KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
KapanLagi.com -
Oleh: Galih A. Akbar
Dalam rilisan album ke-5nya ini, Muse sepertinya punya satu pakem baru, yakni bigger its better. Betapa tidak, dengan porsi solo gitar yang selebar Grand Canyon, iringan simfoni yang komplit, serta melodi multi-layered yang tebal, Anda akan dibuat mereka-reka dan ternganga selama kurang lebih 55 menit saat menyimak THE RESISTANCE.
Sebenarnya banyak rock band besar sebelum trio asal Teignmouth, Inggris ini yang karyanya berpretensi terhadap musik simfoni. Namun, sejarah membuktikan, tak mudah dan butuh kecerdikan untuk memadukan kontrasnya riff metalzone dan alunan cello untuk dipadukan dalam sebuah rock opera.
Lets cut the chords, dimulai dengan opening single yang sudah wara-wiri di radio dan TV sejak 7 September lalu, Uprising. Dengan aransemen yang padat dan terinfluence oleh driven-rock dari album BLACK HOLES AND REVELATIONS, Matthew Bellamy, Christopher Wolstenholme dan Dominic Howard tahu benar cara menciptakan opening track untuk band sebesar mereka.
Berikutnya, masih ada benang merah yang kuat sejak kemunculan musik adventure dalam ABSOLUTION dengan track sepanjang 6 menit 54 detik, Unnatural Selection. Sebuah bukti jika Bellamy benar-benar menguasai teori dari pergeseran musikalitasnya sendiri.
Sebagai motor band, Bellamy memang menulis semua lagu di THE RESISTANCE. Jadi jangan heran jika Anda akan menemukan campur-aduk yang aneh sekaligus penuh eksplorasi. Boleh jadi ini adalah sebuah penuangan ide pol-polan dari Bellamy, yang musikalitasnya memang tak terbantahkan.
Mulai dari campuran taste Timbaland, Depeche Mode dan Mozart dalam Undisclosed Desires, kemudian sentuhan ala Queen di United States of Eurasia/Collateral Damage, sampai dengan 3 track terpisah yang berkesinambungan, Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture), Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross-Pollination) dan Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption) yang seakan-akan menampilkan kolaborasi Brian May dan mendiang Freddie Mercury semuanya ditulis oleh Bellamy.
Untuk Anda yang berharap akan adanya kejutan semacam sing-a-long rock anthem bersiaplah untuk kecewa. Jangan harap Anda akan menemukan groove, aransemen pop easy listening karena hanya akan ada string, vokal falsetto dan piano.
Singkatnya, kali ini Muse sedang berpikir se-absurd Radiohead (sekedar catatan, perkembangan olah vokal Bellamy jelas mengacu pada Thom Yorke) dan menuangkannya dengan gaya 'classical' penuh estetika sekolosal Queen.
Overall, di tengah euforia simfoni yang megah dan musikalitas yang tak perlu dipartanyakan, Muse akan meninggalkan sebuah tanda tanya besar pada setiap orang yang mendengarkan THE RESISTANCE. Apakah maksud mereka dengan semua ini?
Berikut ini adalah track list THE RESISTANCE.
(All songs written and arranged by Matt Bellamy)
1. Uprising – 5:02
2. Resistance – 5:46
3. Undisclosed Desires – 3:56
4. United States of Eurasia (+Collateral Damage) – 5:47
5. Guiding Light – 4:13
6. Unnatural Selection – 6:54
7. MK Ultra – 4:06
8. I Belong to You (+Mon cœur s'ouvre à ta voix) – 5:38
9. Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture) – 4:18
10. Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross-Pollination) – 3:56
11. Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption) – 4:37 (kpl/bar)

KapanLagi.com -
Oleh: Noppy
The Rain memang terkenal dengan lagu mellow-nya yang cocok didengarkan sebagai soundtrack saat pendengarnya meneteskan air mata. Namun, di album keempatnya ini, nampaknya mereka telah beranjak dari tahap cengeng menjadi sosok yang lebih tangguh yang menerima kesedihan dengan ketangguhan lagu-lagu mereka.
Untuk membuktikan itu, band asal Jogja ini mengeluarkan single pertama mereka yang bertajuk Boleh Saja Benci. Walaupun tak kehilangan ciri khas The Rain dengan suara menyayat Indra, lagu ini bisa dibilang amat ceria dan sesuai dengan selera pasar saat ini. Meski masih tetap menceritakan tentang kegagalan cinta, tapi mereka meramunya dengan musik ringan dan ceria khas Koes Plus (sesuai dengan footnote yang selalu mereka tambahkan di tiap akhir lirik lagunya).
Namun The Rain nampaknya memang tidak bisa meninggalkan konsep awal 'Indonesia mellow band' dalam lagu Meninggalkan Cerita Ini. Di sini, meski bisa dibilang lebih ceria dibanding lagu-lagu The Rain sebelumnya, namun lagu ini terasa cukup menyedihkan. "Jadi biarlah aku pergi/ Meninggalkan cerita ini/ Pedih memang pedih/ Tapi ku mengerti." Pas sekali dengan catatan yang diselipkan The Rain di akhir lirik lagu, "Sebuah lagu sedih yang berbalut senyuman."
Untuk mengembalikan mood ceria, coba dengarkan Warna Hidup, Apakah Kau Merasa, Dengan Sederhana, dan Percaya. Namun yang paling tak bisa dilupakan tentu saja Psychedelic Rain. Penggunaan distorsi gitar memenuhi seluruh lagu ciptaan Indra ini. Suara Indra pun semakin menyayat hingga kadang memunculkan kesan Tom York dari Radiohead tengah menyanyikan lagu berbahasa Indonesia (tentu saja sengau Inggrisnya harus dihilangkan dulu). Dan memang, Indra mengaku jika lagu tentang kematian ini adalah tribute for Beatles, Radiohead, dan Oasis dengan sedikit pengaruh Hendrix.
Pengaruh musisi-musisi legendaris tak lepas dari album keempat The Rain ini. Dari Beatles hingga Koes Plus. Satu lagi lagu yang amat Beatlesque adalah Untuk Sahabatmu. Terinspirasi seorang pengamen yang bermain gitar sekaligus bermain drum, lirik lagu ini adalah salah satu lirik favorit The Rain.
Setelah Tak Sempurna, sebuah lagu yang menceritakan tentang dunia nyata, The Rain menutup ketidaksempurnaan yang membuat mereka terus berjalan itu dengan Perjalanan Tak Tergantikan. Sebuah frase yang pas untuk menggambarkan semuanya yang terangkum dalam album keempat mereka itu. Seperti sebuah kalimat penutup untuk lirik dalam Meninggalkan Cerita Ini. Mereka menjawab "Entahlah apa lagi misteri yang dibawa waktu/ Singgah di hidupku" dengan "Perjalanan ini tak akan pernah tergantikan." (kpl/npy)