KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Untuk saat ini kita break dulu, di samping saya ada kerjaan ini, saya juga mau nemenin istri untuk persiapan lahiran. Begitu pula personil yang lain, ada yang baru punya anak kecil, jadi kita break dulu sebentar," papar Noe kepada KapanLagi.com, saat ditemui di SatayKING, Causeway Bay, Hong Kong, Minggu (15/11).
Dan saat syuting ke Hong Kong kali ini pun, Noe tak lupa mengajak serta istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka. Selain bekerja, Noe dan istrinya menyempatkan diri berbelanja di sana. Apakah kehamilan sang istri tak menjadi kendala?
"Sejak istriku telat menstruasi, waktu itu kita sudah bilang sama si kecil di perut, 'Kamu jangan bikin rewel mamamu ya, harus bisa bekerja sama ya'. Alhamdulillah dari pertama mens sampai sekarang tidak rewel, mamanya juga. Alhamdulillah sehat, tidak pake mual dan juga nggak pakai ngidam," tutur Noe.
Soal jenis kelamin di jabang bayi, Noe dan istri mengaku telah melakukan USG dan hasilnya menunjukkan jenis kelamin perempuan. "Pas 5 bulan kelihatan perempuan. Habis itu Mas Letto tidak mau lagi di-USG, karena dia sudah nyiapin nama laki-laki, hehehe..," kata istri Noe. (kpl/wwn/bun)

"Yang jelas kita semua sadar bahwa Kangen Band itu dipandang sebelah mata, padahal mereka itu orang-orang yang berjuang. TKW sangat connect dengan Kangen Band, karena TKW juga dipandang sebelah mata. Padahal TKW adalah salah satu pemasok devisa terbesar untuk negara," jelas Noe saat diwawancarai di SatayKing, Causeway Bay, Hong Kong, Minggu (15/11).
"Lihat tadi Kangen Band juga diuber-uber sama TKW. Bagaimanapun mereka banyak fans-nya juga di sini. Itulah perjuangannya yang perlu kita hargai," imbuh putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu.
Berbicara soal filmnya yang menyorot kehidupan para TKW di Hong Kong, Letto mengakui sisi idealisme yang terkandung di dalamnya. Namun ia merasa optimis bahwa nantinya film tersebut bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia maupun manca negara.
"Film ini juga sama dengan perjalanan Letto dari sisi idealisnya. Dulu lirik Letto dianggap berat lah, musiknya nggak easy listening-lah, tapi syukurlah sekarang Letto bisa diterima. Begitu pula dengan film ini yang terkesan berat, pasti akan diterima karena unsur edukasinya banyak dan sarat pesan moral," tegasnya. (kpl/wwn/bun)

"Aku puas banget kerja disini, on schedule. Orang-orang Hong Kong sangat profesional, kerjanya cepat. Di samping itu di sini memang sudah menjadi sistem orang kerja maksimal 12 jam, jadi kalau mulainya jam 6 pagi selesai jam 12 malam. Tidak ada yang syuting kayak di Indonesia yang sampai 24 jam," paparnya kepada KapanLagi.com di SatayKing, Causeway Bay, Hong Kong, Minggu (15/11).
Soal perijinan pun, Noe mengatakan bahwa di Hong Kong lebih mudah mendapatkan ijin daripada di Indonesia. Apalagi mereka banyak dibantu Production House (PH) lokal, yakni Alchemy, dan itu salah satu alasan mereka bekerja sama dengan PH lokal.
"Ya, paling nggak kita kerja di sini kulonuwun lah. Di samping itu kerjaan mereka sangat efisien, mereka hanya menggunakan beberapa kru tapi cepat banget hasilnya. 12 jam di sini sama dengan 24 jam di Indonesia. Keuntungan lainnya karena ada perijinan apapun kita dibantu oleh mereka. Daripada kita belajar lagi bahasa mereka, kalau ada kru dari sini kita tinggal minta tolong, selesai sudah. Aku salut sama kerja mereka," ujarnya.
Untuk pemain figuran TKI (Tenaga Kerja Indonesia, red), Noe mengaku harus menyesuaikan dengan jadwal kerja mereka.
"Ya, di sini kita harus mengikuti jam kerja mereka. Makanya untuk dapat background TKI yang banyak di Victoria Park ya pada hari Sabtu atau Minggu, ketika mereka libur. Kita ngikutin jadwal mereka di sini," kilahya.
Film MINGGU PAGI DI VICTORIA adalah film garapan sutradara Lola Amaria, dengan menempatkan Neo Letto sebagai Eksekutif Produser. Film tersebut bersetting kehidupan tenaga kerja wanita yang mengadu nasib di Hong Kong. (kpl/wwn/bun)

"Nenek moyang kita itu pelaut, bukan pembajak. Kalau kita nggak bisa berubah, tunggu aja tiga tahun ke depan untuk melihat akibatnya akan seperti apa. Kalau melihat Jepang, di sana semua hak cipta itu selalu dipatenkan. Jadi Indonesia harusnya juga bisa meniru. Hak intelektual itu harus dilindungi sama pemerintah. Kalau nggak bisa melindungi kayaknya nggak bisa disebut pemerintah, tapi panitia aja," ucapnya dengan bernada gusar saat ditemui KapanLagi.com di Balai Sarbini, Rabu (28/10) malam.
Untuk memerangi pembajakan, Noe mengaku sedang mempersiapkan program khusus. "3 bulan lagi kita akan me-launching satu program. Masih rahasia akan seperti apa, yang pasti ini akan disebar di beberapa komunitas, tentang kedaulatan musik, kebebasan dalam bermusik. Kita ingin mengembalikan kedaulatan musik di tanah air," jelasnya.
Lantas apa tujuannya? "Kita kan bisa melihat, musik sekarang cuma berpihak pada industri yang dalam hal ini label juga berperan besar," jawabnya.
Untuk menjaga kualitas bermusik, Letto memiliki hubungan unik dengan pihak label. "Nggak seperti band-band yang lain. Namun selama ini nggak pernah ada masalah. Dalam penggarapan setiap album, idealisme Letto tetap dijaga. Karena idealisme itu adalah apa yang kita lakukan," paparnya.
Ello pun mengangguki perkataan Noe. Dia menganggap pembajakan Malaysia sebagai suatu pelajaran. "Kita bertindak lebih cepat, itu pelajaran supaya nggak kebobolan lagi. Harus mematenkannya secepatnya, dari kejadian-kejadian sebelumnya harus belajar," harapnya.
"Namanya pembajakan apa pun wadah, apa pun caranya itu tetap mencuri. Kalau lu berusaha mendapatkan sesuatu carilah dengan cara legal. Mereka sekali-kali meneriakkan 'berubah atau punah'," imbuhnya. (kpl/ato/npy)

Hal sama juga dialami Noe. Saat ini dia harus konsentrasi pada penggarapan film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK, di mana Noe bertindak sebagai produser. "Memang proyek ini butuh perhatian lebih agar setelah Lebaran dapat syuting," terangnya.
Saat dijumpai di Just Steak, Selasa malam (15/9), Noe menegaskan berbagai aktivitas yang dilakukan dirinya atau personil lainnya, sama sekali tidak mengganggu jadwal Letto. "Hanya untuk sementara ini agak di-off-kan."
Untuk debut proyek film tersebut, Noe membawa panji Pic(k)Lock Production. Letto sama sekali tidak terlibat. Tak satu lagu pun milik Letto masuk dalam film.
"Kita hanya lihat kebutuhan saja. Kita mencoba obyektif. Tidak ada kepentingan Letto di sini. Jadi tidak harus dipaksakan," pungkas putra Emha Ainun Najib ini. (kpl/wwn/erl)

Noe mengaku mengidolakan Iwan Fals dalam bermusik dan menjadikan The Immortal tersebut sebagai inspirator.
"Kolaborasi sama Iwan Fals itu luar biasa. Dapat kesempatan saja sudah sangat gembira. Apalagi temanya tentang anak-anak," katanya seusai konser. Meskipun lelah karena Letto baru berangkat pagi dari Jogja untuk bergabung dalam konser Iwan Fals sore harinya, Noe mengaku sangat senang.
"Kita semestinya peduli sama anak-anak. Bukan hanya anak kita sendiri tapi anak siapapun. Karena nggak ada anak-anak nggak akan ada peradaban di masa depan. Anak-anak tidak boleh disia-siakan," tegas Noe.
Iwan Fals setuju dengan hal tersebut. "Mungkin kita sebagai orang tua sibuk mencari nafkah di masa yang sulit ini. Karena itu harus saling membantu. Di manapun kalau melihat anak yang melakukan kesalahan tegurlah. Jangan dibiarkan," lanjut Iwan Fals.
Iwan Fals mencontohkan banyaknya orang dewasa yang tidak peduli terhadap anak-anak. "Kalau melihat anak SMP merokok, meskipun tidak kenal, tegurlah mereka. Kita harus saling membantu. Itu tanggung jawab kita," tegasnya.
Orang tua, lanjut Iwan, juga harus bisa menjaga perilaku. "Jangan memberi contoh buruk di depan anak. Merokok di depan anak itu buruk, jaga omongan juga. Karena omongan orang tua itu hipnotis bagi anak-anak," paparnya (kpl/uji/npy)

Bertempat di Panggung Kita, di Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, ingin mewujudkan sebuah harapan yang indah soal anak-anak. "Saya tidak punya lagu anak dari sisi yang terang. Padahal di manapun anak, mereka selalu bisa menemukan sisi gembiranya. Itu mesti kita pertahankan," ungkapnya. Setting panggung yang berwarna biru ceria dihiasi dengan pelangi dan layang-layang seolah menegaskan keinginan tersebut.
Berbeda dengan konser-konser sebelumnya, suasana konser kali ini lebih meriah. Karena Iwan Fals memang menganjurkan penonton membawa anak. Di luar panggung, Iwan sudah menyediakan odong-odong dan permainan tradisional seperti gangsing dan peluit bambu. Di dalam, juga terdapat permainan odong-odong, perosotan, dan jompat-jompit. Tentu saja hiasan balon juga tersedia sejak pintu masuk rumah Iwan Fals.
Semarak konser penuh warna tersebut memang ditujukan untuk memperingati Hari Anak Nasional 2009. "Anak adalah prototipe orang dewasa, kita mesti bisa memberi contoh yang baik untuk anak-anak," harapnya. Untuk memberi kenyamanan, seluruh anak yang hadir dipersilahkan Iwan Fals naik ke tribun VIP saat hujan turun.
Konser semakin meriah saat Iwan Fals berduet dengan Imaniar dan Letto. Lagu Sore Tugu Pancoran yang sangat populer, digubah musiknya oleh personel Letto. Perpaduan mereka sungguh apik, apalagi saat Noe Letto menambahkan puisi tentang anak di sela membawakan lagu. "Nggak nyangka, benar-benar apik. Terima kasih," ujar Iwan Fals kepada Letto. (kpl/uji/riz)