KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
Jarwo sendiri mengaku tidak akan melepaskan karakter yang sudah sekian tahun diperaninya itu, walau pun banyak orang yang menyarankan untuk memerankan Wapres terpilih sekarang, Boediono. Apalagi secara fisik dirinya juga tidak beda jauh dengan pasangan baru Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.
"Banyak masyarakat yang mendesak lewat Facebook, ‘sudah!, dari segi fisik kan pak Jarwo itu sama dengan Pak Boediono, wajahnya juga nggak jauh amat, tinggal kumisnya saja dihilangin. Terus ganti dari dialek Makassar ke Jawa," ungkap mengutip.
"Saya pun bisa. Sebagai aktor saya harus bisa melakukan itu. Tapi, keterikatan batin saya itu sudah ke Pak Jusuf Kalla. Tetap, jadi saya tidak bisa mengikuti saran (jadi Boediono, red) itu," tambahnya saat ditemui usai syuting di studio TV One, Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (3/10).
Bagi Jarwo bukan sekedar memerankan tokoh, namun secara karakter sudah masuk dalam kehidupannya. "Itu rasa hormat saya kepada Pak Jusuf Kalla. Kalau hanya untuk mengejar materi memang bisa, tapi saya nggak mau," tegasnya. (kpl/adt/dar)

"Perasaan pak Jusuf Kalla kalah kemarin itu sedih juga, di samping sedih karena tidak terpilih, saya juga sedih sama diri sendiri nggak menjabat wakil presiden lagi," katanya sambil tertawa lebar.
"Tapi itulah hidup kan, kapan saat kita di atas, kapan saat kita di bawah. Dalam arti, kalau rezeki insya Allah tetap di atas, kan. Tapi sebuah jabatan saja. Yang penting masyarakat bisa menerima pesan-pesan yang positif dari kita," tambahnya dengan mimik serius.
Namun Jarwo Kwat tetap memerankan tokoh Jusuf Kalla, hanya saja dia tidak lagi menjabat sebagai seorang Wapres, sebagaimana aslinya. JK akan balik menjadi pengusaha yang tetap kritis dan kaya akan banyolan.
"Kalau pak Jusuf Kalla kan berbisnis, nah saya juga tetap menjadi pengusaha juga, pengusaha tawa. Maksudnya, toh walaupun nanti pak Jusuf Kalla sudah tidak lagi menjabat dan menjadi tokoh bangsa, saya juga di NEGERI IMPIAN otomatis seperti itu juga, bergabung dengan Gus Pur, Ibu Mega, Pak Habudi, jadi mantan di situ," terangnya.
Dirinya bersama NEGERI IMPIAN akan tetap mengkritisi apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang. Jadi Jarwo Kwat tetap bermain, dan memberi pesan moral.
"Karakter dia (JK) sangat kuat. Seperti halnya Gus Dur, ibu Mega, walaupun sudah tidak menjabat, itu tetap dikenang masyarakat. Sesuatu yang kuat karakternya tetap dikenang masyarakat," pungkasnya. (kpl/adt/dar)

"Kalau bertemu sekitar lima atau enam kali. Kalau secara resmi itu sekali di istana wakil presiden, kita diundang di sana, syuting di sana, ulang tahun REPUBLIK MIMPI waktu itu. Ketemu, berjabat tangan, begitu," terangnya.
Bagi Jarwo yang ditemui usai syuting di studio TV One, Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (3/10) itu, pertemuannya dengan Jusuf Kalla menjadi pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
"Memori yang sangat indah, bagaimana seorang Jarwo Kwat yang tidak ada apa-apanya bertemu dengan seorang tokoh bangsa yang sangat saya kagumi dengan ketegasan dan kecepatannya bertindak," terangnya.
Hal ini juga yang membuat pria berkaca mata ini tidak akan meninggalkan perannya sebagai seorang Yusuf Kalla, meski dirinya sibuk menjadi komedian, dan memerankan tokoh lain. (kpl/adt/dar)

"Perasaannya waktu itu masih nervous, ya karena menirukan atau menyampaikan pemikiran dari pejabat. Bagaimana cara bicara, logatnya juga bagaimana. Setelah lewat tiga episode ke sananya sudah dikasih kebebasan sedikit-sedikit alhamdulillah lancar. Jadi semuanya berkembang begitu saja di lapangan," jelas Jarwo saat ditemui usai syuting di studio TV One, kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (3/10).
Pria berkacamata ini pertama kali memerankan duplikat Jusuf Kalla, saat mengikuti audisi pada November 2007 di Metro TV. Saat untuk kebutuhan program REPUBLIK MIMPI yang dimotori pakar komunikasi Effendi Ghozali. "Saya jadi wakil presiden di situ, diajak ke sana, dites, dan lolos," tegasnya.
Episode demi episode yang ditayangkan Metro TV secara berangsur mengenalkan Jarwo Kwat sebagai tokoh parodi Yusuf Kalla. Bersamaan dengan itu, pemeran Pak Jalal dalam sinetron PARA PENCARI TUHAN semakin percaya diri, terutama setelah episode kelima.
"Sejak masyarakat tahu saya jadi wakil presiden. Mungkin episode episode awal belum ya. Tapi setelah lima episode ke atas lah, masyarakat mulai tahu, saya merasa nyaman dan merasa jadi wakil presiden beneran, ya sudah kepercayaan diri tumbuh dengan sendirinya, begitu," terangnya. (kpl/adt/dar)

"Sekarang berat badannya memang berkurang drastis. Sedih banget kalau melihatnya, dulu segar bugar dan itu modal dia buat cari uang. Sekarang dia membutuhkan bantuan yang cukup banyak," kata pelawak Jarwo Kwat saat ditemui di Jalan Kampung Melayu Kecil II, Jakarta Timur, Senin (18/5).
Jarwo pun bercerita soal pengalamanya saat melawak bersama Rini. Katanya, meski terbilang sangat dekat dirinya pun tak sungkan-sungkan untuk menyindir Rini. "Kita kan sering banget jadi pasangan suami istri. Saya juga sering ngeledekin dia, tapi anehnya dia nggak pernah tersinggung, karena tahu ini semua adalah bercanda," kata Jarwo.
Jarwo juga mengenang saat terakhir bertemu dengan Rini di rumahnya saat dalam kondisi sakit. Kala itu, Rini menangis namun tak pernah menyesali apa yang terjadi dengannya. "Saya bilang ini semua hanya cobaan," ujarnya.
Perkenalan Jarwo dan Rini juga sudah cukup lama dirasakan. Menurut Jarwo, dirinya mengenal Rini sejak tahun 1988. "Saya anggap dia sudah seperti saudara," ujar Jarwo lagi. (kpl/mai/erl)

Jika tidak dipotong, luka tersebut bisa ke bagian atas pangkal pahanya. Namun, Rini menolak vonis dokter itu. Dirinya tidak mau kakinya dipotong.
"Dia bilang nggak mau dipotong. Bukan karena takut, tapi dia menganggap dia dulu lahir dengan utuh dan jika dipanggil, mau kembali dengan utuh juga. Sekarang mau bagaimana lagi, semoga Rini bisa sadar dengan keputusan ini," kata sahabat dekat Rini, pelawak Jarwo Kwat saat ditemui di Jalan Kampung Melayu Kecil II, Jakarta Timur, Senin (18/5).
Kesembuhan memang seperti sangat sulit didapat Rini yang memang sudah kronis. Penyakit yang bermula dari luka kecil biasa, kini sudah semakin parah dengan menjadi luka yang membesar.
"Dokter sudah menyatakan seperti itu. Sekarang kita tinggal menunggu mukzizat dari Allah saja untuk kesembuhannya secara total. Dan tugas kita sebagai teman adalah dengan memberikan motivasi semoga Rini bisa tabah dengan apa yang dirasakannya," kata Jarwo.
Dalam wawancara itu, Jarwo juga meminta bantuan doa dan partisipasi masyarakat untuk kesembuhan Rini. "Saya sebagai teman, pelawak dan katakanlah rakyat Indonesia meminta supportnya untuk kesembuhan Rini. Semoga dia bisa bersama kita lagi," katanya. (kpl/mai/dar)

Segala daya dan upaya pun dilakukan untuk menolong bintang akting komedian, yang terkenal berperan di sinetron SARAS 008 itu. Termasuk pembayaran biaya pengobatan yang konon sebesar Rp3 juta per hari.
"Saat di rumah sakit, Rini sempat mengalami koma. Segala cara dilakukan keluarga untuk menyembuhkan Rini, termasuk menjual mobil. Bayangkan saja biaya pengobatannya mencapai Rp3 juta sehari, dan masih banyak lagi harta yang terkuras," kata salah satu sahabat Rini, Jarwo Kwat saat ditemui di Jalan Kampung Melayu Kecil II, Jakarta Timur, Senin (18/5).
Meski sakit, sebelumnya Rini hanya dirawat di kediamannya, namun bukannya membaik, kondisinya semakin memprihatinkan. Kaki kanannya yang awalnya memang sudah luka tidak lagi mampu disembuhkan.
"Tiga bulan yang lalu saya ke rumah dia bersama Oppie Kumis. Kondisi kaki kanannya memang parah. Waktu itu sih dia bilang penyakit gula. Saat itu, dia masih bisa bercanda sama kita. Masih bisa ketawa. Meski sakit dia tidak mau kelihatan seperti orang yang sakit. Mungkin karena sifatnya yang sudah ceria barangkali, jadi nggak kelihatan sedihnya," kata pria yang akrab disapa Wapres JK ini. (kpl/mai/dar)