

Dalam twitter tersebut, aktivis organisasi sosial ini mengkritik Presiden SBY karena tidak bertindak atas ulah Ormas Islam yang menolak konser Lady GaGa.
"Saya bicara bukan konteks Lady GaGa, tapi lebih mengkritisi SBY sebagai pemimpin bangsa ini. Banyak persoalan yang melanda bangsa ini. Tetapi saya tidak melihat SBY berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai warga negara saya boleh marah, saya kan membayar pajak. Di Metro TV juga saya bicara sangat keras kepada SBY," papar Ratna ketika dihubungi lewat telpon, Selasa (22/5).
Ratna memang mencatat beberapa ulah Ormas Islam tersebut yang mencederai demokrasi di Indonesia. Dengan adanya kasus Lady GaGa ini, wanita kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, 62 tahun lalu ini bersyukur, karena dirinya bisa mengkritik sang penguasa.
"Saya bersyukur dengan adanya Lady GaGa. Semuanya jadi mencuat bahwa ada Ormas Islam dalam hal ini FPI, yang bertindak seenaknya, berteriak kafir di mana-mana. Saya ini juga umat Islam," ungkapnya.
Meski begitu dirinya tidak takut dengan sikap kerasnya terhadap penguasa. (kpl/hen/aia)

Selama jalannya acara, linimasa twitter dipenuhi oleh pro kontra penonton yang dipenuhi dengan pendapat individu. Dari banyaknya pendapat, muncul dukungan yang berpihak pada opini Ratna Sarumpaet.
Di mana saat beropini, Ratna dianggap begitu fasih, berpikiran terbuka bahkan secara berani menyinggung petinggi negara yang dianggap 'kerja apa' hingga kasus seperti Lady GaGa ini menjadi tak terkontrol.
Tak heran jika akhirnya nama Ratna Sarumpaet menjadi trending topic karena dianggap berani jujur meski mendapat komentar pedas dari orang-orang yang hadir dalam debat tersebut.

Di bawah ini argumen menarik dari Ratna Sarumpaet yang berhasil dikutip selama acara berlangsung:
"Yang zalim sebenarnya adalah SBY? Ke mana dia di tengah-tengah masalah bangsa saat ini."
"Kepala negara kita ini ke mana? Kok jadi Rizieq sih yang lebih sering gue lihat di TV?"
"FPI itu seakan-akan menghina orang Indonesia."
"Jangan hina bangsa sendiri. Emang abis nonton Lady GaGa nanti 50 ribu orang bakal kerasukan setan? Manusia juga punya sensor diri!"
"Setiap orang punya sensor moral sendiri. Gak usah ngatur moral orang lain!"
"Jangan menghina bangsa sendiri. Nonton Lady GaGa sekali terus besoknya kesetanan ya enggak kan? Jangan mengada-ada." (kpl/abs)

"Kalau demo kebetulan memang nggak bisa. Dalam seminggu ini lagi ada kerjaan," ujar Atiqah saat ditemui di Kantor LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (26/3) siang.
Putri aktifis Ratna Sarumpaet itu membantah jika dirinya enggan turun ke jalan karena takut kulitnya hitam. "Nggak lah. Kalau tahu, hobiku itu ke pantai yang panas-panasan. Ya kita lihat saja nantilah," ujarnya.
Lalu, apakah Atiqah siap turun ke jalan jika memiliki waktu senggang? "Kita lihat nanti. Yang pasti niat saya mendukung perjuangan mahasiswa dan rakyat," pungkasnya. (kpl/adt/dew)

"Oh iya banyak yang mendukung, nanti ada Reza Rahadian, nanti malam juga ada Glenn Fredly, Rio Dewanto, Rieke Dyah Pitaloka," ujar Atiqah saat ditemui di Kantor LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (26/3) siang.
Atiqah siang tadi memang menyempatkan diri untuk menemui para mahasiswa dari berbagai daerah yang datang untuk melakukan aksi penolakan. Kebetulan, sang ibu memang membangun posko.
"Kalau untuk distribusi, Ibu saya membangun posko Ratna Sarumpaet Crisis Center yang menampung bantuan-bantuan non uang, seperti makanan, minuman, obat-obatan buat teman-teman," ujarnya.
Lalu apa yang bisa Atiqah buat untuk mendukung aksi mahasiswa? "Yang saya lakukan siang ini memberikan sumbangan makanan kepada teman-teman itu titipan saya dan Rio, karena Rio saat ini sedang berada di Sumatra Utara," pungkasnya. (kpl/adt/faj)

"Ini hal-hal yang tidak terbayangkan. Saya mengenal banyak brand besar, ini suatu kepercayaan kepada saya. Amazing, diberikan tanggung jawab ini. Saya gak akan capek. Pekerjaan saya menjaga image dari Panasonic, itu tanggung jawab beda, sebuah kepercayaan sulit yang harus saya jaga," jelas Atiqah.
Kekasih aktor Rio Dewanto yang ditemui di hotel JW Marriot, Jumat (21/10) dalam penobatan Eco Brand Ambassador Panasonic menegaskan, bahwa baginya kepedulian menjaga lingkungan itu bukan hanya sekedar pernyataan. Namun dari hati, sebuah dorongan baginya untuk menjadi lebih baik lahi.
"Saya mempelajari global warming, mempelajarinya mulai paling simpel. Dari kamar tidur, memperhatikan gaya hidup. Hemat listrik, air, memakai produk ramah lingkungan. Saya cerewet soal listrik, apalagi kalo ada yang boros. Bahkan sempet berantem sama manajer gara-gara itu. Suka bawel soal pencemaran lingkungan juga," usai Atiqah. (kpl/dis/aia)

"Saya bukan orang Batak, tapi saya kenal Jajang. Udah ditawari sejak lama, tapi lost kontak. Buat saya budaya manapun gak masalah. Batak dengan bahasa Indonesia, bagus, biar orang luar Batak ngerti. Duduk di sini kebanggaan. Bisa bareng pejabat yang cuma bisa dilihat di TV atau saya bicarakan," jelas JFlow.
Senada dengan JFlow, Jajang juga menambahkan, bahwa kebudayaan Batak memiliki filsafat yang baik untuk semua orang.
"Ini penting diketahui, Indonesia ini lagi kacau, kita itu Bhinneka Tunggal Ika. Batak punya filsafat yang sangat baik. Saya orang Padang, bangga. Ada lagu Cinta yang saya sukai, saya diajari oleh teman saya, Ratna Sarumpaet," tambah Jajang. (kpl/gum/aia)

"Smartphone itu penting banget buat kerjaan. Padahal, pertama kali kenal smartphone, kita terlalu fokus, jadi nggak bisa lepas dari tangan, sampai nyokap marah-marah," ujar Atiqah saat ditemui di acara Penyerahan Blackberry Dakota di XL Center, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/9).
Namun, ternyata Atiqah memang merasakan betul manfaat kegunaan dari smartphone miliknya. Menurutnya, pekerjaan yang datang tak lain karena andil dari ponsel canggihnya itu.
"Membantu banget kehidupan sosial kita, terutama untuk pekerjaan, job-job banyak dapet dari sini, semua orang butuh komunikasi, itu udah menjadi bagian hidup," papar kekasih Rio Dewanto itu.
Atiqah mengakui jika handphone sudah menjadi kebutuhan primer. Bahkan ia berujar jika hal itu sudah bagian hidupnya. "Aku nggak tahu deh kalau nggak ada handphone," pungkasnya. (kpl/adt/aia)

