KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Kedatangan mereka selain untuk menonton konser juga untuk menyambung silahturahmi karena sudah diizinkan menggunakan lagu Pesawat Tempur sebagai lagu bersama geng Serigala Terakhir.
"Nggak nyangka bisa nonton langsung konser Bang Iwan. Senang sekali, karena teman-teman juga suka lagu-lagu Bang Iwan," kata Fathir Muchtar. Datang bersama Vino G. Bastian, Reza Pahlevi, Dallas Pratama, dan Ali Syakieb, mereka nonton hingga konser berakhir.
Vino menampik isu yang menyebut kedatangannya bertujuan untuk mempromosikan film SERIGALA TERAKHIR. "Nggak ada niat promosi, kami datang untuk mendukung Bang Iwan. Tema konser ini juga sangat bagus, mengajak kita peduli untuk menanam pohon," kilahnya
Hadir bersama dengan film 2012 yang membuat banyak publik penasaran, Vino optimis film SERIGALA TERAKHIR yang dibintanginya akan tetap ditonton masyarakat.
"Meskipun film 2012 meledak dan membuat orang-orang penasaran, kami optimis film kami akan diterima masyarakat. Buktinya ketika kami main ke bioskop, film SERIGALA TERAKHIR tetap diputar dan ramai," kata Vino.
Berteman dalam satu produksi film rupanya membuat mereka semakin akrab. Film yang bertema kesetiaan dan persahatan tersebut mengurai banyak pertempuran dan intrik. Apakah tidak takut karakternya terbawa dalam kehidupan pribadi?
"Karakternya sih nggak sampai masuk kehidupan pribadi. Kita nggak sampai bertengkar dan bergaul segarang geng Serigala Terakhir. Tapi kekompakan persahabatan yang kita pertahankan," imbuhnya. (kpl/uji/bun)

"Istilah itu, lucu. Sebenarnya istilah yang pantas adalah Buaya Air Asin lawan Buaya Air Tawar," kata Fathir saat ditemui di FX Senayan, Selasa (3/11) malam lalu.
Fathir pun menyayangkan, alat-alat negara saat ini menjadi acak-acakan dan berharap, masing-masing saling menghormati serta menjunjung tinggi komitmen terhadap bangsa.
Fathir juga menilai mencuatnya kasus Cicak dan Buaya bagus, sebab, menunjukkan ada warna dalam kehidupan. Dirinya berharap, melalui peristiwa ini ada keadilan yang dapat diraih, dan terbongkarnya tabir kejahatan.
"Biasanya, memang buaya yang menang karena berdasarkan hukum rimba yang kuat yang menang. Tapi, saat ini cicak masih di atas," imbuh Fathir. (kpl/adt/dar)

"Ale, bukan gue banget. Soalnya gue memang bukan pemimpin. Tapi kalau bandel karena berantemnya baru bener," kata Fathir saat ditemui di FX, Senayan, Jakarta, Selasa (3/11) lalu.
Menurutnya, Ale merupakan pemimpin gang yang protektif terhadap lingkungan sekitar serta keluarga. Tak heran, dalam setiap menyelesaikan masalah selalu menggunakan cara kekerasan bersama kawan-kawannya. "Kalau itu, bukan gue juga. Gue, single fighter," tandasnya.
Bagi Fathir, menyelesaikan masalah tidak hanya melalui cara kekerasan. Masalah dapat diselesaikan dengan berbagai banyak macam cara. Meski dirinya tidak menampik cara kekerasan akan ditempuhnya pula jika sangat terdesak. "Tapi, itu merupakan jalan terakhir," tegasnya.
Fathir sendiri memperoleh peran Ale melalui serangkaian casting. Casting, dijalani jika merasa cocok dengan tawaran yang diberikan, terutama harus cocok dengan jalan ceritanya. (kpl/adt/dar)

"Dan itu menang lho meski wajah babak belur. Tapi memang gue berasal dari keluarga yang keras. Jadi semua itu berpengaruh sampai sekarang," kata Fathir saat ditemui di FX, Senayan, Jakarta, Selasa (3/11) lalu.
Dalam film terbarunya SERIGALA TERAKHIR, Fathir memang banyak sekali melakukan adegan perkelahian. Dirinya pun tidak perlu banyak-banyak dan jauh-jauh mencari bahan referensi dalam film terbarunya ini.
"Saya tinggal melihat diri sendiri saja. Nggak perlu jauh-jauh cari anak-anak berandalan yang suka berantem apalagi ngambil dari buku," ujar suami Fera Feriska ini.
Fathir pun tidak peduli soal hasil film ini akan seperti apa. Baginya yang dilakukan sudah membantu mengembangkan perfilman nasional.
"Jangan kritik filmnya saja, tapi gue mau dilihat bahwa kita bisa membantu mengembangkan film Indonesia. Siapa tahu film ini bisa berjaya di dunia internasional," ujar Fathir. (kpl/adt/dar)

"Buku, selain sebagai sarana promosi, juga ingin berbagi pengetahuan kepada masyarakat tentang seluk beluk pembuatan film," kata produsernya, Adiyanto Sumarjono, saat peluncuran buku di toko buku Gramedia Ambarukmo Plaza Yogyakarta, Kamis (15/10).
Ia mengatakan buku tersebut didominasi foto-foto 'behind the scenes', bukan dalam bentuk novel. Menurut dia buku tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Gagas Media dan lazimnya buku-buku lainnya, sebanyak 10-15 ribu lembar buku telah dicetak pada cetakan pertama.
"Jika peminatnya banyak, buku tersebut akan dicetak lagi untuk memenuhi permintaan," katanya.
Menyangkut film SERIGALA TERAKHIR yang disutradarai Upi Avianto, ia menyatakan berkisah tentang kesetiaan dalam persahabatan yang tengah diuji oleh beragam konflik. Proses syuting film yang menghabiskan dana Rp10 miliar tersebut dilakukan dalam waktu 41 hari atau meleset dari perkiraan semula yang ditargetkan 25 hari.
"Kami memperkirakan hanya akan menghabiskan dana Rp5-6 miliar, tetapi dengan waktu syuting yang lebih lama, maka anggarannya bertambah," kata Adiyanto.
Film tersebut diperankan enam artis muda, yaitu Vino G Bastian yang berperan sebagai Jarot, Fathir Muchtar (Ale), Reza Pahlevi (Fatir), Dallas Pratama (Jago), Dion Wiyoko (Lukman), dan Ali Syakieb (Sadat).
"Saya pikir film ini adalah tentang kesetiaan. Tetapi setiap orang yang melihat film ini pasti akan mendapatkan kesan yang berbeda-beda," katanya.
Selain itu, kata dia, pesan yang ingin disampaikan dalam film tersebut adalah tentang perasaan cinta yang universal, yaitu cinta antara sahabat, orang tua, keluarga dan kekasih.
Ditanya adegan kekerasan yang cukup menonjol dalam film tersebut, Fathir berharap film tersebut ditonton oleh remaja atau orang dewasa sehingga bisa memilah mana yang baik dan buruk karena dikhawatirkan apabila ditonton oleh anak kecil, dampaknya akan kurang baik. (kpl/bun)

"Gue sih pengennya balik lagi ke zaman dinosaurus, kayaknya senang banget ya bisa melihat mereka di zamannya," terangnya saat ditemui di sela acara HUT Global TV di Istora Senayan, Kamis (8/10).
Daniel bersama Sandra Dewi, Fathir dan Fitri Tropica tampil sebagai presenter dalam konser Ultah Global TV bertema Menuju Langit Ketujuh. Mantan pacar VJ Marissa itu mengenakan aksesoris yang dalam kisahnya mampu mengantarkan mereka ke masa lalu dan masa depan.
"Ini ceritanya saya pakai jam tangan mesin penembus waktu, untuk bisa menjelajahi waktu. Nggak berat sih, gue malah senang dan nyantai aja," tegasnya menunjukkan benda hitam yang dipasang di pergelangannya. (kpl/ant/dar)

"Jadi awalnya memang saat syuting di sebuah televisi, gue mengalami cedera pada jari tangan. Akhirnya gue nggak bisa memakai cincin kawin," kata Fathir saat syukuran film SERIGALA TERAKHIR di kawasan SCBD, Jakarta, baru-baru.
Dalam kondisi demikian, Fathir pun mengaku sangat tidak nyaman bepergian dengan tidak menggunakan cincin kawinnya. "Khawatir saja, nanti takutnya malah dibilang belum menikah dan nggak punya istri," ujarnya.
Pilihan Fathir untuk bermain film action sehingga menimbulkan cedera ternyata tak membuat istrinya was-was. Malahan, sang istri mendukung penuh.
"Istri nggak khawatir karena setiap kali gue main film action, dia nggak pernah khawatir gue cedera. Karena buat gue ini adalah hobi," pungkasnya. (kpl/mai/boo)