KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kami mendapatkan mitra, yang sanggup mengangkat dalam layar lebar," kata sutradara film Hasduk Berpola, Dwi Ilalang, didampingi pengarangnya, Bagas Dwi Bawono, Minggu (1/11).
Hanya saja, lanjut Dwi, sponsor tersebut, tidak bersedia menanggung biaya produksi pembuatan film HASDUK BERPOLA. "Bagi kami sangat menguntungkan, sebab rencana pembuatan film ini semakin berkembang," katanya menjelaskan.
Dengan begitu, menurut Dwi dan Bagas, dengan berkembangnya pembuatan film HASDUK BERPOLA, yang semula hanya untuk TV, menjadi layar lebar, semakin memberi peluang dan memantapkan dalam pembuatan film tersebut.
Alasannya, dengan diangkat dalam film layar lebar, berarti peluang film ini, bisa ikut di dalam ajang lomba film Internasional, seperti di Perancis atau Singapura, semakin terbuka.
Sementara ini, FTV Produksi Squareapple Production, selama dua hari di Bojonegoro, menggelar audisi untuk mencari 10 pemain dari siswa SDN, yang berperan sebagai teman Budi, yang menjadi tokoh utama. Menurut Dwi Ilalang, audisi diikuti, sekitar 200 peserta dan rencananya setelah audisi rampung, penilaian dilakukan tim di Jakarta.
Di antara teman-teman, Budi yaitu, Agus, Narma dan Choyin. Sedangkan untuk tokoh Budi, rencana audisi dilakukan di Surabaya. Pertimbangannya, menurut Bagas, pemeran tokoh Budi, akan diambilkan dari Surabaya, karena memang dalam ceriteranya, Budi, kelahiran asli Surabaya.
"Menyusul setelah ini, dilaksanakan audisi untuk memilih tokoh pejuang yang menjadi teman Masnun, tokoh sentral dalam ceritera ini," katanya.
Para pejuang itu, dalam film ini yang akan mendampingi tokoh Masnun, yang diperankan El Manik. Masnun, yang semula bertempat tinggal di Surabaya, yang hanya memiliki satu anak bernama Rahayu, akhirnya pindah ke Bojonegoro.
Sedangkan Rahayu, yang diperankan penyanyi, Iga Mawarni, memiliki dua anak yakni Budi dan Bening. Dwi menjelaskan, pengumuman 10 tokoh pemeran teman Budi dan sejumlah tokoh pejuang kemerdekaan yang menjadi teman Masnun, dilakukan setelah penilaian di Jakarta rampung.
"Selain kami langsung memanggil yang terpilih, pengumuman juga dilakukan melalui media yang ada di Bojonegoro," katanya menerangkan.
Film HASDUK BERPOLA, berawal dari cerpen yang dibuat di facebook oleh Bagas Dwi Bawono, asal Bojonegoro yang menetap di Jakarta. Di dalam cerpen itu, Masnun, sebagai pejuang kemerdekaan yang merasa penakut, dari Surabaya pindah ke Bojonegoro. Mereka hidup bersama dengan Rahayu, yang menjanda dengan dua anaknya, Budi dan Bening.
Dalam film itu, berakhir dengan nekadnya, Budi yang mengibarkan bendera merah putih di atas hotel Majapahit, yang dulu bernama Hotel Yamato, sebagai rasa cintanya kepada kakeknya, Masnun, yang ketika itu, ikut bersama-sama pejuang ketika terjadi perobekan bendara Belanda di hotel itu.
"Saya terketuk menggarap film ini, karena ketika shoting di Thailand, sempat ditegur warga setempat diminta ikut menghormat, ketika terdengar lagu kebangsaan Thailand," kata Dwi Ilalang.
Karena itu, lanjutnya, ketika Budi sudah berhasil mengibarkan bendara merah putih di atas Hotel Majapahit, film ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan secara bersama oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk Bupati Bojonegoro. (ant/bun)

Berawal saling memperhatikan pada urusan masing-masing, kelima wanita ini akhirnya jadi sering berkumpul bareng. "Kita kumpul bukan komersial, tapi itu adalah akibatnya. Kita kumpul karena concern dengan urusan masing-masing persoalan. Ada yang anak, kesehatan, kanker payudara dan sebagainya," terang Nina Tamam yang ditemui di hotel Shangri-La, Kamis (01/10).
Dan acara kumpul-kumpul ini akhirnya memiliki tujuan. "Tadinya mendengungkan kampanye sendiri bisa, tapi jika dikumpulkan kian menggema. Tapi karena belum ada wadah kita jalan sendiri. Sedangkan kalau untuk membantu korban bencana kita selalu bersama," tambah mantan personel Warna ini. (kpl/dis/erl)

"Ada tiga lagu yang khusus saya buat. Rencananya lagu ini akan dibikin album bersama Nina Tamam, Rika Roeslan dan Iga Mawarni. Hasilnya akan disumbangkan untuk program pemberdayaan perempuan," kata penyanyi bernama asli Ovie Ariesta itu dalam acara peringatan Hari Kartini di Jakarta, Selasa (21/4).
Dalam acara yang juga dihadiri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono dan sejumlah tokoh pergerakan perempuan itu, Oppie juga menyanyikan ketiga lagu barunya itu, yang masing-masing berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, Seperti Kartini, dan Wanita Indonesia.
Lirik ketiga lagu bikinan perempuan berdarah Padang yang namanya melejit lewat tembang Cuma Khayalan itu semuanya berisi ajakan kepada kaum perempuan agar tetap bermimpi dan terus berusaha mewujudkan mimpi mereka.
"Jangan pernah menyerah, jangan pernah lelah, hiduplah terus bersama mimpimu, seperti Kartini," demikian sebagian lirik lagu Habis Gelap Terbitlah Terang yang dinyanyikan Oppie sambil memetik gitar. (kpl/dar)