KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kita mencari karakter yang sesuai. Ada beberapa kriteria, seperti raut wajah dan kontur wajah. Dia sangat antusias dan minta dikirimi buku untuk dibaca," papar Mira saat ditemui di hari ini bertempat di Hotel Sari Pan Pacific, Thamrin Jakarta Pusat, Senin (23/11).
Latar belakang sebagai seorang musisi ternyata tak menghambat langkah Ariel untuk berakting. Mira sendiripun memuji akting Ariel yang menurutnya sangat mengagumkan.
"Sangat mengagumkan, saya tahu dia bintang besar, ternyata luar biasa sekali. Ariel dengan caranya bisa mengatur semuanya. Semua dibahas ketika persiapan, dia reading dengan beberapa aktor hebat. Karakter yang dimainkan di film jauh banget. Di film ini dia orang yang optimis tidak patah semangat, membuat sesuatunya jadi semangat dari yang tidak semangat, dialah Sang Pemimpi," pujinya.
Proses syuting film SANG PEMIMPI, yang menelan biaya hingga Rp12 miliar tersebut, sempat menarik perhatian masyarakat Belitung, karena telah lama masyarakat setempat tak melihat kuda. (kpl/hen/bun)

"Kita kaget untuk film SANG PEMIMPI sebagai pembuka JIFFest. Suatu kehormatan. Kami rasa tidak mungkin kami menolak meskipun untuk publik tanggal 17 Desember. Karena selama 11 tahun JIFFest, film Indonesia tidak pernah menjadi pembuka. Kalau jadi penutup sudah sering, kami selalu mendukung. Kami mendapatkan penghormatan yang luar biasa. Kami persiapkan semuanya sesuai dengan schedule," kata Mira Lesmana saat ditemui di Hotel Sari Pan Pacific, Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (23/11).
Mira mengaku dirinya sangat optimis, karena SANG PEMIMPI bukan sekuel yang biasa dan sudah dipersiapkan. Andrea Hirata, sang sutradara. Menurutnya film tersebut penting terhadap ketidakadilan dan ketidakpercayaan yang sekarang terjadi. Dan soal adanya anggapan bahwa pembuatan film tersebut dipercepat demi JIFFest, Mira membantahnya.
"Sebenarnya tidak dipercepat, kita memiliki waktu yang cukup dari pada LASKAR PELANGI. SANG PEMIMPI lebih fokus pada Ikal remaja yang lebih banyak tantangan tentang kedewasaan dan pubertas. Dari awal kita membuat LASKAR PELANGI, kita sudah tau akan membuat trilogi. Jadi bakal ada kelanjutannya," papar Mira.
Sementara, Nauval Yazid, manajer JIFFets di Indonesia mengatakan, dipilihnya SANG PEMIMPI sebagai film pembuka karena nuansa film tersebut sangat 'Indonesia banget'.
"Karena dia memiliki cerita Indonesia banget yang bisa mengangkat sisi lain Indonesia. Film ini dibuat setara dengan film internasional. Kita juga ingin mengangkat Indonesia dengan film ini," tutur Nouval. (kpl/hen/bun)

"Kesenangan tersendiri untuk bisa berinteraksi dengan musisi. Seperti dengan Gigi itu teman lama, dengan Budjana dan Armand itu sudah kenal lama dan bisa jalan bareng lagi, menyenangkan," ujar Mira.
Senada dengan Mira, sutradara muda Riri Riza pun mengakui jika film dan soundtrack, keduanya adalah elemen yang tak bisa dipisahkan.
"Kalau menurut saya nggak bisa dipisahkan lagi. Saya membuat film, musik bagian sangat penting untuk hidupkan suasana. Bahkan ada dua lagu dinyanyikan langsung di film ini. Hampir semua film saya didukung oleh musik, tidak bisa dilepaskan dan saya selalu didukung musisi luar biasa," terang sineas berambut kriwil itu.
Ditemui KapanLagi.com dalam acara launching album OST SANG PEMIMPI di Hardrock Cafe, Jakarta Pusat, Senin (23/11) sore, Mira dan Riri yang ditemani oleh Andrea Hirata lantas menegaskan jika mereka tak ingin terbebani dengan kesuksesan LASKAR PELANGI.
"Nidji memang sudah sukses membuat OST LASKAR PELANGI, tapi kita tidak ingin terbebani sukses itu, karena saya kalau berkarya harus lepaskan beban," tutur Mira.
Sementara itu, selain Gigi dan Ungu, dalam album pendukung film itu juga turut hadir Nugie, Ipang serta Bonita. (kpl/adt/bar)

"Seperti biasa untuk OST, kita sebut SONG INSPIRE SANG PEMIMPI. Tidak mudah, saya terima banyak demo, termasuk dari teman-teman Andrea Hirata dari Bogor dan Belitung," ujar Mira Lesmana.
"Itu tidak gampang karena SANG PEMIMPI punya spirit yang cukup tinggi. Last minute tidak temukan sampai akhirnya ketemu Gigi, berjodoh. Padahal sudah lama ingin kerja sama dengan Gigi. Ternyata Armand Maulana sudah baca bukunya dan ketika dengarkan demonya sudah rasakan aura SANG PEMIMPI dalam lagu tersebut," lanjutnya menjelaskan keterlibatan Gigi.
Ditemui KapanLagi.com dalam acara launching album OST SANG PEMIMPI di Hardrock Cafe, Jakarta Pusat, Senin (23/11) sore, Mira lantas menerangkan jika ternyata Andrea Hirata juga menuliskan lagu untuk album ini.
"Kemudian ada satu demo dari temannya Andrea, dari sekian yang saya dengarkan itu saya nyangkut, karena liriknya nakal dan ada nuansa melayunya. Dan kami berpikir Ungu adalah band yang tepat untuk membawakannya. lalu belakangan dia (Andrea) bilang bahwa itu karya dia, dia ngaku belakangan," lanjutnya.
"Ini bentuk support saya habis habisan buat Riri dan Mira, nggak hanya ceritanya, tapi juga lagunya. Total deh, tapi bukan saya ingin eksis di musik, cuma nulis musik ternyata asyik juga. Nulis novel, pusing," timpal Andrea kemudian. (kpl/adt/bar)

Acara digagas mahasiswa PhD di University of East Anglia, Silvia Devina, sebagai salah satu cara menggalang dana untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat.
Silvia Devina kepada koresponden ANTARA London, Sabtu (21/11), mengatakan, meskipun cuaca kota Norwich, berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan kereta api dari London, sejak siang kurang bersahabat, namun tidak menyurutkan antusiasme pecinta film di UEA untuk hadir.
Pemutaran film yang disutradarai oleh Mira Lesmana itu baru dimulai sekitar pukul 7.15 malam, namun sejak sore pengunjung dari berbagai kalangan memadati ruang Congregation Hall-UEA yang menambah semangat acara penggalangan dana tersebut.
Menurut Silvia Devina, penonton yang datang cukup beragam dan merupakan campuran antara British dan international students selain warga Indonesia, dan juga pelajar dari negara tetangga seperti Brunei.
Selama pemutaran, penonton ikut terbawa suasana terharu, tertawa, bahkan menangis dan ikut terhanyut dalam karakter film tersebut, ujarnya.
Walau hanya berbekal subtitle Bahasa Inggris, nampaknya penonton tetap bisa terbawa suasana emosi, ujar peraih Master of Public Health dari Erasmus Universiteit Rotterdam.
Menurut dia, ide penggalangan dana dengan cara pemutaran film itu mendapat sambutan dari Ketua PPI Norwich dan pihak Miles Films.
"Saya merasa cara yang mudah sekaligus efektif untuk mengenalkan budaya sekaligus menggalang dana melalui pemutaran film," ujarnya.
Sebelum pemutaran film dimulai, anggota pelajar Indonesia di Norwich yang mengenakan busana batik juga memutar klip singkat promosi pariwisata.
"Alhamdulillah, sejak awal ide ini diajukan ke Dean of Students di UEA, mereka sangat menyambut antusias dan ikut membantu promosi melalui e-bulletin format email yang dikirimkan kepada international students," ujarnya.
"Kami juga dibantu beragam society (perkumpulan) di UEA untuk menyebarkan informasi, selain melalui poster yang ditempelkan di sekitar kampus," ujar mahasiswa di School of Medicine, Health Policy & Practice itu.
Selesai pemutaran, banyak penonton yang mengungkapkan kekaguman terhadap film tersebut. "Yang lebih membuat terharu, banyak teman-teman lain yang tidak bisa datang, tapi mereka ikut menyumbang," katanya.
Dengan total penonton sekitar 40 orang, acara malam itu mampu mengumpulkan dana sekitar 150 poundsterling dan rencananya akan dikirimkan kepada korban bencana melalui organisasi terpercaya di Indonesia. (ant/npy)

Saya melihat tidak ada satu pun aspirasi mereka (sutradara dan produser, red) yang diterima. Kalau misalkan produser saja dibatasi seperti itu, apalagi saya," ujarnya.
"Karena itu lahan saya juga, kayaknya di Indonesia ini akan nambah lagi pengangguran. Emang itu nggak dipikirin dan kreativitas dibatasi," tambahnya lagi.
Selanjutnya, mantan kekasih Steve Emmanuel tersebut lantas menyayangkan langkah pemerintah yang dinilainya terlalu cepat mengambil keputusan secara sepihak.
"Seharusnya pemerintah tidak menentukan sendiri. Harus ada orang-orang yang berkompeten yang memang mengerti di dalam dunia itu sendiri untuk dilibatkan. Sehingga aspirasi mereka juga bisa diterima," tuturnya.
Ditemui KapanLagi.com dalam pertemuan para sineas film di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta, Selasa (8/9) sore kemarin, Andi juga menyoroti soal kepentingan pihak-pihak tertentu yang menurutnya bisa jadi alasan pengesahan UU Perfilman itu sendiri.
"Sepertinya terlihat adanya kepentingan yang sarat dengan persaingan, bisa jadi. Saya lihat di UU ini juga fokus ke perdagangannya," terangnya.
"Akhirnya lama-lama film dari luar pun dibatasi juga. Kalau sudah seperti itu bagaimana? Apa kita jadi bangsa yang pasif tidak ada hiburannya sama sekali, mudah-mudahan tidak menjalar sampai ke mana-mana," imbuhnya menegaskan.
Sementara itu, banyak sutradara dan produser tanah air yang memang memiliki pendapat senada seperti yang diungkapkan Andi. Mira Lesmana, Riri Riza, Deddy Mizwar dan Slamet Rahardjo adalah beberapa nama besar yang juga terang-terangan bereaksi negatif terhadap UU Perfilman. (kpl/adt/bar)

"Keinginan saya ditunda aja dulu pengesahannya (UU Perfilman, red). Jangan sampai ini disahkan lantas mematikan semua aspirasi insan film," ujarnya.
"Kalau memang hal itu terjadi, artinya kita bisa melihat atau melirik peluang lainnya. Tapi tetap saja sebuah seni tidak boleh dimatikan begitu saja seperti terbunuh kecewa. Saya rasa mudah-mudahan ini bisa dipikirkan kembali," imbuh bintang film SUSUK POCONG itu.
Ditemui KapanLagi.com di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta, Selasa (8/9) sore kemarin, Andi lantas menegaskan, jika ia memang sepenuhnya mendukung langkah-langkah yang kini coba ditempuh oleh para sineas.
"Saya sih mendukung aja bagaimana nanti yang dilakukan para sineas. Langkah kedepannya akan seperti apa, saya akan sangat mendukung," ungkapnya tak ragu.
Sementara itu, banyak sutradara dan produser tanah air yang memang memiliki pendapat senada seperti yang diungkapkan Andi. Mira Lesmana, Riri Riza, Deddy Mizwar dan Slamet Rahardjo adalah beberapa nama besar yang juga terang-terangan bereaksi negatif terhadap UU Perfilman. (kpl/adt/bar)