KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kita syuting di sini 12 jam, tidak ada yang kerja 24 jam seperti yang kita lakukan di Indonesia. Kru di sini pun sangat profesional, hanya beberapa orang tapi mampu menyelesaikan tepat waktu, tidak seperti kita yang krunya sampai puluhan tapi kerjanya santai," ungkap Lola.
Ditemui di apartemennya di Peterson Building, Peterson Street, Hongkong, Selasa (17/11), artis berambut pendek sebahu ini menuturkan bahwa selama proses syuting di Hong Kong pada awalnya ia kerap mengalami kendala dalam segi bahasa. Tapi untung saja, ilmu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari bisa sedikit membantu.
"Makanannya juga awalnya jadi kendala. Kru dari Indonesia makan masakan Indonesia dan kru dari Hong Kong juga sama. Eh, ke sininya malah kita tukar-tukaran makanan. Oh iya, aku juga ngajarin anak Hong Kong bahasa Indonesia. Buzz Chung, pemeran Sei Jun, aku ajarin bahasa Indonesia seperti, 'Terima kasih, bagus, cantik, bau', dan juga berhitung dari 1-10," kata Lola.
Selama syuting, Lola kelihatan agak kedinginan. Ini juga menjadi kendala kala pertama kali datang. Apalagi ia salah membawa kostum dari Indonesia.
"Ya, salah kostum, karena awal syuting aku bawa baju yang tidak tebal. Nah, sudah 3 hari ini di Hong Kong dingin sampai 10 derajat, makanya untuk continuity bajunya harus sama. Bayangin baju yang dipakai untuk musim panas dipakai untuk musim dingin, ya saya harus menahan dingin. Tapi masih bisa diatasi kok," pungkasnya. (kpl/wwn/boo)

"Artisnya kok lebih jelek ya dari TKW di sini. Mendingan babu-babu di sini, lebih cantik dan modis," ungkap salah satu TKW.
Dari pantauan langsung KapanLagi.com, di Hong Kong memang sedang memasuki musim dingin. Di sana banyak didapati para TKW yang berpakaian modis. Mereka kebanyakan berdandan ala Harajuku style dengan rambut diwarnai, jaket panjang, syal untuk menahan dingin, stocking, serta sepatu boot. Pantas saja jika mereka berceloteh kalau sang artis tidak modis dan dekil.
Menanggapi hal itu, Lola yang ditemui di apartemennya di Peterson Building, Peterson Street, Hong Kong, Selasa (17/11), langsung menjelaskan, "Ya wajar kalau kita terlihat dekil. Memang kita di-make up hitam, seluruh tubuh kita bedakin biar terlihat dekil dan baju pun disesuaikan dengan tampilan TKW yang sebenarnya."
Untuk mendalami perannya, Lola pun punya trik khusus. Agar mendapatkan warna kulit yang lebih gelap, ia rela berpanas-panasan di pantai.
"Untuk mendapatkan kesan hitam, aku berjemur di pantai dua hari setelah Lebaran. Dan ini bentuk totalitas yang kita lakukan agar bisa mendapatkan karakter yang diinginkan sesuai skenario," terangnya. (kpl/wwn/boo)

"Kita tidak pernah mengadakan casting yang memungut bayaran ke TKW. Semua pemain Jakarta dari PIC[k]LOCK Production dan Alchemy yang membawa pemain dari Korea. Akan sangat beresiko kalau kita memakai tenaga kerja di Hong Kong untuk syuting. Secara waktu, mereka punya majikan dan harus kerja, sedangkan syuting kita sebulan lebih," terang Lola saat ditemui di apartemennya di Peterson Street, Hong Kong, Selasa (17/11) kemarin.
TKW-TKW yang direkrut sebagai figuran dalam film terbarunya di mana dia menjadi sutradara sekaligus pemain, MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK, adalah mereka yang libur di hari Sabtu dan Minggu.
"Mereka cuma libur di hari Sabtu dan Minggu. Jadi, kalau mau memakai mereka pas hari Minggu di mana mereka pada libur dan mereka ngumpul di Victoria Park," tambah Lola.
Lebih jauh, Lola menyayangkan adanya penipuan seperti ini. Pasalnya, nama orang film pun akhirnya menjadi buruk di mata masyarakat.
"Uang HK$400 itu sangat besar buat mereka, kenapa tidak dikirim ke kampung aja untuk keluarganya. Modus penipuan ini sih harusnya jangan, jadi bikin nama buruk orang-orang film. Jadi misalnya ada satu oknum berbuat seperti itu, nanti kalau ada orang yang mau bikin casting yang sebenarnya orang tidak akan percaya lagi," tutur Lola panjang lebar.
Dijelaskan oleh Lola, di dalam dunia film, casting tidak dipungut biaya. Yang ada malah jika mereka diterima casting, mereka akan dibayar. Karenanya, penipuan ini amat merugikan orang film dan juga Lola pribadi karena namanya telah dicatut.
"Kalau memang ketahuan siapa orangnya yang mencatut nama saya, akan saya laporkan dan tuntut karena telah mencemarkan nama baikku," tegas Lola geram. (kpl/wwn/npy)

"Iya Mas, setahun lalu ada casting untuk bermain film judulnya TRUE LOVE. Nah, untuk biaya casting ini tiap anak dipungut HK$400. Lumayan besar Mas, apalagi yang ikut itu banyak Mas. Wah, panitianya untung tuh." kata seorang TKW bernama Susi saat diwawancara oleh KapanLagi.com di sebuah cafe di Tsim Tsai Sui, Hong Kong, Selasa (17/11) kemarin.
Rupanya, salah satu teman mereka yang lolos casting mengaku ditipu. Teman mereka yang sudah nekat meninggalkan Hong Kong dan kembali ke Jakarta rupanya hanya dikeruk uangnya.
"Akhirnya dia pulang kampung sekarang karena untuk ke Jakarta temanku itu diminta biaya lagi dan habis Rp20 juta lebih untuk biaya ini itu," sambung Jenny, teman Susi.
"Aku pikir ini film yang sama dengan yang menipu itu Mas karena di sini yang main juga sama dengan film yang berjudul TRUE LOVE, ada Mbak Lola Amaria-nya juga," lanjutnya.
Saat dikonfirmasikan kepada Lola Amaria selaku sutradara dan pemain dalam film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK, Lola malah mengaku tidak mengetahui hal tersebut.
"Saya nggak tahu apa-apa wong saya juga korban. Saya dirugikan. Saya kaget ketika ada kabar nama saya dijual untuk menarik bayaran peserta casting dari TKW di Hong Kong. Padahal aku nggak tahu apa-apa dan dituduh yang bukan-bukan. Padahal sama sekali tidak ada hubungannya antara film itu dengan film yang lagi saya garap. Jadi itu kerjaan orang iseng saja," tuturnya saat ditemui di apartemennya di Peterson Street, hari itu juga.
"Dari pihak PIC[k]LOCK Production tidak pernah mengadakan casting yang memungut bayaran ke TKW," lanjutnya. "Yang ada pun kalau kita bikin casting itu tidak dipungut biaya. Tapi sejauh ini kita tidak bikin casting." (kpl/wwn/npy)

"Aku puas banget kerja disini, on schedule. Orang-orang Hong Kong sangat profesional, kerjanya cepat. Di samping itu di sini memang sudah menjadi sistem orang kerja maksimal 12 jam, jadi kalau mulainya jam 6 pagi selesai jam 12 malam. Tidak ada yang syuting kayak di Indonesia yang sampai 24 jam," paparnya kepada KapanLagi.com di SatayKing, Causeway Bay, Hong Kong, Minggu (15/11).
Soal perijinan pun, Noe mengatakan bahwa di Hong Kong lebih mudah mendapatkan ijin daripada di Indonesia. Apalagi mereka banyak dibantu Production House (PH) lokal, yakni Alchemy, dan itu salah satu alasan mereka bekerja sama dengan PH lokal.
"Ya, paling nggak kita kerja di sini kulonuwun lah. Di samping itu kerjaan mereka sangat efisien, mereka hanya menggunakan beberapa kru tapi cepat banget hasilnya. 12 jam di sini sama dengan 24 jam di Indonesia. Keuntungan lainnya karena ada perijinan apapun kita dibantu oleh mereka. Daripada kita belajar lagi bahasa mereka, kalau ada kru dari sini kita tinggal minta tolong, selesai sudah. Aku salut sama kerja mereka," ujarnya.
Untuk pemain figuran TKI (Tenaga Kerja Indonesia, red), Noe mengaku harus menyesuaikan dengan jadwal kerja mereka.
"Ya, di sini kita harus mengikuti jam kerja mereka. Makanya untuk dapat background TKI yang banyak di Victoria Park ya pada hari Sabtu atau Minggu, ketika mereka libur. Kita ngikutin jadwal mereka di sini," kilahya.
Film MINGGU PAGI DI VICTORIA adalah film pertama yang disutradarai oleh Noe Letto, yang menggaet Lola Amaria untuk membesutnya. Film tersebut bersetting kehidupan tenaga kerja wanita yang mengadu nasib di Hong Kong. (kpl/wwn/bun)

Bukannya malu dengan pandangan masyarakat, mereka seperti tidak peduli. Mereka tetap menjalani hubungan satu jenis sampai sekarang. Ketika dimintai kebenaran tersebut kepada Titi belum lama berselang diiyakan. Bahkan keduanya siap pergi ke luar negeri untuk dipublikasikan.
"Peran seperti itu akan ada film pendek yang dibuat di sela pembuatan film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK. Filmnya mengenai tenaga kerja wanita yang lesbi dan lawan mainku Lola. Film ini mungkin difestivalkan," ujarnya.
Ditambahkan, perbedaan mencolok berperan diakui cukup sedikit sulit dilakukan. Namun dengan mengubah pola pikir maka hambatan perlahan bisa diatasi.
"Di film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK saya sebagai adiknya Lola, sedangkan di film pendek saya pacaran dengan dia. Untuk dapatkan chemistry tinggal di-switch aja otak. Paling seminggu atau dua minggu mengubahnya. Saya juga pemerhati jadi tahu lesbian seperti apa. Teman-teman saya ada yang kayak gitu atau lihat TKW lesbi. Jadi nggak ada yang sulit tapi yang belum pernah melakukannya. Itu aja. Susahnya beda sekali dengan Victoria saya adik kakak, sedangkan di sini saya pacaran. Ini mungkin yang agak sulit," urainya panjang.
Kenapa tak bayangkan dengan suami kala bermesraan? Ditanya begitu, Titi tertawa. "Ih mau tahu aja. Kalau yang kayak gitu nggak tahu soalnya waktu MEREKA BILANG SAYA MONYET juga ciuman dengan Mario (Lawalata) dan nggak saya bayangkan dengan suami. Kalau dengan suami kan penuh kasih sayang, nggak asal cipak-cipok," pungkasnya. (kpl/dis/boo)

"Peran seperti itu di MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK nggak ada, tapi nanti di sela film ini Lola bikin film pendek tentang TKW yang lesbi dan yang main aku. Lawan mainku Lola. Jadi kita beradegan. Jadi Lola memanfaatkan waktu," papar Titi saat ditemui di Balai Departemen Sosial, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9) malam.
"Film ini mungkin difestivalkan. Kalau di MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK saya adiknya Lola, tapi di sini saya pacaran sama dia," lanjut Titi.
Menurut Titi, walau agak sulit menemukan chemistry-nya, namun ia tak terlalu sulit mempelajari karakter tersebut, karena dirinya adalah pemerhati hubungan tak wajar seperti itu.
"Tinggal di switch aja otak. Paling seminggu atau dua minggu mengubahnya. Saya juga pemerhati, jadi tahu lesbian seperti apa. Teman-teman saya ada yang kayak gitu atau lihat TKW lesbi. Jadi nggak ada yang sulit, tapi yang belum pernah melakukannya. Itu aja. Susahnya, beda sekali dengan Victoria, saya adik-kakak. Sedangkan di sini saya pacaran, ini mungkin yang agak sulit," pungkasnya.
Di film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK, Titi berperan sebagai Sekar, adik Lola Amaria. (kpl/dis/bun)