KL Favorit
Musik
Blog Selebriti
Bursa Mobil
Bola.net
KapanLagi.com - Pemain: Candil Seurieus, Ramzi, Saykoji, Edric Tjandra, Joe Project Pop, Sarah Jane.
Film komedi rata-rata memiliki alur cerita yang sederhana. Karena tujuannya untuk hiburan, banyak film komedi yang tidak memberikan banyak pesan moral di dalamnya supaya penonton tidak bosan. Pertimbangan inilah yang mungkin diambil oleh Rapi Film dalam memproduksi film SELENDANG ROCKER.
Beda dengan film komedi lain yang rata-rata mengandalkan perempuan cantik dan seksi, film ini mengangkat empat aktor sebagi tokoh utama. Kisah berawal dari The Panky, grup band beraliran rock yang dimotori oleh Ipank (Candil Seurieus) vokalis yang suka marah, Ozi (Ramzi) pemain drum yang suka telat, Eric (Edric Tjandra), pemain gitar yang senang ngambek dan Joy (Saykoji) keyboardist dan rapper bertubuh tambun dan punya kebiasaan jelek suka kentut. The Panky yang pamornya sudah menurun dan tidak laku di pasaran, membuat sang produser ingin membuat album kolaborasi antara The Panky dengan Munanada, seorang Raja musik Melayu, yang juga sedang turun pamornya. Kaloborasi di antara mereka berdua diharapkan akan mengembalikan kejayaan mereka. Ipank awalnya menolak karena selama ini ia terkenal sangat anti Melayu.
Namun rencana tersebut tidak berjalan dengan baik, Munanada yang sangat agamis, memiliki syarat dalam kerja sama ini. Ia ingin siapa saja yang berkolaborasi dengannya harus ikut aturannya. Ipank cs pun dirukiah dan diceramahi. Bahkan anting yang ditindik di tubuh personel The Panky pun dilepas oleh Munanada. Tak cukup itu saja, tatto yang mereka miliki pun bakal disetrika oleh Munanada. Meski mencoba bersabar, namun pada akhirnya Ipank cs kesal juga, sehingga saat latihan sering terjadi keributan sampai perkelahian. Dan puncaknya saat Munanada mengatakan bahwa Ipank telah menyakiti hatinya dan para leluhur Melayu. Untuk itu, Ipank harus menerima kutukan.
Semenjak itu, di setiap tempat dan kesempatan, Ipank selalu mendengar lagu Melayu Munanada. Saat berhenti di lampu merah, bahkan saat ia ditilang polisi pun, ternyata polisinya menyanyi lagu Melayu. Sementara itu tanpa sengaja Ipank bertemu dengan cewek bertato dan bertampang sangar, Gabby (Sarah Jane), yang tanpa diketahuinya adalah anak Munanada. Suatu ketika, Gabby mengajak Ipank ke rumahnya. Munanada yang mengetahui hal ini tentu saja tak merestui hubungan itu, Ipank bahkan diusir dan diancam agar tak mendekati anaknya lagi.
Namun Ipank tak menyerah begitu saja. Berbagai macam cara ia lakukan demi bertemu Gabby. Pada akhirnya, Munanada bersedia merestui hubungan Ipank dan Gabby dengan syarat Ipank mambu mengalahkan si Raja Melayu ini dan jadi lebih terkenal daripada Munanada.
Tak percaya diri, Ipank memutuskan mundur dari The Pangky lalu berlatih melayu seorang diri. Untunglah tali persahabatan mereka lebih kuat, sehingga The Pangky resmi mengubah aliran musik dari rock ke aliran Metal, Melayu total. Tak hanya itu, The Panky juga menambahkan unsur rap dalam musik Melayu mereka. Tak disangka aliran ini malah disukai penggemarnya, bahkan fans mereka pun bertambah.
Ide film SELENDANG ROCKER sebenarnya cukup menarik. Yakni menyoroti tentang musik Indonesia yang saat ini lebih banyak berisi musik Melayu. Tapi sayangnya film ini minim adegan dan pemain, mungkin hal ini untuk menghemat biaya produksi. Lokasi syuting juga sangat terbatas, jadi terkesan sedikit membosankan. Di beberapa bagian, lelucon yang dihadirkan kurang greget, sehingga menjadi monoton.
Pun begitu, di film besutan Awi Suryadi ini suara Candil dalam lagu soundtrack bisa menjadi obat rindu bagi penggemar mantan vokalis Seurieus, serta debut perdana Saykoji di layar lebar. (kpl/uji/riz)

KapanLagi.com - Pemain: Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Maudy Koesnadi, Ari Sihasale, Ramzi.
Jika Anda gemar mengajak keluarga nonton film di bioskop, GARUDA DI DADAKU layak Anda jadikan salah daftar film yang harus Anda tonton sekeluarga saat liburan sekolah. Film ini padat dan alurnya teratur karena hampir semua adegan memiliki kesinambungan tanpa ada loncatan sedikit pun. Untuk film yang didedikasikan bagi untuk keluarga, mulai anak-anak, remaja, dan orang tua alur yang datar tentu dapat dimaklumi.
Kisah Bayu, pemain utama yang diperankan oleh Emir Mahira, dalam mengejar mimpinya terpilih sebagai pemain nasional U13 mendapat tantangan keras oleh kakeknya Usman (Ikranegara). Alasannya, trauma atas meninggalnya ayah Bayu yang juga pemain bola.
Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.
Heri, sahabat Bayu yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.
Tak mendapat tempat untuk latihan pun tak jadi kendala. Kuburan yang diidentikkan sebagai tempat angker diubah menjadi tempat latihan yang menyenangkan. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu.
Puncaknya, saat kebohongan demi kebohongan Bayu diketahui oleh sang kakek, serangan jantung tak dapat dibendung. Persahabatan Bayu dan dua temannya juga terancam putus.
Film yang akan diluncurkan serentak di seluruh Indonesia pada 18 Juni 2008 ini menjadi film yang kesekian kalinya menyampaikan kritik kritik sosial kepada pemerintah Indonesia. Bahasa lugas ciri khas anak-anak tidak membuat film yang sebenarnya mengandung banyak makna ini menjadi berat.
Menghindari anak-anak bosan dan kehilangan makna atas film ini, sang sutradara Ifa Isfansyah tidak mau menekankan pesan moral yang hendak disampaikan dalam film ini. Setiap penonton, harapannya, memetik pesan moral yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi untuk liburan sekolah, layaklah kiranya Anda mengajak keluarga nonton film yang berdurasi 96 menit ini. (kpl/uji)