KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Di Ungu kita nggak pernah mengotak-kotakan jenis musik ya. Alhamdulillah kita punya Makki, punya Enda, punya Rowman, punya Onci yang selera musiknya beda-beda, tapi kita bermusik sama. Kalau menyamakan dengan grup musik lain, tentunya kita masing-masing memiliki perbedaan," ujar Pasha saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, Senin (23/11) malam.
Para personel Ungu lainnya pun menjelaskan jika jenis musik yang dimainkannya memang bergantung dengan kebutuhan. Kebetulan, untuk lagu ini merupakan soundtrack untuk film yang memang berlatar belakang Melayu, di daerah Belitong.
"Kalau gua pribadi dengerin lagu melayu sudah dari dulu karena kalau di kampung kan nggak ada rock. Kalau penyanyi sebenarnya harus bisa mengkondisikan bisa nyanyi semua aliran lagu," ujar Pasha.
Ungu sebelumnya tidak menyangka bisa menyanyikan soundtrack untuk film sekuel LASKAR PELANGI itu. Terbesit di pikiran Pasha, jika hasil yang diraih nanti tidak sesuai dengan harapan yang diminta oleh produser Riri Reza dan Mira Lesmana.
"Jujur waktu dengerin lagu ini gua sebagai vokalis bingung banget dan takut guanya jelek nyanyiin lagunya. Akhirnya gua serahin ke anak-anak dan kita adakan workshop. Setelah workshop kita mikir kira-kira lagunya bisa diterima ga ya." pungkas mantan istri Okie Agustina itu. (kpl/adt/dar)

Lagu ini akan dijadikan soundtrack untuk film SANG PEMIMPI garapan Miles Film yang merupakan sekuel dari film LASKAR PELANGI yang telah mendulang kesuksesan cukup fantastis. Berangkat dari hal tersebut Ungu tidak mau main-main. Malah untuk lagu Cinta Gila, Ungu sampai menciptakan dua versi.
Untuk pembuatan video klip Cinta Gila yang berlangsung Jumat (13/11) di Ivo Studio di daerah Ciracas, Jakarta Timur dikerjakan sutradara Abimael Gandi di dua tempat terpisah. Studio Sparc di Jalan Raya Bogor dipilih untuk mengambil syuting para model video klip Cinta Gila dari pagi hingga sore.
Sedang untuk para personel Ungu, Pasha, Makki, Oncy, Enda, dan Rowman pengambilan gambar dilakukan sekitar pukul 19.00 WIB dengan mengambil set studio rekaman yang nantinya akan digabungkan dengan potongan gambar adegan dari film SANG PEMIMPI. (kpl/bbm/erl)

"Yang membuat kita tetep eksis sebenarnya bukan hanya kami, Ungu dari segi proses kreatif, manajemen dari segi bisnis, dan Cliquers atas support dan dukungannya, dan juga semua masyarakat yang selama ini mendukung kami, terlepas dari karya-karya kita yang tetap stay," kata Pasha ditemui di lokasi konser, Kamis (15/10).
"Ya, itu tadi seperti yang telah dikatakan, bahwa eksistensi Ungu tidak hanya dari satu faktor saja, ada manajemen, Cliquers, dan Ungu sendiri dari segi proses kreatifnya. Jadi dinilai dari situ saja tidak dari yang lain, kalau musik kita sudah tidak didengar orang, masalah kita apa pun juga tidak ngaruh," sahut Makki menambah penjelasan Pasha.
Pasha sendiri mengakui jika ia sama sekali tidak punya pengalaman pribadi dalam hits andalan mereka, Dilema Cinta. Ia merasa selalu pasti dalam menjalani kehidupannya, baik urusan cinta atau pekerjaan. Untuk itulah, bersama para personel lainnya ia berusaha total tampil di konser kali ini.
"Namanya juga launching kami pastinya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Dalam konser ini tidak hanya gimana penonton melihat Ungu konser secara live tapi ada visualnya dan lain-lain tetapi ada sesuatu yang di-create untuk membuat single Dilema Cinta ini menjadi spesial. Tapi buat kami kalau bicara single hit, semua single hit kami spesial," terangnya.
Selain itu, Ungu juga memberikan persembahan unik dari sisi musik mereka. Terlihat dalam konser tersebut semua personel berganti posisi dalam satu lagu yang dibawakan. Pasha asyik menggebuk drum, Onci berubah vokalis, Makki dan Rowman di gitar, dan Enda sebagai pembetot bass. Disinggung tentang itu, band yang berdiri sejak 1996 ini mengaku tidak ada yang sulit.
"Kalau latihan pasti, tapi ini buat seru-seruan saja dan tidak terlalu sulit karena semua sudah hafal, dan kebetulan di konser ini kita ditawari untuk itu, kenapa tidak?" ujar Pasha.
"Kan selama ini gue duduk terus, ini kesempatan gue untuk jingkrak-jingkrak," imbuh Rowman yang diiringi senyuman dari semua personel. (kpl/wwn/boo)

Dengan membentuk band Truff dari tahun 2007 silam, mereka mempunyai warna yang khas dan siap menjadi pendatang baru yang mempunyai magnet untuk menarik para fans, terlebih dengan wajah komersil Donny sang vokalis yang bakal bikin para wanita susah tidur.
Lepas dari itu, lewat single pertama Masih Sayang dalam album DOUBLE SOUNDSATIONAL HITS di bawah label Trinity Optima Production mereka merampungkan pembuatan video klip yang disutradarai Abimael Gandi di The Loops Studio, kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Minggu (13/9), sekitar pukul 22.00 malam.
Proses pengambilan gambar yang dimulai sejak pukul 10.00 pagi bercerita tentang alur percintaan yang berakhir dengan perpisahan antara Donny (vokal) dan Arum (model klip). Namun tanpa mereka sadari masih tersimpan rasa sayang di antara mereka berdua dan berharap masih ada jalan untuk kembali merajut jalinan kasih di antara mereka berdua. (kpl/bbg/bun)

"Alhamdulillah. Meskipun sekarang banyak banget yang rilis album religi tapi tetap kita dapat tempat," ujar Enda. "Karena memang salah satu tujuan kita bukan dari seberapa besarnya laku, tapi seberapa besar impact album ini," sambungnya.
Pembuatan album religi, dikatakan Enda, merupakan suatu simbol pendewasaan sebuah band. Dengan semakin banyak musisi mengeluarkan album religi berarti semakin banyak orang memuji Yang Maha Kuasa. "Kalau gue bilang album religi itu bikin dewasa suatu band ya. Satu ibadah lah buat kita. Kalau soal rezeki dari album religi itu misteri yang di Atas," ujarnya.
Enda pun mengakui dibandingkan dengan album religi tahun lalu, kini Ungu merasa lebih dewasa lagi. Walaupun lebih condong mengambil warna rock, musisi kelahiran Kudus, 4 Maret 1978 tersebut beranggapan apa pun yang ditulis di lagu wajib dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
"Ya bukannya berdakwah, tapi masa kita memuji tapi akhirnya begini-begitu. Semua ada hikmahnya lah," ucapnya saat ditemui di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (1/9).
Sementara ditanya soal jadwal manggung di bulan Ramadhan, Enda mengungkapkan jika job Ungu sudah full. Setiap hari hingga dua hari sebelum Lebaran mereka sudah dijadwalkan untuk kerja. "Sampai seminggu setelah Lebaran kita tetap libur. Baru tanggal 30 September kita manggung lagi," katanya. (kpl/buj/boo)

"Biasanya kita foto-foto saja sih. Sudah banyak, sejak tahun 90-an saya sudah keliling Indonesia kayak Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, semua ada. Sementara paling di komputer saja dulu, belum dipajang. Sudah terlalu banyak," ungkap gitaris Ungu, Enda.
Dijumpai di acara peluncuran buku 99 TEMPAT LIBURAN AKHIR PEKAN DI PULAU JAWA DAN MADURA di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (1/9) kemarin, mengakui jika perjalanan tur mereka sudah banyak memberi inspirasi bagi diri sendiri juga untuk lagu-lagu yang diciptakan. Contohnya seperti lagu Indonesiaku ciptaan Enda yang dibuatnya saat melihat hijaunya alam selang perjalanan konser.
Pun begitu musisi yang pernah menimba ilmu di Universitas Sam Ratulangi Manado ini masih belum kepikiran untuk mendokumentasikan foto-foto Ungu ke dalam buku atau sejenisnya. Namun, ia membuka peluang jika kemungkinan itu masih ada.
"Belum sih, masih belum kepikiran. Tapi tidak menutup kemungkinan ada kayak begitu, makanya kita tetap menyimpan file yang lama," pungkasnya. (kpl/buj/boo)

"Ya inspirasinya sih lihat dari alam gue aja. Kebetulan gue orang daerah ya, jadi kangen sama daerah gue. Gue mengingat-ingat masa kecil gue bahwa ternyata Indonesia itu indah banget dengan berbagai pernik musiknya, hijaunya alam, birunya laut, harumnya tanah kita, itu nggak pernah tergantikan," jelas musisi asal Manado ini.
Dijumpai di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (1/9) kemarin, Enda mengungkapkan jika alam sudah banyak memberikan inspirasi untuk lagu Ungu. Termasuk lagu Indonesiaku yang dimasukkan ke album studio terbaru mereka, PENGUASA HATI.
"Ini gue bikin di jalan, di bis di daerah Jawa. Jadi melihat hijau jadi ingat masa kecil. Orang daerah kan kecilnya nggak di kota, (tapi) di hutan, metik kelapa, begitu. Jadi ya kangen lah," ungkapnya.
Pemilik nama asli Franco Medjaya Kusuma ini juga menuturkan kebanyakan proses penciptaan lagu Ungu justru muncul di jalanan. "Karena kalau sudah di studio untuk set waktu ciptakan lagu itu sudah nggak sempat banget. Jadi ya sembari berjalan saja setiap hari. Kadang-kadang juga mau mandi jadi satu lagu. Hampir 80% diciptain di jalan. Kalau buat di studio itu workshop saja paling beberapa lagu," katanya. (kpl/buj/boo)