

"Ini bukan untuk pribadi, tapi untuk kita semua," ujar mantan Ketua Umum PARFI, Jenny Rachman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (26/7).
Dalam sidang pertama hari ini, tampak hadir beberapa artis seperti Roy Marten, Yati Octavia, dan Edies Adelia didampingi pengacara Henry Yosodiningrat.
Namun, Aa Gatot yang ditunggu-tunggu kehadirannya tidak tampak batang hidungnya. Sidang pun ditunda hingga pekan depan.
"Maklumi saja mungkin lagi ada halangan. Tapi hakim cukup bijak kasih waktu minggu depan. Semoga para tergugat bisa hadir," kata Jenny.
Jenny mengaku akan serius mengawal kasus PARFI sampai selesai. Sementara itu aktor Roy Marten mengungkapkan, ia gerah dengan keputusan yang dihasilkan dalam kongres.
"Kita menggugat keabsahan keputusan Aa Gatot sebagai ketuanya. Yang kita gugat bukan kongres, tapi keabsahan dari pemilihan ketua PARFI," ujar Roy. (kpl/gum/faj)

"Biasanya nanti akan dimulai dengan mediasi. Kita akan melawan perwakilan dari pimpinan kongres. Saya nggak tahu siapa yang mewakili mereka," ujar kuasa hukum Henry Yosodiningrat mewakili Jenny Rachman cs di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (26/7)
Lebih lanjut, Henry Yoso juga mengatakan jika gugatan perdata yang dilayangkannya hanya untuk menggugat putusan kongres yang menyangkut penetapan Gatot Brajamusti sebagai ketua umumnya.
"Gugatan kita hanya terhadap putusan kongres yang menyangkut penetapan Aa Gatot sebagai Ketua Umum. Kenapa harus dibatalkan, karena dia bukan anggota biasa yang tidak bisa memilih dan dipilih," ujar Henry.
Dalam ruang sidang sendiri telah hadir beberapa artis senior di antaranya Yati Octavia, Mpok Atiek, Dina Mariana, Eddie Edelia, Roy Marten, Ray Sahetapy, Indah Gita Cahyani, HIM Damsyik, Pangky Suwito, Sultan Saladin dll. (kpl/adt/faj)

"Kita saling mengisi kalau untuk masalah kesehatan, saya biasanya yang sering aktif mengingatkan," ujar Pangky saat dijumpai di RS Eka Hospital, BSD City, Serpong, Tangerang, Selasa (19/7).
Meski sering diingatkan, namun Yati terkadang lepas kendali soal makanan. Namun sadar usia yang semakin bertambah, membuat Yati kali ini lebih memperhatikan.
"Sekarang aku mulai rutin apalagi mengingat usiaku kan sudah tidak muda," papar Yati.
Selain olahraga dan menjaga makanan, Pangky dan Yati juga rajin check up kesehatan di rumah sakit. Menurutnya tak perlu jauh-jauh hingga ke luar negeri untuk periksa kesehatan, karena di Indonesia sudah memenuhi fasilitasnya.
"Buat apa kita keluar negeri segala, saya rasa di Indonesia sekarang juga sudah maju rumah sakitnya," tukas Pangky. (kpl/hen/faj)

"Alhamdulillah sebelum memasuki bulan Ramadhan kita harus tahu kondisi kita seperti apa supaya lancar dalam menjalankan ibadah puasa," ujar Yati Octavia saat dijumpai di RS Eka Hospital, BSD City, Serpong, Tangerang, Selasa (19/7).
Berbeda dengan Yati yang hanya memeriksakan kesehatan saat menjelang puasa, Pangky pun selalu rutin memeriksakan kesehatannya. Menurutnya di usia yang semakin tua ketahanan tubuh menurun dan mudah diserang penyakit.
"Kalau saya kebetulan sering check up di Eka Hospital ini, kalau Yati jarang karena dia takut diambil darah, takut suntik dan lain-lain. Saya rutin 6 bulan sekali check up," paparnya.
Lebih lanjut Yati menambahkan bahwa di usianya yang ke 56 ini dia baru 3 kali check up dan tidak menemui keluhan sama sekali. Menurut suaminya, Pangky, hal tersebut justru berbahaya.
"Nah Ini yang bahaya, sebaiknya cek itu justru lebih dini, supaya kita mengetahui lebih dini apa yang harus kita lakukan," terang Pangky yang merasa kesehatan sangat perlu, terlebih untuk artis yang mana pekerjaannya tidak mengenal waktu serta gaya hidup yang tak teratur.
"Siapa yang akan menjamin kita di hari tua, apalagi artis semacam kita kan pekerjaannya tidak mengenal waktu. Jangan sampai kita mencari uang hanya untuk biaya rumah sakit," tukasnya. (kpl/hen/faj)

"Kita bertemu dan berkumpul di sini ingin menyatakan mosi tidak percaya kepada Gatot Brajamusti. Setelah melihat kemarin dalam kongres banyak sekali yang dimanipulasi oleh Gatot Brajamusti. Dia telah berbuat curang untuk menjadi ketua. Saya tidak akan biarkan ini," ujar artis senior yang juga pengusaha, Faisal Riza Rahmat, ditemui di kediamannya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (24/5).
Bersama Faisal memang hadir beberapa artis senior seperti Pangky Suwito, Yenny Rachman, Yati Octavia, Soultan Saladin, Edies Adelia dan lain-lain. Para artis senior ini nantinya akan mengumpulkan para artis-artis senior lainnya yang merasa tidak senang dengan kepemimpinan Gatot Brajamusti untuk kemudian membuat sebuah Kongres Luar Biasa.
"Secara lembaga, Ketua Umum masih dipegang oleh Yenny Rachman, karena belum ada penyerahan. Lalu, kenapa kita kumpul dan bikin seperti ini? Karena kita tidak ingin PARFI dikotori oleh orang-orang yang tidak mengerti film, orang yang tidak pernah bermain film. Makanya kita akan membuat kongres luar biasa. Sebagai orang lama di dunia film, saya tidak setuju dia menjabat ketua PARFI. PARFI memiliki nilai historis yang harus dijaga," ujar Faisal yang juga paman almarhum penyanyi Alda Risma itu.
Seperti diketahui, Gatot Brajamusti terpilih secara aklamasi dalam kongres PARFI tahun 2011 di Hotel Sahid, Jakarta. Namun, kemenangan Gatot Brajamusti tidak disenangi oleh para artis senior karena Aa Gatot dianggap telah melakukan kecurangan dengan memalsukan data.
Salah satunya adalah Aa Gatot menyatakan kalau dirinya adalah pemeran utama Sinetron JENDELA RUMAH KITA. Padahal, selama ini Dede Yusuf yang juga dikenal sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat adalah pemeran utamanya. (kpl/adt/bun)

Dalam pers rilisnya, Yenny Rachman, Yati Octavia, Pangky Suwito dan Roy Marten bakal mengambil langkah hukum, baik pidana maupun perdata atas kongres yang disebut sebagai ajang 'premanisme' itu.
Mereka akan melaporkan tindakan Gatot Brajamusti ke Bareskrim, karena dianggap telah membuat data surat palsu dalam formulir pendaftaran. Pada formulir Gatot dianggap memasukkan data-data berupa aktivitas produksi film (televisi) yang isinya seolah-olah benar dan tidak dipalsu, padahal tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Formulir tersebut telah dipergunakannya sebagai dasar atau alasan untuk mendapatkan hak maju dan dipilih sebagai Ketua Umum PB PARFI periode 2011 -2015. Dari formulir dengan data yang dipalsukan itu, dia mendapatkan status keanggotaan sebagai Anggota Biasa (AB) yang menjadi syarat maju sebagai Ketua Umum.
Selain itu para artis senior juga akan mengajukan gugatan perdata untuk membatalkan putusan Kongres PARFI khususnya yang menyangkut dipilihnya Gatot Brajamusti dengan alasan melanggar AD/ART.
Sesuai ketentuan pasal 5 ayat 4 ART (anggaran rumah tangga) PARFI bahwa yang berhak untuk dipilih hanyalah anggota biasa (AB), sedangkan saudara Gatot Brajamusti bukan sebagai anggota biasa. Karena yang bersangkutan tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam pasal 2 ayat 6 huruf A sampai huruf E ART PARFI.
"Dia cuma ditunjuk sebagai panitia kongres dan siapapun bisa menjadi panitia, tapi untuk Ketua Umum wajib memiliki persyaratan AD/ART," ungkap Yenny Rachman dalam pers rilisnya. (kpl/ato/dar)

"Jangan terombang-ambing. Saya tidak ingin jabatan Ketua Umum Pengurus Besar PARFI lagi. Namun saya tak ingin meninggalkannya dalam keadaan gonjang-ganjing," ucap Yenny di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (19/5) malam.
Dirinya pun bersama beberapa artis lain meminta deadlock, yaitu supaya kongres tersebut dihentikan untuk dibentuk kembali panitia kongres yang baru oleh pengurus besar PARFI.
Namun karena pimpinan kongres, Abdi Soewirya, yang didukung oleh perwakilan PARFI daerah keukeuh untuk terus menjalankan sidang akhirnya, Yenny Rachman beserta artis-artis senior, di antaranya HIM Damsyik, Ade Irawan, Yati Octavia, Connie Sutedja, dan Nani Wijaya, walk out.
"Selama pemilihan ketua umum PARFI, kami tidak pernah seperti ini. Kami merasa kongres ini sudah tidak benar, kami sebagai artis senior menyatakan keluar dari kongres ini," ujar HIM Damsyik lantang. (kpl/ato/bun)

