

1. Inul Daratista
Bisa dibilang, Inul adalah pelopor masuknya dangdut ke garis mainstream musik Indonesia. Yang menjadi pokok permasalahan adalah goyang ngebor yang menjadi khasnya. Gerakan pinggul itu bahkan sempat disebut erotis oleh Rhoma Irama. Gara-gara goyang itu pula, Inul dianggap pelaku pornoaksi. Perseteruan Ratu Ngebor dan Raja Dangdut ini berlangsung cukup lama, tetapi akhirnya mereda dengan sendirinya. Inul kemudian berkonsentrasi pada pengembangan bisnis karaoke dan kelahiran anak pertama, sehingga beberapa lama tidak muncul di media.
2. Julia Perez
Jupe hadir di Indonesia membawa sensasi foto-foto dengan pose cukup berani. Selain itu, ia pula terbiasa tampil dengan pakaian minim dan mengundang perhatian. Ketika menjadi ikon salah satu merek kontrasepsi di mana jika membeli kontrasepsi tersebut berbonus album terbarunya, masyarakat pun bereaksi. Jupe dianggap menyetujui seks bebas. Pro dan kontra melanda, tetapi mantan kekasih Gaston Castano itu tidak bergeming. Pada 2011, ia juga sempat ditolak di Bandung oleh Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda. Belakangan, Jupe lebih banyak didengar karena kehidupan pribadi dibandingkan prestasi bermusiknya.
3. Trio Macan
Trio dangdut yang sering mengalami permasalahan intern gonta-ganti personel ini juga pernah bermasalah gara-gara kostum dan goyangan yang terlalu energik. Tak tanggung-tanggung, Trio Macan saat itu berhadapan langsung dengan pencekalan MUI. Di pertengahan 2009, ketiganya bermain di film DARAH JANDA KOLONG WEWE, di mana mereka berani tampil tanpa busana. Tetapi seperti juga yang sebelum-sebelumnya, kontroversi terhadap penampilan Trio Macan pun menguap begitu saja. Mereka masih eksis sampai kini, bahkan belakangan kembali menjadi pembicaraan. Bukan karena busana, tetapi karena lagu Iwak Peyek yang mereka bawakan.

@ KapanLagi.com®
Kebanyakan kontroversi ini memang datang dari kelompok penyanyi dangdut. Selain goyangan masing-masing penyanyi, juga karena lirik lagu seperti Belah Duren dari Julia Perez dan tentunya kostum panggung. Kontroversi ini bahkan sempat menjadi pembahasan dalam pembuatan RUU Pornografi dan Pornoaksi.
Sementara, GaGa pun tak jarang berpenampilan minim di atas panggung. Itu belum ditambah dengan lirik-lirik lagunya yang juga mengundang protes dari kalangan tertentu. Walaupun semuanya tentu dikembalikan kepada masing-masing pribadi. Bagaimana menurut Anda? (kpl/rea)

"Tugas selanjutnya adalah bagaimana menjaga cinta itu tetap ada. Bagaimana tetap stabil. Cinta itu bisa bertambah, berkurang atau lenyap sama sekali," ujar Rhoma dalam nasehatnya di masjid A'Zhom, kota Tangerang, Banten, Kamis (17/05).
Rhoma melanjutkan jika dalam kehidupan di dunia keartisan saat ini memang banyak sekali persoalan yang dihadapi. "Bisa saja sekarang kawin besok bercerai. Semoga ini tidak terjadi," ujar Rhoma.
Rhoma pun berharap agar keduanya dapat menjaga untuk saling mencintai. "Karena salah satu pihak jika tidak pandai menjaga cintanya tetap stabil, maka akan rusak lah rumah tangganya," pungkas ayah Ridho Rhoma itu. (kpl/adt/sjw)

Nassar mengucapkan ijab kabul dengan lancar dalam satu hela nafas. Mas kawin pernikahannya adalah satu set berlian dan seperangkat alat sholat.
Pernikahan Nassar dan Muzdalifah disaksikan juga oleh para artis seperti H Rhoma Irama, Ustad Solmed, Saipul Jamiell, Cici Faramida, Edies Adelia, dan masih banyak yang lainnya. Saat ini, keduanya pun sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Keduanya nampak sangat berbahagia usai pernikahan.
Pedangdut Nassar KDI sempat menghebohkan dengan memacari seorang janda beranak 3. Usia keduanya pun jauh berbeda dan lebih muda Nassar. (kpl/adt/sjw)

"Kesediaan saya sungguh didasari oleh niat yang tulus dan perencanaan jangka panjang profesional, agar PAPPRI dapat memainkan perannya bagi seluruh anggotanya yang tersebar di seluruh dunia," kata Tantowi Yahya, dalam acara Pengukuhan Pengurus PAPPRI 2012-2017, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (7/5) malam.
Dalam Kongres VI PAPPRI pada Maret 2012 lalu, Tantowi Yahya, terpilih secara aklamasi menjadi ketua PAPPRI menggantikan Dharma Oratmangun.
"PAPPRI diharapkan mampu melindungi musik Indonesia dari pembajakan. Tidak hanya melindungi insan musik, tetapi juga melindungi seniman musik Indonesia," kata Tantowi lagi.
Pada acara malam itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mengukuhkan pengurus PAPPRI periode 2012-2017.
"Saat ini tantangan industri musik Indonesia sangat berat dengan marak grup atau artis musik luar negeri yang tampil di Indonesia. Ini merupakan tantangan bagi PAPPRI untuk mencegah pembajakan dan illegal download," kata Mari.
Menurut Mari, tantangan serupa juga dihadapi industri musik di negara lain, dan hingga saat ini belum ada solusi yang komprehensif untuk mengatasinya.
Selain melakukan pengukuhan pengurus baru, malam itu PAPPRI juga memberikan penghargaan kepada lima orang tokoh musik Indonesia, antara lain A Riyanto, Dharma Oratmangun, Elly Kasim, Franky Sahilatua dan Rhoma Irama. (antara/dar)

“Kalau lagu tersebut menjadi lagu yang terbaik dan masuk 10 besar penerima royalti terbaik serta memiliki kekuatan pastinya akan diberikan penghargaan kepada penciptanya. User pun demikian,” ujar Andy saat jumpa pers pengurus KCI yang baru di Tee Box Café, Jakarta Selatan, Senin (7/5).
Andy pun menyebutkan beberapa pencipta lagu yang merajai pendapatan royalti terbesar di masanya, bahkan hingga saat ini. KCI pun memberikan apresiasi kepada mereka.
“Beberapa anggota KCI yang mendapatkan apresiasi karena royaltinya tinggi, antara lain Rhoma Irama, Eross Sheila on 7, Melly Goeslaw, Ahmad Dhani, Yovie Widianto dan Dewiq. Hal itu terjadi pada zaman keemasan ketika penjualan fisik album dalam bentuk kaset dan CD pada tahun 2005 sedang tinggi-tingginya,” ujar Andy. (kpl/adt/sjw)

Penyanyi dangdut pun banyak bermunculan. Bahkan sang rocker legenda, Ahmad Albar pernah menyanyikan sebuah lagu berjudul Zakia, yang berirama dangdut plus sentuhan Timur Tengah, untuk menembus industri musik saat itu.
Namun, apa yang terjadi saat ini sungguh sangat bertolak belakang. Industri musik sekarang sepertinya tak berpihak pada musik ‘goyang’ ini. Hal tersebut sungguh menjadi keprihatinan bagi musisi atau pelaku dangdut belakangan. Seperti halnya Saipul Jamiell. Menurutnya, dangdut seperti tersisih dengan gempuran musik luar.
“Karena musik dangdut merupakan representasi kehidupan masyarakat di tanah air. Namun, seperti sekarang, apa yang banyak ditayangkan, musik dangdut yang merupakan musik akar rumput di Indonesia agak tersisih keberadaannya,” ucap Saipul saat launching Parabola Orange TV, Bekasi Square, Sabtu (5/5).
Saipul pun menghimbau, kepada semua pihak untuk lebih mempopulerkan musik dangdut, bahkan ke mancanegara. Karena, sebagai bangsa yang besar, masyarakat Indonesia harus bisa merasa bangga dengan warisan budayanya.
“Terus terang, saya sangat merindukan TV dangdut. Selama ini ada MNCTV yah, tapi dengan makin banyaknya pihak yang peduli, seperti siaran dangdut di Orange TV ini, semoga dangdut bisa menjadi budaya bangsa yang mendunia,” tukasnya yang siap berkarya terus demi musik dangdut. (kpl/ato/dew)

"Dangdut banyak dipelajari di berbagai universitas. Itu menggembirakan. Dangdut sama bahkan bisa dibilang lebih bagus kandungannya dibanding musik yang lain. Mereka negara adidaya, begitu peduli, sampai ada yang membuat sebuah buku tentang dangdut. Orang luar mengapresiasi kebudayaan kita," ungkapnya.
Rhomayang baru terpilih kembali dalam Munas ke-3 di Surabaya 3-4 Maret lalu itu melantik pengurus PAMMI untuk periode 2012-2017. Pelantikan berlangsung di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta Pusat, Sabtu (21/4/2012). Hadir dalam acara tersebut, calon gubernur Fauzi Bowo.
Sementara itu, Prof Dr Andrew Weintraub, guru besar musik Pittsbergh University, AS yang hadir di pelantikan PAMMI itu mengungkapkan kalau musik dangdut sudah masuk Amerika Serikat sekitar 2007. Dia juga sudah banyak mengenalkan ke sejumlah kampus.
"Sebagai wakil Dangdut Cowboys, band di Amerika yang main dangdut, dangdut sudah berkembang di Amerika dari 2007. Mahasiswa sudah pada tahu, kita keliling ke universitas-universitas juga. Saya berharap orang di Amerika bisa menyukai dangdut, sebagai musik dan juga kebudayaan. Ada nilai estetika yang terkandung di situ," ungkapnya.
Sementara soal kemungkinan dangdut menjadi partai politik, Rhoma dengan tegas mengaku tidak akan membawa organisasi profesi itu ke arah politik. Namun secara pribadi wajar jika orang per orang terlibat dalam gerakan politik praktis.
"Nggak akan ke sana. Kita tetap akan jadi organisasi profesi. Kita nggak main politik atau berafiliasi dengan salah satu parpol. Namun indikator, adalah dangdut sebagai musik rakyat. Secara personil, pasti ada artis dangdut dalam pergerakan politik, misalkan kampanye Pemilu atau Pemilukada," terangnya. (kpl/ato/dar)

