KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Waduh gue sebenernya salah tingkah kalau dekat dia. Untungnya dia suka sama orang aneh," ucapnya.
Sementara Erik Meijer dari Esia yang juga suami artis Maudy Koesnadi hanya tersenyum mendengar jawaban Ringgo.
Pun ketika disinggung kapan menikah, buru-buru pasangan ini saling tuding. "Kapan tuh? Kapan?" tanya Ringgo sambil melihat Reva yang menggelengkan kepala.
Usai jawaban ini meluncur tiba-tiba Ringgo menyeletuk, "Pengennya disponsori Esia."
Merasa ditujukan pada dirinya, Erik kembali tersenyum dan sorak sorai wartawan yang hadir semakin ramai. Semoga saja hubungan mereka benar berakhir di pelaminan. (kpl/dis/npy)

"Memang tahun ini giliran saya untuk mudik. Biasanya ke kampung istri (Kuningan -red), kali ini ke kampung saya di Belanda," kata Eric saat ditemui di Wisma Bakrie I, Kuningan, Jakpus, Rabu (26/08) kemarin.
Dituturkannya jika rencananya mereka sekeluarga akan menginap seminggu hingga 10 hari di Belanda untuk memanfaatkan hari libur Lebaran. "Fokus utama mengunjungi Opa dan Oma Eddy. Kita lihatlah di sana banyak hal yang bisa dilihat dan dilakukan. Jadi wisatawan di negara sendiri lah, biar dia bisa lihat kincir angin dan sapi itu seperti apa," terang Eric.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Eddy datang ke negara Belanda. Pada usia 6 bulan, dia juga pernah diajak Eric dan Maudy ke sana. "Eddy sudah pernah pulang ke negaranya dia juga ya, karena dia juga warga Belanda sebenarnya. Waktu itu dia enam bulan. Belum sadar juga sebenarnya. Waktu itu kita ingin lihat reaksi dia bagaimana kalau berada di negara lain," tukas Eric.
Selain mudik ke Belanda, puasa tahun ini juga dirasa cukup berbeda oleh Eric. Pasalnya, kali ini dia sudah mulai mengajari Eddy tentang puasa.
"Fokus pertama supaya puasa bisa lancar," katanya. "Sedikit-sedikit bicarakan puasa kepada anak. Memang dia baru dua tahun, mengerti puasa pun tidak. Tapi sedikit-sedikit ya dia juga tanya, 'Papa ikut makan?' 'Papa lagi puasa'." (kpl/gum/npy)

"Aku sih maunya nggak dari kalangan entertain ya, karena semua di dunia entertain serba nggak pasti dan godaan banyak. Mendingan satu aja yang di entertain, saling melengkapi lah dan banyak pasangan entertain nggak tahan lama, seperti Maudy Koesnadi," ujarnya saat ditanya tipikal pacar yang diinginkan olehnya.
"Sekarang lagi nggak punya pacar, kalau selama ini aku selalu punya pacar yang mendukung buat aku, untuk apa punya pacar yang nggak bikin kita maju," tambah dara berusia 21 tahun itu menegaskan statusnya.
Ditemui KapanLagi.com di Starbucks Grand Indonesia Jakarta Pusat, Kamis (13/8), aktris yang mengawali debutnya di film GARA-GARA BOLA itu kemudian mengakui jika dirinya belum memikirkan secara serius soal pacaran.
"Aku dibawa santai sih, karena masih 21 tahun. Yang penting selama seagama dan kerja juga, karena menurutku kalau aku udah kerja dia nggak kerja nanti pola pikirnya nggak nyambung. Paling nggak udah sering ketemu banyak orang lah," kilahnya.
Sementara disinggung soal karir modellingnya yang masih terus berjalan, Laura mengaku keluarganya sangat mendukung, asal ia tak sampai berpose 'polos' di depan kamera.
"Keluarga selalu mendukung, nggak pernah yang men-judge, asal aku nggak foto telanjang sih nggak masalah," tandasnya. (kpl/gum/bar)

"Kalau buat saya, buku sastra itu merupakan warisan dari budaya, ya karena kebetulan saya dulunya anak sastra ya jadi ada semacam kewajiban untuk membaca buku-buku tentang sastra," tegasnya.
Maudy yang ditemui usai tampil menjadi pembicara dalam bedah buku karya sastra legendaris SALAH ASUHAN, karya Abdul Muis, mengungkapkan kebiasaanya 'menikmati' buku-buku sastra. Namun kebiasaannya itu pun didukung oleh budaya membaca yang sudah akrab dijalaninya sejak usia anak-anak.
"Kalau untuk baca memang dari kecil saya suka baca buku. Kalau untuk baca-baca buku tentang sasta untuk menunjang ilmu yang saya ambil. Makanya setiap hari ke mana-mana selalu membawa buku,” tegasnya. (kpl/ant/dar)

Kini perbedaan kewarganegaraan itu juga dialami bintang akting Maudy Koesnadi yang menikah dengan pria asal Belanda, Erick Meijer. Akankah ini juga dipahami sama dengan kisah dalam buku SALAH ASUHAN?
"Kalau saya dari dulu bercita-cita ingin menikahi orang berkewarganegaraan asing, tapi bukan karena seperti orang-orang beranggapan untuk memperbaiki keturunan, kan banyak orang bilang seperti itu," terang Maudy saat tampil sebagai pembicara dalam bedah buku SALAH ASUHAN di Kemang Village, Jakarta Selatan, Minggu (5/7).
Ketakutan orang tua seperti tergambar dalam buku karya sastra legendaris itu, juga dialami oleh keluarga Maudy di saat akan menikahi pria bule. Namun berangsur, hal itu berkembang secara positif dan dipahami sebagai perbedaan yang wajar.
"Pasti banyak pertimbangan, sebelum menikah pun kita sempat adakan sidang keluarga, mempertimbangkan tentang perbedaan budaya, nggak jauh bedalah dengan buku SALAH ASUHAN itu," terang ibu dari Edy Malik Meijer itu. (kpl/ant/dar)

"Hal ini terlihat dengan banyak masyarakat yang menonton film pada beberapa bioskop yang kita pantau di daerah," kata nya.
Para pemain GARUDA DI DADAKU sejak pemutaran film perdana pada 18 Juni 2009, sudah melaksanakan road show lima kota di Indonesia yakni Banjarmasin, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Makassar.
"Antusiasme terhadap film ini terlihat dengan banyaknya penonton yang memesan tiket beberapa hari sebelum, agar dapat menyaksikan film keluarga sekaligus sebagai pengisi hari libur," katanya.
Film GARUDA DI DADAKU merupakan film inspiratif yang menggambarkan nilai persahabatan, kekeluargaan dan nasionalisme, kata Putut, menjelaskan.
Film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah di bawah bendera SBO Films dan Mizan Productions yang telah sukses sebagai Co-Produser LASKAR PELANGI.
Putut menceritakan bahwa GARUDA DI DADAKU bercerita tentang kerja keras Bayu yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar mewujudkan satu mimpi dalam hidupnya yakni sebagi pemain sepak bola yang baik dan berhasil, sehingga bisa membanggakan keluarga terutama ibu dan kakeknya.
Dibantu kedua sahabatnya Heri yang penggila bola dan Zahra yang misterius, Bayu berupaya untuk dapat masuk menjadi Tim Sepak Bola Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional untuk membela nama harum bangsa.
"Namun berbagai hambatan menghadang Bayu, termasuk kakeknya yang sangat keras melarang Bayu menjadi pemain sepakbola," katanya.
Film drama keluarga untuk semua umur ini mengetengahkan berbagai nilai dalam kehidupan lewat kacamata anak-anak, mengetengahkan kembali soal persahabatan, kerja keras, perjuangan, dan semangat mencapai cita-cita, kejujuran, kasih sayang, dan kebanggaan untuk menjadi anak Indonesia.
Inspirasi cerita film ini didapat oleh Salman Aristo, sang penulis skenario, lewat dua kejadian penting yaitu kecintaan para pendukung sepak bola Indonesia dengan terus menyanyikan lagu GARUDA DI DADAKU.
"Garuda Kebanggaanku. Ku yakin, hari ini pasti menang? meskipun tim nasional jarang menang, dan kemenangan tim Indonesia," kata Putut.
Sementara itu Maudy Koesnadi sebagai Wahyuni (ibu Bayu) dalam film ini mengatakan bahwa, dengan latar belakang seperti itu, tidak heran cerita film sangat inspiring (memberi semangat), karakter anak-anaknya juga sangat inspiring.
"Bayu sudah jelas menggambarkan anak yang punya impian tinggi dan bekerja keras penuh semangat demi cita-citanya. Heri adalah motivator gila bola berotak cerdas yang banyak mendukung Bayu soal ketahanan mental dan keahlian teknis," katanya.
Sementara Zahra adalah representasi anak perempuan yang kuat dalam mengatasi cobaan dan kesulitan hidup.
Tiap karakter memiliki latar belakang yang berbeda, namun kekayaan perbedaan itu justru menginspirasi satu sama lain dan hal ini yang menjadi dasar persahabatan ketiganya.
Selain itu aktor senior lainnya adalah Ramzi bertransformasi sebagai Bang Duloh yang kocak mengocok perut penonton, Ikranagara sebagai Usman (kakek Bayu) membuat penonton geregetan dengan keras kepalanya.
Sementara Maudy Koesnadi sebagai ibu Bayu yang merupakan orang tua tunggal menarik penonton bersimpati dan Ari Sihasale sebagai Pak Johan yang instruktur pelatih sepak bola membangkitkan kepercayaan dan penghargaan penonton pada orang-orang di balik layar bidang olah raga yang masih banyak menjunjung sportivitas, idealisme dan kejujuran. (kpl/dar)

Namun terpenting, film yang akan ditayangkan di seluruh Indonesia mulai 18 Juni 2009 itu akan memberi inspirasi bagi para penikmatnya. "Bukan sekedar untuk ditonton tapi juga menginspirasi," kata Ifa Isfansyah saat ditemui di sela acara nonton bareng dengan anak asuh dari beberapa panti asuhan dan Rumah Singgah di Jakarta, Selasa (16/6).
Soal inspirasi pun, Ifa menyerahkan sepenuhnya kepada para penonton untuk mengambil hikmah terbaik secara personal. Tidak ada yang berhak dan bisa mendikte sebuah inspirasi. "Karena mulai dari anak-anak hingga dewasa ada pesan yang bisa diambil di film ini," tegas sutradara muda asal Yogyakarta itu.
Film dengan tema sepak bola itu mengambil lokasi syuting di Jakarta dan memakan waktu sekitar satu bulan.
Dalam proses syutingnya, Ifa mengaku kesulitan menemukan tempat terbuka sebagai lokasi syuting, karena padatnya kehidupan di Jakarta. Namun sekaligus, kesulitan itu memunculkan ide cerita untuk memanfaatkan kuburan sebagai tempat latihan sepak bola bagi tokoh Bayu (Emir Mahira).
"Jadi ide menggunakan kuburan itu datang dari sulitnya kami mendapatkan lokasi syuting. Ini sekaligus kritik untuk pemerintah, bagaimana kita bisa punya pemain bola yang bagus jika tempat latihan bola saja tidak ada," terangnya.
Film GARUDA DI DADAKU menampilkan pemeran utama seorang pendatang baru, Emir Mahira sebagai Bayu. Didukung pula sejumlah pemain yang selama ini menghiasi dunia perfilman Indonesia di antaranya aktor Ramzi dan Maudy Koesnadi. (kpl/uji/dar)