KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Melihat bapak-bapak tentara ini, saya ingat waktu baru tamat SMA dulu. Orang tua saya ingin betul saya masuk Korps Wanita TNI-AD. Bahkan mereka telah mendaftarkan saya. Tetapi saya tidak mau, saya kabur dari rumah.. he..he," kata pelantun lagu Tirai lagu yang meledak pada dasawarsa `70-an, itu di Denpasar, beberapa waktu lalu.
Grace Simon, memang tidak selincah dulu karena usianya. Tetapi artis yang sering main film bersama Benyamin Suaeb itu sangat menguasai panggung gembira peringatan HUT ke-52 Kodam IX/Udayana di depan ratusan mata tentara yang menyimak.
Dia memilih kabur dari pendaftaran perempuan tentara itu bukan karena alasan lain, kecuali, "Saya ingin sekali menjadi penyanyi. Ingin sekali saya bisa terus menyanyi. Kalau saya jadi masuk Sekolah Kowad di Bandung waktu itu, mungkin saya bisa jadi jenderal betulan sekarang," kata pemilik rambut hitam legam ini, berseloroh.
Saat itu, katanya, memang betul-betul dia minggat dari rumahnya di Bandung hingga berhari-hari karena tidak mau jadi perempuan tentara. Ini mungkin fakta yang tidak diketahui banyak orang.
Pandjaitan, putera Pahlawan Revolusi Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Daud I Pandjaitan, sebagai penggelar panggung gembira yang datang bersama istrinya, Tuti Pandjaitan, ini tidak bisa menahan tawanya. Hadirin lain juga turut tertawa.
Memang benar, sepanjang sejarahnya TNI-AD baru memiliki satu perempuan jenderal, Brigadir Jenderal TNI Kartini, yang berkarir awal sebagai perwira karir Korps Wanita TNI-AD.
"Tidak jadi jenderal juga tidak apa-apa kok... Sebagai penyanyi saya juga bahagia karena bisa membuat orang lain bahagia," kata artis seangkatan penyanyi jazz-bosanova, Ermy Kullit itu. (kpl/dar)

Benny dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2), mengungkapkan dalam konser tersebut ia mengajak teman-temannya yang masih setia bermusik dengannya. Mereka adalah Mergie Segers, Ermy Kullit, Bertha, Syaharani, Rien Djamain, juga para musisi senior seperti Ireng Maulana, Kiboud Maulana, Abadi Soesman, Idang Rasyidi, Oele Pattiselano, Donny Soehendra, Matthew Sayers, Yonas Wang, dan Doni Joesran.
"Banyak sekali penyanyi dan musisi, serta orang-orang yang berkontribusi dalam karir saya selama ini. Dalam konser nanti saya ingin menceritakan tentang perjalanan karir saya dan bagaimana mereka setia mendukung saya dalam bermusik," katanya.
Selain tampil bersama musisi dan penyanyi satu angkatannya, Benny juga akan mengajak sejumlah musisi dan penyanyi jazz masa kini, seperti Glenn Fredly, Dewi Sandra, Barry Likumahuwa, dan Dennis Junio Gani.
Barry Likumahuwa yang tak lain adalah putra kandung Benny, mengungkapkan sebagai seorang anak ia sangat kagum terhadap semangat bermusik sang ayah dan talenta yang dimilikinya.
"Saya tahu banget bagaimana perjuangannya sejak awal, betapa hasil yang sekarang diraih tidak mudah didapat," ujar Barry.
Benny adalah musisi serba bisa berdarah Ambon yang lahir di Kediri, 18 Juni 1946. Ia memiliki talenta di bidang musik yang luar biasa tanpa mengenyam pendidikan khusus di bidang musik.
Benny saat ini memainkan trombone, saksofon, flute, dan bas. Namanya telah dikenal luas hingga ke mancanegara dan telah manggung di berbagai festival jazz di dunia seperti North Sea Jazz Festival, Asean Jazz Festival, Java Jazz, Jak Jazz, Bali International Jazz Festival, dan bekerja sebagai musisi freelance hingga sekarang.
Pada usia tujuh tahun Benny kecil sudah mahir memainkan ukulele, gitar, dan alat musik lainnya yang pernah dilihat. Ia lantas membentuk grup band bersama temannya pada saat usianya baru 11 tahun.
"Pada waktu itu saya diberi kesempatan manggung di RRI Ambon, luar biasa bangga saya pada waktu itu karena siarannya didengar di seluruh Indonesia. Saya bangga meskipun dibayar dengan segelas susu dan dua butir telur," kata pria berkaca mata ini.
Benny kemudian hijrah ke Bandung dan bergabung bersama The Crescendo Band, The Rollies, dan bergabung dengan Jack Lesmana dalam grup Jack Lesmana Combo.
Dalam perjalanan karirnya tersebut Benny mengaku mengalami banyak hal pahit dan manis yang menempanya menjadi musisi hingga sekarang. Ia pernah dilarang main musik karena dianggap junior, ditegur karena permainan yang buruk, bahkan manggung bersama grup sebanyak 35 orang di Taman Ismail Marzuki hanya dengan tiga orang penonton.
"Sekarang saya tinggal tersenyum melihat perkembangan musik Indonesia. Sekarang musik jazz berjaya di negeri ini. Oleh sebab itu manusia tidak boleh putus asa, karena saya yakin betul Tuhan akan selalu menolong, memberi jalan untuk umat-Nya yang mau berusaha dan tak berhenti berdoa," pungkas Barry. (kpl/bun)