KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kalau dari pribadi sungguh sangat senang sekali, karena buat saya suatu anugerah bisa membawakan karya-karya dari Pak Ngah dan sekalian untuk melestarikan salah satu warisan budaya bangsa yang sepatutnya kita sebagai generasi muda ikut mengeksiskan budaya tersebut," tutur Wulan.
Pun begitu, saat ditemui di re-launching album Trio Bidadari belum lama ini, Wulan mengaku sempat khawatir saat pertama kali 'dipegang' Pak Ngah. Ia setengah tidak percaya.
"Awalnya iya, karena saya berpikir orang sehebat Pak Ngah kok bisa ke Jambi untuk mencari calon bintang yang bisa melestarikan budaya Melayu, apa nggak salah? Tapi alhamdulillah bersyukur banget dengan sangat bangga dan berharga sekali bisa dikasih kepercayaan membawakan lagu-lagu dari Pak Ngah," katanya.
"Ini suatu anugerah yang luar biasa, Pak Ngah dengan tangan emasnya. Entah mungkin sudah suratan takdir Pak Ngah datangnya ke Jambi memilih orang Jami dari beberapa provinsi di Sumatera," sambung Putri yang ditemui di rumah makan BB Hailam, Tebet Timur, Jakarta Selatan.
Bernada sama, Pipin juga sependapat dengan dua rekannya. Ia merasa sangat senang saat terpilih menjadi anggota Trio Bidadari dari sekian banyak orang. "Karena melihat Pak Ngah yang memperkenalkan lagu Cindai yang dibawakan oleh Siti Nurhaliza. Saya juga ngefans banget dengan Siti Nurhaliza, rasanya mimpi bisa terpilih," ujarnya. (kpl/gum/boo)

Demi suami tercinta, yang orang Betawi, kali ini Iyeth rela untuk tidak pulang kampung. "Kalau lebaran biasanya saya pulang kampung ke Bengkalis, Riau. Sudah 2 tahun berturut-turut saya Lebaran di Bengkalis tapi untuk tahun ini saya musti bergantian karena suami saya orang Betawi. Jadi insya allah tahun ini saya lebaran di Jakarta," ungkap penyanyi ini saat ditemui di Rumah Makan BB Hailam Tebet Timur, Jakarta Selatan, Kamis (17/9).
Tradisi Lebaran di Bengkalis-pun nampaknya tak akan pernah terlupa dari ingatan penyanyi ini. Iyeth selalu terkenang akan suasana Lebaran di sana. "Biasanya tradisi di kampung saya itu Lebaran bisa ramai sampai satu mingguan, kerabat masih saling mengunjungi di bulan syawal itu. Berbeda kalau di Jakarta paling habis sholat Ied bersalaman dengan tetangga trus sudah kalau di kampung itu suasananya lebih terasa," kilahnya.
Sampai saat ini, Iyeth masih berupaya membujuk suaminya supaya bisa merayakan Hari Raya di kampungnya. "Ini masih dalam tahap merayu suami saya, tapi suami saya minta pengertian saya tahun ini Lebaran di Jakarta. Tapi saya tetap minta untuk pulang ke Bengkalis, entah Lebaran kedua atau ke tiga. Saya kangen dan keluarga di sana juga kangen. Mereka bilang 'Iyeth kalau nggak pulang kita nggak jadi lebaran', mereka sering telepon nanyain aku pulang nggak," terangnya. (kpl/gum/erl)

Grup yang digawangi Wulan, Puteri dan Vivin ini berketetapan memilih jalur Melayu dengan harapan dapat membuat anak-anak muda menyukai genre musik ini. "Kita memang ingin fokus di dunia Melayu ini, karena nggak semua anak muda bisa membawakan lagu Melayu apa salahnya melestarikan budaya tersebut," ungkap Wulan.
"Ini jadi satu tantangan buat Bidadari semoga dengan adanya Bidadari anak muda mau membawakan lagu-lagu Melayu lagi, dan pangsa pasarnya sudah mulai melirik ke Melayu lagi," tambah Puteri.
Trio Bidadari merasa optimis akan dapat memasuki pasar musik Indonesia, bahkan mereka berharap dapat di terima pecinta musik di Jawa, Kalimantan dan Sumatera. "Optimis karena kita hidup nggak boleh pesimis selama ada keinginan yang baik insya allah ada jalan," ujar Wulan yang dijumpai di acara Re-launching Album Trio Bidadari, di Rumah Makan BB Hailam Tebet Timur, Jakarta Selatan, Kamis (17/9).
Sebagai pendatang baru, mereka juga mengasah kemampuan bermusik dengan cara belajar dari pengalaman senior mereka di musik Melayu. "Belajar dari pengalaman, kaya lagu Cindai belum merebak isu Melayu tiba-tiba muncul, satu lagu Melayu dimana saat itu lagu pop sedang in. Mudah-mudahan kesuksesan Bidadari ini bisa mengikuti kesuksesan Siti Nurhaliza dan Iyeth Bustami. Dan dengan perbedaan aliran musik ini ada ketertarikan sendiri," terang Puteri. (kpl/gum/erl)

Meski jenis musik Melayu tak begitu banyak diminati, Iyeth tetap optimis untuk mengembangkannya. "Saya punya keyakinan bahwa lagu ini bisa diterima oleh masyarakat, karena orang kita ini sifat ketimurannya masih kental. Cuma suka gengsi dan sok kebarat-baratan. Saya melihat lagu ini punya potensi dan masyarakat pasti bisa mendendangkan lagu ini. Mudah-mudahan dengan Trio Bidadari ini bisa membangkitkan kesenian tradisi dan dangdut yang sedang sepi. Intinya kita tidak boleh pesimis tapi harus optimis," terang penyanyi ini saat ditemui di acara Re-launching Album Trio Bidadari, di Rumah makan BB Hailam Tebet Timur, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).
Iyeth membuat sesuatu yang berbeda dengan grup musik bentukannya, yakni membuat mereka berada di jalur musik Melayu asli, berbeda dengan beberapa band lain dengan genre yang sama. Pembentukan grup ini pun juga sudah direncanakan dengan matang. "Band pop yang sudah ada sekarang ini seperti ST 12 sangat berbeda sekali dengan Trio Bidadari ini, kalau mereka bisa di katakan pop Melayu tapi kalau ini original Melayu dan ini bukan aji mumpung karena sudah di rencanakan matang sekali dari dua tahun yang lalu," kilahnya. (kpl/gum/erl)

Seperti awal dia berkarir, yang bertujuan mengembangkan budaya sendiri, Iyeth kini juga berupaya melakukan yang sama dengan mengembangkan musik Melayu. "Saya termotivasi dari awal saya berkarir sangat besar keinginan saya untuk bisa melestarikan budaya bukan di negara kita saja tapi di dunia juga merupakan sebuah tradisi. Banyak anak muda kita sekarang ini lebih senang dengan budaya barat dari pada dengan budaya sendiri dan terjadi sudah cukup lama," terang penyanyi ini saat ditemui di Rumah makan BB Hailam Tebet Timur, Jakarta Selatan dalam acara Re-launching Album Trio Bidadari, Kamis (17/9).
"Sekarang pun saya belum melihat perubahan yang berarti mala makin mengkhawatirkan. Oleh karena itu saya tetap ingin eksis di jalur seni terutama kesenian tradisi Melayu karena saya sangat cinta dengan budaya melayu," tambahnya.
Tentang hubungan yang memanas antara Indonesia dan Malaysia, Iyeth tidak menjadikan itu persoalan, pasalnya Indonesia dan negeri Jiran ini masih satu rumpun. "Saya beranggapan bahwa Malaysia boleh berseberangan dengan kita tapi tidak boleh kita kotak-kotakan karena kami semua serumpun, baik Indonesia dan Malaysia sama-sama serumpun. Kita semua adalah manusia, kita hamba allah dan itu yang membuat hati saya tertarik tetap pada seni budaya melayu," ungkap pelantun Laksamana Raja di Laut ini.
Dia pun tak menutup diri untuk bekerja dengan musisi Malaysia, seperti pencipta lagu Melayu Pak Ngah. "Yang saya lihat sekarang ini untuk seni Melayu ada satu orang yang sangat punya potensi luar biasa dan menjadi inspirasi saya yaitu pak Ngah (pencipta lagu Laksmana Raja di Laut dan Cindai). Kami tidak menutup diri pada siapa saja yang ingin meningkatkan budayanya baik itu Padang, Jawa, Kalimantan kami siap membantu," tambahnya. (kpl/gum/erl)

Iyethpun rela mengubah nuansa musik Melayu-nya dengan musik pop Melayu. Menurut Iyeth, dirinya sedang mempersiapkan album terbaru dan alasan perubahan ini karena ia ingin musik dangdut bisa bersaing dengan band papan atas yang sekarang bertengger di puncak tangga lagu Indonesia.
"Sedih kalau mengenang masa lalu. Sekarang kebalik banget. Kalau dulu dangdut merajai, anak band gigit jari. Kalau sekarang sebaliknya," ujar Iyeth
"Secara aransemen lagunya ada pembaruan, ya agak pop Melayu gitu. Ya mudah-mudahan kita bisa bersaing lah. Nggak sampai menggeser, tapi bersaing secara sehat, bukti kalau kita masih eksis," sambung pelantun Laksamana Raja di Laut ini saat ditemui di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (24/2).
Hal senada juga diucapkan oleh sang suami Eka. Menurut mantan personel group Gaul ini, di album teranyar Iyeth musik yang diusung tidak pure musik Melayu. "Etnik, indie, style juga beda. Vokal Iyeth beda, nggak pure Melayu. Ada unsur mistisnya tapi bercerita tentang moral, nggak cerita tentang pacaran terus," terang Eka
Demi merealisasikan mimpi Iyeth tersebut, ia berencana membuat video klip dari hit single yang berjudul Danau Raja dengan konsep film. Sementara untuk model klipnya adalah pemain sinetron.
"Pengen bikin album, terus video klipnya konsepnya seperti film, pemain sinetron semua. Lagu dan musiknya kontemporer judul albumnya DANAU RAJA. Banyak ciptaan saya di album itu," pungkas Iyeth. (kpl/buj/boo)

Pelantun lagu Laksamana Raja di Laut ini sempat melewati masa kritis saat melahirkan anak perempuannya tersebut. Iyeth mengaku sempat mengalami kesulitan untuk bernafas saat sedang dilakukan operasi caesar pada dirinya.
"Ini lahiran anak ketiga, lahirnya kemarin jam 8.20 pagi. Anak aku cewek, berat 2,6 kg, panjangnya 47 cm. Prosesnya caesar karena kalau untuk normal saya tidak memungkinkan karena dari anak pertama sudah di-caesar," papar Iyeth.
"Saat saya agak susah napas waktu dioperasi, saya sudah berusaha lewat hidung dan mulut. Sempat mikir mau mati juga," sambung Iyeth saat ditemui di kamar 3310 RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (24/2).
Masa kritis yang dialami oleh Iyeth tersebut rupanya membuat istri Eka ini kapok untuk melahirkan secara caesar, karena melahirkan secara caesar membutuhkan stamina yang prima dan mental yang kuat.
"Kalau ditanya itu sih pasti sangat pengen, tapi kalau ditanya mentalnya aku mikir-mikir, apalagi kalau caesar kita harus kuat mental. Agak kapok sih, tapi gak tahu deh 2 atau 3 tahun lagi, kalau memang dikasih lagi," pungkasnya. (kpl/buj/bun)