

Menurut bintang iklan yang juga pembaca berita B Channel ini pekerjaan yang sekarang dijalankan menyenangkan baginya. Tetapi bila mendapat tawaran bidang lain, dia tidak menampik. "Saya senang di dunia ini tapi tak tertutup kemungkinan untuk melebarkan sayap ke layar lebar dan tarik suara," katanya.
Kala ditemui di Apartemen Residence Sahid Jakarta, Jumat (4/5), lelaki yang belajar otodidak presenter news selepas kuliah ini, mengatakan bahwa tawaran sebenarnya sudah ada. Namun karena belum sesuai, dia tak menerima tawaran tersebut. "Sudah ada tapi belum match. Juga karena masih fokus presenter dan MC. Saya masih nyaman," ucap Tommy yang rajin berkegiatan sosial dan kesehatan ini.
Yang pasti, sambungnya, kesempatan yang sesuai hati harus diambil. Sehingga akan memperoleh pengalaman berbeda sebelumnya. "Intinya mumpung masih muda lakukan apa yang bisa dilakukan. Jangan tunggu hari esok," imbuh pemuda yang mengidolakan Tio Pakusadewo, Tora Sudiro dan Lola Amaria tersebut. (kpl/dis/dew)

Seperti di dalam film SANUBARI JAKARTA yang merupakan kompilasi 10 film pendek. Di sini Lola berperan menjadi produser, sekaligus sutradara salah satu film berjudul LUMBA-LUMBA.
Terbiasa bekerja sendiri, untuk film kompilasi ini tentu beda dengan banyaknya orang terlibat. Lola pun mengakuinya, "Kesulitan saya adalah mengatur 10 kepala yang berbeda. Saya harus pelan-pelan kasih tahu, ini maksudnya begini, begini. Biar sama, biar ada kesatuan," ucapnya ketika dijumpai di konferensi pers SANUBARI JAKARTA di Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (09/04).
Selama ini, karya-karya yang dihasilkan Lola memang selalu berbeda. Karena itu kemudian masyarakat menilainya berjalan di jalur indie. Lucunya, Lola malah tidak tahu bedanya film mainstream dengan indie.
"Saya juga nggak tahu bedanya film mainstream sama indie. Mungkin kalau indie itu semangatnya, jadi saya lebih seneng kalau kerja sesuai dengan hati, terus mengajak orang-orang satu visi," kata Lola yang tidak pernah khawatir soal kontroversi karyanya.
"Saya sih nggak pernah ada pikiran macem-macem. Nggak mikir akan sebesar ini, masuk bioskop. Balik lagi, bahwa kita hanya membuat film sesuai dengan realita Jakarta," tukas wanita berkulit eksotis tersebut.
Film kompilasi ini pun jadi unik karena ditulis oleh seorang mahasiswa, bukan artis, "Saya baca blog dia, baca novel sebelumnya. Tulisannya bagus. Ketemuan, saya tawari, dia mau. Kita juga mau kumpulin cerpen dari film ini, 18 April nanti launching," tutup Lola. (kpl/ato/rea)

Lola Amaria pun punya pandangan sendiri soal berkembangnya film indie ini. "Kalo saya sih semangatnya karena belajar dan workshop. Dan temen-temen juga punya hasrat di film," ungkapnya saat dijumpai dalam preskon film SANUBARI JAKARTA.
SANUBARI JAKARTA sendiri merupakan kompilasi dari 10 film pendek. Film-film tersebut kebanyakan dibuat oleh para mahasiswa yang punya passion terhadap film, dan cerdas mengangkat tema. Produksi secara independen dipilih karena banyak alasan.
Selain semangat belajar dan workshop yang terbina, biaya yang dikeluarkan juga relatif lebih murah. "Lebih murah biaya produksinya, bisa sama-sama. Dan kita gak ada intervensi sama pihak manapun," pungkas Lola di PPHUI, Kuningan, Senin (9/4) kemarin.
Kebersamaan juga terjalin dalam penggarapan film SANUBARI JAKARTA yang melibatkan 10 nama sebagai sutradara ini. Itu termasuk salah satu dari kepuasan tersendiri bagi tim mereka. (kpl/ato/dew)

"Rasanya juga rasa bibir. Dan yang lo rasain cinta juga, nafsu juga. Sama aja sama cowok," tukas Dinda soal ciuman sesama jenis tersebut.
Ternyata presenter ini pernah juga disukai dan dikejar-kejar sesama jenisnya, tetapi Dinda memilih tak ambil pusing, "Buat gue nggak masalah. Sama aja kayak lo dikejar cowok. Gitu kira-kira," katanya pendek.
Tetapi dalam prosesnya kemudian, adegan ciuman tersebut disensor. Dinda pun menanggapinya dengan santai, "Nggak apa-apa, yang penting pada nonton," tutupnya. (kpl/ato/rea)

Meski begitu, film Lola sudah dipastikan akan melanglang buana ke berbagai negara. "Sebenarnya saya mau bikin, gak niat dibawa ke mana-mana. Tapi kita bikinnya serius banget, walaupun film indie," ungkapnya saat dijumpai di PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (9/4).
Karena kecintaannya pada dunia film, maka apa yang dilakukannya untuk film selalu total. Entah itu saat dia menjadi aktrisnya, sutradara, maupun produser, Lola selalu serius mengerjakannya dengan hati.
Keseriusan tim Lola kemudian membuahkan hasil yang bagus, maka banyak orang tertarik. "Terus orang-orang pada suka, jadi gak menutup kemungkinan akan dibawa. Tapi gak tau, yang pasti ke Korea, San Francisco, Belanda," paparnya. (kpl/ato/dew)

"Kalau LUMBA-LUMBA, itu filmnya Mbak Lola Amaria. Ini tantangan sih. Sebelumnya belum pernah main seksual tapi orientasinya jadi lesbian," kata Dinda yang dibayar makan 3 kali sehari untuk perannya menjadi pecinta sesama jenis kali ini.
"Seru," ujarnya soal peran lesbian, "Gue menunjukkan kecintaan gue terhadap sesama jenis. Masalah pro dan kontra pasti ada. Jadi ya biarin aja. Kalau setuju oke, kalau nggak ya udah, urusan lo."
"Gue ciuman beneran. Dikasih kepercayaan sama mentor, jadi kenapa nggak total. Katanya sih disensor, tapi nggak apa-apa, yang penting pada nonton," kata Dinda santai.
Uniknya, Dinda sama sekali tidak merasa risih atau mempedulikan pendapat orang nantinya tentang dia, "Terserah yang nonton pikirannya apa. Gue cuma bilang gue buat film ini biar mereka tahu kalau sebenarnya ada yang seperti ini. Dan kita nggak boleh tutup mata," tegasnya. (kpl/ato/rea)

Dijumpai dalam acara preskon film SANUBARI JAKARTA (kompilasi 10 film pendek), di PPHUI, Kuningan, Jaksel (9/4), Lola berbagi cerita soal film produksinya ini. Ia dan kawan-kawannya membuat film ini bukan untuk menghakimi atau membela sesuatu.
Film ini, menurut Lola, adalah sebuah edukasi. "Lebih kepada manusianya. Bahwa kita juga manusia biasa yang punya hak, kemudian dihargai dan diterima," ujarnya. "Mungkin lebih kepada siapa sih yang mau dilahirkan berbeda. Kita sebagai manusia memperlakukan mereka jangan dibeda-bedain," imbuhnya.
Membuat film dengan tema yang masih kurang bisa diterima di masyarakat pada umumnya, Lola tidak takut akan kritikan yang bakal datang nantinya. "Sebenarnya sih bukan masalah tabu, tapi ini ada di Indonesia, terutama Jakarta. Ini lokal content tapi international issue. Artinya, di belahan dunia manapun mereka itu ada," jelas Lola.
"Jadi saya hanya mengangkat realitas di sini. Di Taman Lawang tiap malam rame. Dunia fashion, tanpa mereka juga enggak jalan. Jadi saya hanya mengangkat yang ada," ungkapnya. "Kita hanya membuat film kok dengan realitas yang sesuai aslinya," imbuhnya memungkasi. (kpl/ato/dew)

