

Sebelum sulam alis enam dimensi, ia juga sempat melakukan sulam bibir. "Waktu itu nyoba sulam bibir tapi jadi bengkak, gak bagus, kayak kesengat tawon. Sakit," ungkapnya saat dijumpai di Tanjung Duren, Jakarta Barat beberapa waktu yang lalu.
Dengan sulam kristal, menurut Soraya, ia tidak merasa sakit. "Ada sulam bibir. Sulam bibir kristal. Kalau sulam kristal ini gak sakit. Warnanya juga lebih natural dan lebih glossy, kayak warna bibir asli lah," paparnya kemudian.
Soraya menyarankan sulam bibir agar tampak cantik seperti artis-arts Korea. "Biar berasa kayak Korea-Korea gitu deh. Wonder Girls, 2NE1, dan lain-lain. Mereka kan bibirnya bagus-bagus, merekah-merekah gitu, jadi cantik. Praktis itu silahkan pake sulam," ujarnya. (kpl/ato/dew)

Dijumpai di Ester Salon, Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, Soraya sedikit bercerita. "Rencananya mau melakukan sulam alis enam dimensi di sini. Kebetulan di sini jagonya sulam alis ama sulam bibir. Jadi lebih kelihatan natural dan menyerupai bulu asli," ujarnya.
Merapikan alis memang adalah hal yang paling sulit. "Kadang kan kita sulit banget ngerapiin alis, trus ngepasin panjang, antara kanan dan kiri itu juga susah. Alis adalah salah satu penopang make up. Kalau alisnya udah bagus, mau make up soft atau gimana itu bisa, dan udah kelihatan dandan. Salah satu faktor yang penting buat make up," imbuhnya.
Sulam alis memang memberikan banyak kemudahan dalam hal penampilan wajah. "Jadi nantinya bisa memudahkan make up artist untuk merias. Gak lama kalau mau dirias. Kalau misalkan lagi santai juga udah bagus, gak perlu diapa-apain," pungkasnya saat dijumpai di Ester Salon, Jakarta Barat beberapa waktu yang lalu. (kpl/ato/dew)

"Karena aku sudah lama terjun di dunia entertainment, sejak umur 15 tahun sering dengar dari teman-teman kalau artis nikah dengan artis sudah banyak cerita. Sedangkan aku sudah prinsip untuk mencari pendamping hidup yang balance. Saling melengkapi lah," ungkap Soraya Larasati.
Soraya dan Doni Amaldi yang ditemui di lokasi pre wedding di Komplek Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Batavia Marina, Jl. Baruna Raya No. 09, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2012) mengungkapkan keyakinannya memilih pria pengusaha properti itu. Jalan yang dilalui mereka pun seperti dilapangkan jalannya, meski di awal hubungan sempat menghadapi masalah dengan orang tua.
"Yakin, karena memang diberi kemudahan selama ini, awalnya sempat alot juga sama orang tua, tapi sekarang sudah melunak. Aku merasa ini jalan yang dikasih sama Allah. Dulu memang kalau memilih pasangan agak milih gitu, tapi yang sekarang ini dipermudah," kata Soraya.
Sejumlah persiapan pernikahan sudah dijalaninya, meski untuk tanggal masih menunggu kepastian gedung, tempatnya menggelar resepsi. Pastinya pernikahan akan digelar pada Juli 2012 mendatang. Mereka pun mengaku sudah selesai persiapan sekitar 60 persen. (kpl/hen/dar)

"Aku ketemunya sudah lama, bertahun-tahun lalu kebetulan teman lama aku. Tapi tidak pernah jalan, cuma say hai aja. Tadinya mau dijodohin sama teman aku, tapi kalau mau janjian nggak pernah bisa, akhirnya karena sering jalan bareng pacaran deh," ungkap Soraya Larasati.
"Kalau dihitung total pacaran baru 7 bulan. Dari awal aku planning kalau kita pacaran aku mau nyari suami, bukan yang nyari pacar terus pacaran saja. Ternyata dia serius ya sudah. Setelah 3 bulan dikenalin ke orang tua," sambungnya.
Soraya dan Doni yang ditemui di lokasi pre wedding di Komplek Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Batavia Marina, Jl. Baruna Raya No. 09, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2012) mengisahkan proses lamaran mereka yang berlangsung secara sederhana.
"Lamarannya juga cuma kita berdua, nggak ada prosesi upacara adat, tapi orang tua tahu kalau kita lamaran. Ada cincin lamaran, ya paling nggak biar berkesan saja di antara aku dan dia, ada kenang-kenangannya," terangnya.
Sejumlah persiapan sudah dijalaninya, meski untuk tanggal masih menunggu kepastian gedung, tempatnya menggelar resepsi. Mereka pun mengaku menghadapi banyak rintangan, di saat mendekati prosesi.
"Kendalanya sih lebih kepada komunikasi ya, mungkin karena capek kali ya jadi beban. Antara kerjaan sama ngurus nikah itu nggak gampang, jadi lebih ke stres buru-buru," tegasnya. (kpl/hen/dar)

"Persiapan sudah, gedung, baju, foto prewed juga bagian dari persiapan, catering. Dua bulan persiapan sudah lebih dari 50 persen lah. Kebetulan keinginan kita dibebaskan sama orang tua, mereka tidak terlalu ikut campur cuma ACC di akhir saja. Intinya kita juga ingin nyenengin orang tua, makanya kita melakukan ini," ungkap Soraya Larasati.
Soraya dan Doni yang ditemui di lokasi pre wedding di Komplek Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Batavia Marina, Jl. Baruna Raya No. 09, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2012) mengungkapkan, meski persiapan pernikahannya dibantu oleh Wedding Organizer (WO), dirinya tetap ikut kerja. "WO ada tapi kita turun tangan sendiri," tegasnya.
Soraya hari itu, melakukan foto pre wedding kebaya dan bridal. Mereka berusaha menggabungkan antara kebaya Indonesia dengan unsur kolonial yang disesuaikan dengan konsep pernikahan. Mereka berharap pernikahannya bisa berjalan lancar dan tetap menjaga kesakralan.
"Undangan kita nggak banyak, karena kita memang pengennya teman dekat saja sama keluarga. Kita cuma ngundang 500 undangan. Kita ingin kesakralannya terasa. Pas resepsi kita juga nggak ngundang banyak-banyak, biar nggak terlalu capek juga dan kekeluargaannya juga dapat," terangnya. (kpl/hen/dar)

"Sejauh ini aku senang semua lancar walau tadi sempat terhambat, awalnya karena banjir di mana-mana, agak terlambat. Tapi secara keseluruhan lancar konsep-konsepnya sesuai yang kita inginkan," ungkap Soraya Larasati.
"Hambatannya cuma macet aja, harusnya kita mulai dari jam 8 tapi telat akhirnya siang baru kita mulai. Kita harus ngejar waktu banget karena harus ngejar matahari," sambungnya.
Soraya dan Doni yang ditemui di lokasi pre wedding di Komplek Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Batavia Marina, Jl. Baruna Raya No. 09, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2012), mengaku akan menikah pada Juli mendatang. Namun urusan tanggal masih akan disesuaikan dengan jadwal gedung. "Tanggalnya masih waiting list, masih menunggu kabar dari gedung," tegasnya.
Sementara hari itu, mereka pre wedding kebaya dan bridal. Mereka berusaha menggabungkan antara kebaya Indonesia dengan unsur kolonial yang disesuaikan dengan konsep pernikahan.
"Aku sih yang dominan (menentukan konsep), dia (Doni) tipikal percaya aja sama apa yang aku putuskan, dia suka juga. Akhirnya dia bilang kamu aja yang nentuin tema, aku ikut aja, gitu. Kebetulan baju-baju yang dipilihin cocok, asal jangan yang blink-blink," pungkasnya. (kpl/hen/dar)

"Karena kita banyak suku banget ya, ada Padang, Batak, Sunda ada Chinanya jadi kita ngambil Indonesianya biar adil. Kalau konsep kolonialnya aku ambil klasik biar nanti sampai 20 tahun ke depan bisa jadi sesuatu yang vintage dan bisa abadi. Kalau ngambil konsep modern cuma pada saat itu doang," ungkap Soraya Larasati.
Soraya dan Doni yang ditemui di lokasi pre wedding di Komplek Pelabuhan Sunda Kelapa, Gedung Batavia Marina, Jl. Baruna Raya No. 09, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2012), mengenakan kebaya dan bridal. Mereka menggabungkan antara kebaya Indonesia dengan unsur kolonial yang disesuaikan dengan konsep pernikahan.
"Tadi awalnya masih di-make up, pas keluar kayak Cinderella," ungkap Doni sambil tertawa.
Sementara itu, sosok Doni memang tidak banyak dikenal di publik, karena memang latar belakangnya sebagai pengusaha, bukan artis atau selebritis. Dia bergerak di bisnis properti dan konsultan.
"Saya wiraswasta, usaha ada di Jakarta sama di Bukit Tinggi juga. Di bidang properti dan konsultan," pungkasnya. (kpl/hen/dar)

