KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Dalam event yang akan digelar pada 7 November 2009 mendatang di Annex Building Jl. MH. Thamrin No. 5, Jakarta Pusat, dijadwalkan juga jika musisi senior Ebiet G Ade akan berkolaborasi dengan Sore, tepat pada pukul 14.00. Sementara, sebagian hasil penjualan tiket akan didonasikan untuk korban gempa Padang.
Raymon Gascaro, Keyboardist Sore, mengaku sangat bangga memiliki kesempatan berduet dengan Ebiet. Untuk persiapan, mereka juga sudah berlatih bersama.
"Kemarin kita sudah sempat ngobrol, kayaknya asyik kita sangat senang. Bisa dibilang Om Ebiet ini kan senior yang sudah melegenda," ungkapnya, saat preskon Djakarta Artmosphere di Galeri Antara, Pasar Baru, Senin (26/10).
Sementara itu, Sore juga mengaku tidak akan menggubah banyak musik sang senior. Meskipun band indie, Sore berencana akan berusaha seharmonis mungkin dengan musik khas Ebiet.
"Pastinya kita nggak akan mengubah orisinalitas musik beliau. Ya kita lihat aja deh nanti pokoknya," tandasnya. (kpl/ant/bar)

Ditemui KapanLagi.com sang tirani generasi Ebiet G Ade itu mengaku kagum dengan ayahnya. Adaprabu menilai sosok sang ayah sangat sulit untuk digantikan. "Untuk menggantikan sosok ayah sangat sulit walaupun saya memiliki kemampuan untuk bernyanyi. Apalagi lirik yang diciptakan terbilang mudah tapi masih sulit untuk dinyanyikan. Meski begitu, sebagai anak musisi saya juga telah membentuk band," kata Adaprabu mengisyaratkan untuk akan terjun dan meramaikan belantika musik Indonesia.
Sebagai anak musisi Adaprabu sendiri juga telah diajarkan untuk bermain musik dari latihan dan didikan sang ayah. "Saya akui memang saya juga seorang musisi yang secara tidak langsung mengalir dari ayah.Dan saya lagi telah membentuk kelompok musik. Kita akan segera launching album," papar Adaprabu.
Menurut Adaprabu untuk lagu yang akan dibawakan dalam belantika musik tanah air masih bertemakan cinta dan pop. "Tetap kepada aliran pop tapi cenderung kepada cinta. Sekarang semuanya tinggal proses," kata Adaprabu.
Disinggung tentang peran sang ayah untuk hasil karya ciptanya ternyata Adaprabu masih tetap mengandalkan Ebiet G Ade. "Memang untuk lagu saya tetap tanya kepada ayah, ini cocok atau tidak. Dan untuk lagu telah ada 5 lagu yang telah berhasil dikerjakan," ungkap Adaprabu.
Tapi menurut Adaprabu untuk hits yang telah di-upload melalui website hanya hits Lebih Indah. "Kalau lagu ini jelas ke arah ABG tapi sudah bisa dilihat dan didengarkan. Dan tetap saja nantinya saya akan hadirkan band dengan nama saya sendiri," katanya. (kpl/rom/riz)

Ebiet menghentak panggung sekitar pukul 22.00 Wib. Kehadirannya langsung mendapatkan aplaus meriah. Sebuah rasa untuk mengobati kerinduan penggemarnya benar-benar terasa, di mana Ebiet mampu membawa penonton hanyut dengan syair nostalgianya.
Pria bernama asli Abid Ghoffar Aboe Dja'fa, kelahiran Banjarnegara, 21 April 1955, itu dalam aksi panggungnya menyempatkan diri menghadirkan hits untuk korban gempa di Tasikmalaya sebagai awal pembuka.
"Indonesia kembali berduka dengan adanya kejadian bencana di Tasikmalaya. Saya akan persembahkan lagu untuk saudara-saudara kita di sana," katanya seraya melantunkan hits andalan berjudul Masih Ada Waktu dengan iringan musik akustik.
Namun, tak ingin melarutkan suasana dalam kesedihan semata, Ebiet kembali menghentak dengan memainkan musik akustiknya dengan iringan gitar. Tembang Camelia I dilantunkannya menyusul beberapa lagu lainnya seperti Untuk Sebuah Nama, Cintaku Kandas di Rerumputan, Menjaring Matahari, Izinkan Aku Reguk Cinta, Nyanyian Suara Hati, Camelia II, Titip Rindu Buat Ayah, dan sebuah tembang religius Bismillah juga dibawakan.
Suami dari Yayuk Sugianto yang merupakan kakak penyanyi Iis Sugianto dan dikaruniai empat orang anak ini kembali menyapa penonton. "Saya senang dapat tampil di Medan lagi. Jujur, Medan ini kota kenangan dan kota tercinta bagi saya, terutama di event Ramadhan Fair. Dulu saya sering bernyanyi di tengah-tengah jembatan panggung ini," akunya.
Dalam penampilannya, Ebiet benar-benar mendapat aplaus meriah. Apalagi ia juga memberikan sebuah kejutan dengan menampilkan putra kesayangannya, Adaprabu Hantip Trengginas, sebagai generasi penerus.
"Saya perkenalkan putra saya nomor dua untuk tampil bernyanyi, sekaligus saya istirahat sejenak. Dia juga seorang penyanyi," kata Ebiet.
Keduanya akhirnya berduet di hits Cinta Yang Sirna. Tidak jauh berbeda, Adaprabu juga mendapatkan aplaus meriah. Seharusnya hits tersebut menjadi tembang penutup aksinya, namun ribuan penonton memintanya terus bernyanyi hingga Ebiet kembali membawakan tembang berikutnya, Mari Kita Renungkan. Penonton semakin terlena sampai Ebiet menutup penampilannya dengan membawakan hits Aku Pulang, dan pamit dari penonton. (kpl/rom/boo)

HUT Bhayangkara yang dihadiri sedikitnya seribu undangan, termasuk Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, berlangsung meriah karena kehadiran dua artis legendaris itu.
Ebiet yang terkenal sebagai penyanyi lagu-lagu balada, dengan suaranya yang merdu menyanyikan lagu yang bernuansa perjuangan diiringi petikan gitarnya dan orkestra asuhan Dwiki Dharmawan.
Sementara Dewi yang menggunakan gaun panjang, tampak anggun dan tembang melankolis yang dibawakannya. Meski Dewi dan Ebiet hanya menyanyikan sebuah lagu, namun para undangan merasa senang karena sangat jarang bisa melihat secara langsung kedua penyanyi itu.
"Saya senang bisa melihat penyanyi favorit saya. Ini merupakan pertama kali melihat langsung keduanya," kata salah seorang Polwan, Bripda Rizky Ananda, menanggapi penampilan kedua penyanyi kesayangannya itu.
Selain menghadirkan dua bintang penyanyi legendaris itu, jajaran Polri juga menampilkan atraksi operet tentang kisah seorang anggota Polri yang terpaksa meninggalkan keluarganya, karena tugas.
Dalam drama dan lagu yang berdurasi sekitar 15 menit tersebut, dikisahkan kesedihan dua anak yang ditinggal mati ayahnya yang berprofesi polisi, setelah cidera dalam penanganan suatu aksi demonstrasi yang anarkis.
Namun dengan penuh kelembutan, sang ibu menasehati kedua anaknya agar tabah dan menerima kenyataan itu. Sang ibu juga menjelaskan, jika itu adalah bagian dari pengabdian dalam menjalankan tugas sebagai seorang polisi. (kpl/bun)