

"Aku tidak membatasi ruang gerak anakku, Annisa Cikal Rambu Basae, yang kini telah beranjak dewasa. Biar dia yang menentukan sendiri apa yang terbaik untuknya," katanya usai menggelar konser di rumahnya, Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Bogor, Sabtu (8/12).
Iwan mengakui, saat ini pergaulan anak muda maupun kalangan artis memang tidak jauh dari narkoba. "Dimana-mana ada, jadi sulit sekali untuk memproteksi anak untuk menjauhinya. Lebih baik beri kepercayaan saja pada dia," tambahnya.
Iwan memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan Rosanna, yang akrab dipanggil Mbak Yos.
Dari pernikahan mereka, lahirlah Galang Rambu Anarki (alm), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani. Anak pertamanya, Galang meninggal dalam usia muda dan dikabarkan meninggal karena over dosis.
Pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 ini mengungkapkan, sejak Cikal beranjak dewasa ia telah memberikan pemahaman tentang bahaya narkoba.
Dengan pengetahuan yang benar, ia berharap anaknya kelak tak terjerumus mengkonsumsi narkoba seperti yang sempat dilakukannya selama beberapa waktu.
Iwan sendiri mengakui, sebagai seorang musisi ia pernah mengkonsumsi ganja sekitar delapan tahun lamanya, namun kini ia telah berhenti total.
Alasan sebagian besar artis atau musisi mengkonsumsi narkoba agar selalu bisa tampil prima dan menumbuhkan percaya diri, namun alih-alih menjadi lebih baik, mengkonsumsi narkoba membuat seseorang menjadi kecanduan dan merusak tubuh.
"Saya berhenti karena bentuk tanggungjawab saya sebagai orang tua untuk memberikan pendidikan dan contoh yang baik bagi anak-anak," demikian ujar pemilik nama lengkap Virgiawan Listanto ini. (*/bun)

"Ini bentuk keikutsertaan saya secara pribadi dalam kampanye perubahan iklim. Semoga penanaman pohon ini kelak turut menyumbangkan oksigen, setidaknya bagi masyarakat di sekitar sini," katanya beberapa saat sebelum naik panggung.
Iwan yang sore itu tampil santai dengan kaos warna biru laut dipadu kain sarung polos warna biru tua duduk di kursi sambil menggendong gitarnya. Ia tampil bersama iringan band dan ditonton sekitar 400 penggemarnya yang disebut kelompok OI (Orang Indonesia).
Konser di ruang terbuka ini dimulai pukul 15.30 WIB dengan lagu pembuka berjudul sama dengan judul konsernya INI BUKAN MIMPI. Ratusan penonton yang terdiri atas orang dewasa hingga anak-anak ini langsung menyerbu depan panggung dan ikut bernyanyi.
"Ini adalah lagu yang terinspirasi kejadian tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu," katanya usai menyanyikan lagu.
Dalam konser ini Iwan membawakan 14 lagu yang sebagian besar bertema tentang alam, penghijauan, dan beberapa lagu bertema sosial, ekonomi, hingga politik.
Lagu-lagu yang dibawakan diantaranya MANUSIA SETENGAH DEWA, KESAKSIAN, NYANYIAN HATI, SUMBANG, POHON UNTUK KEHIDUPAN, lagu ciptaannya SIRAM TAMAN dan lagu yang syairnya ditulis oleh Menteri Kehutanan MS Ka'ban, berjudul HUTANKU.
"Pulang bawa pohon satu per satu ya, tanamlah jangan sampai mati, karena pohon juga sumber kehidupan dan masa depan kita," ujarnya pada penonton.
Dalam wawancara sebelum konser, Iwan mengungkapkan pentingnya mengajak generasi muda untuk mulai peduli pada lingkungan. Salah satu cara untuk berkampanye mengajak generasi penerus bangsa ini adalah melalui pesan yang disisipkan dalam lagu dan konsernya.
Untuk mengajak penggemarnya ikut menanam pohon, Iwan Fals Management yang bekerja sama dengan Departemen Kehutanan memberikan satu pohon kepada setiap penonton untuk ditanam di sekitar rumah mereka.
"Persoalan bumi adalah persoalan kita bersama, jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Semoga pulang dari sini bisa memberi inspirasi bagi kalian semua untuk berbuat lebih baik bagi bumi kita," ujarnya sebelum mengakhiri konser. (*/bun)

Dalam launching debut album bertajuk Monocolor di hard rock café Jakarta, (15/8), Orchid menunjukkan komposisi unik. Rina berbekal timbre vocal 'serak' dan low dipadukan timbre vocal Putri yang lebih 'mulus' dan agak high menjagokan lagu BUNGA-BUNGA CINTA sebagai hit single. Keterlibatan Maman Piul sebagai arranger yang pernah menangani Iwan Fals dan string section grup Padi di album yang diproduksi ARC, terbilang menjanjikan untuk bertarung di pasaran.
Demikian pula dengan keterlibatan Jacob Kembar – musisi kawakan di era 80 –an. "Sebenarnya saya tidak begitu terlibat dalam pembentukan Orchid. Jadi kalau ada yang menyangka ada arah untuk membawa duo ini seperti Jacob Kembar itu tidak. Di sini saya hanya membantu menjaga harmonisasi duo ini, karena duo dengan harmonisasi yang kuat, saya yakini bisa menonjol daripada hanya musik penyanyi solo. Tetapi untuk ke depan saya akan lebih banyak terlibat," beber Yacob.
Orchid sendiri mengaku dalam album pertama ini, mereka mencoba untuk mencari jati diri dengan menjaring respon dari audience. Untuk kali ini Orchid lebih banyak menawarkan musik bernuansakan irama riang. "Kita bersyukur dan seneng dengan peluncuran album ini, pastinya kita akan selalu terbuka dan menerima kritik yang datang," ujar Rina.
Terbuka terhadap kritik akan membuat mereka lebih matang. Layaknya sebuah Orchid, sebagai bunga yang bisa mekar sepanjang musim, Rina dan Putri bisa berkiprah sepanjang masa seperti anggrek. (kpl/wwn)

Iwan Fals yang membuka pergelaran dengan menyanyikan salah satu lagu hitnya, DESA, mampu memukau ribuan masyarakat Pacitan yang mengikuti rangkaian acara Kampanye Indonesia Menanam yang dihadiri Menteri Kehutanan MS Kaban.
Dalam acara yang dihadiri pula Gubernur Jatim Imam Utomo serta pejabat dari berbagai Kabupaten di Jateng, Jatim dan DI Yogyakarta itu menyanyikan sejumlah lagu-lagu yang padat kritik sosial seperti DESA, NYANYIAN JIWA, HIO, IBU, dan lain sebagainya.
Tepuk tangan dan lambaian tangan pun menyertai dendangan lagu ketika pelantun OEMAR BAKRIE itu melantunkan bait-bait yang berisi kritik sosial.
Iwan yang tampil mengenakan t-shirt putih, celana jean dan berikat kepala coklat itu disela-sela melantunkan lagu menyisipkan ajakan-ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Masyarakat Pacitan dan sekitarnya yang memadati lapangan terbuka sekitar Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman seoperti terbius dengan lantunan syair-syair lagunya yang cukup akrab di telinga masyarakat.
Mereka tak beranjak dari tempat duduk hingga acara usai kendati cuaca mendung namun panas cukup menyengat. Fans berat Iwan Fals yang membawa bendera bertuliskan 'OI' dari Sukoharjo, Gresik dan daerah lain di Jatim bahkan terlihat semangat mengibar-ngibarkan bendera yang dibawa.
Konser musik Iwan Fals dan aksi penanaman pohon itu digelar dalam upaya Kampanye Indonesia Menanam dan Puncak Aksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Propinsi Jatim.
Dalam kesempatan itu Menteri Kehutanan MS Kaban menyerahkan secara simbolis bantuan masing-masing 25 ribu bibit tanaman kepada sembilan pimpinan daerah yakni Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan dan Karanganyar.
Kampanye Indonesia Menanam telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 April 2007 di Kemayoran, Jakarta.
Selain konser Iwan Fals, pada malam harinya masyarakat Pacitan dihibur dengan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Anom Suroto. (*/boo)

"Saya harus berangkat lima hari sebelum acara itu karena harus workshop kesenian dulu dengan para seniman dan penari-penari yang akan tampil," kata Iwan, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (1/5).
Menurut Iwan, ada beberapa komposisi lagu yang harus disesuaikan dengan musik gamelan yang akan dibawakan para seniman campursari di Pacitan.
"Kolaborasi ini perlu penyelarasan dulu agar dapat tampil maksimal," katanya.
Iwan mengatakan, konser itu akan sangat spesial karena ada sejumlah lagu yang diciptakan khusus bertema lingkungan, antara lain 'Pohon Kehidupan', 'Tanam', dan lagu berjudul 'Hutanku' yang syairnya ditulis khusus oleh Menteri Kehutanan MS Ka'ban.
"Syair lagu Pak Ka'ban itu merupakan hasil perenungan dan keprihatinannya akan kondisi hutan kita saat ini. Beliau yang menulis syairnya, saya yang mengaransemen lagunya," kata pemilik nama asli Virgiawan Listanto itu.
Ia mengungkapkan, bersama seniman Pacitan, dia akan membawakan enam lagu. Sedangkan penampilan solonya akan membawakan 10 lagu.
"Saya akan tampil selama dua jam, kesediaan saya ini karena Dephut memiliki program yang sama dengan apa yang saya suarakan tentang lingkungan, yakni menanam pohon," katanya.
Iwan akan tampil dalam 'Gerakan Menanam Pohon' di Pacitan, yang diselenggarakan Departemen Kehutanan dan direncanakan dihadiri pula oleh Presiden Yudhoyono. Iwan Fals mengaku sudah 25 tahun melakukan kampanye pentingnya menanam pohon untuk menghijaukan hutan.
"Sejak tahun 1982 saya sudah ngomong pentingnya menanam, karena kita butuh oksigen. Pohon sudah banyak ditebangi dan hutan kita semakin sedikit," kata pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 ini.
"Kalau pohon terus ditebangi dan hutan kita habis, ini ibarat menggali lubang kubur kita sendiri," kata Iwan tentang betapa pentingnya memelihara hutan.
Pencipta dan penembang lagu abadi OMAR BAKRIE ini mengaku khawatir dengan aktivitas penebangan hutan yang terus-menerus terjadi. Bagi dia, solusi paling efektif adalah melakukan gerakan menanam pohon.
Sebagai seniman, Iwan mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan dengan lagu-lagunya, sejumlah lagunya bahkan secara khusus bercerita tentang kondisi alam Indonesia saat ini. (*/bun)

"Acaranya sehari penuh, pagi ada penanaman pohon, siangnya saya tampil dan malam hari akan ada pertunjukan wayang kulit di alun-alun Pacitan," kata Iwan kepada Antara di Jakarta, Senin (30/5).
Musisi bernama asli Virgiawan Listanto tampil di Pacitan dalam acara 'Gerakan Menanam Pohon' yang diselenggarakan oleh Departemen Kehutanan dan direncanakan dihadiri pula oleh Presiden Yudhoyono. Iwan dijadwalkan akan menanam pohon bersama warga Pacitan dan menggelar pertunjukan di kabupaten tempat kelahiran SBY - panggilan akrab Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Saya diajak Departemen Kehutanan mengajak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan, dengan menanam pohon," katanya.
Pada acara itu, musisi yang baru saja meluncurkan album 50:50, akan membawakan 16 lagu, dan salah satu lagu diantaranya berjudul HUTANKU yang syairnya diciptakan oleh Menteri Kehutanan MS Kaban.
"Yang paling spesial adalah lagu berjudul HUTANKU yang syairnya ditulis Pak Kaban dan musiknya saya ciptakan," kata pria yang pernah menjadi 'Asian Heroes' versi majalah TIMES itu.
Iwan Fals mengaku sudah 25 tahun melakukan kampanye pentingnya menanam pohon kembali untuk menghijaukan hutan.
"Sejak tahun 1982 saya sudah ngomong pentingnya menanam, karena kita butuh oksigen. Pohon sudah banyak ditebangi dan hutan kita semakin sedikit," kata pria kelahiran Jakarta 3 September 1961 ini.
"Kalau pohon terus ditebangi dan hutan kita habis, ini ibarat menggali lubang kubur kita sendiri," kata Iwan tentang betapa pentingnya memelihara hutan.
Pencipta dan penembang lagu abadi OEMAR BAKRIE ini mengaku khawatir dengan aktivitas penebangan hutan yang terus-menerus terjadi. Bagi dia, solusi paling efektif adalah melakukan gerakan menanam pohon.
Sebagai seniman, Iwan mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan dengan lagu-lagunya, sejumlah lagu bahkan secara khusus bercerita tentang kondisi alam Indonesia saat ini. (*/boo)

Konser bertajuk 'Hikayat Rindu Tiga Maestro' itu dihadiri ribuan penonton yang sebagian besar laki-laki dari beberapa daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sastrawan dan penyair asal Aceh, Fikar W Eda dan Fauzan Santa, membuka konser para maestro itu dengan syair karya mereka.
Semangat dan gairah para penonton semakin tersulut ketika seusai shalat ashar, sang musisi Sawung Jabo mendendangkan beberapa lagu terkenal ciptaannya, seperti BADUT dan BENTO.
Tak lama setelah itu penyair W.S Rendra membacakan syair puisinya yang diiringi musik semakin menghangatkan arena konser. Suasana semakin panas saat suara Iwan Fals terdengar dan tak lama kemudian ia muncul dengan dandanan santainya berupa kaos oblong biru dan topi pet hitam ditambah kacamata.
Lagu BELUM ADA JUDUL dibawakannya tanpa diiringi musik pengiring hanya gitar akustik dan harmonika yang dimainkannya telah cukup menyedot perhatian penonton yang ikut bernyanyi dengan sang musisi.
Tembang-tembang lain yang terkenal seperti UMAR BAKRI, PESAWAT TEMPUR, MABUK CINTA, WAKIL RAKYAT dan IBU membuat ribuan penonton semakin larut dalam untaian bait lagu Iwan yang sarat makna kritikan sosial itu.
Sementara beberapa unit mobil pemadam kebakaran berulangkali mendinginkan penonton yang bersemangat. Begitu bersemangatnya para penonton hingga sebagian dari mereka masuk ke dalam barikade yang seharusnya hanya boleh ditempati wartawan yang mengabadikan konser musik tersebut.
Lagu Bungong Jeumpa dan Laksamana Malahayati turut didendangkan Iwan bersama hampir sekitar sepuluh lagunya dan Aceh Lon Sayang mengakhiri konser yang turut ditonton Wakil Gubernur NAD, Muhammad Nazar.
'Hikayat Rindu Tiga Maestro' merupakan konser Iwan Fals yang pertama di Aceh, setelah ia untuk yang terkahir kalinya melakukan konser di bumi Serambi Mekkah itu pada tahun 1986.
Iwan Fals yang nama aslinya Virgiawan Listanto, lahir di Jakarta pada tanggal 3 September 1961, adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia. Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia. (*/bun)

