< >

ARTIKEL DWI SASONO


'KATA MAAF TERAKHIR', Ketika Maaf Tak Sekedar Kata

KapanLagi.com - Pemain: Tio Pakusadewo, Maia Estianty, Ade Surya Akbar, Rachel Amanda, Kinaryosih, Dwi Sasono.

Apa arti kata maaf? Sekedar ucapan yang mudah meluncur dari mulut setiap kita melakukan kesalahan, atau satu penyesalan mendalam atas kesalahan yang harus kita tunaikan dengan ikhlas?

Tema itulah yang kali ini diangkat dalam film layar lebar terbaru Sinemart yang berjudul KATA MAAF TERAKHIR. Sebuah film drama keluarga, lengkap dengan pengkhianatan cinta dan persahabatan, yang merupakan kekerasan psikologi yang sukar dilupakan. Di mana pada akhirnya, maaf bukan sebuah kata yang mudah diucapkan. Bagaimana juga maaf adalah sesuatu yang penting dinyatakan dengan tulus, bukan hanya sebagai upacara ritual tahunan pada hari Lebaran, tetapi juga sebagai penyembuh jiwa.

Darma (Tio Pakusadewo) sedang menjalani bulan terakhir kehidupannya. Oleh karenanya ia membuat daftar hal-hal yang harus dilakukannya. Salah satu keinginannya yang paling sulit adalah memperoleh maaf dari ibu anak-anaknya, Dania (Maia Estianty), putra sulungnya, Reza (Ade Surya Akbar) dan putrinya, Lara (Rachel Amanda). Darma tahu, dia telah melukai mereka sedemikian dalamnya, hingga rasanya tak mungkin mereka akan bisa memaafkannya. Enam tahun yang lalu, Darma meninggalkan Dania, istrinya dan kedua anaknya, Reza dan Lara, karena menghamili Alina (Kinaryosih), sahabat Dania.

Darma tahu bahwa keluarganya sangatlah terpukul akan kejadian tersebut. Oleh karena itu selama ini, setiap Lebaran, dia tak pernah mencoba untuk datang menemui mereka. Darma tidak sanggup jika harus menghadapi kemarahan keluarganya.

Hingga suatu saat secara tak sengaja Darma bertemu dengan Lara. Ia berusaha keras mendekati Lara. Lara yang awalnya bimbang akhirnya luluh akan keinginan ayahnya. Karena jauh di dalam hatinya ia sangat merindukan peristiwa ini, di mana ia bisa bercengkrama kembali dengan ayahnya. Darma pun menyampaikan kondisi yang sedang dihadapinya. Lara pun mengalami dilema, karena di dalam hatinya ia ingin memenuhi keinginan ayahnya.

Film yang berdurasi 98 menit ini juga menggambarkan sosok wanita yang tegar dan mandiri, yang berhasil bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setelah ditinggalkan suaminya, di mana ia dan kedua anaknya berjuang untuk berdamai dengan hati mereka masing-masing untuk dapat memberi sebuah kata maaf pada seorang suami dan ayah yang telah meninggalkan luka yang dalam di hati mereka.

Film yang juga dibintangi oleh Kinaryosih dan Dwi Sasono ini merupakan kolaborasi kedua antara sutradara Maruli Ara, dengan penulis skenario Leila S Chudori, di mana sebelumnya mereka telah sukses dalam serial televisi DUNIA TANPA KOMA. Di sini adalah debut mereka berdua dalam menggarap sebuah film.

Film yang bakal diputar serentak pada 27 Agustus mendatang menjadi debut Maia di layar lebar. Maia yang sebelumnya sudah pernah menjadi pemain di acara EXTRAVAGANZA, tentunya tak menemui kesulitan berarti ketika berakting di sini. Mungkin hanya adegan menangis yang ia anggap sulit, hal ini bisa dimaklumi karena cerita ini ada kemiripan dengan kisahnya di kehidupan nyata.

Tio Pakusadewo patut diacungi jempol, karena ia mampu 'menghidupkan' film yang mengambil lokasi syuting di daerah Jakarta, Anyer, Puncak, Cibodas, Cibubur dan Cibinong ini. KATA MAAF TERAKHIR ingin menyampaikan kepada penonton, hendaknya menjaga keutuhan keluarga, sebelum semuanya terlambat dan hanya sesal yang tertinggal. (kpl/prl/riz)


Lihat profil: Tio Pakusadewo, Maia Estianty, Rachel Amanda, Kinaryosih, Dwi Sasono, Ade Surya Akbar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 26-08-2009 |

'WAKIL RAKYAT', Sindiran Halus Bagi Wakil Rakyat

KapanLagi.com - Pemain: Tora Sudiro, Revalina S Temat, Vincent Club Eighties, Jaja Miharja, Gading Marten, Dwi Sasono, Wiwid Gunawan .

Menjelang pesta demokrasi atau Pemilu yang bakal digelar pada 9 April 2009 nanti, tema politik bisa menjadi salah satu inspirasi dalam sebuah film. Meski bertema politik, film yang disajikan tak harus serius. Seperti karya terbaru dari Starvision, WAKIL RAKYAT, yang kental dengan nuansa politik namun dikemas dengan komedi.

Cerita berawal dari Bagyo (Tora Sudiro) yang harus kehilangan pekerjaannya sebagai cleaning service. Bagyo tak sengaja melakukan kekacauan pada acara partai Sosial Kerakyatan (PSK) yang dipimpin oleh Zainuddin (Joe Project Pop).

Sial bagi Bagyo, karena pekerjaan itu pada mulanya sebagai bekal untuk melamar sang kekasih, Ani (Revalina S Temat). Apalagi ayah sang kekasih, Abdul (Jaja Miharja) tak menyukainya.

Di saat bersamaan, Bagyo mengetahui seorang artis, Atika (Wiwid Gunawan) sedang dirampok sekawanan penjahat. Bagyo pun berusaha membantunya. Aksi kejahatan itu gagal, dan Bagyo pun menjadi pahlawan.

Ketenaran mendadak yang didapatkan oleh Bagyo dirayu oleh Wibowo (Tarsan), ketua salah satu partai politik dan asistennya, dani (Dwi Sasono) untuk menggalang suara massa. Tergiur dengan bujukan Wibowo, ia memilih menerima ajakan Wibowo. Alhasil, Bagyo dengan ditemani mantan anak buahnya, Jereng (Vincent Club Eighties) pun berkampanye ke Wadasrejo, suatu daerah terpencil yang rakyatnya hidup serba kekurangan.

Ternyata pekerjaan yang dikiranya mudah, tak semudah bayangan Bagyo. Masyarakat Wadasrejo tak mengenal sosok Bagyo sama sekali. Bagyo harus memutar otak untuk menarik simpati warga. Pada akhirnya, Bagyo menemukan hal yang lebih penting daripada sebuah nama besar dan ketenaran.

Meski di awal film, cerita sedikit membosankan, namun ketika di tengah hingga akhir film, penonton akan diajak tertawa melihat kelakuan Bagyo. Ditambah dengan suguhan panorama dan nuansa Jawa yang anggun membuat film ini terlihat berbeda.

Lewat WAKIL RAKYAT, Monty Tiwa, sang sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa menarik simpati masyarakat tak cukup hanya dengan bagi-bagi sembako gratis, mengumbar janji-janji selama kampanye. Melalui karakter Bagyo, para caleg diajarkan bahwa untuk merebut suara rakyat harus menggunakan pendekatan hati, berempati terhadap penderitaan rakyat dan strategi yang tidak menyakiti rakyat. (kpl/riz)


Lihat profil: Tora Sudiro, Revalina S Temat, Vincent Club Eighties, Jaja Miharja, Gading Marten, Dwi Sasono
Diposting oleh: Editor | Selasa, 07-04-2009 |

«123»