< >

ARTIKEL NINIEK L KARIM


'EMAK INGIN NAIK HAJI', Impian Sederhana Seorang Emak

KapanLagi.com - Pemain: Aty Kanser, Didi Petet, Niniek L Karim, Henidar Amroe, Cut Memey, Reza Rahadian, Ayu Pratiwi, Gagan Ramdhani, Alexia, Aswin Fabanyo, Helsi Herlinda, Genta Windi, Dedi Maulana, dan Ustad Jeffry Al Buchori.

Seorang anak pastinya ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika sang anak memiliki hidup dan mimpinya yang ingin diraihnya, membuat kebahagiaan orang tua sedikit tergeser. Hal inilah yang ingin diangkat oleh sutradara muda Aditya Gumay lewat film EMAK INGIN NAIK HAJI.

Kisah diawali dengan kehidupan Zein (Reza Rahadian) dan Emak (Aty Kanser) di pesisir pantai. Zein yang sibuk dengan hidup rumah tangganya, akhirnya harus menerima kenyataan pernikahannya gagal dan harus menjadi duda. Hidup berdua, setelah sang ayah dan kakaknya meninggal, membuat Zein sangat menyayangi emaknya. Untuk hidup sehari-harinya, Zein bekerja sebagai penjaja lukisan keliling. Emak sendiri bekerja sebagai pembantu di keluarga Bang Haji (Didi Petet).

Suatu hari, Zein menyadari ada satu mimpi emaknya yang belum terwujud, yakni menunaikan ibadah haji. Sadar bahwa bukan orang berada, Emak rela menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpinya. Zein yang melihat semangat sang emak untuk bekerja dan menabung meski usia emaknya sudah tidak muda lagi, membuat hatinya tergerak. Secara tak sengaja, ia melihat program undian berhadiah yang hadiahnya naik haji jika berbelanja suatu produk dengan kelipatan tertentu. Ia pun mengumpulkan kupon undian yang dibuang pengunjung. Selang beberapa hari kemudian, di sebuah koran ia melihat pengumuman undian tersebut. Antara percaya dan tidak, nomor undian milik Zein lah yang memenangkan hadiah utama untuk naik haji.

Zein pun buru-buru pulang untuk mengabarkannya kepada Emak. Sesampainya di rumah, ia tidak mendapati emaknya tidak di rumah. Akhirnya, ia meninggalkan pesan. Sedang ia berusaha mencari Emak di sekitar rumah. Karena kegirangan ia tak menyadari dari arah lain ada mobil melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Lagi, sebuah film yang diadaptasi dan dikembangkan dari cerpen. Adalah EMAK INGIN NAIK HAJI, judul film yang disamakan dengan karya Asma Nadia. Sejumlah nama seperti Aty Kanser, Didi Petet, Niniek L Karim, Henidar Amroe, Cut Memey, Reza Rahadian, Ayu Pratiwi, Gagan Ramdhani, Alexia, Aswin Fabanyo, Helsi Herlinda, Genta Windi, Dedi Maulana, dan Ustad Jeffry Al Bukhori. Sedangkan film yang diproduksi MIzan ini diproduseri oleh Putut Widjanarko dan Adenin Adlan Film.

Meski harus bersaing dengan film 2012 yang sedang mendapat perhatian moviegoers, namun EMAK INGIN NAIK HAJI cukup mencuri perhatian. Dari sisi pemain, film ini berani memasang Aty Kanser, yang sudah tidak muda lagi dengan didampingi Reza Rahadian sebagai pemain utama. Padahal jika kita lihat, film-film Indonesia akhir-akhir ini hampir semua peran utama dibawakan oleh artis-artis muda.

Duet Aty dan Reza pun ditampilkan sangat apik, chemistry antara keduanya terlihat natural. Tak heran, Aty sendiri selalu bermain di film-film langganan festival, seperti ALANG-ALANG dan TAKSI. Meski dari sinematografi, gambar-gambar yang ditampilkan Aditya terbilang biasa, namun ia mampu menampilkan scene dan dialog-dialog yang pas, tapi tidak terlalu lebay. (kpl/dis/riz)


Lihat profil: Reza Rahadian, Didi Petet, Aditya Gumay, Niniek L Karim, Cut Memey, Jeffry Al Buchori
Diposting oleh: Editor | Jumat, 20-11-2009 |

'MAY', Kisah Cinta Tragis Berlatar Belakang Historis

KapanLagi.com - Pemain: Jenny Chang, Yama Carlos, Jajang C Noer, Lukman Sardi, Niniek L Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan

Tragedi kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta yang menyisakan kesedihan dan lara di hati orang yang mengalaminya mengilhami sejumlah insan film yang mengangkatnya ke layar lebar dalam film MAY. Film produksi Flix Pictures yang sebelumnya menggarap DEALOVA (2005) ini berkisah tentang cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa kelam Mei 1998.

Dengan alur maju mundur, sang sutradara Viva Westi menggambarkan kisah cinta May dan Antares. May (Jenny Chang) adalah putri Cik Bing (Tutie Kirana) penjual mi ayam di kawasan Glodok, Jakarta Utara. Sedangkan Antares (Yama Carlos) adalah laki-laki pribumi berprofesi sutradara dokumenter. Perbedaan warna kulit tak menghalangi kisah cinta mereka.

Nasib sial dialami May tepat di hari berdarah itu. Pada hari naas itu, May pergi untuk mengikuti casting, seharusnya Antares mengantarnya. Antares yang pernah berjanji akan selalu ada untuk May, tak bisa dihubungi saat itu. Antares sedang sibuk syuting film dokumenter, adegan wawancara aktivis. Dia tidak bisa menjemput meski May sudah sangat ketakutan dan menangis di tengah kerusuhan yang semakin mengerikan.

May hanya menangis saat ditemukan oleh seorang jurnalis asing, Raymond (Andre Peter). May bertelanjang dada dan sedang meringkuk di sebuah sudut gelap bangunan tua. Ia menurut saja ketika dibawa Raymond ke Malaysia dan menjadi penyanyi kafe di sana.

Nasib sang bunda pun tak kalah mengenaskan. Cik Bing terpaksa melepas rumah mereka demi selembar tiket menuju Malaysia. Gandang (Lukman Sardi) hanya seorang buruh cuci di hotel. Dialah yang menjual tiket ke Malaysia kepada Cik Bing, melalui temannya.

Sepuluh tahun berlalu, mereka menjalani hidup masing-masing. Antares telah menjadi salah satu pengikut Harriandja yang menjadi tim sukses para politikus, sampai ke Malaysia.

Gandang telah menjadi pengusaha laundry yang sukses di Yogyakarta. Namun rasa bersalah membawa Gandang mencari Cik Bing, membawa Cik Bing kembali ke Indonesia dan mengembalikan rumahnya, meskipun tanpa May.

Gandang bertemu dengan Cik Bing di kedai kopi tiam di Malaka. Sedangkan Antares bertemu dengan May di sebuah pub di Kuala Lumpur. Sementara itu, Raymond juga muncul bersama Tristan, bocah berumur sembilan tahun yang dulu lahir dari rahim May.

Alur cerita film yang ditulis oleh Dirmawan Hatta ini yang tidak seperti umumnya film Indonesia, mengajak penonton melompat-lompat antara masa kini dan sepuluh tahun lalu, membuat film berdurasi 105 menit ini "penuh misteri".

Suasana kerusuhan digambarkan dengan sangat baik, tak terlalu gamblang sehingga hasilnya tak kontroversial. Fokusnya pun bukan kekerasan atau penghancuran, namun efek psikologis yang dialami korban kerusuhan.

Meski ada beberapa hal yang mengganjal, seperti larinya Cik Bing ke Malaysia, padahal umumnya etnis Tionghoa saat itu mengungsi ke Singapura, namun film yang mengambil syuting di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan genting Highland ini sangat menyentuh. Dan meski sang penulis dan sutradara bersikukuh film ini murni fiksi, tapi tak menutup kemungkinan ada banyak May dan Cik Bing di luar sana. (kpl/lin)


Lihat profil: Jajang C Noer, Lukman Sardi, Niniek L Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan
Diposting oleh: Editor | Senin, 09-06-2008 |

«1»