KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Itulah hidup. Nggak pernah tahu apa suratan yang terjadi pada manusia. Tetapi saya tanamkan dalam batin anak saya agar tidak cemburu pada apa pun. Karena semua itu kepunyaan Allah," ujarnya.
Selain itu dia terus memberikan semangat dan pandangan ke masa depan dan meninggalkan masa lalu pada Mano. Seperti diketahui Mano belum lama ini tidak diperpanjang berakting di sinetron.
"Mano seperti yang saya kenal sebelumnya. Dia penuh spirit, positif, antusias, legowo, dan nggak pernah ambil sesuatu secara berlebihan. Dia akan jadikan itu sebagai pelajaran," sambungnya.
Lantas bagaimana soal Mano menikah lagi? Daisy mengaku tidak menginginkan apa-apa saat ini. Dia hanya mau Mano selamat dan bersama dirinya. "Saya serahkan pada Allah semuanya. Termasuk yang kemarin kejadian di Malaysia," pungkasnya. (kpl/dis/boo)

Sekitar pukul 15.15 WIB, Senin (23/11), Mano, demikian disapa, bersama ratusan ormas Laskar Merah Putih pimpinan Eddy Hartawan, menyerukan pemberantasan korupsi. Sementara di sisi kanan, kiri dan belakang terpampang poster yang menuliskan para pihak terkait untuk bekerja sama.
Sesekali Mano yang mengenakan kaos abu-abu bertuliskan 'Beatles' dan jins putih, membenarkan rambutnya yang tertiup angin. Matanya pun sedikit memejam, mencoba berlindung dari sengatan sinar matahari.
Dalam orasinya, Mano yang didampingi Daisy Fajarina, meminta para pemuda guna memberantas korupsi yang kian akut di negeri ini.
"Mano ingin bangsa ini tidak ditertawakan oleh bangsa lain. Bangsa ini setara dengan bangsa lain. Mano cinta bangsa ini," tegasnya lewat mic.
Uniknya usai orasi, tak sedikit anggota Laskar Merah Putih yang berfoto bersama dengan Mano atau memotret untuk koleksi. Keamanan dari TNI pun tidak ingin melewatkan momen ini. (kpl/dis/erl)

Di Pengadilan Agama Kelantan, akhir pekan lalu, Tengku Azwani mengatakan, sepupunya Pangeran Fakhry tidak pernah menyiksa Manohara.
"Jika itu terjadi pasti Manohara cerita atau mengadu kepada saya, karena sehari-hari bersamanya di Istana Kelantan," demikian media massa Malaysia, Senin (16/11).
Sepanjang pengamatan sehari-hari, hubungan antara Manohara dan Tengku Fakhry sangat baik dan mesra, kata Tengku Azwani, sebagai saksi tunggal dalam perselisihan antara Manohara dan suaminya, Tengku Fakhry.
Ia tidak pernah melihat ada perselisihan atau pertengkaran antara Manohara dan pangeran Fakhry sepanjang pasangan suami istri itu tinggal di Istana Kelantan.
Hakim Pengadilan Agama, Mohd Yusof Awang, memimpin persidangan perselisihan Manohara dengan Tengku Muhd Fakhry, di mana Manohara digugat oleh suaminya telah melakukan fitnah dan tuntutan ganti rugi sebesar 105 juta ringgit (Rp288,7 miliar).
Dua pengacara Manohara, Mohd Faiz dan Roshdan Sujak Rafie, telah mundur dan menarik diri sebagai pengacara Manohara. Sedangkan pengaduan Manohara di kepolisian Indonesia yang mengaku disiksa suaminya tidak jelas nasibnya hingga kini.
Begitu tiba ke tanah air pun, Manohara bukannya membuat laporan polisi, malah melakukan wawancara ke berbagai stasiun TV yang akhirnya kisah perkawinannya dibuat film di salah satu stasiun televisi swasta. (ant/bun)

Belakangan orang-orang yang siap membela mereka juga mundur. Tidak diketahui penyebabnya. Yang pasti, sejak tiba di tanah air Daisy dan Manohara seakan melupakan itu. Di sisi lain terlihat kenyataan berbeda. Mereka masih menikmati fasilitas penginapan hotel yang dibayarkan Tengku Tumenggung Kelantan termasuk menyewa apartemen yang bertarif Rp8 juta per bulan.
Kenyataan di atas itu menjadi pertanyaan bagi bekas orang kepercayaannya, Rudiansyah Fachri, yang ditemui di kampus Atmajaya, Rabu kemarin (11/11), termasuk langkah hukum yang bakal dijalani Daisy. Menurutnya, pihak Daisy sedari awal sudah kalah karena tidak pernah hadir pada persidangan di Malaysia yang akhirnya memenangkan pihak Kelantan.
"Mereka sebenarnya sudah kalah dari awal sebab nggak pernah hadir. Kalau pun datang, tunjukkan bukti visum Manohara. TKP-nya di mana? Ini juga yang membuat para lawyer mundur. Gara-gara nggak serius dalam upaya hukum dan ini jadi pertanyaan," ucap laki-laki yang sempat bersua dengan perwakilan Kelantan beberapa bulan lalu di Jakarta untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ulah Rudi dengan membeberkan bukti bahwa Daisy dan Manohara masih menerima fasilitas dari kerajaan Kelantan sendiri dipertanyakan media. Namun dikatakan bahwa dia tidak ingin menuntut apa-apa. "Saya nggak mau nuntut apa-apa tapi hanya mau tagih apa yang Daisy mulai," terangnya.
Ditambahkan, dirinya pun siap meladeni reaksi atas aksi pembeberan fakta baru yang dikeluarkan pada media seraya membantah dia memojokkan Daisy.
"Saya siap. Sebab yang saya sajikan in fakta. Jadi nggak ada statemen yang memojokkan namun malah pertanyakan proses hukum. Yang saya nggak bisa terima, di mana mereka saat proses hukum berlangsung," urainya lagi.
Lantas jika bukan itu motivasi Rudi, apa keinginannya? "Ya, kalau Manohara jalani proses hukum di Malaysia. Itu saya ingin lihat. Bahkan diduga ada rekayasa dalam proses ini. Apalagi ditambah kuasa hukum di Malaysia mengundurkan diri," ucapnya. (kpl/dis/erl)

Adalah Rudiansyah Fachri, mantan orang kepercayaan Daisy yang membeberkan bukti tertulis ini. Beberapa bukti berupa perjanjian sewa apartemen apartemen Batavia dan rincian biaya penginapan dari The Ritz Carlton Jakarta Pasific Place diperlihatkan. Uniknya, tanggal pada bukti-bukti ini masih belum lama terjadi. Semisal sewa apartemen tertanggal 23 Maret 2009. Sedangkan The Ritz Carlton selama dua bulan yakni 14 Februari hingga 14 April, dengan biaya US$155 per hari.
Yang lebih aneh, pembayaran bukan oleh Daisy maupun Manohara melainkan Tengku Tumenggung Kelantan. Kenyataan itu berbalik 180 derajat dari pernyataan Daisy dan Manohara. Ketika mereka berhasil keluar dari Malaysia setelah di Singapura disebutkan bahwa ibu dan anak ini tidak memperoleh apa-apa dari Kerajaan Kelantan. Bahkan di depan media, Daisy mengatakan bahwa anaknya disekap dan mendapat siksaan berupa goresan-goresan silet.
Bahkan upaya hukum bakal ditempuh atas perlakuan suami Manohara tersebut. Namun hingga putusan pengadilan Malaysia yang menyebutkan mereka kalah, belum ada realisasi langkah hukum ini. Belakangan malah satu per satu kuasa hukum mereka mundur termasuk pengacara dari Malaysia karena Daisy dianggap tidak serius mengajukan laporan.
Belum lagi, keputusan dari pengadilan Malaysia yang dinilai aneh lantaran pihak Daisy dan Manohara sama sekali tidak mengikuti ketika proses hukum itu berjalan. Bahkan Daisy siap melakukan banding. Atas realita di atas tersebut, Rudi mempertanyakan keabsahan putusan ini.
"Kenapa saya baru beberkan ini? Saya nggak mau cari popularitas. Saya hanya mempertanyakan proses hukumnya. Ibu Daisy jangan cuma cuap-cuap di media. Saya mau mereka ada saat proses hukum berjalan," tegas Rudi ketika dijumpai di kantin kampus Atmajaya, Jakarta Selatan, Rabu (11/11). (kpl/dis/erl)

Tak hanya itu, Rudi, seorang pengusaha yang sebelumnya membantu Daisy untuk membawa masalah rumah tangga Manohara ke depan publik, akhirnya memutuskan untuk membongkar kebohongan Daisy yang selama ini ditutupi. Ironisnya, Rudi pun menyebutkan jika Daisy memakai kerudung untuk menambah simpati.
"Ibu Daisy sebenarnya tidak pakai kerudung. Cuma pada waktu itu, aku memintanya biar terlihat lebih simpatik gitu. Pokoknya waktu itu membentuk opini yang baik," kata Rudi saat ditemui di sebuah cafe di bilangan Tebet, Selasa (10/11) kemarin.
Rupanya banyak kebohongan yang dibuat oleh Daisy, menurut Rudi, dan karenanya Rudi tergerak untuk melakukan klarifikasi sehingga dia tidak ikut mendukung terciptanya kebohongan publik.
"Waktu dulu pertama kali melakukan aksi dengan BMP (Barisan Merah Putih), waktu itu Ibu Daisy tidak hadir kan? Bilangnya macet, macet. Padahal Ibu Daisy baru menjual Toyota Alphard yang dibelikan Tengku sebagai hadiah Valentine buat Manohara," tambah Rudi.
Lalu apa sebenarnya harapan Rudi dengan membeberkan kebohongan Daisy ini? "Saya meminta agar Manohara dan Ibu Daisy jangan mengeluarkan statement yang membuat mereka terlihat bodoh," tegas Rudi yang rencananya akan menggelar preskon dengan media hari ini, Rabu (11/11), pukul 14.00 siang nanti. (kpl/wwn/npy)

"Secara tidak langsung, aku telah membantu kebohongan publik yang dilakukan Ibu Daisy. Makanya sekarang aku akan mencoba klarifikasi dan aku meminta maaf sama masyarakat," aku Rudi saat ditemui di sebuah cafe di bilangan Tebet, Selasa (10/11) kemarin.
Untuk itu, Rudi pun memutuskan untuk bertindak berani dengan mengungkap fakta-fakta tentang kebohongan Daisy. Apalagi, dia sudah memiliki bukti di tangannya.
"Aku akan mengungkap fakta dengan berbagai bukti mengenai kebohongan Ibu Daisy. Termasuk Ibu Daisy yang ngomong kalau dia tidak menerima uang dari Kelantan. Semuanya ada buktinya kalau Ibu Daisy itu disubsidi Kelantan," kata Rudi.
Diungkapkan Rudi jika Daisy pernah tinggal di Hotel Ritz Carlton di mana dia bertemu dengan ibunda Manohara itu. Daisy rupanya tinggal di hotel mewah bergengsi itu sejak 14 Februari sampai 14 April 2009 dengan harga kamar senilai US$155.
"Belum lagi fasilitas Hotel Ritz Carlton yang dinikmatinya seperti makan, spa, dan lain-lain. Itu nilainya Rp43.914.879. Ibu Daisy juga sewa apartemen Batavia atas nama saya. Semua fasilitas itu dibayar atas nama Tengku Tumenggung Kelantan. Artinya Ibu Daisy bohong besar kalau dia merasa sudah tidak ada hubungan dengan Kelantan dan juga tidak pernah menerima uang sepeser pun. Itu sudah menjadi kebohongan publik dan jangan-jangan ada lagi kebohongan yang dilakukan oleh Ibu Daisy," tambahnya.
Daisy sendiri memang tidak bekerja. Untuk membiayai pengacaranya agar bisa berangkat ke Malaysia dan bertemu Da'i Bachtiar pun, Daisy mendapatkan dana dari Kelantan.
"Saya melihat sendiri ada perwakilan dari Kelantan yang menemui Ibu Daisy dan memberikan segepok uang dalam amplop. Kalau nggak salah waktu itu RM10.000," lanjut Rudi. (kpl/wwn/npy)