

"Nggak tahu, karena saya kan sangat singkat sekali ya. Saya belum sempat tahu sejauh mana, kalau memang sakit apa gitu," tutur Cici Faramida saat ditemui di acara halal bi halal icon anti aging di Casa Deby Vinski Jl. Metro Pondok Indah TC 6 Jakarta Selatan, Kamis (8/9/2011)
Saat Suhaeby meninggal dunia, pelantun Wulan Merindu ini mengaku tidak mengetahui, karena tidak ada yang memberinya kabar waktu itu. Dia saat itu sedang berlibur ke Turki, bersama adiknya Siti KDI yang memang menikah dengan pria Turki.
"Awalnya ya memang kagak ada kabar ya, karena kan kita sudah lost contact. Saat beliau sakit atau apa-apa saya tidak tahu, sampai akhirnya saya dengar beliau sudah meninggal dunia," papar Cici.
Cici menuturkan kalau sudah menghubungi keluarga Suhaeby dan menyampaikan duka cita. Tidak lupa sebagai mantan istri, dirinya mendoakan semoga amal-amal almarhum Suhaeby, diterima oleh Allah.
"Ya turut berduka untuk keluarga yang ditinggalkannya. Ya bersabar saja, karena sudah takdir ya, Allah sudah menentukannya seperti itu. Kita hanya bisa mendoakan saja semoga amal ibadahnya diterima Allah," ujar Cici. (kpl/buj/dar)

"Ya mungkin merenungi hidup ini kali karena diberikan usia dan umur panjang sama Allah. Pencapaian diri yang pasti pikiran kita jauh ke depan. Kalau kita mengerjakan sesuatu pastinya akan dipikirkan jauh ke depannya. Usia semakin bertambah, dan semakin matang ya," terang Cici saat ditemui di Casa Deby Vinsky Pondok Indah Jakarta Selatan, Rabu (08/09).
Saat detik-detik menginjak umur 38 tahun, Cici mengaku sedih dan bercampur senang. Terutama ketika menerima ucapan selamat ulang tahun dari sang adik Siti yang sedang berada di Turki.
"Adik saya Siti dia kebetulan di Turki, kalau di sana kan masih jam 8 malam tapi kalau di Indonesia sudah jam 00.00. Ya dari adik-adik dan tante saja," kata Cici.
"Ya bercampur jadi satu sedih dan bahagia karena masih di berikan kesehatan ya. Panjang umur," sambung Cici. (kpl/buj/sjw)

"Singkat sekali. Setelah itu, berkomunikasi melalui dunia maya untuk mengetahui lebih jauh lagi siapa Cem sebenarnya," ungkap Siti yang mengaku ingin mengikuti suami tinggal di Turki. Tanpa khawatir akan karirnya di Indonesia, Siti mantap ingin ikut suaminya ke Turki.
"Ini takdir dan sudah diatur Allah. Siti nggak pernah takut melangkah. Pasrahkan saja apa yang terjadi di esok hari," tegas Siti. Sikap Pasrahnya tersebut juga nampak saat dirinya ditanya mengenai keinginannya memiliki momongan. "Tergantung Allah saja. Kami tidak ada target dan menjalani saja. Kalau diberi cepat ya bersyukur, tetapi kalau lama, ya pasrahkan saja," imbuhnya.
Bukan Siti saja yang turut merasakan bahagia di hari pernikahan ini, sang suami, Cem juga merasakan kebahagiaannya dapat menikahi Siti dengan adat Mandar yang tentu saja masih belum dikenalnya dengan baik. "It's very good. Ada yang memberi nasehat juga. Pakaian dan aksesorisnya juga lucu-lucu. Menyenangkan sekali. Apalagi pakai peci.hehehe," tutur Cem.
Suami Siti ini memang orang yang fleksibel, dalam artian ia mau menjalani pernikahan dengan adat Indonesia, alih-alih memakai adat Turki. "Dia bisa menghargai budaya kita. Mungkin budaya di sana juga nggak berbeda jauh. Semoga tidak terlalu sulit," ucap Siti. Setelah pernikahan ini, Siti bakal ikut suaminya terbang ke Turki bulan Juli mendatang. Bulan madu kah?
"Nggak ada, belum ada rencana bulan madu," pungkasnya. (kpl/hen/dka)

Pernikahan Siti dan pria berdarah Bosnia tersebut diadakan dengan menggunakan adat Mandar. Tak cukup hanya mas kawin tersebut saja, Ibu Cem, Dennis Peerk, yang adalah seorang bintang film Turki memberikan kalung indah kepada Siti. Memberi perhiasan ini adalah tradisi Turki saat putra menikah, keluarga memberikan perhiasan pada menantu atau anggota keluarga barunya. Sedangkan Paman Cem, Samil Peerk, memberikan gelang emas yang dipasangkan di tangan kiri.
Akad nikah mereka berdua disaksikan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Kapolda Kalimantan Selatan Brigjen (Pol) Syafruddin Kambo. Ketua PP Muhammadiyah itu pun berbagi cerita mengenai awal rencana pernikahan Siti dan Cem setahun yang lalu.
"Siti dan Cici datang ke rumah dan menyampaikan bahwa Siti bercerita kalau dirinya berkenalan dengan Cem lewat dunia maya. Kebetulan saat itu saya sedang ada undangan konferensi di Istanbul. Atas pesan Siti, saya bertemu dengan Cem di sebuah hotel di Istanbul, dan mengaku sebagai paman Siti," cerita Din saat ditemui seusai akad nikah.
Setelah pertemuan di Turki, Cem mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Siti di Jakarta. Diawali beberapa pertemuan tersebut, Siti dan Cem akhirnya menikah. "Saya tidak menyangka, mereka kemudian menikah di waktu yang sangat cepat," ujar Din. Cem sendiri adalah seorang scientist dan pengusaha. Ia belajar filsafat juga. (kpl/hen/dka)

"Saya sempat menangis karena saya kan sangat dekat dengan Siti. Ke mana-mana selalu bareng, belanja, show kadang suka tukeran baju. Sekarang kalau Siti ikut suaminya ke Turki, sedihnya bukan main. Saya sangat-sangat kehilangan," ungkap Cici usai akad nikah Siti, Sabtu (25/6).
Pun begitu, Cici mengaku sudah ikhlas melepas Siti. Apalagi ia tahu, Cem adalah sosok yang memiliki keimanan yang kuat serta tanggung jawab yang luar biasa. "Walau jauh dari Turki, mereka mempunyai kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan untuk melangsungkan hidup," ujar Cici, "Ya, itu pilihan hidup yang sudah Siti pikirkan. Dalam hal ini saya mengatakan kebahagiaan dan kegembiraan keluarga, kita harus rela."
Cici juga tak kuasa meluapkan rasa syukurnya atas proses akad nikah yang berlangsung khidmat dan lancar. Ia pun berharap, rumah tangga yang akan dibina sang adik nantinya juga berjalan mulus.
"Alhamdulillah kita keluarga besar ikut berbahagia. Hari ini, 25 Juni, Siti sudah melangsungkan pernikahan dengan Cem. Yang paling membahagiakan, sebelum akad nikah, kita keluarga besar melakukan acara adat Mandar yang dihadiri langsung oleh Raja Mandar. Kita semua bersyukur dan alhamdulillah berjalan lancar," pungkas Cici. (kpl/hen/boo)

Ayah Siti, H. M Idris Makmun langsung menikahkan mereka, sementara bertindak sebagai saksi nikah Brigjen. Syarifudin Kambo dari pihak mempelai wanita. Sedangkan saksi dari pihak pria, paman Cem sendiri yaitu Cumhut Peerk.
Usai ijab kabul keluarga Cem memberikan beberapa perhiasan. Dalam adat Turki hal itu dilakukan untuk menyambut anggota keluarga baru. Dari paman Cem, Siti mendapat sebuah kalung, sementara dari ibunda Cem, Siti juga mendapatkan gelang. Siti juga memperoleh cincin emas dari suaminya yang juga diserahkan saat itu.
Sementara Din Syamsuddin yang didaulat memberikan nasehat pernikahan pada kedua mempelai dan para tamu, berpesan agar mereka bisa menjaga pernikahan hingga akhir hayat. "Kawin itu menyenangkan, tapi jangan senang kawin," ucap Din yang disambut tawa para temu.
Ketika diterjemahkan dalam bahasa Turki, Cem pun tersenyum lebar mendengar tausyiah Ketua Umum Muhammadiyah itu. (kpl/hen/dar)

Dengan mengenakan pakaian adat Mandar, Siti terlihat begitu anggun. Nuansa adat Mandar begitu kental dalam acara akad nikah. Tenda pernikahan yang didominasi warna kuning emas dan ungu banyak dihiasi hiasan adat.
Sebelum akad nikah berlangsung, beberapa rangkaian acara adat harus di lalui Siti. Seperti pembacaan hatam Quran dan Milatigi. Milatigi sendiri adalah prosesi adat untuk pemberian restu kepada mempelai wanita dengan pembubuhan daun pacar di telapak tangan Siti. Yang melakukan pembubuhan adalah kedua orang tua dan para raja Mandar.
Hadir dalam acara akad nikah ini adalah raja-raja dari Mandar. Terlihat juga Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin. (kpl/hen/boo)

