Blog NOORCA M MASSARDI


Kemenangan 'EKSKUL' Dianulir, Shanker Pasrah

Rabu, 27 Juni 2007 18:07 | 

Noorca M Massardi


Kapanlagi.com - Produser Indika Entertainment, Shanker RS Bsc, memprotes pembatalan Film EKSKUL sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 2006 yang dilakukan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N).

"Itu terserah, itu gila, aku tidak peduli, itu urusan BP2N. Berarti BP2N selama ini tertidur dengan menunjuk juri yang dipilih tanpa memberikan aturan-aturan yang jelas. Ini juga BP2N sekarang memproteksi BP2N yang dulu," ujar Shanker, saat dihubungi lewat telepon, Rabu (27/6).

"Mending aku buat film yang bisa ditonton orang banyak, daripada dapat piala tetapi dipermasalahkan," lanjutnya.

Meski sempat menyampaikan kalimat protes terhadap langkah BP2N, namun Shanker mengaku menyerahkan keputusan itu pada pihak BP2N.

"Saya tidak ikut-ikutan, terserah kalau BP2N atau juri mau membatalkan," katanya.

BP2N membatalkan kemenangan gelar film EKSKUL sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2006, dengan alasan adanya pelanggaran hak cipta dalam film tersebut. Ketua BP2N, Deddy Mizwar, membenarkan adanya pembatalan terhadap kemenangan film produksi Indika Entertainment tersebut.

Di sisi lain, tentu ini menjadi hasil klimaks perjuangan Riri Riza cs, yang begitu getol meminta EKSKUL dicopot, karena dinilai kurang original.

"Walau terkesan lamban, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dewan juri, sebab ini menjadi arah maju bagi pekerja film Indonesia," ujar Riri puas, beberapa waktu lalu.

Pembatalan terhadap kemenangan EKSKUL tertuang dalam SK Nomor 06/KEP/BP2N/2007 tentang Pembatalan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006. Surat tersebut ditandatangani Ketua BP2N Deddy Mizwar dan ditetapkan pada 15 Juni 2007.

Film EKSKUL produksi PT Indika Cipta Media menjadi pemenang utama dengan meraih empat piala dalam ajang penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia 2006 di Jakarta. Film yang disutradarai Nayato Fio Nuala ini mendapat penghargaan untuk kategori 'Editor Terbaik' (Aziz Natandra), 'Penata Suara Terbaik' (Badiel Revaldo), 'Sutradara Terbaik' dan 'Film Terbaik'.

Tim juri FFI 2006 pada saat itu adalah Rima Melati, W.S Rendra, Chaerul Umam, Remy Silado, Embi C Noer, Noorca M Massardi, dan Eddy D Iskandar. (*/wwn)


Lihat profil: Shanker, Rima Melati, W.S Rendra, Remy Silado, Noorca M Massardi, Riri Riza
Diposting oleh: Editor |


'EKSKUL' Tak Jiplak 'Flowers In The Strum'

Jum'at, 05 Januari 2007 16:29 | 

Noorca M Massardi


Kapanlagi.com - Polemik terhadap originalitas film EKSKUL yang dituduh menjiplak illustrasi musik film Jepang, Flowers In The Strum, oleh beberapa sineas muda, mulai mendapatkan pembelaan. EKSKUL dianggap sama sekali tidak menjiplak illustrasi musik Flowers In The Strum, menurut salah satu anggota dewan juri FFI 2006, Remmy Sylado.

Menurut Remmy saat dijumpai di Gedung Film, Jakarta, Kamis (4/1), sebuah illustrasi musik dapat dianggap menjiplak kalau mencapai 8 bar secara sama persis.

"Tapi EKSKUL tidak," tegas Remmy. Secara pribadi saya tidak peduli akan sebuah produksi digarap semacam apa. Bagi saya selama hal tersebut tidak menganggu plot cerita, tidak akan menjadi masalah," imbuhnya.

Sebelum ditetapkan sebagai film terbaik FFI tahun 2006, EKSKUL telah menyisihkan 100 judul film. Dan dari sejumlah seratus judul film, EKSKUL dianggap sebagai satu film yang penuh dengan rasa, penuh ekspresi dan visi yang jelas. Dalam film yang diproduksi Indika Entertainment, terdapat 'sinema jet-coaster', dan itu tidak ada dalam film lainnya.

"Kita pilih film yang terbaik buakan pada musik. Dan kita tekankan pada efek daripada illustrasi musiknya," tegas Embi C Noer, salah satu anggota dewan juri.

Dalam penjurian FFI 2006 ini, dewan juri memang tidak mengedepankan keoriginalitasan sebuah karya secara spesifik. Karena hal itu memang tidak ada dalam pedoman penjurian FFI. Tapi bukan berarti dewan juri menutup mata terhadap hal tersebut. Kalau juri mengetahui atau mendapatkan pemberitahuan sejak dini.

"Kan, tidak harus seorang juri mengetahui semua film di dunia. Saat kita menilai sebuah film, kita menikmati dengan rasa dan estetika. kalaupun mereka mau protes seharusnya dilakukan saat EKSKUL masuk dalam daftar nominasi. Dan kalau kami dikatakan tidak kompeten dalam hal ini, bukan menjadi soal, karena kami masuk di sini bukan karena mendaftar," bela Noorca M Massardi.

Sebenarnya berbagai perbedaan pendapat yang muncul di sekitar Piala Citra, merupakan sebagai bagaian yang menggembirakan dari sebuah perjalanan eksperimen demokrasi. Hal ini bisa disikapi dengan arif. Bahwa ini semua, bermuara kepedulian terhadap kelanggengan Piala Citra. Ternyata Piala Citra sangat magis di mata para pelaku film di Indonesia. (kl/wwn)

Penyerahan Piala Citra

FFI 2006

Klarifikasi 'Jual Beli'  Piala Citra


Lihat profil: Noorca M Massardi
Diposting oleh: Editor |




Lihat Arsip Berita Noorca M Massardi

2007

NOORCA M MASSARDI


WHAZZ UP!







Kota

Merk