< >

ARTIKEL LILY ALLEN


Permusuhan di Kalangan Musisi

KapanLagi.com - Oleh: Noppy

Berbicara mengenai selera memang tidak akan pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga mengenai musik, ada saja yang suka dengan aliran satu sementara tak suka dengan aliran lainnya. Kadang sampai tak suka dengan musisinya sendiri. Bahkan para tokoh di dunia musik itu sendiri banyak juga yang saling bermusuhan. Siapa saja sih mereka?

1. The Flaming Lips vs Arcade Fire. Wayne Coyne menyebut mereka 'palsu' dan band yang tidak menghargai penonton ataupun kru mereka. Sementara Win Butler dari Arcade Fire membalas dengan menulis respons pada situs The Flaming Lips, "Kuharap aku tak terlalu palsu dengan melakukan ini daripada ngomong ke Rolling Stone bahwa sekelompok orang yang tidak kukenal ternyata benar-benar bangsat."

2. Lily Allen vs Katy Perry. Saat Katy menggambarkan dirinya sendiri sebagai Lily Allen versi kurusan, Lily nampak amat sewot. Sampai-sampai dia bergabung dengan kelompok anti Katy di situs Facebook dan mengancam akan menyebarkan nomor telepon Katy lewat internet.

3. Kaiser Chefs vs Cheryl Cole. Kaiser Chefs menyebut Cheryl sebagai knobhead alias pengganggu.

4. Noel Gallagher vs banyak artis. Pentolan Oasis ini benar-benar bermulut tajam, dia sering sekali menghina musisi lain dengan kata-kata pedas dan tak tanggung-tanggung. Seperti di bawah ini contohnya:

"Jack White menulis lagu untuk Coca Cola. Dia pengen jadi posterboy dengan jalan pikiran alternatif. Dia kelihatan seperti Zorro di atas donat."

"Aku bukannya benci Kylie (Minogue), tapi aku nggak suka musiknya yang menunjukkan gairah itu. Lagunya terdengar seperti nafsu yang tak bisa dikendalikan, menjijikkan."

"Keane? Sesuai dengan kebiasaanku ngomong, menurutku tiga orang paling goblok di dalam band adalah penyanyi, pemegang keyboard, dan penggebuk drum. Aku nggak perlu ngomong apa-apa lagi kan?"

"Saat Thom Yorke duduk di depan piano dan bernyanyi, yang ditunggu orang-orang hanyalah saat dia menyanyikan Creep. Sudahlah Thom, selesaikan saja."

5. Blur vs Oasis. Gara-gara dianggap sebagai dua band baru yang sukses, Oasis bagai the new Rolling Stone sementara Blur sebagai the new Beatles, rupanya membuat mereka saling kecam. Oasis bahkan pernah berkata, "Aku harap Blur terkena AIDS dan tewas." Sampai saat ini, kedua band dengan ciri khas bertolak belakang itu masih saja terus berjuang untuk menunjukkan siapa yang paling 'British.'

6. Brandon Flowers 'The Killers' vs The Bravery, Fall Out Boy, dan Panic at the Disco (alias emo band). Katanya, "Emo, pop punk, apapun itu, adalah hal yang berbahaya. Kami tidak ingin membenci siapapun, dan kami memang belum ketemu Fall Out Boy, tapi ada sesuatu di dalam tubuhku yang ingin keluar dan membunuh band-band macam itu." Walaupun akhirnya dia memang minta maaf atas perkataannya, namun hal itu tentu tidak bisa dilupakan begitu saja.

7. Eminem vs Moby. Eminem benci sekali dengan musik techno, sementara itu yang digeluti oleh Moby. Dalam lagunya, Without Me, Eminem bahkan menyebut-nyebut Moby di dalamnya. "And Moby? You can get stomped by Obie. You 36 year old baldheaded fag, blow me. You don't know me, you're too old. Let go, it's over. Nobody listen to techno!"

Sementara menanggapi hal itu, Moby berkata, "Aneh memang kalau aku masih menganggap Eminem punya kemampuan sebagai seorang MC. Tapi yang menggangguku adalah dia terus menerus menjunjung tinggi homofobia dan ketidaksukaannya terhadap wanita dalam lagunya. Padahal melihat para pendengar musiknya, mereka hanya bocah berumur 10 tahun!"

Tentu saja, masih banyak lagi kisah 'menarik' perseteruan para musisi dalam industri musik. Namun mungkin perseteruan itu malah memberikan rasa 'renyah' dalam dunia musik dunia. (kpl/npy)


Lihat profil: Oasis, Blur, Eminem, Kylie Minogue, Cheryl Cole, Lily Allen
Diposting oleh: Editor | Sabtu, 18-04-2009 |

Lily Allen: 'IT'S NOT ME IT'S YOU', Sebuah Pelajaran Yang Tak Menggurui

KapanLagi.com - Secara musikal, IT'S NOT ME IT'S YOU memang hampir sama riangnya dengan album Lily Allen sebelumnya, ALRIGHT, STILL. Sentuhan nada elektronik, bantuan teknologi digital, dan beat drum dance tetap mendominasi lagu-lagu di dalam album kedua ini. Namun secara keseluruhan, suasana di dalamnya cukup reflektif dan down tempo dengan alunan piano dan loops elektronik yang menemaninya.

Walaupun materinya memang cerdas dan benar-benar dipikirkan, namun tetap saja kandungannya tidak terlalu tajam dan tak bisa dilupakan seperti ALRIGHT, STILL. Allen menyerang obsesi masyarakat atas pemuda dan anti depresan, namun sentuhannya nampak apatis dan agak jauh dari kenyataan.

Seperti dalam track 22, sebuah omongan kasar tentang stigma sosial mengenai wanita yang masih melajang di usia 30 tahun, padahal Allen sendiri masih berusia 23 tahun. Dan lagu ini amat bertolak belakang dengan I Could Say, track selanjutnya, yang mengungkapkan ketidaksiapannya untuk berkomitmen karena terlalu muda.

F*** You, adalah sebuah surat terbuka yang menunjukkan kebenciannya pada mantan presiden Amerika, George W Bush, yang secara konsepnya memang mudah diterima, namun terasa telat dan basi di saat ini.

Walaupun Allen tidak mencoba untuk menggurui para pendengarnya dalam setiap lagu-lagunya, Allen mampu menggebrak dengan pengalaman dan kisah cintanya yang cerdas namun khas remaja dalam usianya yang masih 20-an ini. Who'd Have Known dan Chinese bisa juga menunjukkan sosok Allen yang lebih lembut dan penuh kasih. Dan tentu saja, lagu-lagu yang indah itu membuatnya menjadi pop princess yang patut disayangi. (kpl/ld/npy)


Lihat profil: Lily Allen
Diposting oleh: Editor | Selasa, 10-03-2009 |

«12»