
Pementasan bertajuk 'Rictus' akan dihelat di gedung kesenian Salihara Jakarta itu Ine akan bermonolog selama 40 menit di atas panggung yang memiliki suhu 42 derajat celcius.

"Bulan depan pentas di gedung Salihara bersama aktor Perancis. Saya akan monolog selama 40 menit dengan suhu di panggung 42 derajat," ungkap Ine saat ditemui di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (10/5) malam.
Ine yang sebelumnya didapuk menjadi dua karakter di Padusi itu, sempat diundang langsung ke Perancis untuk menyaksikkan penampilan kelompok teater tersebut.
"Ada satu kelompok teater dari Perancis, saya sempat diundang ke perancis untuk menonton penampilan mereka langsung," tukasnya. (kpl/aha/dar)

"Saya cinta proses teater, ada proses baru yang didapat dan nggak bisa saya ceritakan. Dari teater, saya banyak menyutradarai film," ungkap Ine usai melakoni teater Padusi di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (10/5) malam.

Tidak hanya itu, kecintaan terhadap teater pun diterapkan Ine dalam menentukan tawaran peran sebuah film. Dia mengaku lebih memilih film yang memiliki ruang akting layaknya sebuah teater.
"Saya sempat memutuskan kalau sebagai aktris harus di atas panggung. Beberapa kali saya ditawarin film, paling memilih film yang ruangnya seperti teater," jelasnya.

Ine sendiri menyadari bahwa di Indonesia, teater masih sulit diterima. Menurutnya, tidak semua negara bisa menghargai keberadaan seni teater. "Ketika suatu negara appriciated teater, pasti negara itu negara maju, kayak di Jepang. Kalau di Indonesia sangat susah sekali," pungkasnya. (kpl/aha/rea/dar)

Teater Padusi sendiri mengangkat 3 cerita legenda Minang yang digabung menjadi satu, tentang sosok perempuan urban Jakarta yang ingin merasakan kebebasan untuk hidup dan memahami akar budayanya.
"Agak sulit adalah saat masuk ke dalam adegan. Karena pergerakannya harus cepat sekali," ungkap Ine usai pagelaran di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (10/5) malam.

Bersyukur, dalam pementasan tersebut Ine dikelilingi pemain berlatar belakang orang Minang. Dengan begitu, dalam persiapannya selama 3 bulan, perempuan kelahiran 18 Februari 1976 ini sering mendapat masukan tentang adat istiadat dan tata bahasa Minang.
"Total sekitar 3 bulan. Saya dan pemain-pemain sebulan. Di pementasan ini banyak yang orang Minang. Banyak sekali yang ngasih masukan ke saya," tukasnya. (kpl/aha/uji/phi)

Pasalnya, saat ini perempuan masih saja menjadi obyek yang dianggap lemah. Hal itu dipaparkan Ine saat ditemui di gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (10/5) malam.

"Ini sangat relevan dengan kehidupan perempuan, Padusi modern. Selama Bumi berputar masih punya benang merah yang sama. Seperti masalah dibohongi, dianggap bodoh, dan perempuan sering diremehkan," ungkap Ine.
Terlebih, cerita dari pagelaran teater yang dihelat itu dikemas secara menghibur oleh penulis handal Nia Dinata. Diharapkan, cerita tersebut dapat menarik masyarakat agar tak melupakan tradisi budaya.
"Ini satu kemasan entertaiment. Mungkin Nia Dinata mengemas menjadi modern agar menarik, biar masyarakat kembali lagi ke budaya," kata Ine. (kpl/aha/rea/adb)

Drama karya Tom Ibnur yang menjadikan tiga cerita menjadi satu ini, Ine bermain sebagai Puti Bungsu, Siti Jamilah, dan Sabai nan Aluih yang memiliki karakter berbeda-beda.

"Ditawarkannya untuk main tiga peran sekaligus. Awalnya sih kaget bermain tiga peran. Aku belum pernah terlibat dalam pementasan dengan sistem latihan sekarang ini. Ini sesuatu yang berbeda buat aku," ungkap Ine saat ditemui usai preskon di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (1/5).
Persiapan telah dilakukan Ine sebelum pertunjukkan yang akan digelar di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada 11-12 Mei 2013 pukul 14.00 WIB dan 19.30 WIB. Ia bersama pemain lain termasuk Jajang C Noer latihan selama dua minggu.
Sebagai pemain teater dan film, Ine mengaku tidak menemui kesulitan selama sesi latihan. "Bukannya nyepelein tapi saya sudah terbiasa dengan sistem latihan yang berat ini. Ini sebetulnya sedikit ringan," tutur Ine.

Beruntung bagi Ine, dirinya tak diharuskan untuk menirukan logat Minang yang memang menjadi satu kebudayaan yang diangkat dalam pertunjukkan ini.
"Untungnya aku gak dituntut menirukan logat Padang. Karena takutnya membingungkan penonton. Semua elemen kan sudah mengarah pada kebudayaan Minang," tandasnya. (kpl/pur/dis/dar)

"Kebetulan ini saya menjadi Sabai nan Aluih, Siti Jamilan dan Puti Bungsu ini sangat berbeda. Yang pertama jadi bidadari, yang kedua jadi seorang ibu, dan yang ketiga jadi wanita tomboy," ujar Ine Febriyanti usai preskon di Dapua Rampah Restaurant, Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (1/5).

Pertunjukkan Legendra Padusi merupakan kerja sama antara Daya Lima bersama Yayasan Bunda yang didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya. Sutradara pertunjukan ditangani oleh Rama Soeprapto dan Nia Dinata sebagai penulis naskah. Kisahnya sendiri merupakan karya dari Tom Ibnur, seorang maestro tari dan guru tari di ISI Padang Panjang.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian merasa bangga bisa bekerja sama menampilkan pertunjukkan yang mengangkat budaya Minang.
"Sudah banyak seni pertunjukkan yang telah kami dukung, namun sebagian besar mengangkat budaya di Pulau Jawa. Kali ini melalui pertunjukkan Padusi, sebuah legenda dari ranah Minang. Sebuah kisah yang mengandung ajaran luhur yang dapat menjadi inspirasi hidup masyarakat luas. Karya ini membuktikan bahwa spirit tradisi tetap aktual dan dapat diangkat secara kekinian," tutur Renitasari.

Pertunjukkan yang juga menampilkan Jajang C Noer ini akan digelar 11-12 Mei 2013 di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM) pukul 14.00 WIB dan pukul 19.30 WIB. Harga tiket untuk pertunjukkan ini dimulai dengan harga Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta. (kpl/pur/uji/dar)
