam film layar lebar itu.

"Saya sudah niatkan sejak novel ini belum dicetak," kata Asma Nadia, usai meluncurkan novel yang ditulisnya di komplek Rumah Dunia Desa Ciloang Kota Serang, Banten, Sabtu (14/11).

Niatan putri pengarang lagu terkenal tersebut diucapkan bukan karena dirinya mempunyai harta yang berlebihan, akan tetapi dilakukan sebagai rasa ingin berbagi kepada sesama.

Ibu dari Salsabila dan Adham Putra itu juga mengungkapkan, tidak menduga jika cerpen karyanya dijadikan film layar lebar oleh Aditya Gumay, apalagi Aditya tidak mempelajari cerpennya dengan waktu yang lama.

Cerpen EMAK INGIN NAIK HAJI bermula dari permintaan sebuah majalah kepadanya yang ingin dibuatkan cerita tentang haji. Awalnya dirinya enggan membuatnya, lantaran cerita tentang haji sudah dibuat oleh penulis lain, di antaranya JURAGAN HAJI, karya Helvy Tiana Rosa.

"Saya coba membuat cerita dengan judul yang merakyat, Subhanallah, ternyata cerpen saya banyak digemari, bahkan dijadikan film layar lebar," terangnya.

Saat ini, lanjut perempuan berjilbab ini, setelah mengeluarkan novel terbarunya, ia disibukkan dengan film EMAK INGIN NAIK HAJI. "Masih saya pusatkan perhatian saya sekarang ini untuk membantu pembuat film EMAK INGIN NAIK HAJI," tegasnya.

"Boleh saja orang memandang film ini film religi, tapi yang jelas ini adalah film yang menceritakan realita kehidupan kita saat ini," terangnya.

EMAK INGIN NAIK HAJI merupakan film garapan disutradarai oleh Aditya Gumay dan dibintangi oleh Ati Kanser Zein, Reza Rahadian, Henidar Amroe, Cut Memey, Helsi Herlinda dan Didi Petet. Film ini dirilis sejak 12 November 2009, dengan mengangkat tema kegigihan seorang Emak yang ingin menyempurnakan Islam yang dipeluknya.    (ant/dar)


Lihat profil: Reza Rahadian, Henidar Amroe, Cut Memey, Didi Petet, Helsi Herlinda, Aditya Gumay
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 18-11-2009 |

Festival Film Pelajar 2009 Jaring Sineas Peduli Pariwisata

Kapanlagi.com - Apa kabar dunia wisata Indonesia? Maraknya kasus terorisme dan pengklaiman budaya asli Indonesia oleh Negeri Jiran telah membuat pariwisata tanah air makin lesu. Kini saatnya bidang pariwisata bangkit lagi, dengan melalui promosi-promosi yang bisa mendongkrak devisa negara di sektor tersebut. Salah satu medianya adalah dengan melalui dunia film.

Adalah Jakarta Festival Film Pelajar 2009, yang preskonnya diadakan di Blitz Megaplex Grand Indonesia pada hari Rabu (4/11) kemarin. Tujuan dari penyelenggaraan even ini salah satunya adalah untuk mempublikasikan dan menginformasikan obyek-obyek wisata melalui film yang dibuat oleh para pelajar SMU se-DKI Jakarta.

Selain itu juga untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para pelajar dalam bidang perfilman yang terkait dengan obyek-obyek wisata kota Jakarta.

Film-film yang telah dibuat selanjutnya akan diserahkan kepada panitia untuk diproses oleh tim juri yang terdiri dari Didi Petet (praktisi film), Garin Nugroho (sutradara) dan Drs. Bakrie M.M (dirjen pariwisata).

Masing-masing tim akan terdiri dari 5 orang (1 sekolah), setelah itu akan diseleksi dari ratusan sekolah menjadi 30 kelompok/sekolah. Workshop untuk 30 peserta yang dipilih akan dilaksanakan tanggal 14 - 15 November 2009.

Sementara untuk syuting sendiri hanya dikasih waktu satu hari dengan tempat pengambilan yang sudah ditentukan, yaitu Monas, Kota Tua, Ancol, Senayan, Ragunan dan TMII.

Pemenang festival film ini akan diumumkan di Blitz Megaplex Gran Indonesia tanggal 3 Desember 2009 pukul 9 - 12 Wib, dengan pembawa acara Ayu Shita dan Joe Richard, dimeriahkan oleh Domino dan Ghea Idol.   (kpl/ato/bun)


Lihat profil: Didi Petet, Garin Nugroho, Ayu Shita, Joe Richard, Domino, Ghea Idol
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 05-11-2009 |

Garin Nugroho dan Didi Petet Jadi Juri Festival Film Pelajar

Kapanlagi.com - Sebagai Senior di dunia perfilman Indonesia, Garin Nugroho dan Didi Petet ikut membantu dalam bidang lain, yakni pariwisata. Kedua tokoh perfilman ikut mendukung Jakarta Festival Film Pelajar 2009. Ajang ini salah satunya bertujuan untuk mempublikasikan dan menginformasikan objek-objek wisata melalui film yang dibuat oleh para pelajar SMU se-DKI Jakarta. Selain itu juga untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para pelajar dalam bidang perfilman yang terkait dengan objek-objek wisata kota Jakarta.

Film-film yang telah dibuat selanjutnya akan diserahkan kepada panitia untuk diproses oleh tim juri, yang terdiri dari Didi Petet (praktisi film), Garin Nugroho (sutradara) dan Drs. Bakrie M.M (dirjen pariwisata). Workshop untuk 30 peserta yang dipilih akan dilaksanakan tanggal 14-15 November 2009. Sementara untuk syuting sendiri hanya dikasih waktu satu hari dengan tempat pengambilan yang sudah ditentukan, yaitu Monas, Kota Tua, Ancol, Senayan, Ragunan dan TMII.

Menurut panitia, keterlibatan kedua tokoh ini lantaran mempertimbangkan peran mereka di panggung perfilman. "Didi Petet, kita tahulah kapabilitas dia seperti apa. Dia adalah sosok orang yang konsen pada pendidikan film dan juga mantan dekan di Institut Kesenian Jakarta. Sedangkan Garin adalah orang yang sudah terbiasa melanglang buana dalam film berkaliber Internasional. Dia punya pemikiran yang global, semoga sih dia bisa ngasih arahan maupun masukan bagaimana sebuah film itu bisa menembus ke ajang internasional," ungkap pihak penyelenggara yang diwakili Hardiatomo.

Pemenang festival film ini akan diumumkan di Blitzmegaplex Grand Indonesia, pada 3 Desember 2009 mendatang. Ayu Shita dan Joe Richard ditunjuk jadi pembawa acara. Acara ini juga akan dimeriahkan oleh Domino dan Ghea Idol. Film-film yang jadi pemenang rencananya akan dirangkum di Mini-DV, untuk selanjutnya akan kita roadshow-kan ke sekolah-sekolah dan tentunya kami juga mengharapkan peran serta seorang Garin Nugroho untuk bisa membawa film pelajar ini ke ajang internasional.   (kpl/ato/erl)


Lihat profil: Garin Nugroho, Didi Petet, Ayu Shita, Joe Richard, Domino, Ghea Idol
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 05-11-2009 |

Balinale 2009 Tak Ada Hubungannya Dengan Julia Roberts

Kapanlagi.com - Tahun ini memasuki tahun ketiga diadakannya Balinale International Film Festival. Dan sesuai dengan namanya, acara ini digelar di Pulau Dewata dengan mengundang para produser serta memperkenalkan budaya Indonesia sehingga para pekerja film di luar negeri yakin bahwa Indonesia bisa menjadi tempat utama untuk pembuatan film.

Sebagai bukti Indonesia cukup layak, dalam beberapa hari ke depan akan hadir Julia Roberts untuk syuting film terbarunya EAT, PRAY, LOVE yang mengambil lokasi di Bali. Namun, Direktur Balinale 2009 yang ditemui di acara preskon - yang juga dihadiri sineas Didi Petet dan Rima Melati, di Solo Lounge, Hotel Grand Sahid Jaya, Senin (12/10) malam menekankan jika diadakannya festival ini tidak ada hubungannya dengan film tersebut.

"Ini tidak ada hubungan dengan film Julia Roberts. Ini tidak ada hubungannya dengan Bali, tetapi Bali adalah tempat yang sudah dikenal oleh negara luar. Adanya Balinale juga membawa misi dan visi Indonesia. Produser film Julia Roberts datang ke Festival Balinale yang kemarin, tetapi lihatlah dengan hal yang positif. Bali adalah gerbang internasional di mata luar negeri," terangnya.

Pemilihan film dalam festival ini, lanjutnya, tidak ada yang membedakan. Yang penting ada pesan yang disampaikan dan berhubungan dengan Bali, dan kalau bisa masih fresh dan belum ditayangkan di Indonesia. Setelah itu, film yang masuk akan langsung diseleksi. Dituturkan Deborah, cukup banyak film yang bagus, tapi fokus dalam Balinale ini adalah untuk membuktikan kalau Indonesia merupakan prospek baik di dunia film.

"Balinale ini diadakan untuk memberikan kesempatan kepada para profesional film Indonesia ke dalam suatu forum internasional untuk memprestasikan hasil karya sekaligus hubungan dengan para sineas yang sedang berkunjung," jelasnya.

Untuk peserta yang berpartisipasi ada 25 film dari 13 negara yaitu Spanyol (PRINCESS OF AFRICA), Australia (MORNING OF THE EARTH, MARY AND MAX), New Zealand (COFFEE AND ALLAH), USA (SNAKED: A MOROCCAN ADVENTURE, VALENTINO: THE LAST EMPEROR, OH MY GOD, INGLOURIOUS BASTERDS), Jepang (TOKYO SONATA), Singapura (TOGETHER, WHITE, HUSH BABY, DIRTY BITCH), India (KANCHIVARAM) , Venezuela (EL SISTEMA), Malaysia (FLOWER IN THE PCOKET), Italia (IL DIVO), Perancis (FAIS COMME CHEZ TOI, BANLIEUE 13-ULTIMATUM), serta Indonesia (MERAIH MIMPI, PASANGAN BARU, DRUPADI, BLOOD & MILK, DARAH DAN DUPA).

Sedangkan tiket masuk Balinale yang digelar di Mall Bali Galleria, Kuta, Bali, dari tanggal 20-25 Oktober seharga Rp25 ribu untuk satu kali pertunjukan dan Rp150 ribu untuk paket bisa didapatkan di Biku di Seminyak, Three Monkeys di Ubud, dan Natural Light Candle Co. di Sanur Bali.   (kpl/adt/boo)


Lihat profil: Rima Melati, Julia Roberts, Didi Petet
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 13-10-2009 |

Didi Petet Yakin Kemajuan Indonesia di Mata Dunia

Kapanlagi.com - Kemajuan perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dirasa cukup signifikan. Adalah Didi Petet, aktor senior yang sudah banyak makan asam garam di dunia akting yang merasa sangat bangga dengan hal ini. Ia berpendapat jika produksi Indonesia bisa mencari beberapa tema dan saling mendukung, film Indonesia akan bisa berinteraksi dengan negara luar.

"Saya melihat bahwa perkembangan film sangat luar biasa. Mereka selalu bicara melalui pesan dengan banyak cara. Ada dua kubu yang selalu ada, satu sisi komersial dan satu sisi budaya. Kemasan budayalah yang sangat sulit diterima oleh masyarakat," katanya ketika ditemui di Solo Lounge, Hotel Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakpus, Senin (12/10).

Berbicara tentang Balinale Festival yang baru berdiri 3 tahun, Didi menjelaskan bahwa ajang ini ingin mengenalkan budaya Indonesia di mata luar melalui jalur film. Selain itu festival ini dirasa penting karena sudah pasti yang diputar adalah film-film buatan anak negeri. Alhasil, bisa menarik produser luar negeri untuk bekerja sama di bidang perfilman.

"Banyak juga produser yang melihat materi, tapi tidak menutup juga kalau banyak yang membuat film ingin memperlihatkan karya melalui sebuah pesan, dan itu sudah bisa diungkapkan serta mewakili film di mata dunia luar," terangnya.

"Saya selalu yakin dengan kerja anak Indonesia. Bukan bicara menang dan kalah, tapi bisa memperlihatkan sikap, cara pandang budaya Indonesia. Seperti film DENIAS, LASKAR PELANGI, itu bisa mencerminkan negara Indonesia," sambungnya.

Menyinggung mengenai banyaknya film yang sengaja dibuat isu, bukan sebagai karya, Didi punya pendapat pribadi. Menurutnya semua film dengan tema-tema yang kurang mengandung pesan positif hanyalah sebuah trik, cara, dan gaya yang sudah biasa terjadi di dunia film.

"Tapi tergantung kalian semua, dan itulah pilihan. Itu pasti ada dan semua bisa terjadi. Dan itu juga bukan menjadi sesuatu yang salah dan bukan sebagai konsumsi saja," pungkasnya.   (kpl/adt/boo)


Lihat profil: Didi Petet
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 13-10-2009 |

Didi Petet: Selera Rendah Tidak Usah Dijadikan Acuan

Kapanlagi.com - Aktor senior Didi Petet, mengaku tidak pernah mengenal siapa itu Maria Ozawa atau yang populer dengan nama Miyabi itu. Namun di tengah perdebatan dan pro kontra, pria pemilik rambut kriwul itu mengajak untuk berpikir cerdas dalam mempertimbangkan pantas atau tidaknya masalah itu dibicarakan.

"Kita berpikir harus cerdas, apakah hal itu pantas atau tidak diekspos? Dan kalau tidak pantas tidaklah dihadirkan di sini. Tapi harus disampaikan secara baik, meskipun kita negara demokrasi tetaplah ada batasan-batasan," terangnya saat ditemui di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (12/10).

Didi sangat menyesalkan jika kehadiran bintang porno itu untuk sebuah karya, yang hanya sekedar mengejar popularitas. Pengorbanan cukup besar jika tanpa mempertimbangkan aspek-aspek kepatutan.

"Tapi kalau jalan-jalan tidak apa-apa, tapi kalau berkarya saya sedih sekali bahwa kita untuk mencari sesuatu hal untuk mencari popularitas kenapa harus dengan cara seperti ini," terangnya.

"Dan itu sangat merusak citra negara ini, dari orang tidak tahu siapa Miyabi sehingga harus mencari dan ini masih bicara budaya timur yang masih kuat," tambahnya.

Menurut Didi, badan sensor pun harus berperan kuat, dan bangsa Indonesia pun harus bisa melestarikan segala sesuatu agar tidak terjadi perpecahan. "Apalagi pro dan kontra yang sangat besar bisa menimbulkan anarkis, apalagi masyarakat Indonesia bisa mudah terpancing amarah," tegasnya.

Didi juga tidak setuju dengan berbagai alasan yang menyalahkan kualitas perfilman Indonesia, sehingga seolah mencari pembenaran untuk mendatangkan bintang porno asal Jepang itu.

Baca Juga:

"Saya dapat beberapa SMS, banyak yang menyalahkan perfilman Indonesia akibat isu datangnya Miyabi. Kalau tetap datang maka akan menjadi citra buruk buat negara Indonesia, menurut saya selera rendah tidak usah dijadikan acuan untuk meningkatkan film Indonesia di mata luar," terangnya.

"Ayo belajar akting sama saya untuk berusaha memajukan dunia film dan marilah kita meningkatkan kemampuan," pungkas pemeran Emon dalam CATATAN SI BOY itu.

Yuk ngobrol tentang Miyabi gagal ke Indonesia di: Facebook KapanLagi.com dan Forum KapanLagi.com(kpl/adt/dar)


Lihat profil: Didi Petet, Maria Ozawa
Tag: Kontroversi Miyabi
Komentar : 3 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 13-10-2009 |

Vertigo, Slamet Rahardjo Dirawat di Rumah Sakit

Kapanlagi.com - Kabar sedih datang dari aktor Slamet Rahardjo. Melalui sahabatnya, Didi Petet diinformasikan, kalau aktor senior itu tengah dirawat di Rumah Sakit International Bintaro sejak Senin (12/10) pagi, akibat sakit vertigo (sakit kepala hebat, red).

"Slamet Rahardjo masuk rumah sakit tadi pagi sekitar jam 6 pagi akibat beliau terserang penyakit vertigo kemungkinan beliau sudah merasakan sakit sudah beberapa hari, dan itu saya dikabari sama beberapa teman-teman saya," demikian terang Didi Petet saat ditemui di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (12/10).

Sebagai sahabat Didi mengaku tidak pernah mengetahui riwayat penyakit sahabatnya itu. Begitu pun dengan yang sekarang ini, karena juga tidak pernah terdengar ada keluhan dari pria berkumis tebal itu.

"Setahu saya beliau tidak pernah mengeluh dan tadi sempat nengok serta datang ke Rumah sakit International Bintaro, beliau dirawat di ruang VIP, pagi jam 6 pagi," tegasnya.

Saat menjenguk pun Didi tidak mengetahui kondisi sahabatnya itu, karena dirinya hanya menjenguk saja, sementara sahabatnya itu sedang pulas tertidur.    (kpl/adt/dar)


Lihat profil: Didi Petet, Slamet Rahardjo
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Senin, 12-10-2009 |

«1234»

LIHAT ARSIP BERITA DIDI PETET TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA DIDI PETET TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA DIDI PETET TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA DIDI PETET TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA DIDI PETET TAHUN 2004