KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Enggak iri. Saya percaya hidup saya sudah diatur sama Tuhan. Mungkin ada yang lebih baik," ujarnya santai.
Sebagai aktris yang sudah kenyang asam garam dunia perfilman, Rima lantas menuturkan jika kapasitas seorang Christine Hakim tak perlu diragukan lagi.
"She's a good actress. Saya yakin Christine bisa main dengan baik di film itu," tuturnya.
Ditemui di acara jumpa pers 34 Tahun Ramli Berkarya di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (24/11) siang, perempuan asal Sulawesi itu kemudian menceritakan kronologis batalnya ia beradu akting dengan Julia Roberts.
"Tadinya saya berperan sebagai istri dukun, tapi akhirnya peran itu diambil sama orang Bali. Saya percaya karena logat mereka lebih bagus," tegasnya tanpa beban. (kpl/adt/bar)

"Casting pertama ikut bulan Juni atau Juli 2009. Lantas via telepon dikabarin nggak bisa main film sama kru film sana," ungkapnya.
Selanjutnya, Rima pun terkesan tanpa beban menerima kenyataan bahwa dirinya urung untuk bermain dalam film yang diprediksikan bakalan menyedot banyak perhatian publik itu.
"I don't care about that job, karena lebih pilih Balinesse woman," lanjutnya santai.
Ditemui di acara jumpa pers 34 Tahun Ramli Berkarya di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (24/11) siang, perempuan asal Sulawesi itu lantas mengutarakan pendapatnya soal pemilihan wanita asli Bali untuk menggantikan perannya.
"Aku pikir lucu juga pakai orang Bali beneran, dengan daun sirih asli di giginya," tandasnya. (kpl/adt/bar)

"Julia Roberts yang banyak tak hafal naskah dan banyak improvisasinya. Inilah yang membuat saya bingung, karena yang saya hafalkan juga kata terakhir dari naskahnya Julia baru bisa masuk ke dialog saya," kata Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut Liyer dalam film EPL di Denpasar, Senin (16/11).
Meskipun demikian, suami dari Sumirahayu yang memerankan tokoh dukun sekaligus guru spiritual Julia Roberts dalam film tersebut, tak banyak mengalami hambatan ketika melakukan dialog bersama bintang PRETTY WOMAN itu.
"Wah, kamu mainnya bagus sekali dan justru saya bingung karena kalau saya yang memerankan itu belum tentu bisa sebagus itu," kata Hadi menirukan ucapan Liyer.
Ia mengemukakan, adegan yang diulang tak hanya karena pemain atau karena mereka lupa naskah, tetapi seringkali juga karena adanya angin yang kencang sehingga sutradara memotong adegan.
Meskipun tak ada kesulitan, Hadi harus kerja keras untuk menghafalkan naskah dalam bahasa Inggris dengan bahasa ala Liyer yang tidak baku.
"Saya sebenarnya tidak enak mengucapkannya karena bahasa Inggris Liyer tidak baku. Sutradara juga memperbolehkan saya untuk melakukan improvisasi, tapi saya yang tidak mau," ungkap dia. (ant/bar)

"Julia Roberts itu sangat familiar. Dia beberapa kali membantu saya ketika saya merasakan kepanasan atau kelelahan seusai menjalani rangkaian syuting," kata Hadi saat ditemui di Bali, Minggu (15/11).
Seringkali, katanya, Julia Roberts tiba-tiba mendekat ke Hadi dan tanpa canggung langsung memijit punggung kakek tiga cucu itu, saat melihat lawan mainnya itu memijit-mijit badannya sendiri.
Julia terkadang juga mengipasi atau menyuruh orang untuk mengambilkan kipas angin ketika melihat Hadi kepanasan.
"Wah, jangankan membayangkan, untuk bermimpi bertemu Julia Roberts saja sama sekali tidak pernah ada," kata Hadi terkekeh dan memperlihatkan tiga gigi yang tersisa, satu di bagian atas dan dua di bawah.
Hadi mengaku sangat senang bisa lebih dekat sosok bintang Hollywood itu. Selain itu, Hadi juga mengaku bertemu dengan Ketut Liyer dan melakukan pendalaman terhadap karakter dari tokoh si dukun, tentang cara berjalan, berbicara, meramal dan mengobati. Dia menilai tokoh Liyer adalah orang yang menyenangkan.
Hadi Subiyanto pekerjaan sehari-harinya sebagai 'pengamen' yang mengisi acara kesenian bermain suling di Hotel Darmawangsa, Jakarta.
Tim penyeleksi pencari tokoh Ketut Liyer ini bertemu Hadi secara tidak sengaja ketika mereka menginap di hotel tempat Hadi bekerja. Salah seorang dari mereka melihat sosok pria yang selama ini dicari untuk memerankan tokoh dukun.
Mereka mencari seorang pria tua, usia 65 tahun, dengan gigi ompong, dan dapat berbahasa Inggris. Setelah dilakukan serangkaian audisi, akhirnya Hadi terpilih menjadi tokoh sentral untuk bermain bersama sang 'Pretty Woman' itu.
"Kalau dibilang kaget ya pastilah karena sebelumnya saya tidak pernah bermain film," pungkas Hadi. (ant/dar)

Wacik yang datang ditemani anak serta istrinya ini mengaku datang karena diundang kru film. Hotmangaradja Panjaitan juga hadir bersama istri. Terlihat juga Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Sukawati.
Di tempat inilah pertama kalinya artis yang melejit lewat film PRETTY WOMAN ini menjalani sejumlah pengambilan gambar perdana di Bali pada 15 Oktober 2009.
Dalam perbincangan dengan kru film, Wacik menawarkan sejumlah lokasi di Indonesia yang sangat cocok dengan film-film garapan luar negeri, seperti di Lombok. Sebuah padang yang luas sangat cocok jika ada yang ingin membuat film bertema koboi.
Meskipun sempat terjadi pro-kontra, namun secara keseluruhan, seluruh kru film yang bertugas mengaku senang dan puas dapat melakukan pengambil gambar di Indonesia, khususnya Bali.
"Saya sudah menawarkan kepada mereka untuk di film berikutnya dapat mengambil lokasi di tempat lain. Mereka memang berencana akan membuat dua sampai tiga film lagi dengan setting di Indonesia," kata Wacik.
Melalui film ini, dia berharap nantinya Indonesia dapat dikenal di dunia sekaligus sebagai bentuk dari promosi pariwisata melalui film. Dengan orang melihat film ini maka nantinya akan banyak lagi wisatawan yang berkunjung.
Julia mengakhiri pengambilan gambar di Bali, Sabtu setelah hampir satu bulan menghabiskan waktunya di Bali. Namun belum diperoleh informasi pasti, apakah dia akan langsung kembali ke negaranya atau akan tinggal di Bali untuk berlibur.
Disinggung soal rencana mempertemukan Julia Roberts dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wacik menjelaskan bahwa hal itu belum memungkinkan karena padatnya jadwal Presiden yang harus menghadiri acara APEC di Singapura, sehingga sangat sulit mencari waktu luang.
Meskipun dapat melihat Julia Roberts dari jarak dekat, namun rombongan ini tidak bisa mengabadikan momen tersebut dengan foto bersama. Juru bicara film EPL, Rachael mengingatkan agar tidak membawa kamera atau ponsel berkamera.
"Mohon maaf jika dalam kesempatan ini tidak dapat diabadikan atau memotret apapun selama berada di lokasi," kata Rachael. (ant/dar)

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Sedawa di Denpasar, Kamis (12/11) menyatakan bahwa Ketut Liyer mengingatkan Hadi Subiyanto, pemeran tokoh dukun tersebut agar lebih menghayati dan menjiwai bagaimana seharusnya perilaku seorang dukun.
"Menurut Liyer, secara keseluruhan sudah cukup bagus karena Hadi Subiyanto bukan kali ini saja terjun ke dunia peran. Sebelumnya, pegawai hotel di Jakarta ini juga pernah terlibat dalam dunia teater dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus," ujarnya.
Saat ini pengambilan gambar dilakukan di rumah Ketut Liyer di Banjar Pengosekan, Desa Penestanan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
"Proses pembuatan film itu kini sudah masuk pada dialog inti antara Julia Roberts yang berperan sebagai Elizabeth Gilbert dengan guru spiritualnya yang disaksikan dukun asli," lanjutnya.
Liyer sendiri tak mau terlibat dalam film produksi Hollywood itu karena menderita kencing batu, dan tak boleh terlalu lelah di usianya yang lebih dari 90 tahun. Padahal produser film itu telah bersedia membayar mahal jika Liyer bersedia menjalankan perannya. (ant/bar)

"Mereka mengatakan Bali sebagai 'natural Hollywood' yang terbuka dan alami. Hal yang unik banyak ditemukan di ruang terbuka di Bali dan bukan di sebuah studio yang sengaja dibuat sesuai selera sutradara," kata Bendesa Adat Ubud, Kabupaten Gianyar, Tjokorda Raka Kerthiasa, saat dihubungi ANTARA dari Denpasar, Selasa (10/11).
Pria yang akrab disapa Cok Ibah ini mengatakan, kepuasan tim film ini diharapkan akan semakin banyak produser yang melirik Bali untuk lokasi pengambilan gambar film Hollywood lainnya.
Karena itu, katanya, hal ini menjadi tantangan bagi Bali agar bisa menyiapkan strategi guna mengantisipasi kedatangan pelaku bisnis maupun wisatawan yang datang ke Bali setelah film EPL ini diluncurkan.
Film ini sendiri akan mengakhiri pengambilan di Bali pada 14 November mendatang. Cok Ibah belum dapat memastikan apakah seluruh tim film ini akan langsung kembali ke negaranya untuk melakukan sejumlah evaluasi terkait pelaksanaan pengambilan gambarnya di Bali atau akan memperpanjang masa tinggal dengan mengambil jadwal liburan selama beberapa hari.
"Belum ada pembicaraan lebih lanjut terkait hal ini. Kemungkinan mereka akan kembali untuk memastikan editan gambar serta suaranya sampai menghasilkan tayangan yang sempurna," ujar pria yang juga seorang tokoh Puri Ubud ini.
Jika nantinya dirasakan ada yang kurang dan perlu penambahan, menurut Cok Ibah, bukan tidak mungkin mereka akan kembali lagi untuk melengkapi kekurangannya.
Dia mengakui, tim film ini sempat kaget ketika di hari pertama mendapat pertentangan dari masyarakat di Banjar Bentuyung ketika melakukan pengambilan gambar perdana, 15 Oktober lalu. Masyarakat pun juga sama.
Mereka dibuat kaget karena peralatan yang didatangkan untuk pengambilan gambar itu seperti pertunjukan sirkus karena melibatkan berbagai kendaraan berat. Ia mengaku wajar karena ini pertama kalinya desa mereka sebagai lokasi pengambilan gambar film Hollywood yang dibintangi artis terkenal.
"Setelah kami jelaskan dari berbagai sudut pandang, akhirnya mereka mengerti bahwa nantinya film ini akan membawa dampak Bali ke arah yang positif dalam hal promosi ke dunia luar," katanya.
Mengenai batalnya pengambilan gambar di dua lokasi, yaitu Monkey Forest dan Jembatan Gantung Campuhan, Cok Ibah mengatakan, semuanya itu hanya persoalan teknis.
Monkey Forest dibatalkan karena persoalan pencahayaan yang tidak memenuhi standar, sementara di jembatan karena lokasinya yang terlalu curam. Alasan lainnya, kemungkinan karena lokasi dan keamanan fisik dari sang bintang.
Dia bersyukur lantaran proses pengambilan gambar yang berlangsung selama hampir satu bulan ini tidak mengalami gangguan cuaca yang biasanya sudah mulai turun hujan.
Terkait banyaknya pelaku pariwisata yang memprediksi setelah peluncuran film EPL ini, Bali akan kedatangan banyak pelaku bisnis yang tertarik berinvestasi di Bali, Cok Ibah menjelaskan bahwa Bali telah banyak memiliki lembaga strategis yang bergerak di bidang pariwisata.
Lembaga itu antara lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, dinas pariwisata, dan lembaga pariwisata lainnya. Mereka harus dapat bergerak secara terorganisasi untuk mendukung semua ini.
Dia menyayangkan kondisi infrastruktur Bali yang terlihat masih belum tertata seperti kondisi jalan yang berlubang, kemacetan, banjir jika hujan turun, pengelolaan limbah dan lainnya. Berbagai fasilitas untuk penambahan fasilitas pariwisata, seperti vila dan hotel dengan mengorbankan aspek lainnya harus dihentikan.
"Bali bukan hanya hotel atau yang lainnya, namun juga penting memperhatikan lahan pertanian dan sawah yang juga sebagai ikon pariwisata yang perlu diseimbangkan," ujarnya.
Mengenai keinginan untuk mengundang jamuan makan Julia Roberts, Cok Ibah mengaku belum dapat memastikan karena sampai saat ini mereka masih berkonsentrasi untuk pekerjaan.
"Bupati Gianyar beberapa waktu lalu pernah menyampaikan niatnya untuk mengundang jamuan makan. Hanya sampai sekarang belum ada jawaban dari pihak mereka. Saya juga sudah beberapa kali ditanya kapan waktu jamuan itu dilaksanakan. Hanya saja waktunya masih belum memungkinkan," kata Cok Ibah. (ant/bun)