< >

BLOG EMHA AINUN NADJIB


Film Perdana Noe Letto Didukung Oleh Kangen Band

Kapanlagi.com - Noe Letto ternyata memilih Kangen Band sebagai grup musik pendukung film yang kini tengah diproduserinya, MINGGU PAGI DI VICTORIA. Alasan dipilihnya Kangen, menurut Noe, selain menghindari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) jika dirinya memakai Letto, juga para TKW di Hong Kong banyak yang mengidolakan Kangen.

"Yang jelas kita semua sadar bahwa Kangen Band itu dipandang sebelah mata, padahal mereka itu orang-orang yang berjuang. TKW sangat connect dengan Kangen Band, karena TKW juga dipandang sebelah mata. Padahal TKW adalah salah satu pemasok devisa terbesar untuk negara," jelas Noe saat diwawancarai di SatayKing, Causeway Bay, Hong Kong, Minggu (15/11).

"Lihat tadi Kangen Band juga diuber-uber sama TKW. Bagaimanapun mereka banyak fans-nya juga di sini. Itulah perjuangannya yang perlu kita hargai," imbuh putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu.

Berbicara soal filmnya yang menyorot kehidupan para TKW di Hong Kong, Letto mengakui sisi idealisme yang terkandung di dalamnya. Namun ia merasa optimis bahwa nantinya film tersebut bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia maupun manca negara.

"Film ini juga sama dengan perjalanan Letto dari sisi idealisnya. Dulu lirik Letto dianggap berat lah, musiknya nggak easy listening-lah, tapi syukurlah sekarang Letto bisa diterima. Begitu pula dengan film ini yang terkesan berat, pasti akan diterima karena unsur edukasinya banyak dan sarat pesan moral," tegasnya.   (kpl/wwn/bun)


Lihat profil: Noe Letto, Letto, Kangen Band, Emha Ainun Nadjib
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Selasa, 17-11-2009 |

Cak Nun: Masyarakat Tidak Perlu Ikut Memaki

Kapanlagi.com - Budayawan Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun mengajak, masyarakat untuk tidak ikut melontarkan makian terkait kasus yang sedang berkembang dalam pemerintahan Indonesia, termasuk konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri.

"Kita tidak perlu menghabiskan energi hanya untuk memikirkan konflik yang sedang terjadi di Jakarta," ujarnya ketika menggelar konser musik Kiai Kanjeng, Road to Campus di Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (11/11).

Menurutnya, konflik yang terjadi merupakan bagian kecil dari satu sistem besar yang sudah lama berlangsung.

"Bocornya kasus yang terjadi saat ini sudah tak terbendung lagi, sehingga bisa diibaratkan seperti ibu dalam proses melahirkan sedang memasuki tahapan dua dari sekian tahapan untuk melahirkan seorang anak," ujarnya.

"Lebih baik siapkan dirimu menjadi manusia baru dan pemimpin baru. Tidak perlu ikut-ikutan memaki, karena Indonesia akan berubah menyusul keputusasaan yang terlalu lama, sehingga mendorong sejumlah pihak sepakat untuk mengubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik," ujarnya.

Cak Nun juga optimistis, bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang mampu disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya di dunia. "Bahkan, untuk memimpin dunia juga bukan hal yang mustahil bagi bangsa Indonesia," ujarnya.  (ant/dar)


Lihat profil: Emha Ainun Nadjib
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 12-11-2009 |

Emha Ainun Nadjib Kritisi Kasus KPK - Polri

Kapanlagi.com - Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan, rakyat harus melihat berbagai situasi dan peristiwa yang terjadi dalam pemerintahan di Indonesia, termasuk perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri dalam posisi yang tepat.

"Rakyat, termasuk saya, harus melihat situasi itu (KPK dan Polri, red.) dengan posisi dan jarak pandang yang tepat, jangan buru-buru menghakimi dan menyalahkan pihak tertentu sebelum proses hukum selesai," kata Emha yang akrab disapa Cak Nun itu di Semarang, Rabu (11/11).

Menurut dia, dalam kasus tersebut juga belum dapat diketahui siapa pihak yang benar dan siapa yang salah, sebab proses hukumnya saja masih berjalan.

Oleh karena itu, rakyat jangan mendahului proses hukum dan sudah menyimpulkan siapa pihak yang benar dan siapa yang salah.

"Rakyat jangan terjebak untuk membela KPK atau membela Polri, karena mereka adalah institusi buatan manusia yang tak luput dari kesalahan, namun rakyat harus membela kebenaran, karena kebenaran berasal dari Tuhan yang pasti akan segera terlihat," terangnya.

Namun, Cak Nun yakin, bahwa kasus perseteruan yang terjadi antara KPK dan Polri akan segera terkuak dan menemukan titik terang, yang akan menjelaskan siapa sebenarnya pihak yang berada dalam posisi benar atau salah.

"Saya berharap nantinya tidak ada 'dempul-dempul' lagi yang digunakan untuk menutupinya, agar kasus ini segera terselesaikan, dan rakyat harus berada dalam posisi tepat dengan menjadi pendorong terjadinya perubahan yang tengah berlangsung," tandas ayah Noe Letto itu.   (ant/bar)


Lihat profil: Emha Ainun Nadjib, Noe Letto
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 11-11-2009 |

Cak Nun: Fatwa Haram Mengemis Pandangan Keliru

Kapanlagi.com - Budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Jawa Timur yang mengharamkan peminta-minta atau pengemis adalah cara pandang yang keliru.

"Bagaimana seandainya orang tersebut benar-benar tidak mampu sehingga harus meminta-minta untuk mempertahankan hidupnya, apakah kemudian diharamkan," kata Emha yang akrab disapa Cak Nun tersebut di Semarang, Kamis (17/9).

Menurut dia, mengemis adalah sebuah tindakan yang dapat diartikan sebagai sarana atau alat, sehingga benar atau tidaknya penggunaan sarana tersebut tergantung kepada manusia yang mempergunakannya.

Ia menilai, tindakan mengemis memang banyak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang tergolong mampu secara ekonomi, namun tetap melakukan pekerjaan sebagai pengemis.

"Akan tetapi, apakah tindakan mengemis yang kemudian dianggap salah atau tindakan orang-orang yang melakukan penyalahgunaan tindakan mengemis itu yang harus disalahkan," katanya.

Karena itu, kata dia, cara pandang yang menganggap pengemis lah yang harus diharamkan adalah keliru, sebab pada dasarnya mengemis itu bebas nilai, karena hanya berupa sarana yang baru bermakna ketika dilakukan oleh manusia.

"Terlebih lagi, kalau mengemis dan meminta-minta diharamkan, apakah memberi shadaqah juga diharamkan, sebab memberikan shadaqah justru mulia dan dianjurkan dalam Islam," katanya.

Cak Nun mencontohkan, sebuah pisau yang digunakan oleh manusia untuk melakukan pembunuhan, apakah kemudian pisaunya yang diharamkan. "Pisau hanya sebuah sarana yang dapat bermakna positif atau negatif tergantung pemakainya," katanya.

Sebab, kata Cak Nun, ketika pisau digunakan memotong daging untuk keperluan memasak saat sahur atau berbuka, pisau itu dengan sendirinya akan bermakna positif dan bertolak belakang ketika digunakan untuk membunuh.

"Seperti halnya situs jejaring sosial (facebook), apakah lantas facebook diharamkan ketika digunakan pemakainya untuk melakukan perselingkuhan dan tindakan negatif lainnya," katanya.

Padahal, kata Cak Nun, saat digunakan untuk tindakan yang bertujuan untuk kebaikan, facebook juga dapat memberikan nilai positif. Misalnya untuk menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman yang lama tidak berjumpa.

Menurut dia, selama ini masyarakat Indonesia telah memiliki pola pikir keliru dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga memberikan penilaian dan keputusan yang tidak tepat, misalnya MUI dalam menyikapi pengemis dan facebook.

"Terlebih lagi, MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa juga tidak memiliki kekuatan hukum yang dapat menindak pelanggarnya, sehingga apa yang dikeluarkan dapat dianggap hanya sebagai sebuah wacana," tegas Cak Nun.   (kpl/dar)


Lihat profil: Emha Ainun Nadjib
Komentar : 4 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 18-09-2009 |

Cak Nun Himbau Masyarakat Belajar Jadi Tepung

Kapanlagi.com - Kiai Kanjeng, kelompok musik rebana yang selalu mengusung syiar agama dalam setiap pementasannya, mengajak masyarakat menjadi 'tepung' lewat alunan musik Islami saat tampil di halaman gedung DPRD Jawa Tengah, Kamis (17/9) dini hari.

Tepung adalah analogi yang dilontarkan Emha Ainun Nadjib, pentolan Kiai Kanjeng, saat memberikan ceramah di sela-sela pementasan bertajuk Rebana Concert Kiai Kanjeng, untuk menggambarkan keadaan manusia.

Menurut Emha, yang akrab disapa Cak Nun, sesungguhnya alam semesta termasuk manusia dan segala yang melingkupinya dapat dianalogikan dengan tepung yang memiliki partikel-partikel berukuran sangat halus.

Biasanya, kata dia, masyarakat suka menjemur nasi sisa yang sudah basi agar kering dan dapat dimanfaatkan lagi, dan setelah nasi tersebut kering kemudian ditumbuk sampai halus hingga berbentuk tepung.

"Kelak tepung yang berasal dari nasi sisa tersebut dapat dibuat menjadi butiran-butiran seukuran beras yang dapat dikonsumsi kembali," katanya.

Ia mengatakan, kaitan antara masyarakat dengan tepung adalah kondisi masyarakat yang selama ini sering terjebak pada pengkotak-kotakan hingga membentuk butir-butir yang tidak dapat disatukan.

"Butir-butir itu bisa berbentuk partai politik (parpol), organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, atau mahzab dalam Islam, misalnya syafi'iyah dan malikiyah," katanya.

Namun, menurut dia, butir-butir itu sering melupakan bahwa mereka berasal dari tepung yang sama, misalnya parpol berasal dari tepung yang bernama demokrasi, ormas berasal dari tepung kemaslahatan umat, sedangkan mahzab berasal dari tepung bernama Islam.

"Akibatnya, di antara butir-butir itu sering terlibat perbedaan pendapat yang berujung pada pertikaian dan permusuhan," ujarnya menambahkan.

Karena itu, menurut Cak Nun, apabila ingin keadaan bangsa menjadi lebih baik, masyarakat sebaiknya belajar dari analogi tersebut dan berusaha menjadi 'tepung' agar bersifat melebur dan tidak terkotak-kotak.

"Saat pemilu bolehlah kita berafiliasi menjadi butir-butir parpol, namun setelah semuanya selesai harus berusaha kembali menjadi 'tepung' yang lebih mudah melebur untuk mewujudkan kepentingan bangsa yang lebih besar," katanya.

Seperti halnya Kiai Kanjeng, kata Cak Nun, musik yang diusung Kiai Kanjeng merupakan 'tepung' yang berasal dari perpaduan berbagai 'butiran' (aliran musik, red), seperti jazz, pop, klasik, etnik dan sebagainya.

"Kiai Kanjeng mencampurkan berbagai aliran musik berbeda itu dengan tujuan mengajak manusia berusaha lebih dekat dengan sang pencipta, serta agar masyarakat sadar dan mau belajar dari analogi tepung demi kemaslahatan bersama," kata Cak Nun.

Pada kesempatan itu Kiai Kanjeng tampil sekitar 1,5 jam dengan membawakan beberapa lagu, di antaranya Zaman Wis Akhir dan Sidnan Nabi, setelah tiga kelompok rebana yakni dari Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Agung Kauman dan Masjid Agung Demak tampil bergiliran.    (kpl/bun)


Lihat profil: Emha Ainun Nadjib
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 17-09-2009 |

Letto Off Sementara

Kapanlagi.com - Vokalis Letto, Noe, menyatakan Letto untuk sementara waktu di-off-kan, setelah melakukan tur Safari Ramadhan di sembilan kota. Keputusan tersebut diambil karena masing-masing personel sibuk, baik urusan keluarga maupun lainnya.

Hal sama juga dialami Noe. Saat ini dia harus konsentrasi pada penggarapan film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK, di mana Noe bertindak sebagai produser. "Memang proyek ini butuh perhatian lebih agar setelah Lebaran dapat syuting," terangnya.

Saat dijumpai di Just Steak, Selasa malam (15/9), Noe menegaskan berbagai aktivitas yang dilakukan dirinya atau personil lainnya, sama sekali tidak mengganggu jadwal Letto. "Hanya untuk sementara ini agak di-off-kan."

Untuk debut proyek film tersebut, Noe membawa panji Pic(k)Lock Production. Letto sama sekali tidak terlibat. Tak satu lagu pun milik Letto masuk dalam film.

"Kita hanya lihat kebutuhan saja. Kita mencoba obyektif. Tidak ada kepentingan Letto di sini. Jadi tidak harus dipaksakan," pungkas putra Emha Ainun Najib ini.  (kpl/wwn/erl)


Lihat profil: Letto, Noe Letto, Emha Ainun Nadjib
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 16-09-2009 |

Cak Nun: Malaysia Salah Klaim Budaya!

Kapanlagi.com - 'Kebiasaan' Malaysia yang belakangan sering mengklaim budaya Indonesia, dinilai Emha Ainun Nadjib sebagai hal yang benar-benar salah. Budayawan senior ini menganggap apa yang dilakukan pemerintah Malaysia tersebut sebagai salah klaim.

"Dan ironisnya Pemerintah Indonesia hingga kini belum memiliki kebijakan untuk menyelesaikannya," kata Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Nadjib saat dikonfirmasi usai tampil di Alun-alun Gresik bersama grup musik Kiai Kanjeng, Rabu (9/9).

Cak Nun mencontohkan, orang asli Lamongan menjual soto di Hawaii, memang ketika diidentifikasi secara hukum sah apabila soto tersebut disebut Soto Hawaii, tetapi salah jika soto tersebut diklaim milik Hawaii. Sama kasusnya dengan klaim yang dilakukan Malaysia, katanya reog di Malaysia sah secara hukum apabila disebut Reog Malaysia.

"Tidak menjadi masalah ketika Reog Malaysia copyright atau hak ciptanya Malaysia. Salahnya, ketika reog tersebut diklaim milik Malaysia. Reognya itu tetap milik Ponorogo," kata Cak Nun.

Lebih lanjut dijelaskannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianggap Cak Nun tidak memiliki kemampuan menyelesaikan kasus ini. Terbukti, ketika Cak Nun bertandang ke kediaman SBY di Cikeas Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu, SBY belum memiliki kebijakan. "Sudah saya cek ke Cikeas, Presiden menjawab, pihaknya belum mempunyai policy (kebijakan), sebab ini masalah hukum internasional," kata Cak Nun menirukan SBY.

Cak Nun menilai kasus ini lebih dari sekadar hukum internasional, tapi masalah martabat bangsa Indonesia yang telah diinjak-injak. Disebutkan, beragam hubungan dengan luar negeri, mulai dari hubungan yuridis, hukum internasional, hubungan diplomatik, hubungan kebudayaan, dan lain-lain. "Seorang lelaki menyatakan cintanya kepada seorang wanita saja ada puluhan cara, kenapa negara kita menghadapi kasus ini tidak punya cara?" ujarnya.

Menurut Cak Nun, setiap masalah harus merefleksikan kecerdasan untuk menentukan formula solusinya. Sayangnya, Cak Nun enggan ketika dimintai contoh konkret cara tersebut. "Jika saya diberi wewenang untuk menyelesaikan kasus Malaysia, saya bakal ngomong kepada pemberi wewenang tersebut, bukan di forum ini," pungkasnya.    (kpl/boo)


Lihat profil: Emha Ainun Nadjib
Komentar : 16 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 09-09-2009 |

«12»

LIHAT ARSIP BERITA EMHA AINUN NADJIB TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA EMHA AINUN NADJIB TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA EMHA AINUN NADJIB TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA EMHA AINUN NADJIB TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA EMHA AINUN NADJIB TAHUN 2004