

Namun, vakumnya mereka beberapa tahun sejak album terakhir yang keluar pada tahun 2010, JANGAN KAU MATI, membuat sebagian masyarakat Indonesia menganggap mereka telah kekurangan ide.
"Meski album terbaru ini merangkum lagu-lagu yang dibuat pada tahun 2008 dan tahun 2011 namun bukan berarti kami kekurangan ide," ujar Heydi, vokalis Power Slaves saat dihubungi wartawan, Rabu (23/5).
Ditambahkan oleh Heydi, personil Power Slaves tidak terlalu mempersoalkan jeda waktu yang cukup panjang. Selain karena jadwal yang cukup padat, album ini juga menjadi wujud totalitas mereka dalam penggarapan sebuah album.
Sebuah karya terbaru dari Heydi Ibrahim (vokal), Anwar Fatahillah (bass), Acho Jibrani (gitar) dan Wiwiek Sudarno (keyboard) setelah 21 tahun berkarya di blantika musik Indonesia pun akan menjadi yang terlengkap dari mereka. Hal tersebut dikarenakan mereka tak main-main di album teranyar ini.
“Jika ada kesan terkendala dirilis, itu hanya strategi manajemen saja. Karena kami juga tak ingin sembarangan dalam membuat album,” tutur Heydi lagi. (kpl/ato/rea)

Album bertitel MERAH PUTIH rencananya akan rilis pada akhir April atau awal Mei tahun 2012. Menurut vokalis Power Slaves, Heydi Ibrahim, dalam album yang berisi 12 lagu dengan 11 lagu baru dan 1 lagu lama yang diaransemen ulang, yaitu Masa Bahagia dari album METAL KECIL (1994) ini, Power Slaves benar-benar total mengeluarkan idealisme bermusiknya.
Judul MERAH PUTIH diambil dari beberapa lagu yang memang bertema nasionalisme di album ini, antara lain Indonesia, Empat Pilar Kebangsaan, Slavers Indonesia dan I Love You Merah Putih. Ini juga merupakan ajakan dari Power Slaves untuk lebih mencintai negara ini di tengah terkikisnya nilai-nilai nasionalisme di generasi muda.
“Album ini adalah hati saya, merah putih adalah ideologi saya. Adakah obat yang lebih baik dari merasa senasib dan sepenanggungan di dalam MERAH PUTIH?” ujar Heydi saat dihubungi wartawan (04/04).
Tidak bergabungnya Power Slaves dengan label manapun alias indie di bawah management Kereta Rock N Roll, yang tidak lain adalah kepunyaan mereka sendiri, serta tuntutan dari fans (Slavers Indonesia) agar Power Slaves menjadi lokomotif kebangkitan rock n roll di Indonesia adalah poin utama mengapa band asal Semarang ini mengedepankan idealisme bermusik di album baru.
“Album ini juga merupakan bukti eksistensi Power Slaves di blantika musik rock tanah air. Beberapa warna musik rock, yaitu hard rock, rap rock, ballad rock, punk rock n roll, industrial rock kami masukkan. Seperti di lagu To The Point, di sini Heydi ngerap seperti seorang rapper tapi dengan karakter dia, menjadikan sesuatu yang unik dan menarik. Album ini bisa dibilang menunjukan kedewasaan dalam bermusik dari tiap personil PS yang selama ini setia di jalur rock,” lanjut Anwar, sang basis.
Dengan komposisi 50% lagu lagu berirama rock n roll dan 50 % berirama medium dan slow, diharapkan dapat menjadi penawar bagi fans Power Slaves yang terakhir merilis full album pada tahun 2004, "Beberapa lagu slow ala Power Slaves yang akan menjadi andalan antara lain Ku Tunggu, Song For The Lover dan si Cantik dan Blues,” pungkas Heydi. (kpl/ato/rea)

Namun, kejadian unik terjadi saat Power Slaves didapuk untuk mengisi acara amal Malam Dana Untuk Pengobatan Donny Fattah - Dari Musisi Untuk Musisi di Rolling Stone Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Jumat (10/2).
Vokalis Power Slaves, Heydi Ibrahim, menulis lirik lagu berjudul Pemburu Ilusi milik God Bless, di tangan kirinya dengan spidol. Dirinya mengaku tidak terlalu hafal dengan lagu tersebut. Tangannya yang penuh tato pun seolah bertambah tato baru dengan tulisan tersebut.
“Dapatnya pas yang Pemburu Ilusi. Gak hafal. Dihafalin gak hafal-hafal. Akhirnya ditulis aja liriknya disini,” ucap vokalis band pelantun tembang Malam Ini sembari menyodorkan tangan kirinya.
Mereka pun tak main-main untuk mempersembahkan dukungannya bagi bassis God Bless yang sedang terkena penyakit jantung tersebut. Latihan pun mereka lakoni selama 3 hari. “Persiapannya 3 hari. Kita bawain lagu Power Slaves juga selain Pemburu Ilusi-nya God Bless,” tukasnya. (kpl/ato/adb)

Lagu Indonesia, menurut Heydi (vokalis), ide pembuatannya berawal saat ulang tahun Power Slaves beberapa bulan lalu, sebagai bentuk keprihatinan terhadap keadaan negeri ini. Sebagai musisi, tentunya Power Slaves ingin memberikan sumbangsih melalui lagu.
"Agar Indonesia bisa bangkit. Kita berharap Pak SBY mendengarkan, kita berikan lagu itu sebagai bentuk apresiasi anak muda yang mencintai negaranya, Indonesia bangkit dari rasa tidak percaya diri, lebih bersemangat bekerja, dan selalu kasih karya buat bangsa ini," ucap Heydi saat dihubungi KapanLagi.com® usai mengikuti jamuan resepsi perayaan HUT RI ke-66 di Istana Negara, Rabu (17/8) malam.
Sebuah kebanggaan dirasakan Power Slaves ketika lagunya yang bertema nasionalisme itu diapresiasi oleh pihak Istana Kepresidenan. Mereka mendengarkan lagu itu beberapa hari sebelum 17 Agustus 2011, sebelum mengundang Power Slaves.
"Kita semua kaget mendapat telepon dari pihak Istana, kita diundang untuk menghadiri acara penurunan bendera Merah Putih tadi. Suatu kebanggaan tentunya, karena awalnya lagu kita perdengarkan lagu tersebut ke Pihak Istana dua hari yang lalu," lanjut Heydi.
Namun, Power Slaves bukanlah grup yang mudah berpuas diri. Dengan prestasi yang telah didapat sampai saat ini, mereka ternyata masih punya cita-cita yang lebih tinggi.
"Semoga lagu ini bisa diperdengarkan kepada masyarakat Indonesia, bisa bermanfaat, dan bisa melahirkan lagu-lagu lain yang bertema nasionalisme lagi. Karena bagi kami, kalau sudah diapresiasi rakyat banyak, itu yang merupakan apresiasi tertinggi, karena itu berarti kami telah melakukan sesuatu yang berguna," pungkasnya. (kpl/ato/dar)

Memang, sejak nama grup The Cranberries disebut bakal hadir di Java Rockin' Land 2011, para penggemar langsung menyambut dengan antusiasme yang tinggi. Sempat vakum cukup lama, agaknya membuat konser reuni band asal Irlandia ini ditunggu-tunggu oleh ribuan pengunjung even rock terbesar di Asia Tenggara, Java Rockin' Land.
Tak hanya itu, di hari kedua, Java Rockin' Land juga memberikan suguhan menawan dari band-band yang menjadi ikon musik rock pada eranya masing-masing. Sebut saja God Bless, Power Metal dan Power Slaves yang bisa disebut sebagai tokoh dalam perjalanan musik rock di Indonesia.
Barisan band-band lokal seperti BIP, Jasad, Cokelat, Sarasvati, Gigantor, Parau, Balerina, Burgerkill, Pure Saturday dan lainnya juga menjadi daya magnet tersendiri bagi penonton hari kedua.
Kensington, Neon Trees, Franco, Ed Kowalczyk, Young the Giant dan Blood Red Shoes juga hadir sebagai band dari luar negeri yang makin menyemarakkan suasana.
Di hari kedua pagelaran ini, penonton memang terlihat lebih berjubel daripada hari pertama. Mungkin bisa dimaklumi, karena selain line up artis penampil yang bagus, hari kedua Java Rockin' Land bertepatan dengan malam Minggu yang identik dengan malam yang panjang untuk bersenang-senang. (kpl/ato/sjw)

"Kami sangat bangga, bisa tampil di even ini," singkat Heydi, sang vokalis.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa even Java Rockin' Land 2011 merupakan pesta musik rock terbesar di Indonesia sekaligus Asia Tenggara. Maklumlah jika musisi luar negeri maupun dalam negeri selalu antusias untuk bisa tampil di pagelaran ini. Tak terkecuali dengan band asal Semarang, Power Slaves, ini.
"20 tahun lamanya kami berkeliling, manggung. Akhirnya bisa di sini juga. Senang sekali, apalagi ini adalah even bertaraf Internasional. Dan kita harus bangga mempunyai sebuah even musik terbesar se-Asia Tenggara," lanjut Heydi.
Membawakan lagu-lagu lawas macam Malam Ini, Bayang, Kembali, Insiden, Impian dan lagu dari album ketiga berjudul Amoral, Power Slaves tak henti-hentinya membawa penonton untuk berteriak mengiringi lagu, hingga mic sang vokalis pun beberapa kali diarahkan ke penonton.
Suasana berbeda pun tampak ketika single teranyar band pengusung aliran Rock n Roll dan Blues berjudul Indonesia dilantunkan. Bendera Indonesia mini langsung berkibaran mengiringi lagu bertema kebangsaan ini. Penampilan Power Slaves ditutup dengan lagu Metal Kecil. Heydi dkk. pun membungkukkan badan untuk memberikan salam perpisahan kepada penonton yang masih berharap mereka memainkan lagu lagi.
"Terimakasih banyak untuk kalian," tutup Heydi dan teman-temannya. (kpl/ato/ris)

Dedikasi mereka dalam musik itulah yang membuat Heydi, vokalis Power Slaves merasa patut untuk membungkuk hormat dan mengacungkan jempol. "Sampai setua itu, God Bless masih bisa bernyanyi untuk kita. Kami bangga jadi penerus mereka," ucap Heydi saat manggung di hari kedua gelaran Java Rockin' Land, di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (23/7) malam.
Untuknya, sebuah harapan ditorehkan untuk band pemilik tembang Malam Ini tersebut, untuk bisa mengikuti jejak God Bless, sebagai band besar Indonesia.
"Kami ingin musik kami bisa lebih diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Seperti tadi saat konser, ternyata banyak juga yang mengenal lagu-lagu kami, meski mereka bukan berasal dari generasi kami. Senang banget atas tanggapannya. Semoga kedepannya, kami makin eksis," tutup Heydi. (kpl/ato/mae)

