KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Kebetulan bagian saya nggak sebulan lamanya di Atambua, jadi belum merasakan feel-nya, saya di sana cuma 5 hari, nggak terlalu lama. Memang perannya lebih banyak di Jakarta," terang Tessa yang ditemui di syukuran film TANAH AIR BETA di Restoran Pizza Marzano, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (23/11).
Tessa tak perlu merasa khawatir karena wilayah ini sekarang sudah dianggap aman. Namun dia juga membawa segala keperluannya sendiri selama lima hari berada di sana. "Namanya keamanan juga kita udah nyaman, yang penting aman. Untuk soal kebersihannya, kita tetap bawa handuk karena hotel di sana mungkin belum terlalu bersih. Di sana nyari makan malem juga agak susah. Persiapannya nggak terlalu susah karena dengar cerita dulu, selain itu seminggu sebelum berangkat bawa obat malaria juga," kilah ibu satu anak ini. (kpl/adt/erl)

Azizah, ibu dari Abdul Rahman, siswa kelas VI salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan, mengaku terharu dengan semangat meraih cita-cita dan persahabatan antara Raden dengan Guntur.
"Nilai persahabatan seperti itu saat ini jarang saya temukan di dunia nyata. Kebanyakan saat ini persahabatan dinilai dengan materi," kata Azizah usai menyaksikan film KING di studio 21 bioskop Blok M Square, Jumat (3/7).
Menurut dia, film produksi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen (Alenia Production) tersebut layak diputar di sekolah pada hari libur, atau dijadikan mata pelajaran pilihan pada kurikulum kurikulum muatan lokal (mulok). Selain menjadi hiburan dan tontonan, film tersebut juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi masuknya narkoba ke sekolah-sekolah.
Sementara Sumiati, orang tua dari Zahro, siswa SDN 3 Cipete, Jakarta Selatan, menambahkan, film KING sangat cocok untuk disajikan kepada anak-anak dan dapat memotivasi orangtua untuk memperhatikan anak.
Ia berharap pada produser film hendaknya pada musim liburan tahun depan juga dibuat film-film yang khusus untuk anak-anak, seperti KING, GARUDA DI DADAKU dan LASKAR PELANGI.
Lain lagi dengan pengalaman Fauzi, salah satu mahasiswa semester VIII Universitas Nasional Jakarta, yang mengatakan film tersebut sangat berbobot. Ia mengaku awalnya malas mendampingi adiknya yang masih duduk di bangku SMP, yakni Bimbo, untuk nonton film KING. Namun setelah menyaksikan film tersebut ia merasa banyak hikmah yang diperolehnya.
"Banyak hal yang kami peroleh, di antaranya nilai persahabatan, kekeluargaan, sosial dan kerukunan antar warga sangat 'hangat'," katanya.
Said Abu Bakar, salah satu petugas studio 21, mengatakan, hampir setiap tayangan film KING penonton terus berjubel. "Padahal setiap hari film tersebut diputar lima kali," tukasnya. (kpl/bun)

"Jangan terlalu sempit memandang suatu persoalan, jika ingin bangsa dan generasi kita maju. Kami membuat film berkualitas, bukan untuk merusak generasi bangsa," kata Nia yang meluncurkan film KING di Jakarta, Kamis (25/6).
Menanggapi protes Komnas Perlindungan Anak dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap branding atau logo Djarum pada film KING, Nia mengatakan, pembuatan Film KING yang disponsori PT Djarum adalah bagian program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility - CSR) perusahaan rokok itu.
Dengan demikian, lanjutnya, tidak ada persoalan karena tujuannya bukan untuk mempromosikan produk rokok perusahaan tersebut.
Mengenai desakan kedua lembaga itu agar pihak Alenia Pictures meminta maaf ke publik dan tidak lagi menggandeng sponsor dari industri rokok dalam pembuatan filmnya, Nia mengaku tidak perlu menanggapi hal itu.
"Kami merasa tidak ada hal yang salah. Sebelum menerima sponsor itu, kami pelajari konsepnya cukup lama sebelum memutuskan," katanya.
Dia mengatakan, kalau filmnya itu merupakan film yang tidak mendidik masyarakat seperti film berbau pornografi dan horor, barulah bisa dipersoalkan. Nia yang juga artis film era 1990-an ini mengatakan, akan lebih fokus pada promosi film KING yang diluncurkan pada 25 Juni 2009 daripada mengurusi aksi protes kedua lembaga itu.
"Kami sendiri mempertanyakan apakah mereka sudah menonton film itu, sehingga menilai film KING tidak layak ditonton, karena bisa mempengaruhi anak-anak untuk merokok?" tandasnya. (kpl/bun)

"Keikutsertaan perusahaan rokok sebagai sponsor film itu dikhawatirkan bisa menggiring anak-anak untuk merokok dan menganggap merokok tidak berbahaya bagi kesehatan," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/6).
Ketika menyikapi film KING yang disponsori PT Djarum itu, Komnas A melayangkan protes kepada Alenia Pictures sebagai pihak production house dan Nia Zulkanaen selaku produser eksekutif, beserta suaminya Ari Sihasale selaku produser merangkap sutradara.
Dia mengatakan, Komnas Anak sangat menyayangkan dan merasa prihatin atas keterlibatan PT Djarum pada pembuatan film itu, padahal Afenia Pictures merupakan produsen house yang selama ini berhasil menyuguhkan film-film berkualitas bagi anak-anak. Contohnya, seperti film DENIAS SENANDUNG DI ATAS AWAN (2006) dan LIBURAN SERU (2008). Film-film yang diproduksi itu merupakan film anak yang mampu menyedot perhatian besar masyarakat dan melahirkan penghargaan.
Film-film yang telah diproduksi Alenia terdahulu, sambungnya, merupakan film yang menunjukkan kepedulian pada dunia anak-anak dan tidak sedikitpun melibatkan perusahaan rokok di dalamnya.
Melalui surat protes ini, katanya, Komnas Anak mendesak Alenia Pictures untuk meminta maaf kepada publik atas keterlibatan sponsor perusahaan rokok dalam film KING itu dan minta untuk tidak bekerjasama lagi dengan perusahaan rokok dalam bentuk apapun di masa mendatang.
"Sudah seharusnya seluruh pihak berusaha melindungi generasi penerus bangsa dari dampak bahaya tembakau dengan melakukan 'Total Ban' terhadap iklan promosi dan sponsor rokok," katanya didampingi Sekjen Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.
Selanjutnya dia mengatakan, keterlibatan PT Djarum dalam film itu bisa membangun citra yang sempurna bagi perusahaan tersebut seolah-olah berjasa besar bagi bangsa terutama di mata anak-anak penonton.
Promosi yang dilakukan film KING akan membuat anak-anak yang tidak pernah mengetahui PT Djarum pada akhirnya mengenalnya. "Padahal, orang tahu bahwa PT Djarum adalah produsen barang adiktif yang bisa menyebabkan kematian, penyakit dan cacat," ujarnya.
Menurut catatan, di Indonesia sendiri 427.948 jiwa melayang akibat konsumsi rokok pada tahun 2001 atau 1.172 orang meninggal setiap hari. (kpl/dar)

"Saya puas sekali dengan hasil film ini. Banyak yang suka, dan memang sudah saya perkirakan. Apalagi momennya tepat dengan kejuaraan Indonesia Open," tutur Ari yang ditemui bersama istrinya, Nia Zulkarnaen, di Planet Hollywood, Jakarta, Senin (22/6).
Ide film ini sendiri, terang Ari, terinspirasi dari perjuangan insan olahraga di tanah air. Dan hal ini memang sudah sangat diinginkan aktor yang akrab dipanggil Ale ini sejak lama.
"Dengan selesainya film ini, saya menjadi bertambah pengalaman dalam menggarap sebuah film. Mudah-mudahan ke depannya saya bisa membuat film yang lebih baik lagi," harapnya.
Ditanya kenapa selalu membuat film keluarga atau anak-anak, Ale mengaku memang punya alasan khusus. "Karena yang ada saat ini memang jarang diangkat. Coba lihat, di mana-mana pasti filmnya horor dan komedi. Saya hanya melihat sisi yang lain saja. Kebetulan saat ini momennya memang pas dengan liburan," tukasnya.
Di samping itu, Nia juga menjelaskan bahwa di film ini mereka sengaja mengangkat nama Liem Swie King, karena sosok pebulutangkis tersebut memang fenomenal di masanya. "Tokohnya dianggap mampu membuat anak-anak termotivasi. Semangat nasionalismenya kan memang kelihatan sekali. Ada lagu Indonesia Raya-nya juga," pungkasnya. (kpl/mai/boo)

Sebagai penggemar olahraga badminton, Nia melihat surutnya olahraga ini sekarang. "Dari kecil sejak usiaku 9 tahun. Saya sering nongkrong di Istora buat nonton pertandingan badminton. Dulu ramai banget kalau pas ada pertandingan, sampai pernah saya nggak dapat tempat dudukku buat nonton," ungkap Nia yang ditemui di pertandingan Djarum Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).
Nia sendiri masih melihat celah bagi bangkitnya badminton di Indonesia. "Sekarang sih masih ramai. Saya nonton ini karena kangen gemuruhnya Istora saat penonton bersorak. Dan kangen juga nggak dapat tempat duduk saat pertandingan. Kita harus memberi semangat agar tidak terus-terusan loyo. Makanya saya buat film badminton untuk memberi semangat pada pemain-pemain kita agar bisa Berjaya kembali." tambahnya. (kpl/ant/erl)

Menurut Nia banyak masyarakat yang membutuhkan hiburan saat ini. Dan baginya lebih baik membuat hiburan yang bermanfaat. "Karena itu yang bikin penasaran penonton. Lagipula bagaimanapun keadaan Negara kita, masyarakat tetap butuh hiburan. Kenapa nggak membuat hiburan yang sekaligus menginspirasi?" terang Nia yang dijumpai di pertandingan Djarum Indonesia Open di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).
Film terbarunya, KING memang bergenre beda dengan film yang banyak beredar di Bioskop tanah air. Namun Nia tidak berniat untuk menjadikannya sebagai sarana untuk mendapat penghargaan. "Kita buat film bukan untuk mendapat award. Jujur aja yang membantu kita membuat film ini ya sponsor dan penjualan tiket," terangnya.
KING dimaksudkan untuk mengisi liburan keluarga. "Ya, memang ditujukan untuk mengisi liburan keluarga. Kita ambil bulutangkis karena belum pernah ada sebelumnya film bertema ini. Padahal di Indonesia bulutangkis kan cukup populer," tambahnya. (kpl/ant/erl)