< >

BLOG JADUK FERIANTO


Lockstock Fest, Indikator Musikalitas Jogja Yang Valid

Kapanlagi.com - Meski sempat sedikit tertunda, namun opening ceremony Locstock Fest (Local Stock Music Festival), yang merupakan event musik annual dalam wujud festival yang dikemas akbar dan mencapai gaung yang luas, tetap berjalan lancar di bawah guyuran hujan. Sesuai rencana, Walikota Jogja, Bapak H Heri Zudiyanto tampil membuka festival musik terbesar yang pernah diadakan di Jogja ini dengan puisi rap tulisannya sendiri. Diiringi musik dari Kua Etnika dan Jaduk Ferianto, Heri Zudiyanto terlihat sangat bersemangat nge-rap dengan gaya yang tidak kalah dibandingkan rapper asli. Saat MC menggoda Pak Wali untuk memiringkan topinya agar terlihat lebih hip-hop, tanpa segan-segan ia segera memiringkan topi yang dipakainya.

Mungkin ini hanya sebuah hal kecil, namun hal kecil ini dapat memberi motivasi bagi seluruh penggiat seni di Jogja khususnya musik dan pertunjukan. Bagaimana tidak, pemimpinnya tanpa malu dan gengsi ikut bergabung bersama penggiat musik dari Jogja di atas panggung. Apalagi dengan syair yang pada intinya bicara tentang Jogja sebagai sebuah kota di mana seni budaya tumbuh dan berkembang, sebuah arena bagi siapa saja yang ada di dalamnya. Sesuai dengan konteks ke-Jogja-an yang juga diangkat dalam Locstock Fest.

Pada kesempatan yang sama, Pak Wali, masih bersama Jaduk Ferianto, juga Ifan dari Seventeen, dan segenap hadirin menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dengan khidmat. Dilanjutkan dengan acara melepaskan balon ke udara secara serempak, sebagai simbol akan harapan terhadap musik Jogja yang membumbung tinggi. Acara pelepasan balon secara bersama-sama ini sekaligus pula menandai dibukanya Sprite Sensasi Plong Locstock Fest 2009, Yogyakarta Biggest Annual Music Exhibition: Harmonic Integration.

Pada hari pertama yang digelar tiga hari berturut-turut, Jumat (13/11), suasana Stadion Kridosono memang masih terasa agak sepi. Namun demikian hal ini sama sekali tidak mengurangi kemeriahan Locstock Fest. Tiga panggung dengan sound yang terbukti tidak saling bertabrakan, booth-booth komunitas yang menarik, serta fasilitas-fasilitas lain yang tersedia di sini menjamin kenyamanan para pengunjung yang datang.

Sabtu (14/11) kemarin, Locstock semakin lengkap lagi dengan adanya workshop Survival Guide in National Music Industry bersama Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia), Andy 'Memet' Zulfan (Senior Band Manajer), Wok The Rock (Yes No Wave Net Label). Workshop menarik ini terbuka untuk umum, dan tidak menarik biaya apapun selain dari tiket masuk seharga Rp6.000 dengan bonus 1 cup Sprite. Hingga berakhir pada Minggu (15/11), Lockstock Fest terbilang sukses besar.

Perhelatan akbar ini menampilkan lebih dari 100 band/kelompok/musisi Jogja dari berbagai macam genre, label (major label, indie label), dan pilihan jalur dalam hidup bermusik, dengan dikurasi oleh sejumlah pengamat, penikmat, dan pelaku musik yang hidup dalam ranah musik Jogja itu sendiri. Sebagai sebuah program tahunan yang merangkum berbagai bentuk potensi musik di Jogja tersebut, maka tentu saja Locstock Fest dapat menjadi indikator perkembangan dan apresiasi musik Jogja yang valid.

Diharapkan juga, Locstock Fest dapat memberikan kontribusi nyata bagi semua pihak. Bagi para musisi, Locstock Fest bisa menjadi ajang gathering guna merumuskan formula yang tepat untuk menjadi musisi yang berkarakter dan menemukan strategi yang jelas untuk mempresentasikan produk/karyanya, juga bagi semua komponen yang selama ini ikut menggerakkan kehidupan musik Jogja agar bisa berkembang dan saling menyejahterakan.  (kpl/prl/boo)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Seventeen, Ifan Seventeen
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Senin, 16-11-2009 |

Shaggy Dog Goyang Australia

Kapanlagi.com - Meski sempat sedikit tertunda, namun opening ceremony Locstock Fest (Local Stock Music Festival), yang merupakan event musik annual dalam wujud festival yang dikemas akbar dan mencapai gaung yang luas, tetap berjalan lancar di bawah guyuran hujan. Sesuai rencana, Walikota Jogja, Bapak H Heri Zudiyanto tampil membuka festival musik terbesar yang pernah diadakan di Jogja ini dengan puisi rap tulisannya sendiri. Diiringi musik dari Kua Etnika dan Jaduk Ferianto, Heri Zudiyanto terlihat sangat bersemangat nge-rap dengan gaya yang tidak kalah dibandingkan rapper asli. Saat MC menggoda Pak Wali untuk memiringkan topinya agar terlihat lebih hip-hop, tanpa segan-segan ia segera memiringkan topi yang dipakainya.

Mungkin ini hanya sebuah hal kecil, namun hal kecil ini dapat memberi motivasi bagi seluruh penggiat seni di Jogja khususnya musik dan pertunjukan. Bagaimana tidak, pemimpinnya tanpa malu dan gengsi ikut bergabung bersama penggiat musik dari Jogja di atas panggung. Apalagi dengan syair yang pada intinya bicara tentang Jogja sebagai sebuah kota di mana seni budaya tumbuh dan berkembang, sebuah arena bagi siapa saja yang ada di dalamnya. Sesuai dengan konteks ke-Jogja-an yang juga diangkat dalam Locstock Fest.

Pada kesempatan yang sama, Pak Wali, masih bersama Jaduk Ferianto, juga Ifan dari Seventeen, dan segenap hadirin menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dengan khidmat. Dilanjutkan dengan acara melepaskan balon ke udara secara serempak, sebagai simbol akan harapan terhadap musik Jogja yang membumbung tinggi. Acara pelepasan balon secara bersama-sama ini sekaligus pula menandai dibukanya Sprite Sensasi Plong Locstock Fest 2009, Yogyakarta Biggest Annual Music Exhibition: Harmonic Integration.

Pada hari pertama yang digelar tiga hari berturut-turut, Jumat (13/11), suasana Stadion Kridosono memang masih terasa agak sepi. Namun demikian hal ini sama sekali tidak mengurangi kemeriahan Locstock Fest. Tiga panggung dengan sound yang terbukti tidak saling bertabrakan, booth-booth komunitas yang menarik, serta fasilitas-fasilitas lain yang tersedia di sini menjamin kenyamanan para pengunjung yang datang.

Sabtu (14/11) kemarin, Locstock semakin lengkap lagi dengan adanya workshop Survival Guide in National Music Industry bersama Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia), Andy 'Memet' Zulfan (Senior Band Manajer), Wok The Rock (Yes No Wave Net Label). Workshop menarik ini terbuka untuk umum, dan tidak menarik biaya apapun selain dari tiket masuk seharga Rp6.000 dengan bonus 1 cup Sprite. Hingga berakhir pada Minggu (15/11), Lockstock Fest terbilang sukses besar.

Perhelatan akbar ini menampilkan lebih dari 100 band/kelompok/musisi Jogja dari berbagai macam genre, label (major label, indie label), dan pilihan jalur dalam hidup bermusik, dengan dikurasi oleh sejumlah pengamat, penikmat, dan pelaku musik yang hidup dalam ranah musik Jogja itu sendiri. Sebagai sebuah program tahunan yang merangkum berbagai bentuk potensi musik di Jogja tersebut, maka tentu saja Locstock Fest dapat menjadi indikator perkembangan dan apresiasi musik Jogja yang valid.

Diharapkan juga, Locstock Fest dapat memberikan kontribusi nyata bagi semua pihak. Bagi para musisi, Locstock Fest bisa menjadi ajang gathering guna merumuskan formula yang tepat untuk menjadi musisi yang berkarakter dan menemukan strategi yang jelas untuk mempresentasikan produk/karyanya, juga bagi semua komponen yang selama ini ikut menggerakkan kehidupan musik Jogja agar bisa berkembang dan saling menyejahterakan.  (kpl/prl/boo)


Lihat profil: Jaduk Ferianto
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Senin, 31-08-2009 |

Jaduk Ferianto Keliling Desa Demi Musik Jazz

Kapanlagi.com - Demi menghilangkan kesan eksklusif yang melekat pada musik jazz, musisi eksentrik Jaduk Ferianto rupanya rela untuk menggelar pentas keliling dari satu desa ke desa yang lainnya di Yogyakarta. Gelaran itu ia beri nama Ngayogjazz.

"Seluruh masyarakat boleh nonton dan gratis," ujar seniman yang juga putra dari koreografer dan pelukis senior Bagong Kussudiardja itu, menegaskan tujuan dari event yang sudah digelar sejak 3 tahun silam tersebut.

Menurut dia, meskipun musik jazz berasal dari barat, namun sebenarnya musik jazz bersifat terbuka dan mampu dikolaborasikan dengan berbagai jenis musik. Termasuk musik-musik etnik yang bersifat khas di setiap daerah.

"Bahkan, pernah ada musisi jazz barat yang mengolaborasikan musik jazz dengan permainan tabula dari India, dan ternyata menghasilkan paduan musik yang cukup apik," lanjutnya.

Sementara, Jaduk sendiri lebih memilih mengolaborasikan musik jazz dengan berbagai musik etnik dari beberapa daerah di Indonesia. Seperti Jawa dan Bali, ditambah dengan ornamen permainan tradisional yang menghasilkan bunyi-bunyian unik, misalnya pistol kayu dan benang layang-layang.

"Saya tidak menamakan jenis musik yang saya bawakan bersama Kua Etnika tersebut. Semuanya mengalir dan biarlah masyarakat yang menentukan suka atau tidak," tegasnya.

Menurut dia, musik jazz adalah musik unik yang menggambarkan cerminan kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam kehidupan satu keluarga yang terdiri dari sosok dengan berbagai karakter berbeda, dan bisa berbaur menjadi satu.

"Meskipun berbeda, namun apabila perbedaan-perbedaan yang dimiliki itu dikelola dengan baik, akan menghasilkan keharmonisan. Seperti musik jazz yang bisa dipadukan dengan berbagai jenis musik yang bersifat plural," tandas pria berusia 45 tahun tersebut.   (kpl/bar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto
Komentar : 2 komentar
Diposting oleh: Editor | Kamis, 20-08-2009 |

Jaduk Ferianto, Jazz Bisa Dinikmati Semua Kalangan

Kapanlagi.com - Musik jazz memang identik dengan musik 'kalangan atas', namun bagi musisi jazz nyentrik asal Yogyakarta, Jaduk Ferianto, jazz merupakan musik yang dinikmati semua kalangan, dan tidak bersifat eksklusif untuk satu kalangan masyarakat tertentu.

"Musik jazz memang berasal dari barat (luar negeri, red), namun tidak harus berorientasi dengan kebudayaan barat. Atau segala sesuatu yang berbau barat," katanya kala dijumpai di Semarang, Rabu (19/8).

Menurut dia, pembagian genre musik hingga jazz terkesan hanya dapat dinikmati kalangan tertentu dipengaruhi iklim budaya pop yang tengah melanda Indonesia, akhirnya genre musik menjadi terkotak-kotak.

"Sebenarnya, para musisi yang tampil tidak pernah mengkotak-kotakkan aliran yang dibawakannya, namun justru industri musik yang mengklasifikasikannya ke dalam berbagai jenis aliran musik untuk kepentingan pasar," terangnya.

Ia mengatakan, musik jazz bagi masyarakat Barat juga tidak dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif, dan justru hanya dianggap sebagai kesenian rakyat biasa seperti kesenian-kesenian lain di tanah air.

"Justru bangsa kita yang menganggap musik jazz sebagai sesuatu yang wah, karena pengaruh budaya pop dan selalu menganggap jazz sebagai western minded," pungkas adik seniman serba bisa, Butet Kertaredjasa tersebut.  (kpl/bar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa
Komentar : 0 komentar
Diposting oleh: Editor | Rabu, 19-08-2009 |

Terganjal Visa, Butet Kertaredjasa Batal Manggung di Ceko

Kapanlagi.com - Butet Kertaredjasa, seniman kenamaan yang tergabung dalam rombongan Kua Etnika, gagal tampil terkait masalah visa di panggung pertunjukan di Kota Klatovy dan Praha, Ceko.

Tidak hanya Butet, namun rombongan yang dikomandani Jaduk Ferianto sebanyak 22 orang, antara lain terdiri atas Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno dan Trie Utami, juga gagal pentas di kota tersebut.

Jaduk Ferianto dan rombongan sedianya tampil dalam pertunjukan yang digelar dari tanggal 9 hingga 14 Juli. Namun, hingga hari ini tidak semua peserta mendapatkan visa schengen yang mereka minta dari Kedutaan Besar Austria di Jakarta.

Sekretaris I Pensosbudpar KBRI Praha, Azis Nurwahyudi kepada koresponden Antara London, Minggu (12/7) mengatakan, pengambilan visa schengen ini dilakukan di Kedubes Austria karena rombongan Kua Etnika tampil di Festival Jazz di Kota Wina, Austria pada tanggal 7-8 Juli lalu.

Menurut Azis Nurwahyudi, karena pada saat keberangkatan visa schengen belum keluar, Kedutaan Austria di Jakarta akhirnya hanya mengeluarkan visa Austria dengan harapan visa Ceko bisa diperoleh di Wina.

Pihak KBRI Praha dan KBRI Wina berupaya semaksimal mungkin membantu mereka mendapatkan visa masuk ke Ceko, namun upaya tersebut sampai saat-saat terakhir tidak berhasil karena masalah aturan pengambilan visa lokal masuk ke Ceko juga harus diambil dari Jakarta, tidak bisa dari Kedubes Ceko di Wina, Austria.

Sedianya Kua Etnika akan tampil pada acara Folklore di Kota Klatovy pada 9-12 Juli 2009 dengan menyuguhkan monolog Butet Kertaredjasa, Nano dan Ratna Riantiarno. Selanjutnya pada 13 Juli 2009 di KBRI Praha dan pementasan di City Library Hall Praha pada 14 Juli 2009.

Kehadiran rombongan Kua Etnika ke Eropa disponsori Teh Hitam Mind Tea yang sedianya juga melakukan promosi di Ceko pada 13 Juli 2009, namun karena tidak dapat masuk ke Ceko, maka penampilan mereka akan diupayakan sampai maksimal di Austria, demikian kata Azis Nurwahyudi.  (kpl/riz)


Lihat profil: Butet Kertaredjasa, Jaduk Ferianto, Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, Trie Utami
Komentar : 1 komentar
Diposting oleh: Editor | Minggu, 12-07-2009 |

Tamansiswa, Pencetak Seniman Besar Tanah Air

Kapanlagi.com - Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto mengatakan sampai saat ini, Tamansiswa masih memberikan mata pelajaran budi pekerti kepada siswa sekolah di lingkungan Tamansiswa, untuk membentuk karakter bulatnya jiwa manusia.

Dalam sambutannya pada acara refleksi dan gelar prestasi seni peringatan 87 tahun Tamansiswa di Yogyakarta, Kamis (2/7) malam, ia mengatakan orang yang memiliki kecerdasan budi pekerti senantiasa memikirkan, merasakan dan memakai ukuran, timbangan serta dasar yang pasti dan tetap.

"Itu semua menuju adab kemanusiaan, yang berarti keluhuran dan kehalusan budi pekerti manusia," katanya.

Ia mengatakan, Tamansiswa juga memberikan pelajaran kesenian dengan norma estetika serta etika, yang sangat membantu memperhalus budi pekerti dan mempertajam kecerdasan batin.

"Pelajaran kesenian dalam sistem among sering menggunakan metode dolanan agar peserta didik dapat lebih menghayati pelajaran," katanya.

Sebab, menurut dia, sejak lahir Tamansiswa dikenal sebagai pencetak seniman besar di tanah air, di antaranya Sudjojono, Abas Ali Basa, Tino Sidin, Bagong Kusudihardjo, Wisnu Wardhana, Benyamin, Ateng, Kusno Sudjawardi, Butet Kertaredjasa serta Jaduk Ferianto.

Sementara itu, acara refleksi ini dimeriahkan dengan pergelaran tari Bali, dolanan anak Soyang, geguritan, musik klasik serta teater yang seluruhnya dimainkan sejumlah siswa, maupun mahasiswa perguruan tinggi di lingkungan Tamansiswa. (kpl/bar)


Lihat profil: Jaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa
Komentar : 2 komentar
Diposting oleh: Editor | Jumat, 03-07-2009 |

«1»

LIHAT ARSIP BERITA JADUK FERIANTO TAHUN 2008
LIHAT ARSIP BERITA JADUK FERIANTO TAHUN 2007
LIHAT ARSIP BERITA JADUK FERIANTO TAHUN 2006
LIHAT ARSIP BERITA JADUK FERIANTO TAHUN 2005
LIHAT ARSIP BERITA JADUK FERIANTO TAHUN 2004