KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
"Pertama buat aku memang membatasi untuk kegiatan karena hamil, yang kedua aku tahu diri karena body aku kelihatan besar banget di TV. Ya nanti kalau anak sudah lahir insya Allah balik lagi ke entertain," ungkapnya dengan tawa ceria.
Nirina mengaku fokus pada bayi yang dikandungnya, dan saat-saat tertentu saja, dirinya menerima kerjaan. Semua dijalaninya dengan santai, bersama sang suami.
"Dari kemarin sudah fokus, ini hanya sekali-sekali saja aku lagi nikmati hidup. Kalau ingin kerja ya kerja, kalau tidak ya sudah. Rasanya nikmat banget, karena aku punya pilihan untuk mengatakan tidak," terangnya saat menjadi bintang tamu di PLAYLIST di Studio Penta, Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (14/10).
Sementara ditanya soal persiapan kelahiran, istri Ernest Cokelat yang tengah hamil hampir enam bulan itu mengaku belum secara khusus melakukan persiapan. Persiapan masih terfokus pada kesehatan fisiknya, agar si bayi juga sehat.
"Sejauh ini persiapannya belum terlalu, cuma persiapan fisik aja. Kasih vitamin, istirahat, makan yang cukup, happy saja," terang Nirina yang mengaku selalu didampingi oleh Ernest itu. (kpl/gum/dar)

"Setiap individu bertanggung jawab atas tindakan masing-masing dan jangan di kotak-kotakkan kalau dunia artis itu temen narkoba. Dan juga jangan selalu menyalahkan orang tua, yang kurang perhatian, tapi salahkan anaknya juga," demikian ungkap perempuan yang tengah hamil hampir enam bulan itu.
Nirina yang ditemui di Studio Penta, Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (14/10) itu, meminta kepada pemerintah untuk tidak sekedar menangkap para pengguna, termasuk kalangan artis yang kemudian diberitakan besar-besaran oleh media. Namun para bandar dan pabriknya yang perlu mendapat tindakan keras agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
"Jangan pemain-pemain kecilnya ditangkepin dan menjadi kasus besar, kalau mau gembongnya sekalian hukum mati atau gantung sekalian. Karena itu mempengaruhi masa depan anak-anak kita, ya saya mengharapkan ketegasan pemerintah tentang peraturan dan undang-undang," terangnya meminta.
Istri Ernest Cokelat ini menganggap siapa pun dan di mana pun dapat menjadi sasaran peredaran narkoba. Masing-masing pribadi punya tanggung jawab untuk menjaga dan menyelamatkan dari pengaruh barang yang menjadi musuh negara tersebut.
"Di mana saja tergantung imannya orang itu, kalau dia kuat dan punya prinsip, kalau mencoba sekali dan sudah itu bagus. Intinya pemerintah harus tegas dengan peraturan dan undang-undangnya," pungkasnya. (kpl/gum/dar)

"Rumah di sana sih nggak kenapa-kenapa karena baru direnovasi, paling cuma retak di bagian depan saja, tapi nggak parah. Kalau luka fisik, papa sih bilangnya nggak ada, tapi nggak tahu juga. Namanya juga orang tua takut anaknya khawatir, saya sih percaya saja. Aku juga nggak mau tanya sama mama yang sudah ada di sana apa benar papa nggak luka sedikit pun. Tapi mamanya juga gak komplain jadi aku yakin saja. Katanya juga keluarga aku masih tidur di luar rumah karena takut ada gempa lagi," katanya.
Tidak ingin berpangku tangan, Nirina pun ikutan membantu. Namun lantaran kondisinya sedang berbadan dua, alhasil ia hanya bisa menyalurkan bantuan lewat transferan. "Saya juga ingin datang ke sana, biar bisa bantu langsung. Tapi paling nggak komunikasi saja dulu deh, daripada malah bikin tambah khawatir karena saya lagi hamil," ujarnya.
"Jadi kalau saya mau bantu paling transfer saja. Papa saya kan kemarin juga baru dilantik jadi Datuk di Pariaman, jadi dia juga ikut terjun langsung membantu para korban. Jadi buat teman-teman yang juga ingin menyalurkan bantuan lewat papa saya juga bisa, karena langsung disumbangkan," sambung Nirina.
Istri Ernest Cokelat ini juga mengungkapkan harapannya supaya pemerintah bisa lebih sigap lagi. Sementara untuk pihak-pihak lain yang berkaitan agar bisa membantu dan dimudahkan birokrasinya. Yang pasti, tidak menjadikan tempat gempa sebagai obyek wisata. "Tolong dong tempat gempa itu bukan obyek wisata. Saya berharap dan berdoa yang terbaik untuk semua korban yang ada di sana," ujarnya.
"Ya, saya lihat di TV gempanya memang dahsyat, semua gedung rata. Yang menyedihkan lagi kemarin keluarga kita sempat mau ke Padang tapi harga tiket bisa sampai Rp2 juta, padahal hari biasa cuma Rp400 ribu. Saya harap jangan kayak gitulah, bantu kami yang mau menyampaikan kabar dan mau pulang ke Padang. Apalagi bantuan juga belum maksimal di sana. Jadi mudahkanlah semua bantuan dan jalur birokrasi," pungkas Nirina. (kpl/ant/boo)

"Mendengar kabar gempa itu saya bukan panik lagi. Ceritanya, tanggal 29 kemarin itu saya lagi melakukan roadshow klinik gitar bersama salah satu merk gitar di Payakumbuh dan Bukit Tinggi. Kebetulan saat itu lagi ada roadshow di Sumatera Barat," ungkapnya saat ditemui di Planet Hollywood, Minggu (4/10) kemarin.
Dikatakan Ernest, usai roadshow, tepatnya pada tanggal 30 Oktober ia berada di Pariaman untuk bertemu dengan papanya Nirina. Di sana ia sempat makan siang di rumah sang mertua dan jalan-jalan di Pariaman. Selepas itu, pada pukul 16.45, Ernest pun take off ke Jakarta dari Padang.
"Sampai di pesawat tentu saya tidak tahu kalau gempa itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Sampai Jakarta, saya bingung kenapa semua orang yang ada di pesawat tadi pada nangis, terus saya tanya, katanya ada gempa di Pariaman," tuturnya.
"Wow, saya nggak nyangka kalau 15 menit sebelum gempa saya masih ada di situ. Langsung saya telepon Nirina. Tapi jam 18.00 WIB sudah dapat kabar kalau keluarga di Pariaman tadi juga gak kenapa-kenapa jadinya sudah lebih tenang," sambung gitaris Cokelat ini.
Walaupun selamat, Ernest mengaku sempat kebingungan. Ia berusaha menenangkan keluarga Nirina dan meyakinkan istrinya jika keluarga di Pariaman dalam keadaan sehat. "Apalagi Nirina lagi hamil. Saya juga ikut bersimpati dengan para korban. Saya juga berdoa agar para korban diterima di sisi Tuhan dan semua orang juga diberi ketabahan," pungkasnya. (kpl/ant/boo)

"Kita ikut berduka atas terjadinya gempa di Padang dan Jambi. Kemarin merupakan dua hari yang paling menegangkan dalam hidup saya, sampai saya juga sulit ditemui oleh wartawan. Apalagi kondisi saya sedang hamil dan suami saya juga sedang sakit panas tinggi," ungkap Nirina yang ditemui usai nonton bareng GET MARRIED 2 di Planet Hollywood, Minggu (4/10).
Dituturkan Nirina, selama dua hari itu ia sama sekali lost contact dengan sang ayah yang tengah berada di Pariaman. Namun syukurlah beliau dalam keadaan baik-baik saja. Nirina jadi begitu lega bisa mendapat kabar lewat telepon dan SMS.
"Sekarang jadi yakin kalau papa nggak apa-apa di sana dan masih ada. Papa sempat cerita kalau dia lagi di teras, kemudian terpelanting, kemudian memegang pohon kelapa dekat rumah. Apalagi papa sudah 70 tahun, sendirian, jadi miris dengernya. Tapi sekarang mama kan sudah menyusul ke Padang untuk nemuin papa dan untuk bantu-bantu di sana," terangnya.
Yang membuat mamanya begitu sedih, lanjut Nirina, lantaran saat Lebaran kemarin mereka tidak berkumpul lengkap sebagai keluarga yang utuh. Ditambah lagi dengan adanya bencana ini.
"Sudah Lebaran nggak bareng-bareng, mama jadi sedih, apalagi nggak bisa komunikasi sama papa. Tapi hari pertama itu papa SMS kalau dia nggak kenapa-kenapa. Tapi kita gak percaya. Karena beberapa tahun lalu papa sempat koma 4 hari karena kecelakaan di Lubuklinggau tapi dibilang nggak kenapa-kenapa. Makanya kita sempat nggak percaya dan trauma dan Jumatnya mama datang ke Padang," sambung istri Ernest Cokelat yang menanti kelahiran anak pertama mereka. (kpl/ant/boo)

Untungnya, Amin selamat setelah berkomunikasi dengan Nirina melalui telepon selular. Disebutkan jika teras rumah di sana retak-retak, sedangkan kondisi Amin selamat. Namun sejak malam itu komunikasi putus hingga Jumat (02/10) ini. Hal tersebut dikatakan Sinta, manajer Nirina ketika dihubungi KapanLagi.com.
"Kebetulan Bapak ke sana seminggu sebelum Lebaran karena kadung janji memberikan ceramah. Padahal Juli lalu Bapak juga pulang untuk memperoleh gelar dari masyarakat setempat. Komunikasi lewat pesan singkat dengan Nirina putus sejak Rabu malam sampai kini," ujarnya.
Akibat gempa tersebut, Cut Indria (ibunda Nirina -red) sempat mengontak Metro TV tadi pagi seraya meminta bantuan supaya menemukan Amin.
"Iya, makanya tadi pagi Ibu telepon Metro. Tapi setelah diberitahu keadaan Bapak, Ibu tenang. Namun tetap hingga sekarang pihak keluarga masih menunggu kabar selanjutnya dari sana," lanjutnya.
Mengenai kondisi Nirina yang tengah hamil ketika mendengar kabar gempa di kampung halaman di mana sang ayah berada, Sinta mengatakan bahwa layaknya anak yang kehilangan orang tua maka kepanikan dirasakannya. Namun perlahan menghilang setelah mendengar kabar baik dari Amin.
"Ya, panik. Namanya orang tua. Untungnya nggak apa-apa kondisi janinnya," jelasnya lagi. (kpl/dis/npy)

"Kalau dipaksakan untuk mengejan keras, saya khawatir akan terjadi kontraksi dengan kandungan saya, namun karena tuntutan skenario akhirnya dilakukan juga," kata wanita yang bernama lengkap Nirina Raudatul Jannah Zubir itu.
Akhirnya, kata dia, ketakutannya benar-benar terjadi karena setelah memerankan adegan tersebut perutnya juga mengalami kram, meski tidak sampai berpengaruh besar dengan kondisi kehamilannya.
Nirina menjelaskan, film GET MARRIED 2 menceritakan tentang kisah Mae yang di GET MARRIED kesulitan mencari jodoh, dan di film kedua Mae sudah menikah dengan Rendy (diperankan Nino Fernandez), namun ternyata tidak kunjung hamil.
"Sahabat Mae di film tersebut juga masih sama, yakni Eman (diperankan Aming), Beni (Ringgo Agus Rahman), dan Guntoro (Desta), dan mereka masing-masing diceritakan sudah berkeluarga," katanya.
Akhirnya, kata Nirina, Mae hamil, namun justru memergoki Rendy sedang berciuman dengan wanita cantik bernama Vivi (VJ Marissa) yang menyebabkan dia marah sehingga meminta cerai dari Rendy. (kpl/dar)