KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Menurut Adrie sendiri, acara ini sebenarnya rutinitas dari kelompok pengajian yang dibentuknya, Kopaja (Kelompok Pengajian Java). Dan kebetulan di bulan Ramadhan ini mereka berkumpul untuk melaksanakan buka puasa bersama.
"Iya, ini biasa dilakukan. Ini kan acara rutin Kopaja, Kelompok Pengajian Java. Setiap minggu kan kita mengadakan pertemuan, mumpung bulan Ramadhan, sekalian diadakan acara buka bersama dan tarawih," ungkap Adrie Subono.
Acara buka bersama kali ini menurut Adrie sedikit beda, pasalnya, tahun lalu dia masih berbuka bareng almarhum Gito Rolies. Sedang tahun ini sudah tidak lagi.
"Yang beda itu, saya rasa ada kekurangan, tahun lalu ada Mas Gito di sini. Ketika saya lihat istri dan anaknya datang, ada sesuatu yang hilang. Mas Gito itu sudah ikut pengajian ini tiga tahun yang lalu, dia sering mengajarkan agama kepada saya," kata Adrie.
Di acara ini, Adrie tak pilih-pilih mengundang orang, dia malahan mengundang semua nama yang ada di nomor HP-nya.
"Semua orang boleh datang ke sini. Itu semua nomor yang ada di HP saya undang. Di sini ada pengajian, ya bersama-sama belajar tentang agama. Sudah jadi agenda tetap," terang bos Java Musikindo ini. (kpl/ang/erl)

"Karena banyak belajar dari dia, aku sudah berhenti merokok dan minum alkohol. Sekarang aku berprinsip 'simple life with simple problem'," kata Giring, saat ditemui di pengajian 40 hari Gito Rollies di Rempoa, Tangerang, Banten, Senin (7/4) malam.
Sayangnya, Giring belum pernah bertemu dengan idolanya itu. Padahal, Gito juga mengidolakan Giring dan sebelum meninggal sudah berusaha bertemu dengan vokalis berambut kribo itu.
"Aku tahu bahwa almarhum ingin sekali bertemu aku. Aku tahu dari beberapa orang. Tapi, saat itu memang belum sempat. Istri Om Gito, Michelle, juga menelepon. Rasanya menyesal sekali,” kata Giring. (kpl/fia/bun)

"Allah telah mengabulkan permintaannya untuk meninggal dunia dalam keadaan berdakwah. Kedua, ingin meninggal dalam keadaan sadar, makanya dia menolak untuk diberi suntikan morfin walau dalam keadaan sangat kesakitan dan pada detik-detik terakhir itu Gito sempat menyebut nama Allah. Ketiga, Gito ingin meninggal di hari Jumat (Kamis malam Jumat berdasar perhitungan Islam telah masuk hari Jumat)," ungkap Michelle di Bintaro, (2/3).
Dalam pandangan Michelle, suaminya meninggal dalam keadaan tersenyum. Pribadi Gito yang selalu merisaukan atas orang lain, satu hal yang dikagumi Michel.
"Setiap ada tamu dia selalu menyambut antusias dengan duduk. Dia selalu ingin berdakwah dan pergi ke masjid. Dia juga selalu merisaukan ketaatan anak - anaknya. Semoga saya bisa menggantikannya," ujarnya.
Seperti diketahui, Gito mengidap penyakit kanker getah bening selama tiga setengah tahun terakhir ini. Tetapi meninggalnya Gito, seperti diutarakan Michelle bukan karena penyakit tersebut, namun disebabkan infeksi berat pada usus sampai terjadi pendarahan hebat pada anus dan dehidrasi.
"Pesan terakhir dia pada anak-anaknya untuk selalu menegakkan sholat lima waktu berjamaah," kata Michelle. Pada kesempatan tersebut, Michelle juga menampik kabar akan pindah ke Australia.
"Tidak, mungkin saya akan di sini saja," terang Michelle yang sehari-hari bekerja di Yayasan Perkembangan Anak di kawasan Blok M. (kpl/ant/tri)

Sebelum melangsungkan akad Nur Liayana, mahasiswi La Salle University Singapore jurusan fashion management mengaku telah mengenal Puja selama dua setengah tahun lalu. Keduanya dipertemukan di universitas yang sama di mana Puja mengambil mata kuliah jurusan painting.
"Pertama kali aku bertemu Puja sejak kuliah, aku dan dia pacaran selama dua setengah tahun dan tidak sangka akan menjadi istrinya. Dia pria yang baik. Kalau dia siap menikah saya juga siap menikah," ungkap Nur (2/3). Sejak pertama kali pacaran Nur mengaku sudah tahu siapa dan bagaimana orang tua dan keluarga Puja.
"Kalau perasaan happy dan sedikit nervous pada awalnya. Dan untuk perbedaan budaya saya kira kita bisa saling belajar," tuturnya. Setelah pernikahan ini untuk sementara keduanya akan tinggal di Singapura. (kpl/ant/tri)

Bertempat di kediaman almarhum Gito Rollies, Bintaro, Minggu (2/3), Puja akan mempersunting Nur Liyana Binti Johan warga negara Singapura. Bertindak sebagai penghulu adalah Ustadz Abdillah.
Menurut Michelle, memang sejak lama sudah ada rencana mengurus ini. Dan atas persetujuan kedua belah pihak, akad nikah menjadi dipercepat.
"Semoga mereka menjadi suami - istri yang baik," harapnya. Dan harapan ini tentunya sama dengan harapan Gito, seperti roman mukanya yang tersenyum saat dia mangkat.
Sementara bagi Johan bin Abbas beserta istri, Hamim Binti Majid, pernikahan ini telah disetujui oleh kedua belah pihak. "Yang penting keduabelah pihak setuju. Puja setuju dan anak saya setuju. Itu yang terpenting," tandas Johan dalam logat Melayu. (kpl/ang/tri)

"Keberhasilan yang pernah dicapai Gito Rollies itu perlu ditiru dan dapat dijadikan contoh berharga bagi pemusik muda," kata antropolog Dr. Badaruddin di Medan, Sabtu (1/3).
Gito Rollies meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, Kamis (28/2) pukul 18.45 WIB. Pria yang memiliki nama lengkap Bangun Sugito ini lahir di Biak, Papua, 1 November 1947. Sejak 2005, ia mulai mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening. Mantan pentolan grup band The Rollies itu juga sempat merilis album lagu-lagu rohani pada Ramadhan 2007.
Badaruddin yang juga staf pengajar pada Ilmu Antropologi FISIP USU menambahkan, sosok Gito Rollies adalah seniman yang dikenal sangat gigih, tidak kenal menyerah untuk mempromosikan dunia musik Indonesia di mata negara-negara dunia.
"Melalui pertunjukan akbar yang pernah dilakukan ke beberapa negara di Asia dan Eropa beliau tetap memperkenalkan Indonesia yang kaya dengan khasanah musik dan budaya," ujar Badaruddin.
Bahkan Gito semasa jayanya dikenal menguasai lagu-lagu barat, persis seperti yang dibawakan oleh penyanyi aslinya. "Penyanyi Gito Rollies juga sangat dikagumi di luar negeri seperti di Malaysia dan Singapura," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, selepas menekuni musik, Gito menyibukkan diri dengan dakwah dan rajin memberikan pengajian atau ceramah agama bagi para pemusik.
Kelompok pengajian artis Jakarta juga sering mengundang Gito untuk memberikan pengajian dan siraman rohani. "Para pecinta musik di tanah air merasa kehilangan setelah wafatnya Gito Rollies. Semoga artis muda lainnya dapat mengikuti jejak pemusik kondang tersebut," pungkasnya. (*/boo)

Ketika band Rollies belum tenar, semua personil Rollies sering sekali numpang tidur di rumah penyanyi legenda hidup ini. Bagi Titiek, Gito dianggap seperti anaknya sendiri.
"Panggil saya saja mama. Dia seperti anak saya sendiri. Dulu waktu the Rollies masih seupil-upil, kalau abis manggung dan nggak bisa pulang ke Bandung, mereka pada brek (tidur) ke rumah saya," kenang Titiek saat menghantarkan jenazah Gito ke Tanah Kusir, Jakarta, Jumat (29/2).
Bagi Titiek, Gito adalah sosok yang menyenangkan. Jika di atas panggung, rocker ini tergolong orang yang gesit. Tak heran jika Titiek sering mengajak ayah tiga anak itu main operet.
"Dia anak yang nggak macam-macam, polos," ucapnya.
Belum lama ini, Titiek mengaku bertemu dengan Gito di tempat orang meninggal. Gito yang telah dua tahun mengidap kanker getah bening ini tak pernah mengeluh dan selalu berusaha menjenguk teman yang sakit atau meninggal.
"Apalagi di masa akhir hidupnya, dia di jalan agama. Semoga Tuhan cepat memeluknya dalam damai," katanya. (kpl/fia/tri)